SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 TERAKHIR


__ADS_3

Dalam lingkaran hanya tersisa tiga orang, Vira langsung maju menyerang bersamaan dengan Randu yang juga menyerang. Keduanya berusaha untuk menjatuhkan lawan.


Vira hampir terlempar, Randu langsung menangkap tangannya mencoba menolong Vira.


Winda teriak kaget langsung ingin masuk, sampai Bella menahannya. Bella menatap Dewa tajam, mencengkram rahangnya.


Bella dan Dewa saling tatap, tatapan kemarahan terlihat. Bella langsung menendang Dewa ke dalam lingkaran.


Vira dan Randu kaget melihat Dewa, Bella juga ikut masuk langsung menyerang Dewa. Vira binggung harus melakukan apa melihat Bella yang marah.


Winda langsung ingin masuk juga, tapi Yusuf menahan tangannya. Tatapan Winda tajam langsung menepis tangan Yusuf.


Yusuf menatap teknologi canggih, langsung memperlihatkan kepada Wildan keadaan di dalam menatap Fly yang juga terlihat di sana.


Wildan tersenyum langsung menggunakan komputernya untuk menghentikan jalanan teknologi yang di pasang, Yusuf juga membantu menghentikan untuk menyelamatkan, Dewa, Randu, Vira dan Billa.


Dewa terus berusaha menghindari Bella, Vira juga mencoba menghentikan Bella untuk berpikir cara meloloskan diri.


"Kak Bel."


"Bella aku mencintai kamu."


"Cinta aku sudah ada yang memilikinya, kamu hanyalah musuh bagi aku." Bella memukul wajah Dewa.


Tatapan Dewa langsung tajam, menyerang Bella yang menolaknya dengan cacian.


"Hentikan, ada orang yang menang melihat pertarungan kita." Vira menarik Dewa yang langsung menendangnya kuat sampai terpental.


"Vira." Winda langsung berlari menangkap Vira, Bella dan Randu langsung berlari menangkap Vira.


Seluruh alarm berbunyi, Vira terjatuh, Winda juga tersungkur. Bella dan Randu saling tatap melihat tempat yang mengeluarkan alarm.


Vira membuka sedikit matanya, memegang kepalanya langsung mendekati Winda memeluk erat Winda yang jatuh pingsan.


"Winda, bangun." Vira menepuk pipi Winda langsung memeluknya.


Bella langsung mendekati Vira, menatap Winda yang wajahnya pucat. Randu juga mendekat melihat Vira dan Bella sama paniknya.


Dewa hanya terdiam langsung terduduk lemas, Yusuf juga bernafas lega karena laser bisa dimatikan.


"Wildan sedikit saja kamu terlambat, mereka semua akan tewas."


Dewi sudah menghilang bersama Fly, Randu langsung mendekati Dewa memukuli kakaknya yang sangat dia hormati dan sayangi.


Pertama Kalinya Randu merasakan kecewa yang sangat dalam kepada Dewa, selama ini Randu sangat mengagumi sosok Dewa, tapi ternyata Dewa penjahat yang berkedok malaikat.

__ADS_1


"Winda, tolong bangun." Vira menatap Bella yang langsung memeluk adiknya.


"Kita harus membawa Winda pergi dari sini." Randu langsung menggendong Winda.


Yusuf tidak mengetahui jika Winda terluka, karena dia sibuk melacak keberadaan orang yang selama ini mereka cari, dibalik Dewi ada orang lain.


"Fly, bagaimana keadaan mereka?"


"Winda jatuh pingsan."


Yusuf langsung ingin melangkah pergi, Fly langsung menahannya. Meminta Yusuf fokus ke tujuan awal sesuai perintah Wildan.


"Winda dalam bahaya."


"Bukan urusan kamu kak, dia sudah besar bisa berpikir yang baik untuk dirinya. Kita bekerja untuk Wildan, hanya menyelesaikan perintah."


"Fly, aku tidak bekerja untuk Wildan, aku ada di sini untuk menyelesaikan masalah." Yusuf langsung melangkah pergi.


Fly menghela nafasnya, tidak habis pikir dengan Yusuf yang masih juga baik kepada Winda yang selalu menyakiti hatinya.


Yusuf berlari melihat Winda dalam gendongan Randu, ada seseorang yang berdiri di depan mereka bersama dengan Fly yang palsu.


"Yusuf, mereka keluar."


"Kenapa Fly ada dua?" Vira menatap tajam.


"Randu sudah selesai tugas kami menolong kamu, sekarang waktunya kamu memilih. Tempat ini akan segera dihancurkan, ada pihak kepolisian juga yang akan segera menahan kalian." Yusuf langsung mengendong Winda.


"Yusuf bagaimana dengan aku?"


