
Sepanjang perjalanan hanya keributan yang terdengar, Lin hanya tertawa sambil memangku Vio yang terus marah-marah kepada Vani dan Arum.
Wajah Erwin terlihat kusut dan stres melihat tingkah laku anak-anak yang nakalnya tidak ada lawan.
Ada rasa menyesal dulunya dia mengambil keputusan menjadi dokter anak, tapi tidak bisa memahami anak-anak dalam keluarganya.
Suara Asih mulai gaduh terdengar di belakang, dia tidak bisa merasakan AC mobil, duduk di belakang terasa panas.
Bukan hanya Rasih, tapi Arum juga mulai kompline. Mereka mempunyai mobil pribadi masing-masing yang tidak pernah membuat kepanasan.
"Uncle, berapa lama lagi kita sampainya?" Asih menendang tempat duduk di depannya.
Arum langsung kaget, menatap ke belakang ingin memukul Rasih yang membuatnya hampir jantungan.
Lin langsung menegur anak-anak agar lebih tenang, tidak baik bertengkar sesama saudara.
Mobil akhirnya tiba di tempat tujuan, anak-anak satu-persatu langsung keluar. Berlarian ke arah tempat makan Jepang, Lin dan Erwin juga langsung melangkah masuk.
"Kenapa kita ke sini kak?"
Erwin langsung merangkul pinggang Lin, melihat meja yang sudah dia pesan. Ada tiga wanita dengan orang tuanya masing-masing.
Asih, Arum, Em, twins V, Bulan dan Ning langsung duduk melingkar membuat tatapan wanita di dekat mereka kebingungan.
Senyuman Erwin dari kejauhan sudah terlihat, tanpa dirinya banyak menjelaskan anak-anak nakal sudah langsung mengerti tujuan mereka datang.
Wajah Lin masih binggung mencoba memahami yang terjadi, langsung menatap anak-anak yang duduk manis.
"Anak-anak mama yang cantik-cantik duduk yang manis, nanti Mama pesan minum ya." Senyuman manis Lin terlihat, mengusap kepala twins V yang menganggukkan kepalanya.
"Sayang, kamu duduk saja. Aku yang akan memesankan." Tatapan Erwin sangat lembut, tersenyum manis kepada Lin yang tertunduk malu-malu.
Tangan Rasih mencubit Em yang tersenyum Anggun, rasanya mereka ingin tertawa lepas, joget-joget, langsung makan dengan lahap juga mengejek nenek-nenek yang ada dihadapan mereka.
Seorang wanita paruh baya langsung berdiri, memarahi Lin juga anak-anak yang duduk di depan mereka.
Orang kaya seperti mereka tidak pantas duduk di samping orang miskin, suara orang marah saling bersahutan meminta Lin membawa anak-anak segera menjauh.
"Papa, mereka mengusir kita." Bibir Bulan langsung monyong ingin menangis.
__ADS_1
"Sayang, jangan menangis nak." Erwin langsung khawatir, memeluk Bulan erat memintanya untuk tenang.
Lin langsung duduk menjelaskan situasinya, mereka sudah menikah selama empat tahun, dan memiliki tujuh anak.
Wajah Erwin langsung terkejut, menikah empat tahun dan anak mereka sudah ada yang berusia delapan tahun, kepolosan Lin merusak rencana Erwin.
Suara tawa terdengar mengejek Lin yang tidak bisa menipu mereka, tidak perduli Erwin sudah menikah ataupun belum. Tiga kekasih Erwin tidak akan melangkah mundur, bahkan sudah membawa orang tua mereka.
Senyuman Lin terlihat, menunjukkan foto Ning dan Asih saat kecil. Lin mengadopsi keduanya sejak kecil, lalu ada Em yang juga diadopsi saat Lin Dan Erwin mulai berpacaran.
Setelah menikah Lin langsung hamil anak kembar, tapi memiliki wajah yang berbeda. Setelah beberapa bulan melahirkan hamil lagi bayi kembar identik.
Lin meminta anak-anak berkenalan, menyapa dengan sopan. Anak-anak dengan patuh menurut menyebutkan nama masing masing.
Kepala Lin tertunduk, sekuat tenaga menahan tawanya. Erning, Ersyi, Erbun, Erlan, Erum, Ervi dan Erva. Nama yang Rasih sebutkan membuat adik-adiknya menahan emosi.
