SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KUE COKLAT


__ADS_3

Ribuan kembang api berbunyi, Wildan berdiri diikuti yang lainnya. Kelima bocah melihat ke luar kapal, langit gelap berubah terang dengan banyaknya warna di atas langit.


Tidak berselang lama kembang api habis, kapal gelap kembali. Terlihat cahaya lentera balon terbang, berwarna warni. Belum ada yang mengeluarkan suara, masih binggung dengan suasana.


Muncul sebuah tulisan happy birthday Vira dan twins, Bella Billa, Wildan Winda. Lama semuanya menatap tulisan, sampai tulisan hilang lampu kapal langsung hidup semua.


"Happy birthday to you, happy birthday happy birthday happy birthday to you." Seluruh keluarga berkumpul, membawa kue.


Wildan berbalik, Winda, Vira, Bella dan Billa sudah menangis sesenggukan. Mereka melihat seluruh keluarga, kedua orang tua, kakak juga saudara dekat dan jauh, seluruh orang hadir dengan senyum.


"Mommy." Vira langsung melangkah memeluk Viana sambil menangis.


"Selamat ulang tahun putri Mommy, Vira sudah 19 tahun, sudah besar, semakin dewasa ya sayang, Mommy sangat mencintai kamu." Viana menciumi wajah Vira.


Tangisan twins B tidak terhentikan, Bisma memeluk kedua putrinya. Satunya sangat kuat, nakal sulit dinasehati, sedangkan satunya selalu menuruti apapun ucapan kakaknya, tidak pernah melakukan penolakan.


"Ayah."


"Selamat ulang tahun sayang, kalian bukan bayi kecil Ayah lagi. Sebagai seorang Ayah sangat berat jauh dari kalian, rumah kita sepi tanpa keributan kalian dan Bunda." Bisma mencium kedua putrinya.


Winda sudah menangis dalam pelukan Reva yang juga menangis, kedua orang yang selalu bertengkar, memperebutkan perhatian Bima, Winda yang selalu kabur-kaburan. Bahkan Reva memasang tralis besi untuk jendela kamar Winda agar tidak kabur.


"Sekarang Winda sudah 18 tahun, jangan nakal lagi, jangan kabur lagi."


"Winda kangen Mami, tidak ada lagi sapu terbang di kamar Winda." Winda menghapus air mata Maminya.


Wildan masih berdiri diam, menundukkan kepalanya. Tetesan air matanya menyentuh lantai kapal, Bisma menatap satu lelaki yang sangat sulit dikalahkan, bahkan harus puluhan orang yang bergerak.


"Wil, kamu menangis?" Bisma memeluk Wildan memukul punggungnya.


Bima mendekati putra satu-satunya, mengangkat kepalanya. Bima mencium kening Wildan, memeluknya erat, air mata Wildan tidak tertahankan.


Melihat Wildan menangis, tidak ada yang merasakan haru, semua orang bersorak bahagia melihat seorang Wildan menangis, selama 17 tahun Wildan berulang tahun, hanya memasang wajah datar, tidak ada yang pernah melihatnya menangis. Moments yang sangat langkah, jika seorang Wildan menangis.


"Wil, nangis bro, haduh luntur pesona seorang Wildan." Ravi tertawa melihat wajah Wildan.


Wildan menghapus air matanya, menatap kesal Ravi dan yang lainnya.


"Becanda kalian tidak lucu."


"Tidak ada yang ingin melucu, kita semua terharu, moments lucunya hanya saat kamu menangis."

__ADS_1


"Brengsek." Wildan mengumpat kasar.


Teriak Reva terdengar, melihat Wildan yang ternyata bisa marah juga. Menatap wajah Wildan yang berantakan.


"Mereka yang mulai Mami, menjaga banyak wanita, tubuh Wildan hanya satu, jika salah satu terluka, bahkan Wildan tidak bisa memaafkan diri sendiri."


"Kamu bisa menjaga yang paling penting."


"Siapa Mam? Winda adik kandung Wildan, dia ratu di keluarga kita, Bella Billa juga kakak Wildan, mereka Putri keluarga Bramasta. Vira, dia bukan hanya putri Prasetya, tapi ratunya Mommy. Di sana juga ada kak Kasih yang berharga untuk kak Ravi, Karin yang berharga untuk Kasih." Wildan mengusap matanya.


