
Aksi kejar-kejaran terlihat di rumah sakit, dua saudara laki-laki seperti anak kecil yang mengelilingi rumah sakit sambil berlari.
Pasien, dokter, pengunjung terdiam melihat tingkah Erik bersama adiknya Erwin yang kekanakan.
Erwin berlari kencang, tidak ingin tertangkap oleh kakaknya yang pasti akan memberikan hukuman berat.
"Erwin berhenti." Suara teriakan Erik menggema.
"Tidak akan pernah, Papa sama kakak sama saja. Nando sudah besar kak, jangan diawasi terus." Lari Nando sangat kencang, tidak ingin bicara baik-baik dengan kakaknya.
"Nando kepala kamu, jika merasa sudah besar seharusnya kamu lebih dewasa." Erik berhenti melihat adiknya naik tangga eskalator.
Senyuman Erwin terlihat melambaikan tangannya, dia akan segera kembali saat sudah puas bermain-main.
Kepala Erik menggeleng melihat tingkah adiknya yang pecicilan juga selalu membuat masalah.
"Kak, Dewi harus segera ditangani. Dia wanita gila, dan satu lagi Feby hamil. Demi Allah bukan Erwin yang menghamili dia." Senyuman Erwin terlihat, berteriak dari lantai atas
Tatapan Erik tajam, candaan Erwin tidak lucu. Perasaan tidak enak Erik terjawab, sudah dia duga Dewi pasti datang ke rumah sakit.
Erik langsung kembali lagi ke ruangan Feby, membiarkan Erwin untuk sementara waktu, urusan dengan Dewi harus segera diselesaikan.
Beberapa dokter yang ketakutan menghubungi polisi, Erik bersyukur yang datang Tama sehingga bisa menghentikan penangkapan.
Dewi tidak mungkin bisa ditahan di kepolisian, dia bisa membunuh banyak orang karena sudah terbiasa.
Erik juga menghubungi Steven soal kejadian di rumah sakit, juga prediksi jika Feby sedang mengandung.
Tidak butuh waktu lama, Steven sudah tiba bersama Wildan untuk melihat keadaan Dewi yang belum sadarkan diri.
"Siapa yang menendang Dewi hampir mati?" Tama menatap Erik yang sedang serius, tidak ingin bercanda jika teringat tingkah laku adiknya.
"Sudah dipastikan kehamilan Feby?" Stev menatap punggung Erik yang langsung menatapnya.
Hasil pemeriksaan belum keluar, mereka hanya perlu menunggu sebentar untuk mengetahui kebenarannya.
"Apa ini namanya Karma? Feby harus merasakan penderitaan Aunty Cla yang mengandung di rumah sakit." Erik membaca hasil tes yang baru saja dia terima.
__ADS_1
"Tidak kak, dia harus bangun. Feby harus melihat sendiri kejahatannya, dan memohon maaf kepada Lin." Hanya dengan permintaan maaf yang tulus yang bisa mengembalikan semangat hidup Lin yang sempat patah.
"Wildan benar, dia harus bangun dan membayar kesalahannya. Rio sudah meninggal hanya meninggalkan surat permintaan maaf, dan Dewi tidak mungkin melakukannya." Tatapan Stev tajam melihat Feby yang harus dipindahkan ke kamar khusus.
Dewi sudah bangun dan diamankan, langsung di bawa ke tempat kosong yang tidak berjauhan dari area hotel.
Suara Dewi tertawa terdengar mengatakan jika dia sudah membunuh Ayahnya, dia juga membunuh suaminya.
Bisma dan Ammar juga melihat ke tempat Dewi, mereka tidak bisa percaya jika Delton mati dengan mudahnya.
Tatapan Dewi melihat seluruh anak-anak menantu Bramasta dan Prasetya, dia menceritakan tentang kehidupan yang pahit dan gelap.
Betapa sulitnya dirinya dan Delon untuk bertahan, tidak ada sedikitpun belas kasihan orang.
"Apapun alasan kamu tetap saja melakukan kejahatan?" Ammar berjongkok, menatap mata Dewi yang ternyata memiliki gangguan mental.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikannya, apa yang akan kamu lakukan Stev?" Bisma tidak yakin Dewi bisa diobati, membunuh sudah menjadi menjadi kebiasaannya.
"Membawa ke kantor polisi dia bukan hanya penjahat, tapi sakit mental tidak mungkin di penjara bisa mati semua tahanan lain, jika dimasukan rumah sakit jiwa, dia bukan hanya sakit tapi pembunuh lebih berbahaya lagi." Stev mencoba berpikir.
