SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 LEDAKAN


__ADS_3

Melihat Wildan pergi terburu-buru, Dewa menghentikan Bella mempertanyakan apa yang terjadi.


Tanpa menunggu persetujuan, Dewa langsung masuk mobil Wildan. Bella dan Vira juga langsung masuk mobil.


Wildan memukul setir mobilnya karena mengkhawatirkan keadaan Winda, dia bisa gila jika adiknya sampai terluka.


"Wildan tenanglah, emosi hanya akan membahayakan kamu." Dewa menatap Bella dan Vira yang juga nampak khawatir.


Vira mencoba menghubungi Winda, tapi handphonenya tidak aktif lagi.


"Berapa jam perjalanan Wil?" Bella menatap tajam.


"Kurang lebih dua jam." Wildan memijit pelipisnya.


"Astaga lama sekali." Vira memejamkan matanya cemas.


"Kenapa Yusuf bisa pergi dengan Winda tanpa izin aku?" Wildan mempercepat laju mobilnya.


"Jangan salahkan Yusuf, kita semua tahu bagaimana watak Winda."


Dewa tersenyum melihat kekeluargaan Wildan, satu yang mengalami musibah semuanya panik, cemas, khawatir, saling menenangkannya. Sungguh keluarga yang membuat iri hati.


Suasana hening, Wildan berkali-kali menghela nafasnya. Bella terus berusaha menghubungi Yusuf, sedangkan Vira menghubungi Winda.


Ponsel Wildan menerima panggilan, wajah Vira dan Bella langsung pucat.


"Mami." Wildan langsung menjawab, mengucapkan salam meminta Wildan memperingati Winda untuk mengaktifkan ponselnya.


Wildan menggaruk kepalanya, perasaan seorang ibu juga mulai tidak enak. Wildan tidak tahu cara membohongi Maminya.


"Winda masih di lab Tante." Dewa memilih menjawab.


Setelah mendengar omelan Reva panggilan mati, Yusuf menatap Wildan, Vira dan Bella yang diam tidak bersuara.


"Apa kalian selalu seperti ini? tidak bisa membohongi orang tua."


"Kamu tidak tahu musibah besar jika membohongi mereka." Bella menghembuskan nafas kasar.


"Tentu aku tidak tahu, karena keluarga kami tidak dekat."


Suasana kembali hening, Dewa menawarkan diri untuk menyetir mobil, tapi Wildan tidak merespon sama sekali.


***


Keinginan Winda ikut Yusuf kerja disetujui, sepanjang perjalanan Winda mengomel, tapi Yusuf diam saja tidak merespon.


Sesampainya di kantor, Winda langsung mengikuti Yusuf ke dalam ruangan, setelah melihat sebentar seseorang datang mengatakan jika ruangan lab sudah siap.


Yusuf sedang melakukan penelitian bersama beberapa mahasiswa, Winda juga ikut bergabung menatap besarnya ruangan lab.


"Jangan disentuh, kamu masih ingat saat ledakan di lab kampus?"


"Tentu Winda ingat, lagian tempat ini juga sepertinya aman."


"Tidak ada tempat yang aman jika kamu bertindak sembarangan."


Winda menghentakkan kakinya, duduk diam melihat beberapa wanita sibuk mencari perhatian.


"Perempuan genit, suka bilang suka jangan kebanyakan basa-basi." Winda bergumam.


Cukup lama berada di lab Winda mulai bosan, melangkah melihat ke arah jendela menatap seseorang yang menembak sesuatu.

__ADS_1


"Semuanya keluar dari sini." Winda teriak kuat.


"Winda, apa yang kamu lakukan?" Yusuf menarik Winda keluar.


"Amin, keluarkan mereka semua dari sini, jika tidak ingin mereka celaka." Winda langsung berlari keluar mengejar orang yang menembakkan sesuatu ke arah lab.


"Kalian semua keluar dari sini." Yusuf meminta seluruh tim-nya keluar.


Baru saja Yusuf ingin mengejar Winda, suara ledakan terdengar. Yusuf terlempar jauh, tubuhnya penuh luka karena terkena pecahan kaca.


Banyak juga yang lainnya yang terluka, tapi Yusuf paling parah karena dia berada di depan pintu lab.


"Winda." Yusuf langsung berusaha berdiri mencari Winda yang berlari.


Suara ledakan terdengar, Winda menatap tajam pria yang menggunakan topeng melangkah mendekatinya.


"Siapa kamu? beraninya kamu menyerang secara diam-diam dasar pengecut."


"Minta Yusuf dan Wildan berhenti meneliti soal orang yang mereka temukan, jangan menganggu bisnis kami."


"Tidak mau, kami tidak bekerja dengan perintah siapapun." Winda tersenyum sinis.


Seseorang melempar Winda dengan benda kecil, tapi berhasil menghindar langsung mengejar kembali.


Pertarungan keduanya terjadi, Yusuf melihat Winda yang bersikeras untuk bertahan.


