
Tawa Erik terdengar meminta Wildan duduk tenang, wajah Wildan kesal melihat Erik yang mulai berani mengancamnya.
"Akhirnya kamu pulang juga anak nakal, banyak sekali masalah dalam keluarga kita, kamu bersenang-senang." Erik meletakkan pisau kecil untuk membedah di atas meja.
Wildan langsung cepat ingin mengambil pisau, Erik lebih cepat lagi menyingkirkan. Wildan langsung ingin memukul Erik, tapi Erik berhasil menangkis.
"Diantara yang lainnya kak Erik yang paling licik, Wildan kesal bekerja dengan kak Erik." Wildan langsung menendang kursi kerja Erik.
"Kamu lebih tahu daripada kak Erik Wil, aku tidak ingin Billa terluka hanya karena masa lalu, sebelum pernikahan aku ingin semuanya selesai. Cukup Ravi yang harus menghadapi masalah masa lalu dalam pernikahan, aku tidak ingin Wil, semuanya harus tahu sebelum pernikahan." Erik menatap tajam Wildan.
"Kenapa tidak melibatkan kak Ravi dan Tian?"
"Ravi sedang bahagia, dia sudah terlalu banyak menangis, jadi biarkan dia tenang. Aku juga tidak ingin Tian tahu, soal adik kandungnya."
Wildan menghela nafas, Tian memang tidak menjalin hubungan dengan Ayahnya, bahkan tidak tahu siapa Ayahnya, mungkin Tian hanya berpura-pura tidak tahu, Erik juga tidak habis pikir bisa berurusan dengan adik kandung Tian satu Ayah.
"Lagian keluarga kita terlalu luas dan membingungkan, kak Tian dan Windy satu Ibu lain Ayah, kak Tian punya adik satu Ayah lain Ibu. Kejadian kak Windy yang hampir mati di tangan Ayahnya kandungnya sendiri, sekarang adik kak Tian muncul, besok neneknya, kakeknya, cucunya." Wildan menghela nafas. (cerita Windy full di mengejar cinta Om bule, satu lapak dengan mengejar cinta Om Duren. Masih up.)
"Maaf ya Wil jika kak Erik meminta bantuan kamu, demi menjaga perasaan Tian."
"Baiklah, kapan kak Erik ingin bertindak."
"Malam ini, kita bisa menemuinya di klub malam."
"Baiklah, rahasiakan terlebih dahulu kepulangan Wildan. Wildan boleh meminjam mobil kak Erik?" Wildan langsung mengambil kunci mobil Erik.
"Wil, betapa kayanya keluarga Bramasta, tapi kamu bisa tidak memiliki mobil."
__ADS_1
"Bukan masalah tidak bisa membeli, aku tidak bebas jika menggunakan mobil pribadi." Wildan menggunakan topi, masker, kacamata hitam langsung melangkah pergi.
Erik tersenyum melihat Wildan melangkah pergi, Erik kaget melihat Tian berada dalam ruangannya. Tian mendengar pembicaraan Erik dan Wildan.
"Tian." Erik langsung menundukkan kepalanya.
"Aku tidak tahu siapa Ayahku Rik, juga tidak tahu jika memiliki adik, dia sebesar siapa?" Tian duduk di kursi menudukan kepalanya.
"Kenapa tidak mencari tahu?" Erik duduk di depan Tian.
"Takut, aku takut kejadian kak Windy juga terjadi padaku. Aku putranya Ayah Bisma dan Bunda Jumi, hanya mereka orangtuaku." Tian meneteskan air matanya.
"Kak Tian takut menikahi Bella, karena asal-usul masa lalu. Kita sama kak, memiliki rasa takut yang sama." Erik menepuk bahu Tian yang mengusap matanya.
"Apa yang dia lakukan kepada kamu Rik?" Tian menatap Erik, terlihat kesedihan di mata Tian.
Erik mulai bercerita, jika dia bertemu seorang wanita saat pertama kali bekerja di rumah sakit. Erik menjalin hubungan hanya 4 bulan, sebuah hubungan yang hanya berstatus tanpa bertemu.
