SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PERTEMUAN PERTAMA


__ADS_3

Di rumah sakit, Cinta sudah duduk menunggu jemputan. Penampilan Cinta sudah sangat berbeda, hijab yang menutupi kepala, baju gamis yang tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya, wajah polos tanpa polesan. Kecantikan Cinta sangat alami, kulit putih bersih, tatapan matanya yang tenang.


Cinta melihat banyak orang yang berlalu lalang di hadapannya, seorang ibu yang memeluk boneka di sampingnya, seorang ibu muda yang diam mematung. Suara teriakan menggema terdengar, suara tangisan pilu, wanita tua yang bertingkah seperti anak-anak. Banyak jenis orang yang kurang beruntung berada di sekitar Cinta.


Senyum Cinta terukir saat melihat mobil yang baru saja tiba terparkir di depannya, dua wanita kembar, sangat cantik keluar dari mobil berjalan perlahan mendekat, Cinta tersenyum melihat Kasih dan Karin datang bersama.


"Assalamualaikum kak Cinta." Karin langsung memeluk Cinta, pelukan keduanya sangat erat.


"Kasih, boleh kak Ci peluk."


Kasih langsung mendekat, memeluk erat Cinta. Karin juga memeluk keduanya bersamaan.


"Ayo pulang kak, jangan pernah kembali lagi ke tempat ini." Kasih menggenggam erat tangan Cinta.


Ravi pergi menemui pengurus rumah sakit, meminta surat keterangan. Setelahnya baru menemui Kasih, Karin dan Cinta yang menunggu sambil tersenyum.


"Sudah ingin pulang belum, yang bernama Kasih tolong tetap tinggal." Ravi tersenyum melihat mata istrinya.


Kasih berjalan lebih dulu ke arah mobil, Karin dan Cinta tertawa melihat kejahilan Ravi yang membuat Kasih kesal.


"Maaf Mbak, Kasih belum diperbolehkan pulang."


"Aku Karin, buta." Kasih langsung masuk mobil, membanting pintu mobil.


Ravi tertawa lucu, mempersilahkan Karin dan Cinta masuk mobil, Cinta melihat ke arah orang yang tidak seberuntung dirinya.


"Cinta, mau pulang tidak?" Ravi membukakan pintu mobil.


Cinta langsung cepat masuk, Ravi juga masuk. Mobil melaju meninggalkan rumah sakit jiwa. Sepanjang perjalanan Cinta bercerita kegiatannya selama di RSJ, banyak hal baru yang Cinta dapatkan.


"Kak Cinta yakin ingin pulang bersama ibu, tinggal di Desa." Karin menggenggam tangan Cinta.


"Iya dek, Kak Cinta ingin menenangkan diri. Menemani Ibu, merasakan kesejukan perdesaan."

__ADS_1


Kasih menatap jalanan, mengingat ingatan kecil tentang seseorang, Ravi meminta mobil berhenti.


"Karan, aku minta tolong kamu mengantar Karin dan Cinta sampai rumah. Aku dan Kasih akan berhenti di sini." Ravi turun, meminta Kasih turun.


"Kasih turun, suami kamu mulai kumat." Kasih mendorong Karin untuk keluar.


Ravi tertawa melihat Kasih yang masih kesal, tapi merasa lucu karena mulai ambekan.


"Sayang, ayo cepat. Jangan sampai aku gendong kamu ya."


Kasih langsung cepat turun, mobil pergi meninggalkan Ravi dan Kasih di pinggir jalan.


"Sekarang kita jalan kaki." Kasih menatap sekeliling, tidak ada mobil yang mendekati mereka.


Ravi menggandeng tangan Kasih, melangkah meninggalkan jalanan. Kasih masih mengingat jelas jalanan yang mereka lalui. Ravi berhenti tepat di depan jalan kecil, Ravi berdiri di belakang Kasih menatap ke depan.


"Aku pernah melihat gadis kecil di lorong itu, dia bisa menjatuhkan tiga orang berbadan besar yang hampir menembak aku."


Pelukan Ravi semakin erat di pinggang Kasih, senyuman Ravi terlihat mengigat gadis kecil dingin, menatap tajam, mengendong tas ransel, rambutnya di ikat dua.


"Apa yang kamu lakukan di sana Kasih?" Ravi menatap wajah Kasih yang tersenyum.


"Bolos sekolah, aku marah karena mendapatkan nilai kecil, dituduh mencontek padahal dia masih kecil, tidak mengerti arti mencontek. Sekolah tidak adil kepada gadis kecil itu." Kasih menahan air matanya.


