
Seluruh orang sudah berkumpul di rumah utama, Ravi datang bersama kedua anaknya dan Kasih. Tian juga datang bersama Cinta yang belum ingin berbicara dengan siapapun.
"Sayang, kabar baik atau buruk?" Ravi menatap Kasih yang asik mengemil.
"Baik, lihat banyaknya manisan yang Bunda beli, berarti Bunda sedang bahagia." Kasih tersenyum menatap Bunda yang sangat bersemangat.
Bisma mengerutkan keningnya melihat istrinya yang sangat bersemangat, Bening juga selalu tersenyum. Jum melihat Bening langsung memeluknya, mencium gemas.
Erik juga tiba langsung berlari ke kamarnya, teriakan Bunda meminta Erik mandi, baru boleh memeluk Billa, Erik hanya mengagukan kepalanya.
"Sayang kenapa kamu yang mengatur, terserah Erik ingin memeluk sudah atau belum mandi?" Bisma mengambil Bening, langsung membawanya menjauhi Jum.
"Erik pulang kerja, kotor, bertemu banyak orang, jadi harus mandi." Jum melotot, Bening tertawa melihat Jum mengomel.
"Yah."
"Kakek sayang, Ayah belum pulang." Bisma mengobrol bersama Bening.
Binar tersenyum menyerahkan botol susu Bening, melihat Bening yang terus mengoceh Yah.
"Binar, bagaimana jika Bening bergantung dengan Tama? tidak selamanya kalian tanpa hubungan, kamu menikah, Tama juga, lalu Bening." Bisma menatap cucunya tercinta.
"Seiring berjalannya waktu, Binar akan menjelaskan kepada Bening. Dia harus mengerti jika Tama dan Bening hanya angkat."
Bisma meminta Binar membawa Bening ke kamar, mata Bening mulai terlelap. Binar memeluk Bening meninggalkan Bisma sendirian.
Tian duduk mendekati Ayahnya, Bisma tersenyum melihat Tian yang baru saja membuka cabang bisnis terbarunya.
"Bagaimana keadaan Cinta? jika kamu lelah jangan memaksakan diri." Bisma merangkul Tian.
Bastian juga merangkul Ayahnya, Tian merasa menjadi orang yang sangat beruntung, dicintai oleh kedua orang tua angkatnya, cinta Bisma tidak pernah sedikitpun berkurang.
"Tian, kamu tahu Ayah Bunda sangat menyayangi kamu, kami ingin kamu bahagia, seandainya kamu tahu, apapun akan Ayah lakukan demi kebahagiaan kamu." Bima mencium kening Tian.
Tian tersenyum, meminta doa restu Bisma agar dia dan Cinta segera menikah. Ravi mendengar semua pembicaraan Tian dan Uncle Bisma.
Suara panggilan untuk berkumpul terdengar, Tian dan Bisma berjalan bersama. Mendekati semua keluarga, senyuman Jum, Reva dan Viana pertanda buruk ada yang akan menjadi korban.
"Kalian bertiga lebih baik jangan tersenyum, mirip Joker." Bisma menggelengkan kepalanya, tawa terdengar mendengar ucapan Bisma.
__ADS_1
Billa yang mendengar orang tertawa langsung menangis, Erik mengusap punggung Billa memintanya berhenti menangis.
Setiap hari sebelum tidur Billa selalu menangis, jika keinginan tidak Erik turutin pasti menangis, Erik berpikir mungkin karena Billa terbiasa dimanja, dia juga masih muda memaklumi sikap Billa yang kekanakan, manja, juga sangat sensitif.
Semua mata melihat ke arah Billa yang menangis memeluk Erik, biasanya Billa yang paling dewasa, tapi kali ini Billa mencium leher Erik di depan banyak orang.
"Billa kamu ...." Bisma menatap ke arah istrinya.
"Hamil." Rama, Bima, Bisma yang mengenal Jum saat mengandung langsung menepuk jidat, penerus Jum akhirnya muncul.
"Erik, kamu tinggal bersama kita saja. Kamu tidak tahu, jika Billa mengamuk bisa kabur dari rumah."
"Kenapa pergi dari rumah Ayah?"
"Karena setiap malam menginginkan begituan, Bunda Jum juga dulu tidak puas satu kali, jika tidak dilayani dia marah." Bisma mengoceh panjang lebar.
"Ayah!" Jum melotot, beraninya Bisma membongkar rahasia rumah tangga.
"Maaf sayang keceplosan." Bisma tersenyum melihat semua mata menatapnya.
