SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PILIHAN YANG SULIT


__ADS_3

Pagi-pagi setelah suaminya pergi bekerja, Vira selalu jalan-jalan pagi, melihat kondisi hamil kembar Vira harus benar-benar menjaga diri.


Vira berjalan kaki bersama Winda, Kasih, Binar, juga anak-anak yang naik mobil-mobilan untuk menuju lapangan basket di ujung perumahan mereka.


"Kenapa Ar pulang Win? dia baru saja pergi." Vira mengusap perutnya, melihat Ar berjalan ke arah Winda.


"Entahlah, dia mengatakan perasaannya tidak enak." Winda langsung melangkah memeluk suaminya, mengusap punggung suaminya.


Tatapan tajam melihat keduanya, apalagi melihat perut besar Winda, rasa benci semakin besar melihat kebahagiaan Winda.


"Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia Winda? ingin tahu rasanya koma, akan aku berikan, sekalian akan aku buat anak kalian tidak akan lahir ke dunia ini.


"Ayo pulang Abi, kita istirahat di rumah."


"Vira kami pulang dulu ya."


"Ikut." Vira berjalan mengejar Ar dan Winda.


Tangan Vira dan Winda saling genggam, Ar merangkul istrinya untuk menuju mobil yang ada di seberang jalan.


"Mati saja kalian berdua." Mobil digas dengan kecepatan sangat tinggi, Ar melihat laju mobil mengarahkan kepada mereka bertiga.


"Awas sayang." Demi menyelamatkan Winda dan Vira, Ar mendorong keduanya ke pinggir jalan sampai terlempar sedangkan Ar menyingkir ke tengah jalan.


Kaki Ar keseleo membuatnya kesulitan untuk bangkit, Vira dan Winda melihat ke tengah jalan.


Mobil putar arah mengarah kepada Ar, Winda langsung ingin berlari menemui suaminya, tapi Vira menahannya sekuat tenaga.


"Abi minggir, awas. Tidak." Winda teriak kuat.


Kasih, Binar melihat jelas kejadian. Anak-anak juga melihatnya. Wira langsung berlari keluar, Kasih juga berlari meminta Wira berhenti.


Asih, Ning, Raka, Elang terdiam melihat mobil berwarna hitam mengarahkan kepada Ar yang sudah bangkit berdiri.


Tatapan tajam melihat seseorang yang ada di dalam mobil, Ar menggelengkan kepalanya meminta berhenti, bentakan Ar tidak dipedulikan.


"Mati saja kamu Ar, aku benci kamu."


Ar sudah pasrah hanya berdoa di dalam hatinya, jika memang takdirnya harus menutup mata, izinkan dirinya melihat anaknya lahir meskipun hanya dalam mimpi.

__ADS_1


Winda melepaskan tangan Vira, langsung berlari ke arah suaminya. Mobil menghantam Ar sampai terlempar jauh, Winda juga sama terlempar karena menabrak mobil dari samping.


"Abi Abi." Winda langsung melihat suaminya jauh terlempar. Darah mengalir di jalanan, mata Ar masih melihat istrinya yang juga tergeletak.


"Jaga anak kita Win, maafkan aku." Penglihatan Ar gelap.


Kasih langsung berlari mendekati Winda, hanya hitungan menit kecelakaan yang disengaja menimpa Winda.


"Di mana keamanan tempat ini?" Kasih teriak kuat memanggil keamanan.


Wira melihat Ar yang sudah tidak sadarkan diri, darah mengalir dari kepalanya bahkan tubuhnya penuh luka.


"Uncle, kenapa tidur di situ? ayo bangun Uncle." Wira membenarkan kaki tangan Ar.


Vira langsung ke arah mobil, seorang wanita keluar sambil bertepuk tangan. Dia lompat-lompat bahagia.


Lupa sudah Vira melihat kondisinya yang hamil besar, melihat sahabatnya pendarahan di depan matanya, langsung membuat Vira lupa diri.


Melayangkan pukulan, tendangan kuat. Masih ada perlawanan kedua menjadi satu, Vira yang menggila membenturkan kepala mereka beradu, kaca mobil pecah.


Kepala wanita yang menabrak Winda, langsung dimasukan ke dalam jendela mobil. Vira mencari sesuatu untuk mematahkan tulang belulangnya.


"Dia hampir mati Vira, selamatkan dulu anak kamu Vir, lihat kaki kamu darah semua. Sadar Vira."