Erik sulit ditemui, sekarang sudah mulai mengancam akan membunuh Billa. Hubungan Erik sudah bertahun-tahun yang lalu berakhir, Laura juga memiliki seorang tunangan, tapi ditinggal menikah begitu saja, membuat Laura semakin terpuruk.
"Apa dia orang jahat Rik? darimana kamu tahu jika dia adik aku."
"Sebenarnya dia gadis baik, tapi banyaknya tersakiti kurangnya kasih sayang membuatkan memilih jalan yang salah."
"Kenapa kamu sangat yakin jika dia adik ku?"
Erik meminta maaf kepada Tian, Laura mengalami keguguran, lalu mencoba melakukan bunuh diri, Erik berusaha menyelamatkannya. Laura memiliki tanda lahir yang sama dengan Tian di pundak, Erik menepis kecurigaan, tapi melakukan tes DNA menggunakan rambut Tian, darah Laura, juga menyelidiki Ayah Laura untuk melakukan tes DNA, semua hasilnya 99% sama, Laura adik kandung Tian.
__ADS_1
"Maafkan aku Tian menyelidiki sampai sejauh ini, bukan untuk Laura, tapi demi wanita yang aku cintai." Erik mengeluarkan hasil tes DNA.
Tian meneteskan air matanya, menangis sesenggukan dihadapi Erik. Ada rasa bersalah karena tidak mengetahui kebenarannya.
"Aku pengecut sekali Rik, tidak ingin tahu masa lalu, tenyata aku memiliki adik yang juga terabaikan seperti diriku." Tian menghapus air matanya.
"Kamu tidak salah kak, masih ingat saat pertama aku datang. Melukai banyak hati, sampai Papa melempar aku dengan gelas, mengatakan aku benalu. Hampir aku merusak rumah tangga Papa, aku datang hanya ingin meminta cinta, kasih sayang padahal aku sadar tidak diinginkan lahir ke dunia ini. Kak Tian berpikir hal yang sama tidak ingin menyakiti keluarga kakak yang sekarang." Erik juga menutup matanya dengan tangan menahan air matanya.
Tian masih berusaha menenangkan dirinya, menatap hasil DNA yang mungkin akan membuat kenyataan baru, Tian takut akan menyakiti Billa, Bunda juga Bella, tapi di satu sisi Tian juga ingin menyelamatkan adiknya.
"Boleh aku tahu yang direncanakan Laura? apa juga rencana kamu?"
"Maaf sekali lagi kak Erik, Laura sedang merencanakan untuk membunuh Billa, dia mengirim beberapa orang untuk mengawasi Billa, kita bisa menyelamatkan Billa tapi dia juga mengirim hasil video yang dia miliki soal bayi yang mereka bunuh untuk menuduh Billa yang melakukannya."
"Kenapa bisa? kita bisa membuktikan jika bukan Billa yang melakukan."
"Semuanya sudah dimanipulasi, jika sampai diselidiki kepolisian, kita tidak akan bisa menyelamatkan Billa. Tidak ada bukti sama sekali jika bukan Billa perlakuannya."
"Astaghfirullah Al azim, jadi rencana kalian?"
"Wildan akan menyelamatkan Billa, aku harus menemui Laura di klub malam, dia menjual diri untuk mendapatkan uang. Masalah kita hanya satu, berapa banyak copy video yang sudah disebar, walaupun Wildan menghapusnya, bisa saja muncul yang lainnya."
Tian terduduk lemas, Wildan tersenyum langsung pergi meninggalkan Erik dan Tian, sejak pertama masuk ruangan Erik, Wildan sudah tahu jika ada Tian.
Wildan sengaja membiarkan Tian mendengar semuanya, agar tidak ada rahasia lagi, tidak ada alasan untuk menjaga perasaan satu sama lain. Tian yang akan menghentikan semuanya.
Wildan juga menghubungi Ravi untuk menjaga ketat kediaman, tidak ingin masalah ini merambat, terutama menjaga hati Bunda. Perlahan untuk memberitahukan Bunda soal adik Tian.
__ADS_1
Menjaga Billa sebuah kewajiban bagi Tian, Tapi tidak bisa diabaikan jika Laura juga harus dilindungi. Wildan merencanakan semuanya demi kebaikan kedua adik Tian yang menginginkan lelaki yang sama.
***