"Selesaikan masalah kamu dengan saudara kembar kamu, terima kasih untuk bantuannya meskipun aku tahu kamu membohongi aku dan Wildan."


"Ternyata kamu tidak kalah cerdas, aku mengendalikan Dewa untuk menghancurkan kalian semua sehingga menjadi penguasa seorang diri. Sebenarnya dia yang membantu Kasih sedangkan aku yang hampir membunuh Wildan di Roma."


"Aku tidak peduli, urusan kami sudah selesai."


"Kalian tidak akan pernah bisa keluar, sebelum polisi datang kalian semua akan mati."


Suara tembakan terdengar, Dewi langsung terjatuh dari kursi rodanya dan meninggal.


Suara tembakan kembali terdengar Fly tertembak, langsung terjatuh tersenyum menatap Yusuf.


"Terima kasih Yusuf, aku tidak pernah menyesal mencintai kamu, ingat terus nama aku Flora."


Yusuf terdiam melihat Fly yang jahat membunuh adiknya, Vira juga tidak menyangka apa yang terjadi membuat kebingungan yang tidak bisa mereka mengerti.

__ADS_1


Senjata selanjutnya diarahkan kepada Dewa, air mata Dewa sudah menetes memeluk kakaknya. Suara tembakan terdengar, Fly menebak Dewa yang berhasil diselamatkan oleh Randu.


Winda sadar dari pingsannya, langsung menatap Yusuf. Mata Winda kaget melihat Randu bermandian darah, Vira ingin sekali menembak, tapi hatinya sangat sulit untuk melakukannya.


"Ayo mati Randu, cepat mati."


Dewa langsung berdiri, suara tembakan kembali terdengar. Fly kaget melihat Vira mengarahkan senjata ke atas menghabiskan isi peluru sampai habis.


"Kamu mencintai Dewa Vira, padahal kamu sudah dijodohkan dengan Wildan. Saat kalian kembali, dua keluarga akan bersatu, apa harus aku membunuh pengantin wanita?" Fly tersenyum licik.


"Aku tidak akan mudah kamu pengaruhi."


"Ini kejujuran pertama selama hidupku, kamu dan Wildan dijodohkan, Winda dan Yusuf juga dijodohkan, bahkan aku juga tahu soal Tian." Fly tertawa menatap Bella.


Fly menceritakan soal dirinya yang hidup dalam kekejaman, hanya Kasih yang berniat menolongnya lalu Fly membayar kebaikan kasih dengan menyerahkan adiknya sebagai perdamaian.


Fly yang asli pergi jauh mengikuti jejak Wildan, selalu bergonta-ganti posisi dengan saudaranya.


"Kenapa aku bisa dijodohkan dengan Yusuf? aku tidak sudi." Winda menatap Yusuf tajam.


"Aku juga tahu rahasia kamu sangat membenci Yusuf, ibunya orang yang hampir menghancurkan kehormatan kamu, atau mungkin kamu sama dengan ibunya Yusuf." Fly tertawa mengejek Winda.


Dewa langsung berdiri menusukkan pisau ke perut Fly yang tetap tertawa melihat darah.


"Wanita jahat, begitu mudahnya kamu membunuh orang Fly."


"Aku tidak akan mati semudah itu Dewa, kalian yang hancur."


"Kita akan bertemu kembali Winda, Vira, dan kamu Bella, kirimkan salam kepada Wildan jika aku sangat mencintainya."


"Tidak tahu malu." Bella menatap tajam.


"Kirimkan ucapan turut berdukacita kepada Bastian atas meninggalnya calon istrinya, dia sudah lama mengidap penyakit kangker serviks. Tian manusia yang terlalu baik karena bersedia menanggung hidup Cinta, biaya bahkan perawatannya." Fly tersenyum langsung meledakkan sesuatu.


Yusuf menarik tangan Winda, meminta Vira membawa Bella keluar untuk menjauh.


Di luar Wildan hanya duduk diam setelah meretas seluruh jaringan, Wildan juga mendengar semua yang terjadi di sana.


Polisi sudah berdatangan, langsung menyerbu masuk ke dalam bangunan yang Wildan buat menjadi tempat khusus museum yang akan diurus oleh pemerintah sebagai tempat umum.


Wildan melihat Vira, Bella dan Winda berjalan saling menggenggam. Yusuf ada di belakangnya, sedangkan Dewa mengendong Randu.


Tempat keberadaan mereka sudah meledak, menghilangkan tubuh Dewi, Fly dan Flora.


"Semuanya sudah berakhir, waktunya kita semua kembali. Mengubur seluruh cerita soal kehidupan ilegal, kejahatan, juga saling mengadu kekuasaan." Wildan memejamkan matanya.

__ADS_1


***


__ADS_2