SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 JADIAN


__ADS_3

Di dalam ruangan Wildan kesulitan mendapatkan jaringan, dia tidak ada gunanya berada di lautan. Teriakan Winda terdengar meminta Wildan keluar untuk sholat magrib berjamaah.


Kebiasaan tidak perduli berada di manapun, sholat menjadi kewajiban dalam keluarga. Ajaran agama sangat kuat, hanya jarang terlihat kecuali di depan keluarga, jika tidak teriakan Viana bisa menghancurkan rumah, high heels Reva bisa melayang ke atas langit.


Yusuf menjadi imam sholat, suara merdunya membuat hati tenang. Semuanya diam berdoa, Winda melihat ke arah Yusuf yang memiliki suara sangat merdu.


"kenapa Win? terpesona aku terpesona, memandang wajahmu yang manis." Vira tertawa, menutup mulutnya.


"Mulut sampah, diam." Winda beradu mata dengan Vira.


"Dasar latunan." Vira balik menatap tajam.


"Kamu jahara." Winda, menutup mulutnya, cubitan di telinganya dan Vira kuat.


"Diam." Reva menatap tajam.


Vira langsung diam, Winda langsung manyun menadahkan tangannya untuk berdoa.


Selesai sholat, makan malam bersama, ikan hasil memancing digoreng, makanan ala laut tersedia. Semuanya diam menikmati makan masing-masing.


Yusuf menatap aneh Wildan dan Winda yang makan disuap, Tian juga, Erik, Bella Billa, Vira, Ravi juga disuap Kasih.


"Yusuf kamu jangan heran, mereka umur saja yang tua, tapi tidak tahu cara makan, ini masih mending hanya anaknya, biasanya bapaknya juga ikut di suap." Jum menyuapi ketiga anaknya.


"Maaf Tante, terasa unik saja."


"Seperti ini cara kami menjaga keharmonisan, Mami mendengar banyak hal tentang kamu bersama Wildan. Kenapa tidak meneruskan niat kamu untuk membangun pesantren, juga menjadi ustadz di sana?" Reva menatap Yusuf yang hanya tersenyum.


"Belum waktunya saja Bu, mungkin Allah meminta Yusuf berjuang lagi secara perlahan."


"Yusuf jika kamu yakin, jangan diundur lanjut dan perjuangkan." Bima tersenyum melihat Yusuf mengagukan kepalanya.


Semuanya berhenti bicara, melihat Karan dan Karin yang saling dorong piring. Wira celingak celinguk mengikut arah piring, mata Wira sampai melotot.


"Mommy, kepala Wira pusing." Wira memegang kepalanya, tangan Windy memijit pelan.


"Kalian berdua jangan sering bertengkar, nanti cinta." Ravi menatap Karan yang langsung diam.


Erik menatap mata Karan, melihat wajah kesal Karin terlihat ada masalahnya. Senyum Erik membisikkan sesuatu kepada Winda yang langsung berdiri.


"Aiishh cinca, OMG." Winda langsung lompat-lompat gemes.


"Kenapa?" Vira yang kepo langsung berdiri, Bella Billa juga langsung berdiri berpelukan. Senyum empat gadis cantik memandangi Karin.


"Kak Karin, ehem." Bella senyum-senyum.

__ADS_1


"Kak, bagaimana rasanya?" Winda menatap serius penasaran.


"Ahhh mantap Win." Vira menahan tawa.


"Kalian normal?" Septi menyentuh kening keempat wanita cantik.


"Normal Aunty, kak Erik bilang kak Karin ciuman." Winda langsung bertepuk tangan.


Karin langsung kaget, bangkit berdiri, Erik mengacak-acak rambutnya, pendengaran Winda sudah ketutup tahi telinga.


"Karin tidak berciuman, hanya saja Karan mengatakan cinta, tidak sampai berciuman." Karin tidak terima di tuduh.


"Ohhhh jadian, ternyata kak Erik tidak salah bicara, Winda yang salah sebut, jadi sekarang ada yang sedang jatuh cinta?" Winda bertepuk tangan bersama Vira, Bella Billa.


Dengan mudah bisa membongkar rahasia, tidak melalui mulut banyak orang, tapi langsung dari orang yang terlibat.


"Tidak masalah kak Karan, jatuh cinta normal, ditolak lebih normal lagi." Vira memberikan semangat.


"Cinta aku tidak ditolak Vira." Karan yang bongkar rahasia, Wildan menggelengkan kepalanya.


"OMG, semuanya tepuk tangan, tadahkan tangan ke atas, kita berdoa bersama-sama semoga mereka segera naik pelaminan." Bella meminta semaunya mengikutinya, berdoa untuk Karan dan Karin.


Senyum Kasih terlihat melihat ulah empat wanita, Ravi juga menahan tawa, adik-adiknya jahil juga cerdik.