Puluhan orang berlarian, Wira meminta dipanggilnya ambulan, dengan alat medis yang lengkap.


Wira mengikat beberapa bagian tubuh Ar yang sudah remuk, tulangnya banyak patah. Tidak butuh waktu lama ambulans tiba.


"Tolong kepala, bagian kepala luka parah." Kepala Ar dipasang alat.


"Tubuhnya banyak luka, nafasnya sudah tidak ada, lakukan bantuan pernafasan. Cepat pergi ada dokter yang akan menunggu kalian." Wira mengusap air matanya.


Mobil Kasih tiba, Winda langsung dibawa ke dalam mobil dalam keadaan tidak sadar juga pendarahan hebat.


Vira juga di bawa masuk karena mengalami pendarahan juga, karena keadaan Vira tidak stabil dia menggunakan mobil lain bersama Binar.


"Uncle, Aunty." Asih menangis, mengikuti kakaknya pulang ke rumah sambil dikawal.


CERITA LENGKAPNYA ADA DI MENGEJAR CINTA OM DUREN S3, AKU ULANG SINGKAT SAJA AGAR PEMBACA SUAMIKU MASIH ABG TIDAK BINGGUNG PENYEBAB VIRA PENDARAHAN.

__ADS_1


Wildan yang ada di kantor melihat ponselnya, melihat pesan grup dari Kasih yang memberikan kabar soal kecelakaan.


Langkah kaki Wildan berlari kencang, sudah binggung di mana keberadaan mobilnya. Tidak bisa berpikir jernih mendapatkan kabar adik, ipar juga istrinya mengalami kecelakaan.


Karan langsung menarik Wildan untuk masuk mobilnya, Karan tahu Wildan tidak bisa konsentrasi, karena keadaan keluarga yang tertimpa musibah.


Tangan Wildan bergetar, berdoa terus di dalam hatinya jika dia memohon perlindungan untuk keluarga yang sedang tertimpa musibah.


"Tenang Wil, insha Allah semuanya selamat." Karan mempercepat laju mobil, terburu-buru ke rumah sakit.


Sesampainya Wildan berlari kencang untu menuju tempat perawatan istrinya, ternyata belum tiba.


Wildan menghubungi Kasih, tapi mobil Kasih tiba di rumah sakit.


Winda langsung dibawa keluar, Wildan menggenggam tangan adiknya, kepala Winda juga berdarah, tubuhnya terluka.


Mobil Binar juga sampai, Vira sudah jatuh pingsan Wildan langsung menggendongnya melihat tubuh istrinya darah semua.


Dokter nisa yang menangani keduanya membandingkan tingkat bahaya, akhirnya dokter Nisa memilih Winda, meminta tim lain membantu Vira.


"Sayang, Vira bangun. Winda bangun dek, ini kak Wil." Wildan menahan air matanya menggenggam erat tangan dua wanita yang sangat dia sayangi.


"Ya Allah lindungilah adik juga istriku, air mata Wildan menetes, melepaskan keduanya masuk ke ruang kanan dan kiri sedangkan di depan Wildan ada operasi yang sedang berlangsung.


Karan merangkul Wildan, dokter Nisa menemui Wildan untuk mengurus surat pernyataan untuk melakukan operasi sesar, bayi Winda akan segara dikeluarkan.


Tatapan Wildan sangat terkejut keponakanya baru berusia tujuh bulan, keterkejutan Wildan menjadi double saat Vira juga akan melahirkan secara sesar.


"Dok, kandungan Vira belum tujuh bulan."


Dokter menjelaskan kondisi Vira, pendarahan hebat yang terjadi membahayakan bayi, bahkan saat ini bayi tidak bergerak lagi.


Wildan tidak punya pilihan, dia langsung mengambil tindakan yang mana menurut dokter terbaik, hal paling penting ibunya selamat, soal anak akan mereka lakukan pikirkan nanti, meskipun Wildan berharap bayi juga selamat..


Sungguh pukulan yang menghacurkan, tidak pernah terbayangkan saat Allah menguji sungguh menghacurkan hati, bahkan Wildan kehabisan kata-kata untuk bicara, dirinya tidak punya semangat lagi.


Duduk di lantai menunggu keluarga juga, orang-orang tercinta keluar dalam keadaan baik-baik saja.


"Ya Allah lindungilah mereka yang sedang berjuang antara hidup dan mati, jika hamba boleh memohon selamatkan anak-anak kami. Ini sungguh pilihan yang sulit."

__ADS_1


***


__ADS_2