Ar mengucapkan salam, dia sudah menyelidiki tempat persembunyian Delton. Saat mereka menahan Dewi terjadi ledakan ada belasan yang tewas.
"Aku mengirimkan pesan untuk bertemu, kita serahkan Dewi kepada Delton setelah memastikan karakter Delton yang sekarang." Ar menunjukkan surat undangan resmi untuk bertemu.
"Kamu yakin Ar Delton tidak akan berbuat hal buruk?" Ravi sedikit ragu, karena Delton seorang mafia besar.
"Yakin, dia hanya jahat kepada yang berkuasa untuk kejahatan. Berbicara baik-baik mungkin akan memberikan solusi untuk masa depan Lin." Ar menatap Dewi yang tersenyum menatapnya.
Melihat keadaan Dewi, dia tidak bisa dibiarkan karena terlalu berbahaya. Mungkin Delton akan memiliki cara khusus untuk menanganinya, meskipun tidak ada jalan untuk mengobati Dewi.
Sakitnya sudah mendarah daging, sehingga sudah kebal dan tidak bisa kembali ke jalan benar. Otaknya tidak merespon lagi dengan yang namanya kebaikan.
"Bukannya Delton juga tidak bisa menangani dia? atau jangan-jangan Delton melepaskan dia dengan drama ledakan?"
"Tidak kak Tian, Ar sudah memastikan secara langsung ke lokasi. Kemungkinan Delton juga tidak tahu kondisi Dewi." Sejujurnya Ar juga kasihan melihat Dewi, tapi dia sendiri yang memutuskan pilihan hidupnya.
"Apapun pilihan kalian harus yang terbaik." Bisma melangkah pergi, dia masih sangat penasaran dengan Delton apa dia masih orang yang sama.
__ADS_1
***
Di mansion masih sibuk dengan gosip membicarakan soal Feby yang hamil, mereka membayangkan kondisi anak yang dikandung.
"Apa dia akan hidup seperti Lin?"
"Tidak sayang, Lin punya Mommy." Windy memeluk erat, tidak ingin putrinya banyak pikiran.
"Apa Mommy ingin mengangkat anak lagi?"
Windy terkejut, menggelengkan kepalanya. Windy tidak punya hati sebaik yang Lin pikirkan, dia bukan bunda Jum.
Mungkin Windy terlihat tenang, tapi aslinya dia lebih kejam dari Steven.
"Daddy yang memutuskan, mommy tidak mudah mengubah keputusan apalagi Daddy bukan orang yang mudah mempercayai orang lain." Windy bekali-kali berbicara ingin mengangkat anak, tapi tidak pernah disetujui.
"Daddy tidak ingin memiliki anak lagi?"
"Iya, Mommy ingin hamil lagi bahkan dokter memberikan jaminan, tapi Daddy menolak bahkan Mami yang bicara juga ditolak."
"Iya Stev kurang ajar, dulu ada bayi lucu yang ingin diadopsi tapi ditolak. Banyak sekali alasan dia, tapi kenapa Lin langsung diterima bahkan mendapatkan jaminan?" Reva heran dengan tingkah menantunya.
"Tidak ada yang tahu hati seseorang mbak Reva, mungkin Stev cukup trauma. Hanya Lin yang bisa mengerakkan hatinya." Jum memberikan jus untuk Lin yang langsung tersenyum manis.
Senyuman Windy terlihat dia ingin merayakan pesta ulang tahun ke 17 tahun untuk putrinya, sekaligus perkenalkan status Lin di dalam keluarganya.
Pesta akan diadakan secara besar-besaran untuk menyambut hari bahagia dia memiliki anak lagi.
"Wira setuju mommy, mulai sekarang jangan rayakan ulang tahun Wira secara besar-besaran lagi. Jujur Wira malu Mom, apalagi tema yang mommy sarankan."
"Kenapa? pokoknya nanti ulang tahun kamu juga dirayakan dengan tema Halloween."
"Astaghfirullah Al azim Windy, tidak heran Stev sering menegur kamu." Jum menggelengkan kepalanya.
Winda berlari langsung duduk, menunjukkan surat resmi mengudang Delton kakeknya Lin.
"Kita akan segera bertemu mafia besar." Winda langsung joget-joget bersama Bella, karena mereka ingin melihat wajah mafia yang sebenarnya.
__ADS_1
***