"Kamu saja." Billa mengembalikan.


"Aku mengambil untuk kamu." Winda menahan tawa.


"Kita makan bersama." Billa tertawa membuang roti, Winda Vira tertawa geli.


Semuanya yang menonton juga menatap geli, tatapan mata fokus kepada Karin yang duduk malu-malu. Karan hanya duduk diam.


"Kasih, kamu sudah mendengar berita soal Karan yang mencelakai kamu?" Ravi menatap Karin, wajah kaget Kasih juga terlihat.


"Iya, dia juga yang menyelamatkan saat penyekapan." Karin memberanikan diri menatap Kasih.


"Kenapa kamu ingin menjalin hubungan dengan Karan Karin, dia bisa saja mengkhianati kamu." Kasih menatap tajam.


"kak, bapak pernah mengatakan, seribu kejahatan bisa dikalahkan oleh satu kebaikan. Karin tidak melihat kejahatan Karan, Karin hanya melihat kebaikannya."


"Kenapa hanya menyalahkan Karan? seharusnya dulu kak Kasih lebih cepat memberitahu Karan soal keberadaan adiknya, mungkin dia tidak akan menjadi orang jahat. Setiap tindakan ada penyebabnya, anggap saja pertemuan kalian harus dengan cara seperti ini." Wildan langsung menyudahi makannya, melangkah pergi.


"Ohhh iya kak Kasih, kak Karin, juga kak Karan. Kalian tahu tidak Uncle Bisma dulu jahat, dia menyerang Daddy, menyerang Kaka kandungnya, kalian pikir tidak ada alasan, tidak ada sebab. Dengan Uncle menjadi jahat, dia bisa menjaga Mommy, menjaga kak Ravi, juga bertemu bidadari surga yang membuatnya bahagia, semuanya memiliki jalan, hanya saja terkadang harus melewati hal buruk." Wildan langsung pergi.


Bisma tersenyum melihat Wildan, Ravi juga mengacungkan jempol. Jum meneteskan air matanya, mendengar ucapan Wildan membuatnya terharu dan merindukan pertengkaran dengan Bisma saat pertama bertemu.

__ADS_1


"Maafkan aku Kasih." Karan meminta maaf.


"Aku juga minta maaf soal adik kamu."


"Sayang kamu jangan menangis." Bisma menghapus air mata Jum.


"Dulu Jum bodoh Mas, suka menjadi candaan." Jum menangis dalam pelukan Bisma, tawa Bisma tertahan mengingat isterinya dulu dan sekarang sama.


"Karan jangan terlalu lama pacaran, segera halalkan, percayalah hati wanita mudah berubah." Bisma mengedipkan matanya.


"Siapa bilang Uncle? Vira buktinya wanita paling setiap, siap menunggu Wildan." Vira tersenyum sok imut.


"Kamu bukan setia, tapi tidak laku. Laki-laki tampan banyak, pilih Wildan manusia Es."


"Uncle, Wildan limited edition, hanya ada satu di dunia."


"Yakin hanya Wildan, pilih Wildan atau Darren Chen?" Winda menggoda.


"Wildan masa depan, Darren masa halu." Vira tertawa lucu mengigat wajah tampan Wildan.


***


Hari sudah malam, seluruh orang sudah terlelap. Wildan masih sibuk dengan komputernya, menikmati suasana malam dengan sinar bulan, Wildan sedang mencari cara untuk mendapatkan sinyal.


Saat sinyal muncul, Wildan langsung kaget. Membawa komputernya ke ruangan khusus, di sana ada Karan dan Gemal juga Yusuf yang belum tidur.


"Karan, bangunkan kak Ravi, Erik juga kak Tian, minta mereka cepat ke sini, keadaan darurat." Wildan meminta Gemal, melihat layar yang Wildan tunjukkan, Yusuf juga menatap serius.


Suara ketukan pintu terdengar, Tian langsung berlari, Erik yang masih sempoyongan juga langsung keluar menemui Wildan.


Ravi yang paling sulit dibangunkan, Tian berkali-kali mengedor kamar. Ravi langsung membuka pintu.


"Pakai baju kamu Ravi, kita ke ruangan Wildan, dia bilang darurat." Tian langsung melangkah pergi.


Ravi mengambil bajunya, mencium kening Kasih sebentar. Langsung berlari menuju ruangan Wildan.


"Ada masalah apa lagi?" Ravi langsung masuk, suasana di dalam sudah sedih.


Ravi diam mendekat, menatap layar Wildan yang sudah mengusap matanya.


"Innalilahi wa inalillahi rohjiun." Ravi mengusap matanya.


"Kak, kita kembali malam ini juga. Kak Tian siapkan Jet di bandara, kita langsung menepi di pelabuhan terdekat." Wildan menatap Ravi yang masih linglung.


***

__ADS_1


__ADS_2