SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 SINDIRAN


__ADS_3

Di kantor Wildan dan Tian langsung menuju ruangan Ravi, menatapnya yang sedang tertawa bersama Erik.


"Assalamualaikum." Tian dan Wildan muncul.


"Waalaikum salam, akhirnya mereka sampai." Ravi meminta Tian dan Wildan duduk.


"Ada masalah apa kak?" Wildan duduk di depan Ravi.


Tatapan Ravi langsung serius mempertanyakan kepada Wildan soal butterfly dan Dewa, beberapa minggu ke belakang Ravi selalu mendengar kabar soal pengusaha muda bernama Dewata.


"Apa benar Fly sudah meninggal?" Ravi menatap Wildan.


"Iya, Fly yang bersama yang menolong Kak Erik juga mengenal baik kak Kasih sudah meninggal, tapi dia memiliki kembaran yang masih hidup sebenarnya dialah butterfly yang asli." Wildan menatap Tian.


"Sangkut pautnya sama aku apa? kenapa kalian meminta aku pulang?" Tian mengerutkan keningnya.


"Fly mendekati perusahaan BB, kalian berdua harus berada di perusahaan pusat, jangan bermain terus di luar."


Ravi memperingati Wildan untuk lebih banyak belajar mengatur perusahaan, jangan sampai Papi Bima turun kembali hanya untuk menyelesaikan masalah perusahaan.


Tian memang memiliki banyak pengalaman soal bisnis, tapi sikap Tian yang tidak menetap membuat banyaknya orang yang ingin menjatuhkan keluar masuk perusahaan.


"Erik kenapa kamu ada di sini? pasien kamu sudah banyak menunggu." Ravi menatap Erik yang asik mengemil.


"Aku sudah bekerja full, sudah waktunya beristirahat."


"Dari kamu belum menikah, sampai menikah lalu punya anak belum berubah Rik, masih saja selalu libur. Rumah sakit membayar kamu mahal." Tian menggelengkan kepalanya.


"Kakak ipar aku butuh waktu bersama kedua anakku, mereka selalu merindukan Papanya."


Wildan hanya diam saja, melihat laporan yang sudah Ravi susun soal beberapa laporan perusahaan orang asing yang masuk perusahaan BB.


Tian mendapatkan panggilan dari Ayahnya, meminta Tian makan siang di rumah karena Bundanya sudah masak.


Perasaan Tian sudah tidak enak, tapi harus tetap pulang menghadapi pertanyaan bundanya.


"Wil, kak Tian pulang duluan karena ada yang harus dibicarakan di rumah."


"Soal apa?" Ravi dan Erik langsung penasaran.


Tian hanya tersenyum langsung berlari melangkah ke luar, pertanyaan bertubi-tubi langsung diberikan kepada Wildan.


Melihat wajah Ravi dan Erik yang sangat penasaran, akhirnya Wildan bercerita soal hubungan Tian dan Bella yang sudah membaik.


"Aku tidak tahu harus bahagia atau takut, bahagia karena Tian tidak jomblo kasihan sudah tua belum menikah, tapi takut juga dengan kemarahan Bunda." Erik tersenyum.


"Tenang saja Bunda wanita paling baik, lembut, penuh kasih sayang tidak mungkin mempersulit keadaan." Ravi menatap Erik.

__ADS_1


"Rav, kamu tidak melihat bagaimana Bunda Jum menangis memohon kepada Bella dan Ayah Bisma untuk menghentikan Tian dan Cinta, tidak mendengar juga jawaban Bella yang menyakiti hati, tembus ke jantung. Aku yang mendengar juga kecewa apalagi Bunda Jum wanita yang membesarkan Tian dan Bella." Erik merinding melihat pertengkaran Bella dan Bundanya.


"Bagaimana jika Bunda tidak merestui?" Ravi menatap Erik dan Wildan.


"Pastinya Tian mengakhiri hubungan dengan Bella, bagi Tian Bunda Jum segalanya." Erik menatap sedih membayangkan kisah cinta Tian.


"Kenapa juga kak Tian menerima pernikahan dengan Cinta?" Wildan menghela nafasnya.


"Benar juga Rik, seharusnya Bunda memohon kepada Tian bukan Bella untuk menghentikan pernikahan."


Erik menggaruk kepalanya tidak enak hati menceritakan masalah Tian, sebenarnya sejak awal Tian sudah meminta izin kepada Bunda, secara terang-terangan Bunda Jum menolak, Tian juga sudah membatalkan.


"Lalu kenapa mereka menikah?"


