
Mata Billa terbuka, tersenyum melihat Erik meminta suaminya memberikan suntikan obat perangsang agar segera kontraksi.
Billa tidak pingsan hanya beristirahat, nafasnya ngos-ngosan, menolak untuk operasi. Erik tidak tahu Billa jujur atau bohong, tapi yang paling penting Billa punya semangat.
"Genggam tangan kak Erik Billa."
Billa menggenggam mendorong keluar bayinya yang sudah diujung, Billa lupa rasa sakit demi melahirkan buah hatinya.
Suara tangisan bayi terdengar, Erik meminta semuanya konsentrasi lagi, Billa mengatur nafasnya, Erik menghapus keringat yang membasahi kening Billa, mengucapkan ungkapan cinta membuat Billa tersenyum.
Dokter memberikan instruksi untuk mendorong kembali, Billa meggendan kuat, Erik merasakan sakitnya tangan juga kepalanya yang di tarik kuat sampai suara tangisan bayi terdengar.
Erik memeluk Billa, meneteskan air matanya, mengatakan istrinya sangat kuat. Billa meminta dia segera dirawat, seluruh tenaganya habis, tidak sanggup membuka matanya.
Tangan Erik memasang alat bantu bernafas, memberikan obat penenang agar Billa istirahat total. Sementara bayi akan dipisah dengan Billa, keadaan Billa cukup memprihatinkan.
"Dok silahkan melihat bayinya."
Erik langsung mencium kening Billa, meninggalkan Billa melihat dua buah hatinya. Erik mengangkat putri pertamanya, Embun Bramasta Ardana, anak keduanya bernama Elang Bramasta Ardana, nama panggilan mereka Em dan El.
Air mata Erik menetes membacakan azan untuk kedua buah hatinya, kedua anaknya diletakkan di dada Erik, dua bayi mungil yang sangat Erik Billa keluarga besar nantikan.
"Terima kasih Billa sudah memberikan dua malaikat kecil, buah hati kita." Batin Erik melihat Billa yang sedang beristirahat.
Bayi di masukan ke dalam tabung, menunggu ibunya bangun. Erik melangkah keluar melihat seluruh keluarga menunggu.
Bisma langsung melangkah memeluk Erik, tangisan pecah memeluk ayahnya. Bibir Erik gemetaran, tersenyum menatap semua orang, syukurnya keluarga yang lain belum tahu karena masih subuh.
"Ayah Bunda selamat sudah menjadi Kakek dan nenek lagi. Anak pertama perempuan, kedua laki-laki, mereka sehat, tidak ada kurang sedikitpun."
"Bagaimana keadaan Billa Rik?"
"Alhamdulillah sekarang baik, dia kehabisan banyak tenaga, tadi sempat drop."
"Ayah akan menghubungi seluruh orang, memberikan kabar bahagia, terutama papa mama kamu." Bisma melangkah pergi, tapi balik lagi tertawa melihat penampilan Erik.
"Rik di dalam kamu bertempur." Binar binggung dengan penampilan Erik.
"Binar sayang, sudah turun-temurun keluarga ini saat istri melahirkan suaminya yang hancur berantakan."
"Kamu menikahlah dengan Tama, dia tubuhnya saja besar, berotot tapi aslinya lemah gemulai." Erik tertawa, bibir Binar monyong, menatap sinis.
Erik meminta Binar menidurkan Bening di dalam kamar Billa yang baru, kasihan Bening bangun tengah malam, langsung ke rumah sakit.
Jum mendekati Billa mencium keningnya, bersyukur Billa anak yang kuat.
__ADS_1
"Bunda maafkan Billa yang banyak salah, Billa merasakan perjuangan seorang ibu." Billa menangis meminta dipeluk.
Jum juga meneteskan air matanya, terharu mendengar cerita perjuangan putrinya, rasa sakit akan terbayar jika melihat dua bayi mungil.
Erik dan Bisma sudah mengendong satu-persatu bayi kecil menyerahkan kepada Billa, menidurkan disisi Billa.
"Subhanallah cantiknya, mirip Erik." Jum mengelus wajah Em.
"Bunda, mirip Billa juga." Bil cemberut.
Erik dan Bisma menjauh, Jum membantu Billa untuk menyusui anaknya yang lapar. Binar juga kagum melihat Em yang sangat cantik, El juga luar biasa tampan, menyusunya sangat kuat karena dia laki-laki.
