SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PESTA RAVI KASIH


__ADS_3

Ravi sudah siap menatap Kasih yang masih asik tidur. Perlahan kasih menyentuh pipi Kasih, tapi langsung di tepis.


"Sayang bangun, kamu harus mandi terus shalat baru kita berangkat ke hotel." Ravi mendekatkan wajahnya, Kasih langsung teriak histeris melihat wajah Ravi.


Cepat Kasih melompat lari ke kamar mandi, Ravi tertawa melihat Kasih yang kalang kabut.


"Pernikahan ini sepertinya akan lucu, nikmati saja Ravi, dia cukup membuat penasaran." Ravi melangkah keluar.


Selesai sholat ashar, seluruh mobil sudah berbaris untuk mengiring pengantin ke hotel, senyum Ravi terus terlihat menatap Kasih yang wajahnya memerah.


"Kak Ravi jahilnya kumat, lihat wajah kak Kasih mirip kepiting rebus." Vira menatap kakaknya dan kakak iparnya.


Wildan langsung berlari untuk bergabung, Tian menatap Wildan yang baru selesai mandi.


"Dari mana kamu Wil?"


"Biasalah kak." Wildan menatap Ravi yang berada di depan terus menggoda Kasih sampai kepalanya di pukul Viana.


"Sakit Mom, Ravi menggoda istri Ravi tidak salahkan uncle?" Ravi meminta pembelaan dari Bisma.


"Tapi kasihan Kasih, wajahnya mirip kepiting rebus."


"Tidak salah Vi, tapi lebih enak bicara dengan istri di dalam kamar, lebih hot. Awwwwww!" Bisma meringis karena perutnya sudah di cubit oleh Jum.


"Sabar Vi, hanya hitungan jam silahkan habiskan waktu bersama istrimu." Ammar menepuk bahu Ravi yang cengengesan.


"Sialan, ini Ravi genit banget, habislah kamu Kasih." Batin Kasih dalam hati.


Mobil beriring-iringan berjalan memasuki hotel, seluruh keluarga menyempatkan diri untuk mampir ke Mansion yang di sediakan oleh Dave dan Nara. Seluruh baju sudah di persiapkan di sana bahkan Nara dan Lisa secara langsung melakukan make over wajah Kasih yang memang sudah cantik lebih cantik lagi.


Dalam waktu singkat Keluarga sudah menggunakan baju yang di siapkan, pengantin lelaki juga sudah menggunakan baju pengantin berwarna maron karena tema pernikahan digabungkan dengan gaya modern dan tradisional.


Kasih berjalan keluar dengan menggunakan baju maroon yang sangat pas di pinggangnya, rambutnya disanggul ke atas, menggunakan mahkota sedangkan bagian bawah sudah mekar berwarna maroon gold.


Karena hotel sangat dekat dengan mansion seluruh jalanan di jaga ketat, Ravi menyambut tangan Kasih yang tidak berani menatapnya. Keduanya berdiri di i barisan paling depan.


"Kamu cantik sekali sayang, Kasih lihat aku." Ravi menahan tawanya.


"Ravi jangan bercanda, jantung aku hampir copot, ini high heels tinggi sekali, kalau sampai tengkurap di depan bisa tewas." Kasih melotot, Ravi sudah tertawa ngakak, sampai barisan di belakang menatap heran.


Ravi berdiri dengan tangan Kasih di lengannya, di belakang Ravi ada Bastian dan Bella, diikuti oleh Erik dan Billa, di belakang ada Wildan dan Vira yang sempat bertengkar dengan Via sampai akhirnya Wildan memilih Vira.

__ADS_1


Masih ada Salsa dan Varrel, diikuti oleh Via dan Tama di belakang sekali. Seluruh pekerja rumah juga berjalan di belakang, sedangkan orang tua menggunakan mobil berjalan lebih dulu. Semuanya berjalan beriringan, Ravi terus tersenyum karena menahan Kasih yang mencengkram lengannya kuat karena takut jatuh.


"Baju sialan, sepatu kurang ajar, lama sekali sampainya." Gumam Kasih kesal.


"Jaga ucapan kamu sayang, mau jalan atau aku gendong."


Kasih akhirnya terus bertahan sampai akhirnya mereka tiba, banyak orang sudah menyambut dengan suara gendang yang Kasih tidak mengerti, belum lagi acara penyambutan.