Sebuah pisau kecil dikeluarkan, Winda tidak mundur sedikitpun langsung maju menyerang.


Yusuf berlari mendorong tubuh Winda, suara tembakan terdengar. Pria yang menyerang langsung masuk ke dalam mobil.


Winda menatap Yusuf yang tergeletak pingsan, darah mengalir dari lengannya, Winda kebingungan karena bagian tubuh lainnya banyak luka.


Melihat Yusuf yang terluka parah, keadaan yang juga sepi karena banyak orang yang sibuk karena lab terbakar.


"Bertahanlah, jangan mati sekarang. Winda tidak ingin punya hutang."


"Winda aku tidak tahu kenapa kamu sangat membenci aku, salah apa Win?"


"Aku membenci kamu karena bodoh, kamu lemah menangis bersujud di kaki wanita yang mencoreng nama kamu."


"Dia ibuku, wanita yang melahirkan juga membesarkan. Sebesar apapun salahnya, aku akan tetap mencintainya."


"Winda membenci karena kamu terlalu baik, kamu menanggung luka orang lain sampai kapanpun akan terus benci kamu." Winda mengusap air matanya melihat darah semakin banyak.


"Aku akan menghilangkan rasa benci kamu." Yusuf jatuh pingsan.


Winda langsung menangis, mencari ponselnya ingin menghubungi kakaknya.


"Kak Wil Yusuf mati." Winda mengumpat kasar karena tidak menemukan ponselnya.


Winda memukul setir mobil, kebencian Winda terhadap Yusuf karena ibu Yusuf di masa lalu. Perlakuan ibu Yusuf menjadi trauma bagi Winda, tidak ada yang mengetahui lukanya bahkan ketiga sahabatnya, kakaknya, seluruh keluarganya.


***


Wildan langsung berlari ke arah lab, beberapa keamanan menahan Wildan agar tidak masuk.


"Di dalam ada adikku sial!" Wildan langsung ingin memukul.


Dewa menahan Wildan, Vira langsung memeluk Wildan meneteskan air matanya, mengusap punggung Wildan.


"Sabar Wil, mereka sedang mengeluarkan beberapa korban jiwa.

__ADS_1


"Ada tiga orang yang terbakar di dalam, akan dilarikan ke rumah sakit untuk otopsi, tubuh mereka hancur sulit dikenali." Bawahan Wildan menundukkan kepalanya.


Ponsel Bella berbunyi, nomor yang tidak dikenali.


[Halo.]


[Kak Bel, tolong Winda. Yusuf mati.] Winda teriak histeris.


"Wildan, ini Winda." Bella menyerahkan ponselnya.


[Winda kamu di mana? kamu ingin aku mati dibunuh Mami.] Wildan teriak keras.


Suara Winda tertawa terdengar, Wildan menghela nafasnya, Bella mengusap dada, Vira langsung mengambil ponsel Bella.


[Bodoh, kami hampir jantungan. Kenapa pergi tanpa kita.] Vira menangis.


[Cepat ke rumah sakit kak Wil, Yusuf tertembak, banyak luka, mungkin dia mati.]


[Jangan bicara sembarang Winda, jaga Yusuf kita ke sana sekarang] Wildan menatap Vira yang tersenyum, langsung melepaskan pelukannya.


[Kak Wil, bawakan Winda paha ayam. Lapar.]


Wildan langsung melangkah pergi, mengabaikan teriak Winda yang meminta paha ayam.


Dewa yang menyetir mobil, mengusap punggung Wildan agar tenang.


Di rumah sakit Winda mondar-mandir menunggu di ruang tunggu.


"Lama sekali, awas tidak selamat. Berjuang selama ini ternyata Amin mati."


"Winda."


"Kakak, paha ayam mana?" Winda langsung mundur melihat tatapan Wildan.


"Tidak ada paha, tulang saja." Winda memejamkan matanya.


Wildan memeluk adik bungsunya yang nakal sejak kecil, mengusap rambut Winda mengecek tubuh adiknya takut ada luka.


"Kamu baik-baik saja?" Wildan menyentuh pipi Winda.


"Kak Wil, jangan seperti ini. Kakak Winda pemarah biasanya langsung memukul kepala Winda, bukan memeluk."


Vira dan Bella langsung memukuli kepala Winda, Dewa tersenyum melihat keluarga Wildan.


"Bagaimana keadaan Yusuf?"


"Mati mungkin, soalnya dokter lama sekali." Winda mengambil plastik dari tangan Dewa.


"Amin." Bella dan Vira menutup mulut, Wildan mengerutkan keningnya, Dewa tertawa lucu.


"Namanya Amin." Vira tersenyum.


"Kak Dewa sudah makam belum? terima kasih ayamnya. Winda suap ya?"


"Aku yang membelinya Winda." Wildan menatap tajam.


Dewa tertawa lucu, menggelengkan kepalanya melihat Winda.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP


***


__ADS_2