
Suara Reva tinggi terdengar, Wildan langsung masuk melihat Maminya tidak ingin bicara.
"Mami maafkan Wildan, jangan sedih seperti ini." Wildan menggenggam tangan Maminya yang langsung ditepis.
"Wildan menerima perjodohan, hari ini Wildan akan pergi menyusul Vira membawanya kembali dan akan menikah."
"Benarkah, tidak bohong."
"Wildan tidak mungkin bohong Mami, berikan Wildan dan Vira waktu untuk menyiapkan diri."
"Iya, tapi jangan lama-lama. Mami ingin menggendong cucu dari kamu, Wira sudah besar tidak bisa digendong lagi."
"Pinjem anaknya kak Billa, atau anaknya kak Kasih."
"Beda Wildan, ada Jum sama kak Vi."
"Baiklah Mami."
Reva langsung memeluk Wildan, mengusap wajah putranya gemes.
Wildan langsung melangkah menemui Papinya, meminta izin untuk pergi sementara waktu.
"Papi, Wildan pergi sebentar hanya bisa mengontrol pekerjaan dari jauh, di sini ada Karan yang akan mengurusnya."
"Wildan, ada masalah apa sebenarnya di Mansion kamu?"
"Masalah? Wildan tidak merasa ada masalah Papi."
"Jangan bohong, Mami mengatakan Fly kembali, kepergian Vira dan Winda karena seorang pemuda. Siapa dia?" Bima meminta Wildan duduk.
Wildan menceritakan keluarga mafia yang pernah dia masukin saat berada di Roma, orang paling berkuasa dalam bisnis ilegal.
Rasa penasaran Wildan yang sangat besar soal keluarga mafia membuatnya berencana membobol sistem keamanan, ternyata tindakan Wildan membuat masalah sampai aparat keamanan berhasil masuk menyita seluruh aset.
Keluarga mereka langsung melarikan diri, Ayahnya tertangkap langsung bunuh diri begitupun dengan ibunya yang memutuskan bunuh diri karena tidak sanggup lagi melarikan diri.
Hanya tersisa dua pemuda yang memang sedang pendidikan di luar negeri, mereka diperiksa dalam keamanan bersih tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis ayahnya.
"Dewa dan Randu putra mereka."
"Kamu penyebab hancurnya mereka?"
"Tidak sepenuhnya, Wildan hanya membobol keamanan mereka, tidak tahu jika banyak hacker yang melacak bisnis mereka selama beberapa tahun."
"Apa mereka juga ada sangkut pautnya dengan bisnis Mou?"
"Papi benar, kak Mouza juga salah satu target mereka, beruntungnya kak Mou sudah tahu dari awal sehingga membatalkan kontrak."
"Mereka datang dalam keadaan rencana buruk atau tidak?"
"Entahlah Pi, Wildan akan menemui mereka secara langsung, jika mereka merasa Wildan salah, tanpa menurunkan harga diri Wil akan meminta maaf."
Bima menganggukkan kepalanya, Bima memeluk Wildan memintanya berhati-hati.
"Pergilah."
"Papi, soal perjodohan."
__ADS_1
"Jangan dipikirkan, kamu jalani saja jika kalian ditakdirkan bersama tidak akan ada yang bisa menghentikannya."
Wildan tersenyum langsung melangkah pergi setelah pamitan, langsung mencari Maminya yang ternyata sedang menguping.
"Wildan pergi dulu mami."
"Tunggu. Cium dulu."
Wildan tersenyum mencium pipi Reva, melangkah keluar dari rumah, langsung menemui Rama dan Viana soal perjodohan jika Wildan meminta waktu meluluhkan hati Vira, tanpa perjodohan.
Rama menyambut baik rencana Wildan, mendoakan Wildan agar cepat kembali lalu menikah.
"Mommy, Daddy Wildan pergi dulu."
"Kamu sebelum pergi ingin ke mana?"
"Menemui Bunda dan Ayah." Wildan tersenyum langsung ke rumah Jum mengatakan jika dia akan pergi saat kembali akan membawa Bella pulang bersamanya.
"Hati-hati Wildan."
"Siap Bunda, keponakan Uncle peluk dulu." Wildan memeluk Ning, Elang dan Embun.
"Wildan, Bella baik-baik saja."
"Tenang saja kak Billa, Wildan pastikan dia baik-baik saja."
Wildan melambaikan tangannya, tidak sengaja bertemu Tian yang tersenyum menatap Wildan.