"Sudah jangan menangis, Mommy juga sedih melihat kamu menangis. Terima kasih ya sayang sudah sangat menyayangi semuanya, terkadang Mami berpikir kamu jiplakan Bima ternyata bukan ...."


"Mami." Reva tertawa memeluk Wildan, putranya memang tidak bisa diajak bercanda.


Semuanya mengucapakan selamat, tangisan haru masih terasa. Acara ulang tahun sudah direncanakan saat twins berusia 17 tahun, tapi tidak istimewa untuk Vira, jadinya dimajukan, karena Wildan juga masih di LN.


Ravi mendekati kelima adiknya, memeluk erat, Wildan menolak dipeluk Ravi.


"Maafkan kak Ravi."


"Kak Ravi jahat, Vira takut."


"Iya Bella juga rasanya, dunia Bella runtuh."


"Kak Ravi jahat." Billa mencubit kuping Ravi, tawa Ravi terlihat mengacak rambut Billa.


Melihat Wildan yang membuang pandangannya, Ravi menjitak kepala Wildan.


Bastian juga memeluk seluruh adiknya, tangisan Bella terdengar, mendorong yang lain agar tidak memeluk Tian.


"Dasar Bella latunat." Vira menjambak rambut Bella.


Erik juga mendekat, langsung dipukuli oleh tiga wanita. Erik meringis kesakitan meminta peluk Billa.


"Kak Erik, kita takut jika kehilangan kak Erik." Vira melotot.


"Iya, pikiran kita jadi jelek." Bella membuang pandangannya.


"Iya, Winda sudah ingin sekali memasukkan kak Erik dalam daftar, pria tidak layak."


Erik tertawa, mengacak rambut tiga wanita yang mengomel. Menatap Billa yang masih menunduk.

__ADS_1


"Billa maafkan kak Erik, anggap saja kak Erik memang berkhianat, tapi tidak akan mengkhianati keluarga kita." Erik memeluk Billa yang langsung menangis.


Kening Wildan berkerut melihat kue warna pink, ternyata milik Billa, kuning milik Vira, biru milik Bella, putih milik Winda. Wildan menghela nafas, pasti sebentar lagi kue untuk Wildan warna rainbow.


"Ini milik Wildan." Reva menyerahkan kue coklat, Wildan tersenyum.


Mata Vira geng melihat milik Wildan, acara tiup lilin yang dinyanyikan oleh seluruh keluarga. Senyum bahagia juga terlihat, Vira, Bella, Billa, Wildan Winda meniup lilin bersamaan.


"Alhamdulillah tambah usia." Batin Wildan.


"Daddy do'akan, kalian semakin kompak, saling menjaga, mendukung, selalu bahagia untuk Vira dan twins B juga twins W." Rama tersenyum melihat lima anak.


"Mommy juga berharap kalian lulus kuliah cepat ...."


"Langsung menikah ya Mommy?" Vira dan Bella bersemangat.


Belum selesai semuanya mengucapakan selamat ulang tahun, Vira, Winda, Bella, Billa menyerahkan kue mereka mendekati Wildan melihat kue Wildan.


"Vira bagian ini, banyak coklatnya."


"Winda yang lebih dulu ingin yang itu, kamu yang bagian sini Vir, ada buahnya."


"Punya Billa, mau kue juga buahnya."


"Bella bagian sini, suka bagian coklat cairnya "


Semuanya mengambil pisau dan piring dari kue masing-masing, langsung bersiap ingin memotong kue Wildan.


"Winda, Vira, Bella dan Billa. Kalian potong kue masing-masing." Septi memberikan pisau kue untuk Wildan.


"Vira ingin coklat." Geng Vira menggagukan kepalanya.


"Punya kalian juga coklat, bedanya hanya warna." Septi menatap aneh.


"Sekali-kali tema warna coklat, kalau perlu hitam, jangan kehidupan saja yang gelap, kue juga bisa."


Wildan yang kesal, mengambil piring besar, memotong bagian yang diinginkan Vira geng. Langsung membawanya pergi, meninggalkan sisa yang tidak mereka inginkan.


Melihat kue impian sudah rusak, mata Vira geng langsung berkaca-kaca. Viana melihat Reva, Jum yang langsung melangkah pergi. Sudah belasan tahun, perebutan kue tidak pernah berhenti.


Tangisan Vira geng terdengar, meratapi kue coklat.

__ADS_1


***


__ADS_2