***
Pagi-pagi sudah ramai, seluruh orang berkumpul. Ravi kesal karena tidak bisa melihat Erik kacau balau, moments penting melihat seorang dokter mirip orang gila.
Ammar tidak pernah berhenti mengendong cucu pertamanya, Septi juga sampai meneteskan air matanya merasakan kebahagiaan.
Kasih mengandeng kedua anaknya bersama Viana, Bening sudah lebih dulu duduk di atas ranjang, melihat dua bayi kecil dalam gendongan, Asih juga datang melihat bayi kecil.
"Nek, turun Asih ingin gendong." Asih memaksa untuk naik atas ranjang, Binar membantunya duduk di samping Bening.
Septi meletakan Elang, Ammar meletakan Embun. Mata Asih dan Bening tajam melihat dua bayi kembar yang sedang tidur.
"Amanya siapa enti?" Bening menatap Billa.
"Ohhh, Embun yang biasanya pagi-pagi muncul?" Asih mengingat sesuatu.
"warna utih ya Asih, terbang di langit, tutup jalan." Bening membayangkan yang pernah dia lihat.
"Bening, putih yang kamu lihat bukan Embun, tapi kabut." Ravi tertawa.
"Ohhh iya, Ning salah. Asih Ning salah." Bening menutup mulutnya tertawa bersama Asih.
"Embun, dia air yang di daun pagi-pagi."
"Asih benar."
"Elang Bulung besar, ucel Erik punya Bulung." Bening mengingat ucapan neneknya.
"Siapa nama burung uncel? Asih juga penasaran."
"Belum bernama, tapi kata Nek bica membuat orang lari."
"Kenapa? kita kejar burung, tapi kenapa burung uncel bisa mengejar kita." Asih dan Bening berpikir.
__ADS_1
"Ning tidak tahu."
"Kita berikan nama Bulung kejar." Asih tertawa, Bening mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bisma menatap Jum, berbicara sembarang di depan Bening. Erik malu mendengar ocehan Bening dan Asih.
Kasih mengendong Em, mencium pipinya Asih juga langsung ingin menciumnya. Kasih meminta Asih duduk diam, jangan banyak gerak, nanti adik kecil menangis.
Asih menurut, Kasih mendekatkan Embun meminta Asih menciumnya, baru giliran Bening, keduanya tertawa bahagia.
Raka hanya duduk diam dalam pangkuan kakeknya, melihat adiknya sibuk mengoceh.
Semua orang melihat ke arah pintu, satu orang yang paling ditakutin akhirnya akan segera muncul, pintu terbuka Wira berdiri dengan gayanya yang baru.
Semua orang tertawa melihat Wira dengan gaya barunya, rambutnya tinggi ke atas lancip, bajunya serba hitam, menggunakan kalung besar, sepatu bot, jaket metal, gelang penuh.
Ravi dan Erik tidak bisa menahan tawa lagi, bocah gila tingkahnya lebih gila lagi. Windy hanya bisa menggelengkan kepalanya langsung masuk menyapa semua orang.
"Hai semuanya, lihat gaya baru Wira. Metal!" Wira teriak.
Bening langsung menangis takut, mencari ayahnya, Bisma tertawa langsung menggendong cucunya yang ketakutan.
Suara tangisan Embun juga terdengar, Elang juga menangis, melihat semua menangis Asih langsung menangis kuat, menatap Wira yang melongo.
Raka hanya tertawa melihat Wira yang konyol, semuanya keluar membawa Bening dan Asih, Wira juga keluar membuat ketakutan orang.
"Wira kamu aneh sekali, kenapa penampilan kamu menakutkan."
"Ini gaya metal uncel, Wira sudah capek dandan."
"Pria tampan seperti itu Wira." Bisma menunjukkan ke depan.
Tian datang menggunakan kacamata hitam, bersama Cinta yang juga sangat cantik, di samping mereka Tama yang masih menggunakan seragam.
"Ayah." Bening langsung turun berlari menangis.
Cinta membuka kacamata melihat Wira yang dandanannya aneh, langsung tersenyum mengusap kepalanya.
"kamu tampan sekali Wira?"
"Tante juga cantik sekali, mau tidak menjadi pacar Wira?"
"Izin dulu sama uncle Tian." Bisma mengejek Wira.
"Boleh, tidak perlu izin. Tante tunggu kamu 20 tahun lagi." Cinta tersenyum melangkah masuk.
__ADS_1
***