Saat kecil Kasih berlari keluar kelas, membawa tasnya, air matanya mengalir membasahi pipinya. Kasih terus berlari dan melihat seorang anak kecil yang juga berlari kencang, banyak orang berbadan besar mengejarnya. Kasih juga ikut mengejar, pertarungan terjadi, antara anak kecil dan pria dewasa, Kasih berdiri di belakang tiga pria yang siap menembak.


Kasih tidak mengerti ucapan mereka, mengatakan Viana harus hancur, Rama akan runtuh jika kehilangan putra semata wayangnya.


Mendengar tawa menyeramkan, Kasih yakin pasti ada niat jahat. Kasih membuka Tasya mengeluarkan pulpen yang terdapat pisau kecil yang Kasih gunakan untuk merapikan pensilnya, Kasih tidak memiliki penyerut pensil. Jadinya dia menyembunyikan pisau kecil juga dia gunakan untuk menjaga dirinya.


Kasih langsung berlari melemparkan batu besar, menarik kaki sampai terjatuh memukul kepala seorang pria sampai pingsan. Melihat salah satu temannya terluka, rambut Kasih langsung dijambak, tubuhnya terangkat ke atas, Kasih melukai urat leher membuat titik kelemahan.


Sejak kecil Kasih dan Tama sudah belajar bela diri, jadi dia tahu titik kelemahan orang, senjata mengarah tepat di kepala Kasih, tapi pisau kecil Kasih sudah melukai urat nadi, senjata langsung jatuh. Kasih meminta orang pergi, membawa satu teman mereka sudah tergeletak.

__ADS_1


Saat menyadari Kasih melihat Ravi yang menjatuhkan beberapa orang, puluhan pengawal datang. Langsung menggendong Ravi, melangkah membawanya pergi. Kasih juga melangkah pergi cepat pulang ke rumah.


"Terima kasih sayang, kamu pernah menyelamatkan aku. Beberapa kali aku mencari kamu, tapi tidak pernah bertemu." Ravi mencium pipi Kasih.


"Aak tahu, kejadian hari itu aku ceritakan kepada kak Tama. Dia langsung kaget, takut pria yang terkena pisau meninggal, Kasih divonis menjadi pembunuh belia."


Ravi langsung tertawa, melepaskan pelukannya, mengandeng Kasih memasuki jalan kecil tempat Kasih menyerang tiga pria.


"Sayang pacaran di sini sepertinya enak?" Ravi mendorong pelan tubuh Kasih di dinding.


"Aak mesum, tidak cukup di rumah, jalanan umum juga masih ingin nyosor saja." Kasih memukul lengan Ravi berjalan melewati lorong kecil tempat dulu dia berlari.


Ravi hanya tersenyum, mengikuti Kasih dari belakang. Dunia begitu sempit, pertemuan pertama di tengah penyerang. Lalu mereka bertemu kembali, Ravi kaget melihat gadis jutek menatapnya tajam di dalam mobil.


Ingatan Ravi terhadap mata Kasih membuatnya tersimpan di dalam hati Ravi, bertemu saat dewasa Ravi sudah langsung menebak jika supir taksi gadis kecil pemberani.


Betapa semangatnya Ravi mengejar Cinta Kasih, melukis kisah romantis sampai akhirnya menikah. Perjalanan cinta yang cukup panjang.


"Aak, tempat ini tidak banyak berubah, padahal sudah puluhan tahun. Seharunya sudah banyak bangunan, daerah sini bisa menghasilkan banyak uang."


"Aku tidak akan mengubah cerita kita di sini Kasih, biarkan dia menjadi saksi awal pertama kita bertemu. Gadis kecil, rambut kuda, tas kuning, wajah cemberut. Aku mengingat semuanya."


"Bocah sok keren, banyak gayanya, sudah diserang masih sempat minum, meminta maaf, akhirnya memanjat. Dasar tidak jelas, kalau tidak pengawal datang tulang kamu sudah patah semua."


"Kamu juga masih mengigat aku, saat di mobil ingat aku tidak?"


"Tidak, ingatan aku hanya batas di sini." Kasih melihat tempat dulu dia kabur dari sekolah.


"Kasih, I LOVE YOU." Ravi mencium kening Kasih.


"Mas kalau ingin pacaran, jangan di sini." Beberapa pemuda menatap sinis, Ravi hanya tersenyum.


***

__ADS_1


__ADS_2