Para orang tua menyambut kedatangan pengantin, Ravi dan Kasih langsung duduk di pelaminan di dampingi oleh kedua orang tua pihak lelaki dan perempuan.


"Akhirnya bisa duduk, ini baju beratnya 10kg." Kasih mengomel.


"Tubuh aku lebih berat dari baju ini sayang, kamu bayangkan saja." Ravi berbisik membuat Kasih cemberut.


Tamu undangan berdatangan, sahabat Ravi dari LN semuanya datang, cowok dan cewek memeluk Ravi bahkan cepika-cepiki, mata Kasih melotot melihat banyak perempuan bule mencium pipi Ravi.


"Kak Ravi gila ya? lihat wajah kak Kasih sudah kesal begitu." Vira merangkul tangan Wildan yang hanya senyum lucu melihat Ravi dan Kasih.


"Ayy, nanti kita menikah pakai acara yang menggunakan tanduk itu saja ya, pasti lucu sekali ya Ayy."


"Kamu tidak malu, menggunakan baju kemben terus bisa bayangkan kalau jatuh dari tanduk. Secara normal saja Vira tidak usah banyak gaya, kita bukan orang asli yang memang ahli dengan tradisi."


"Kapan?" Vira senyum-senyum menatap Wildan.


"Kapan kamu lulus kuliah?" Wildan senyum langsung melangkah pergi.


Seluruh orang tersenyum melihat pengantin yang duduk di singgasana selalu tersenyum, Viana sampai meneteskan air matanya melihat Ravi yang tidak berhenti tertawa, tidak tahu apa yang membuatnya terus tertawa.


"Ravi kamu bisa berhenti tidak?"


"Aku akan berhenti jika kamu mencium aku."


"Dasar laki-laki mesum!" Kasih langsung marah, teriak kuat membuat tamu undangan tertawa melihat dua pengantin yang sudah senyum.


Wildan tersenyum melihat Ravi yang tidak punya beban, Wildan yakin Ravi bisa mengendalikan semuanya sudah cukup dia ikut campur.


"Assalamualaikum Wil,"


"Waalaikum salam Yusuf." Wildan bersalaman dengan seorang pemuda yang seumuran Ravi, dengan pakaian rapi, putih bersih.


"Ustadz Yusuf Amin." Vira menatap, melihat wajah Yusuf yang membuang pandangannya.

__ADS_1


"Nama saya Yusuf Ramadhan."


"OHH, tapi Winda bilang Yusuf Amin." Vira langsung tertawa.


"Iya dia memang Yusuf Amin, kerja dia hanya tahu amin, Amin dan amin. Jadi namanya Yusuf Amin."


"Winda jaga ucapan kamu, dia bukan hanya putra seorang pendiri pesantren tapi dia seorang pemuda...."


"Winda tidak perduli kak, di mata Winda dia seorang pemuda bodoh yang banyak bicara, hanya bisa ceramah, tidak pernah berkaca. Menjijikan." wisma langsung melangkah pergi, Yusuf hanya tersenyum melihat Winda yang berlalu pergi.


"Dia adik kamu Wil?"


"Iya kak, maafkan ucapan Winda."


Wildan dan Yusuf menatap Ravi yang menunduk kepalanya menyapa Yusuf, melihat Ravi yang menatap Yusuf mendekati Ravi dan memberikan selamat.


"Yusuf." Kasih menatap sedih.


"Selamat ya Ravi Kasih jadi keluarga sakinah mawadah warahmah."


"Amin, kamu juga semoga cepat menyusul."


"Amin."


Kasih menatap Ravi yang seakan tahu hubungan Kasih dan Yusuf, keduanya kembali tersenyum menyapa tamu.


Acara selesai sampai malam, tradisi keluarga selesai pesta makan malam bersama, Ravi sudah gelisah tidak tenang di tempat duduknya.


"Berapa lama lagi kita di sini? Ravi ingin beristirahat Mom Dad."


"Bukannya kamu paling suka berlama-lama mengobrol?" Bisma menahan tawa.


"Uncle seperti tidak pernah muda saja, Ravi ingin berdua dengan istri Ravi, kita bisa mengobrol kapan saja."


"Sebentar lagi Ravi." Viana menghentikan Ravi yang ingin berdiri.


"Aduhhh Mom, sudah ya Ravi kebelet, selamat malam semuanya." Ravi langsung berlari untuk naik ke lantai atas, Kasih sudah lebih dulu naik untuk beristirahat bersama Vira geng.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP.


***


__ADS_2