"Bella yang membuat taruhan dengan Cinta, dan Bunda. Jika dia tidak mencintai Tian hanya sebatas kakak, jika memang Cinta merasa dirinya hebat silahkan nikahi Tian, Bunda yang mendengarnya marah meminta Tian langsung menikahi Cinta."


"Jedar kak Tian pasti merasakan tersambar petir." Wildan merinding.


"Semua konflik dari awal salah Bella, dia yang masih kekanakan. Secara bersamaan Bunda mengetahui jika Cinta memiliki penyakit kanker."


Ravi menepuk jidat tidak bisa membayangkan perasaan Tian yang hancur, demi memenuhi keinginan Bundanya menerima pernikahan, di hari bahagianya ditinggal untuk selamanya.


"Rik, ayo pulang."


"Ayo."


"Ada apa kak?"


"Memangnya penting?" Wildan menatap binggung.


"Sangat penting Wil, ini penentuan masa depan Tian jika kali ini gagal dia menjadi bujang tua." Erik berlari mengejar Ravi.


***


Vira dan Winda menatap dari atas rumah Vira melihat ke arah rumah Jum, mereka sangat penasaran dengan nasib Bella yang akan disidang.


"Aunty, Asih juga ingin naik."


"Tidak boleh nanti kamu jatuh, anak kecil kelakuan mirip orang hutan." Vira mengomel.


"Vira coba saja kak Kasih mendengarkan ucapan kamu, kira-kira marah tidak?"


"Mulut kak Kasih lebih kejam, jika Ravi Kasih bertengkar pasti karena anak."


"Aunty, Asih datang." Rasih tersenyum duduk di samping Vira.


Tatapan Vira dan Winda terlihat shock melihat anak kecil bisa memanjat atap rumah, sudah membawa teropong untuk mengintip.

__ADS_1


"Rasih saja punya persiapan." Winda tertawa mengusap kepala Asih.


"Daddy, Asih ada di sini." Rasih lompat-lompat melambaikan tangannya kepada Ravi yang baru saja pulang.


"Kak Ravi, monyet naik ke atas rumah jangan salahkan Vira."


"Kasih, apa pekerjaan kamu sampai Rasih ada di atas rumah." Ravi menatap tajam.


Kasih melotot lebih menantang Ravi, senyuman Ravi terlihat langsung memeluk istrinya. Ravi langsung berlari untuk mengambil Rasih yang memang sangat nakal.


Senyuman Kasih terlihat menatap Ravi yang menggendong putrinya yang terus mengomel, memberikan pertanyaan bertubi-tubi.


"Daddy kenapa pulang cepat?"


"Ingin makan siang bersama." Ravi mendudukkan Rasih.


"Sayang, duduk yang sopan wanita duduk harus anggun, kakinya tidak boleh diangkat." Ravi mengajari Rasih duduk merapatkan kakinya.


"Di mana Raka?" Ravi menemui putranya yang belajar bersama Daddy-nya Rama.


"Siang Daddy, siang anaknya Daddy." Ravi memeluk Rama, mencium putranya.


Suara berisik Mommy terdengar, memarahi Vira dan Winda. Secepat kilat Winda langsung berlari pulang.


"Mommy, kita hanya ingin bermain dengan Embun."


"Vira, jangan ikut campur biarkan Bella menyelesaikan masalahnya sendiri."


"Benar Vira, tidak ada ibu yang ingin menyakiti anak-anaknya. Apapun yang terjadi itu yang terbaik untuk Bella dan Tian, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka." Rama tersenyum melihat putrinya.


"Kamu tidak tahu sakitnya hati Jum melihat putri yang dia kandung menentang keputusannya, Mommy juga akan kecewa jika kamu melawan Mommy apalagi sampai membuat seorang ibu menangis."


"Bella sudah menyadari kesalahannya."


"Mommy tahu, dia terlalu egois sehingga tidak menyadari perasaannya, dia berpikir dulu apa yang dia lakukan terbaik. Bella tidak bermaksud melukai siapapun, tapi tanpa dia sadari ada hati seorang ibu yang kehilangan putra putrinya."


Vira hanya duduk diam, ucapan Mommy seakan-akan menyindir dirinya agar tidak menolak pilihan terbaik yang mereka persiapkan.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT JUGA


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


***


NOVEL MENGEJAR CINTA OM DUREN TIDAK UP DIKARENAKAN NT EROR PADAHAL DARI KEMARIN SUDAH UP, TAPI SAMPAI SEKARANG BELUM MUNCUL.

__ADS_1


GARA-GARA INI GK SEMANGAT NULIS.


***


__ADS_2