"Ingin pergi ke mana lagi?"
"Ada urusan lama kak."
"Kak Tian juga harus hati-hati, maafkan Wildan."
"Maaf untuk apa?"
"Tidak ada, hanya ingin saja."
Wildan melangkah pergi, menghentikan langkahnya menatap punggung Tian dari belakang.
"Banyaknya beban yang kak Tian tanggung, tubuh kokoh tapi aslinya sangat rapuh."
Tian juga menghentikan langkahnya, mendekati jendela melihat mobil Wildan yang melaju pergi meninggalkan kediaman mereka.
Jum menatap Tian yang menundukkan kepalanya, mengusap wajahnya menarik nafas panjang.
***
Di bandara butterfly sudah menunggu Wildan, mereka akan pergi bersama untuk pergi ke desa yang cukup jauh.
"Jam berapa kita berangkat?"
"Sekarang kita masuk pesawat."
"Fly, aku hanya ingin bertanya satu hal?"
"Silahkan."
__ADS_1
"Siapa nama kamu?"
Butterfly tertawa kuat, langsung melangkah mendahului Wildan. Tatapan mata Wildan tajam tidak suka diabaikan jika dia bertanya.
"Wildan, duduk di sini."
Wildan langsung duduk, memakai kacamatanya memejamkan mata memutuskan untuk tidur.
"Nama aku Friska, putri seorang pembunuh bayaran. Anak haram yang tidak diinginkan di dunia ini." Fly berbisik mendekati telinga Wildan, bahkan nafas Fly terkena wajah Wildan.
Di balik kacamata hitam Wildan melotot tajam, memejamkan kembali matanya tidak merespon ucapan Fly yang meminta perhatian.
Tatapan Fly kesal melihat Wildan tidak merespon sama sekali, bahkan menoleh saja tidak.
"Sesulit ini menaklukkan kamu." Batin Fly dalam hati.
Langkah kaki Wildan sudah terdengar, berjalan di depan Fly. Yusuf sudah menunggu melambaikan tangannya saat melihat Wildan.
"Hai kak Yusuf."
"Assalamualaikum Fly." Yusuf tersenyum.
"Apa kabar kak Yusuf? ada salam dari Papi dan Mami."
"Alhamdulillah baik Wil, bagaimana kabar Papi dan Mami?"
"Sehat, hanya saja Mami belum berubah masih selalu memaksa."
Yusuf tertawa, melajukan mobilnya, Fly hanya diam saja mendengarkan pembicaraan Yusuf dan Wildan yang hubungannya sangat dekat.
"Fly apa tujuan kamu datang ke sini?"
"Aku hanya ingin menetap di sini kak." Fly menatap Yusuf.
Yusuf menjelaskan jika Fly tidak bisa tinggal di Mansion, karena ada Winda, Vira dan Bella. Demi menghindari pertengkaran maka jalan terbaik jika Fly tinggal sendiri.
Butterfly tertawa, dia sangat yakin bisa berteman baik dengan ketiga wanita yang sama nakalnya.
"Kamu tidak akan pernah bisa berteman dengan mereka, sejak kecil anggota wanitanya ada empat, tidak akan pernah ditambah."
"Tenang saja Wil, aku yakin bisa."
Wildan meminta Yusuf mengantarkan Fly ke penginapan, fasilitas di sana lengkap. Karena Fly sudah memutuskan kontrak dengan Wildan maka apapun yang Fly lakukan bukan urusan Wildan lagi, Fly juga tidak diwajibkan ikut campur.
"Wildan tujuan aku memutuskan kontrak bukan untuk berpisah dari kamu, aku ingin lebih dekat." Fly menatap Wildan tajam.
Tatapan Wildan jauh lebih tajam, mengerutkan keningnya melihat Fly yang mulai menantangnya.
"Fly, jangan anggap aku bodoh. Kamu pernah menolong kak Kasih karena balas budi, sama aku juga menolong kamu karena balas budi, jangan kamu pikir aku tidak tahu jika kamu penyebab kematian keluarga mafia."
"Wildan!" Fly teriak kuat.
"Aku membobolnya, kamu yang membocorkan seluruh informasi sehingga para aparat langsung bertidak. Kamu megambil kesempatan mengambil kekayaan mereka, bahkan membunuh pemimpin mereka, bunuh diri hanya kebohongan." Wildan tersenyum sinis.
"Oke aku salah, tapi aku tidak berniat mengkhianati kamu."
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa menerima perasaan kamu."
__ADS_1
***