SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 HANA


__ADS_3

Suasana malam hening, karena lelah Tian dan Bella memilih tidur tidak terlalu memikirkan malam pertama mereka.


Seluruh kamar terlihat tenang karena memang semuanya lelah, tidak ada yang tertarik menganggu malam pertama.


Vira juga tidur mengorok di samping Winda yang juga tidur nyenyak, hujan juga turun dengan derasnya membuat tidur semakin nyaman.


Dua wanita yang baru saja bertunangan berpelukan, sebelum nanti tidur terpisah di kamar masing-masing.


Langkah kaki melewati lorong-lorong terdengar pelan, suasana yang sepi membuatnya bebas berjalan.


Menatap satu persatu pintu kamar yang terkunci, senyuman sinis terlihat melangkah maju terus melangkah sampai berhenti di satu kamar yang ternyata juga terkunci.


Mata Rasih terbuka langsung berdiri di atas tempat tidur, Raka yang tidur di ranjang sebelah terbangun melihat adiknya.


"Daddy bangun, Asih kenapa?" Raka membangunkan Ravi yang membuka matanya perlahan.


"Asih kamu kenapa?" Ravi langsung menggendong putrinya.


"Perasaan Asih tidak enak, ada yang berjalan di area kamar keluarga." Rasih memeluk Ravi erat.


"Kasih bangun, Asih mengatakan perasaannya tidak enak, pasti ada sesuatu lagi." Ravi menggoyang tubuh Kasih.


Kasih langsung bangun, memeluk putra dan putrinya. Ravi langsung menghubungi Wildan untuk mengecek keamanan.


Wildan memang tidak tidur, sengaja mengawasi seseorang bersama Yusuf. Wil kagum dengan Rasih yang menyadari ada bahaya.


"Siapa dia Wil?" Yusuf melihat ke arah laptop.


"Orang yang sama ingin membatalkan pernikahan kak Tian, Wildan sengaja menunggunya datang bahkan memberikan jalan." Senyuman Wildan terlihat.


Yusuf bisa memprediksi jika seseorang yang mendekati kamar Winda Vira seseorang yang depresi, dia mencoret pintu dengan darah.


"Bahaya apa tidak Wil?" Yusuf melihat kunci yang sudah dimodifikasi diarahkan ke pintu.


"Bahaya, Vira dan Winda tidur seperti orang mati." Wildan langsung bersiap untuk pergi.


Langkah Wildan terhenti, Winda dan Vira membuka pintu. Winda sudah mengarahkan senjata, Vira sudah tersenyum sinis.


Keduanya menyadari jika ada yang mendekati kamar mereka, langsung mengarahkan senjata.

__ADS_1


"Cari mati dia Vir, beraninya masuk kawasan keluarga kita." Winda menurunkan senjatanya.


Vira langsung merangkul Hana, membawanya melangkah ke arah kamar Tian dan Bella yang sedang tidur berpelukan.


"Salah kamar Bu ibu, ini kamar pengantin. Jangan menganggu tidur kita, jika tidak ingin mati." Vira melangkah kembali ke kamarnya.


Winda tertawa cekikikan melihat Vira yang kesal, Hana langsung mencoret pintu kamar Tian.


"Dasar perempuan sinting." Vira menggeleng kepalanya.


"Apa bedanya sama kamu Vir?" Winda tertawa lucu.


"Kak Tian dan Bella tidak mungkin malam pertama, mereka kelelahan tidak punya tenaga lagi. Tidak ada gunanya kita menganggu, tanpa kita ganggu juga gagal sendiri." Senyuman Vira terlihat menatap Hana yang menggambar dengan emosi.


Pintu kamar Wildan terbuka, melihat ke arah kamar Tian Bella yang masih terkunci.


Pintu kamar Ravi juga terbuka, tatapan terheran-heran menatap Hana yang hancur melihat Tian menikah dengan Bella.


Pesta pernikahan yang ditayangkan secara live, perjalanan cinta keduanya juga soal hubungan persaudaraan juga terungkap.


Penikahan Tian Bella menjadi coupel terbaik, banyak wanita yang patah hati melihat pengusaha mapan menikah, salah satunya Hana yang kecewa dengan penikahan Tian.


Suara tangisan Hana terdengar bersama derasnya air hujan, Ravi melangkah keluar mendekati Vira dan Winda.