Satu-persatu mulai berpergian setelah menampar Erwin, pertengkaran terdengar. Anak-anak tidak peduli dengan keributan Erwin, Lin dan pacar-pacar Erwin.
Suara anak-anak makan sudah rusuh, saling rebutan minuman padahal sudah punya masing-masing.
"Enak sekali makanannya ya Erbun." Rasih tertawa lepas.
Asih tidak berhenti tertawa, dia merasa puas sekali melihat adik-adiknya menjadi bahan ejekan.
Suara Lin tertawa akhirnya terdengar, dia puas sekali melihat Erwin wajahnya merah mendapatkan tamparan.
Bibir Erwin menganga melihat anak-anak sudah heboh sendiri dengan makanan mereka, bahkan bertengkar tanpa alasan.
"Semuanya tenang, kita berhasil mengusir mereka."
"Uncle, kita membantu tidak gratis Lo. Uncle tidak lupa janji, kan?" kedipan mata Asih terlihat, melakukan ciuman jarak jauh.
"Perjanjian apa?" pukulan mendarat ke punggung Erwin yang hanya menggelengkan kepalanya.
Kepala Erwin menggeleng, dia tidak tahu janji apa yang Asih maksud. Dia hanya akan membelikan es krim, tidak ada janji yang serius.
Mata Asih menatap sinis Erwin, mengambil tabletnya yang ada di dalam tas langsung menyerahkan kepada Erwin.
Rekaman video beberapa tahun ke belakang saat keluarga Steven meninggalkan tanah air, dan kembali menetap di luar negeri.
__ADS_1
Setelah mengantar kepergian Lin, Erwin duduk bersama Asih yang saat itu sangat menyukai merekam dirinya sendiri.
Erwin mengatakan dia menguji perasaan, bagaimana rasanya jatuh cinta dan menunggu seseorang yang sebenarnya menjadi alasan Erwin menjadi dokter.
Di dalam rekaman video, Asih bertanya siapa wanita yang membuat Uncle tampannya menjadi dokter.
Jawaban yang membuat jantung Lin berdegup kencang, jika dirinya alasan utama dan akan selalu Erwin tunggu kepulangannya.
Rasih berjanji akan menyatukan Erwin dengan wanita yang dicintainya, sebelum saat itu tiba Erwin meminta izin kepada Asih untuk merasakan jatuh cinta kepada orang lain.
"Uncle gagal jatuh cinta, dan sudah saatnya kembali ke cinta pertama." Tangan Rasih menadah meminta tabletnya.
"Uncle janji apa sama kamu?"
"Jika Uncle gagal, harus melamar kak Lin. Jika tidak Uncle harus menerima perjodohan dengan dokter spesialis jantung itu." Rasih tersenyum licik.
Erwin langsung menatap tajam Asih, dia bisa tahu soal dokter spesialis jantung yang ingin Erik jodohkan dengan adiknya.
Kepala Lin masih tertunduk, dia merasa binggung harus bagaimana apalagi menghadapi Daddy-nya yang pasti kecewa.
"Kenyang, Arum masih polos belum mengerti apapun. Tujuan hidup Arum makan, tidur, main, makan, tidur, main dan begitulah seterusnya." Kepala Arum sudah bersandar di kursinya sambil menatap Lin yang duduk di depannya.
"Tujuan hidup Vio benafas ... hore." Kedua tangan Vio terangkat ke atas.
Senyuman manis terlihat menunjukkan lesung pipinya, tidak ada yang tertawa melihat leluconnya yang garing.
Tangan Erwin menyentuh kedua tangan Lin yang terasa sangat dingin. Erwin tahu ketakutan Lin jika Daddy-nya kecewa.
Bagi Lin, Steven dunianya. Dia tidak bisa melakukan apapun tanpa restu Daddy-nya, jika Stev menolak Lin juga akan menolak.
"Aku akan bicara dengan Daddy."
"Jangan, aku belum siap mengecewakan Daddy." Kepala Lin menggeleng, melepaskan tangannya.
Vani mengunyah makanan dengan tatapan binggung, meneguk minumannya meminta Lin mencoba sesuatu terlebih dahulu, jangan langsung berpikir gagal.
"Kak Lin, kita tidak akan mendapatkan jawaban jika tidak berani bertanya. Kata Papi, ambilah pilihan hidup tanpa menunggu didukung seribu orang, ingat musuh, sahabat, penasehat terbaik diri sendiri." Senyuman Vani terlihat menyemangati.
***
__ADS_1