"Kak Tian tutup telinga, kamu masih di bawah umur." Ravi mengedipkan matanya.
"Ucapan Ayah benar, kenapa aku tidak menyadarinya sampai istriku hamil 3 bulan? semuanya karena Ravi." Erik menatap tajam Ravi.
"Jangan berpura-pura gila Rav, siang aku bekerja di kantor, malam di rumah sakit, besoknya lagi siang di rumah sakit, malamnya mengurus surat menyurat. Pulang malam, melihat Billa yang sikapnya berubah-ubah, syukurnya aku sabar." Erik mengomel, Billa memperhatikan ucapan Erik.
"Kak Erik tidak mencintai Billa lagi ya? ingin Billa pergi dari hidup kak Erik." Air mata Billa langsung menetes.
Erik kaget, langsung memeluk Billa mengucapkan kata cinta, hal yang mustahil Erik bisa berubah rasa, cinta Erik kepada Billa karena Allah.
Billa langsung tersenyum, Kasih menanyakan kandungan Billa yang sudah tiga bulan, tidak heran Billa lebih gemuk dan berisi.
"Kak Kasih, boleh minta sesuatu?" Billa tersenyum malu-malu, Bisma menggelengkan kepalanya.
"Boleh, Billa menginginkan apa?"
"Billa ingin kak Ravi botak." Senyum Billa lebar, Erik langsung menundukkan kepalanya menahan tawa, Bisma sudah melangkah pergi, Viana Reva juga pergi.
Tawa Bisma pecah, Reva Viana juga tertawa bersama Bisma, jika mereka tertawa di sana Billa pasti menangis, jadinya jika ingin tertawa harus menyingkir.
__ADS_1
Viana terdiam membayangkan Ravi botak, mengalahkan kepada Raka, tawa Vi tidak bisa berhenti sampai batuk dan terduduk.
"Mustahil Billa, kak Ravi nanti jelek." Ravi tersenyum memohon.
"Billa ingin mengelus kepala kak Ravi botak."
"Kepala Raka saja yang baru dicukur, kak Ravi malu botak."
Billa menundukkan kepalanya, air matanya menetes langsung pamit ingin ke kamarnya. Kasih melotot menatap Ravi untuk mengiyakan keinginan Billa.
"Kak Erik saja yang botak, jadi setiap malam Billa bisa mengelus."
"Tidak mau, nanti Billa tidur dengan tuyul."
Rama menepuk lengan Bima langsung melangkah ke tempat Bisma berada, Jum juga melangkah pergi mengikuti Rama Bima, tidak sanggup melihat putrinya yang menjadi jiplakan dirinya.
"Kak Tian saja yang botak." Tian tersenyum melihat Billa lembut.
Lama Billa diam menatap Tian, senyuman terlihat, Ravi mengusap dadanya, berharap Billa setuju.
"Kak Tian boleh tidak rambut kak Tian di buat panjang, sampai ke lutut, Kak Ravi yang botak licin."
Kasih menutup mulutnya melihat wajah Tian yang memikirkan rambutnya panjang sampai ke lutut, sedangkan Ravi botak seperti Raka.
"Billa tunggu." Billa melangkah pergi penuh kebahagiaan.
Erik tertawa kuat melihat Ravi dan Tian terduduk lemas, Kasih juga tertawa kuat membayangkan saja sangat lucu.
"Ravi, dulu aku menjadi korban amukan Kasih, sudah saatnya kamu membalas jasa, tolong cukur rambut kamu sampai botak licin." Erik tertawa langsung berlari.
Ravi mengusap kepalanya, mengacak rambutnya. Pasti dirinya jelek sekali, membayangkan saja sudah menyeramkan. Raka masih kecil jadinya mengemaskan, jika dirinya tubuh tinggi, badan kekar, tapi botak.
Wildan muncul menatap binggung, mendengarkan cerita Kasih. Wildan mengusap dada, syukurnya dia tidak ikut kumpul karena sedang beristirahat baru keluar dari rumah sakit, jika tidak mungkin dia harus membuat rambutnya keriting.
"Wildan, kak Billa dari tadi mencari kamu."
"Mampus kamu Wildan." Ravi menahan tawa, Tian juga tersenyum melihat wajah Wildan.
Jantung Wildan langsung berdegup, panik langsung berlari tidak mempedulikan teriakan Billa yang ingin berbicara.
__ADS_1
Tawa Erik terdengar, istrinya sangat lucu dan mengemaskan, semoga anaknya sehat sampai lahir ke dunia ini.
***