Beberapa orang dari rumah sakit jiwa datang, Yusuf meminta tolong membiarkan Hana menyelesaikan gambarnya dalam pengawasan, dia memiliki bayangan yang menyakitkan.


Yusuf mendekati Hana, melihat gambarnya yang menyimpan kesedihan. Di mata Hana, Tian satu-satunya pria terbaik yang memperlakukannya secara baik.


"Dia Tian yang menolong kamu saat semua orang merendahkan." Yusuf menunjuk gambar, kepala Hana langsung mengangguk.


"Ini gambar menceritakan kenapa kamu mengagumi Tian, dia pria yang sangat lembut kepada wanita, selalu mengutamakan perasaan, tidak mudah merendahkan orang lain." Air mata Yusuf setetes jatuh.


"Dia yang menyelamatkan Hana, tapi kenapa dia menikah dengan wanita lain." Hana menghapus gambarnya, tapi tidak bisa hilang.


"Hana, kamu mencintai Tian tapi Tian mencintai wanita lain, menolong dan mencintai memiliki arti yang berbeda. Semua orang bisa menolong, tapi tidak mudah jatuh cinta. Cinta yang hebat saat kamu bisa melepaskannya, biarkan Tian bahagia dengan wanita pilihannya. Jangan buat kotor hati kamu yang sebenarnya baik." Yusuf menyentuh tangan Hana, memberikan sebuah tasbih kecil memasangkannya menjadi gelang.


Air mata Hana menetes, langsung melangkah pergi bersama para dokter yang menjemputnya untuk kembali ke rumah sakit jiwa.


Winda langsung mengejar Hana, mengambil gelang, menggantinya dengan gelas berharga fantastis.

__ADS_1


Tatapan mata Winda tajam, tasbih milik Abi Yusuf yang terputus karena terjatuh melihat istrinya kepergok selingkuh.


Ravi tersenyum menepuk pundak Yusuf yang memiliki hati baik, semoga saja bisa menjadi imam yang baik untuk Winda.


Semuanya kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


***


Pagi-pagi Tian dan Bella berdiri di depan pintu dengan wajah kaget melihat pintu kamar penuh coretan.


Erik Billa juga langsung melangkah melihat dinding yang penuh gambar, Tian dan Bella tidak menyadari apapun yang terjadi, karena sangat lelah.


Wildan dan Yusuf keluar kamar menarik kopernya karena akan pulang ke Indonesia, keduanya hanya tersenyum saja tidak mengatakan apapun.


"Vira Winda bangun, astaga anak perawan dua ini semua orang sudah sampai Indonesia, dia belum bangun." Viana menarik keduanya.


"Winda bangun, kalian tidak sadar jika pintu kamar penuh coretan." Reva mencubit pipi putrinya.


"Bagaimana membangunkan mereka kak Vi?"


Ravi langsung menggendong adik bungsunya yang memang jika kelelahan sulit bangun, Wildan juga menggendong Winda yang masih mengorok.


"Lain kali dua anak ini kita tinggalkan saja, jika tidak penting untuk pulang Ravi tidak ingin menggendong Vira." Kekesalan Ravi terlihat saat putrinya juga belum bangun.


Tian langsung menggendong Rasih, membawanya ke mobil untuk segara ke bandara.


Semua koper sudah dimasukkan, kepulangan mereka menggunakan jet pribadi Steven. Milik Tian sudah terbakar belum sempat diurus.


Jum memeluk Bisma setelah mendapatkan kabar ibunya meninggal, ibu Jum juga tidak bisa hadir di pernikahan cucunya hanya datang saat lamaran Tian.


Kepulangan dilakukan secara mendadak, karena memang tidak bisa menunggu lama.


Baru saja bahagia, sekarang keluarga juga kehilangan. Jum yatim piatu seperti Viana yang memang sudah lama kehilangan orang tuanya.


Satu keluarga hadir, satu lagi pergi begitulah kehidupan yang selalu berganti.


Jum ikhlas melepas ibunya, sudah lama sekali sejak kepergian ayahnya ibu Jum sakit. Mungkin sudah saatnya mereka bersatu di surga.


"Sabar sayang."

__ADS_1


"Jum ikhlas mas."


***


__ADS_2