SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PERJANJIAN CINTA


__ADS_3

Langkah kaki seseorang masuk ke dalam ruangan, Wildan duduk memutar kursi kebesarannya. Kembali menjadi pemimpin perusahaan keluarga BB meninggalkan kehidupannya yang penuh petualangan, membuat Wildan merindukan timnya.


"Selamat pagi pak Wil." Karan langsung duduk di depan Wildan menunggu perintah.


"Kak Karan, perusahaan ini sudah berdiri kokoh dengan banyaknya cabang, tapi dengan mudahnya bisa dihancurkan jika aku tidak mempertahankan."


"Apa salahnya Wil, Papi kamu sudah membangun istana bisnis sejak dia usia belasan tahun. Jangan karena kamu membutuhkan kebebasan sampai melupakan tugas utama kamu sebagai putra."


"Panggil seluruh tim kita kak, minta mereka semua bertugas di perusahaan, jika Wildan bekerja sebagai pebisnis kalian semua harus meninggalkan markas bekerja dan hidup normal."


"Siap pak laksanakan." Karan tersenyum langsung melangkah pergi.


"Wildan, kak Karan mungkin akan secepatnya naik pelaminan. Terima kasih karena kamu memutuskan untuk bekerja di perusahaan." Karan langsung melangkah pergi.


Wildan memejamkan matanya, memutar kembali kursinya. Pintu terdengar terbuka, Wildan langsung berdiri.


"Ada apa lagi kak Karan?" Wildan menatap wanita cantik, berdiri di depannya dengan tetesan air mata di pipinya.


"Kak Bella, ada apa menangis?" Wildan langsung melangkah mendekati Bella, mengunci pintu.


Bella langsung menangis histeris, duduk di lantai memeluk lututnya. Wildan menatap tajam langsung membantu Bella berdiri membawanya ke tempat duduk.


Mengambilkan segelas air langsung meminta Bella minum, tangan Bella gemetaran langsung meminum air putih.


"Ada apa kak Bel?" Wildan mengusap air mata Bella.


"Wil, bantu kak Bel melarikan diri."


"Gila, hanya karena cinta. Kak lari tidak bisa menyelesaikan masalah." Wildan menggelengkan kepalanya.


"Kak Bel tidak sanggup melihat mereka menikah, kak Bella tidak sanggup." Bella menggenggam tangan Wildan sambil menangis sesenggukan.


"Berhenti menangis, Wildan tidak terima kak Bel menangisi kak Tian. Sudah diperingati jika cinta katakan cinta, tapi kak Bel mengatakan tidak ada cinta."


"Dia tidak mencintai kakak, jika memang cinta seharusnya mereka tidak menikah, kak Tian harus mengatakan jika dia cinta Bella."


"Terlambat, undangan sudah dicetak. Wildan akan membantu kak Bel pergi dari negara ini, tapi berjanjilah saat Wildan menjemput kak Bella harus pulang, ingat kita ini keluarga besar, lupakan kak Bastian." Wildan memeluk Bella yang terus menangis.


Pertama kalinya Wildan melihat sepupu wanitanya yang selalu kuat, tidak mudah menangis, menjadi orang paling kuat untuk bertahan.


Bella yang sekarang lemah, sudah terlambat untuk menyadari perasaannya, terlambat untuk mengejar cintanya, terlambat untuk kembali lagi.


Wildan menghapus air mata Bella memintanya berhenti menangis, Wildan akan mengurus kepergian Bella, tidak akan ada yang tahu keberadaannya.


Tempat yang paling tenang untuk menenangkan diri, tempat yang hanya Wildan yang tahu.


Demi menjaga perasaan Bunda Jum dan Ayah Bisma, Wildan terpaksa berbohong jika Bella melanjutkan pendidikan mengejar S2.


"Ayo Wildan kita pergi." Bella menundukkan kepalanya.


"Tunggu sebentar." Wildan menghubungi timnya untuk mengurus semua persiapan.


Wildan juga menghubungi Vira untuk datang ke kantornya, lama Wildan menunggu Vira tapi tidak muncul.


"Ayo kita pergi sekarang." Wildan menggenggam tangan Bella berjalan keluar dari kantornya, langsung mengantar Bella ke bandara.

__ADS_1


Beberapa orang kepercayaan Wildan sudah menunggu, mengantarkan Bella ke tempat tujuan.


"Kak Bella yakin, Wildan berikan kak Bel waktu untuk menenangkan diri. Urusan Bunda biar Wildan yang mengatur.


"Bagaimana dengan Vira dan Winda?"


"Aku tidak bisa memberitahu Winda, karena dia tidak bisa menjaga rahasia. Vira sudah aku kabarkan, nanti Wildan akan menemuinya."


Bella langsung memeluk Wildan, pergi meninggalkan tanah kelahirannya juga cinta pertamanya.


"Siapa yang akan menyesal?" Wildan tersenyum langsung melacak keberadaan Vira yang tidak ada kabar.


"Di mana nenek sihir satu ini? saat dibutuhkan saja dia menghilang." Wildan melihat ponselnya Vira ada di kantor polisi.


Wildan langsung menjalankan mobilnya, menuju kantor polisi.


Sesampainya di sana Wildan melihat Vira dan Winda yang sudah mirip preman, rambut acak-acakan baju sobek, kaki di atas kursi mengancam polisi.


"Bapak polisi sialan!"


"Kamu tahu tidak sedang bicara dengan siapa?"


"Tentu Vira tahu, bapak polisi bodoh."


"Kamu yang bodoh, tidak tahu etika."


"Bapak yang tidak tahu etika, sudah tua, tidak punya mata. Kita korban pak, saat kita diserang kita memukul, salahkan mereka sendiri yang sok kuat." Winda memukul meja.


"Kalian berdua ini preman."


"Preman!?" Vira dan Winda teriak kuat.


"Tunggu." Wildan melangkah mendekati.


"Papi." Vira langsung menatap Wildan memonyongkan bibirnya.


Wildan menghentikan langkahnya, antara takut dan cemas melihat penampilan Vira yang langsung berlari ke arahnya.


"Papi, tolong Mami. Mereka ingin memasukan Mami ke dalam penjara, padahal Mami sedang hamil muda. Bagaimana nasib anak kita Papi?"


"Mami, orang hamil muda tidak bisa terbang melayangkan tendangan sampai orang patah hidung." Wildan berbisik ke telinga Vira yang menutup mulutnya menahan tawa.


Wildan langsung mendekati Winda, langsung duduk memberikan kartu nama, Wildan akan bertanggung jawab kepada kesembuhan korban.


Polisi langsung menjabat tangan Wildan, karena mengenal baik pengusaha muda yang menggantikan Bima Bramasta dalam mengurus perusahaan.


Wildan langsung melangkah pergi menarik tangan Winda dan Vira, keduanya cengengesan langsung berlari ke arah mobil Wildan.


"Sialan, muka cantik Vira berubah menjadi jelek"


"Diam Vira, Winda takut kak Wildan marah. Dia tahu dari mana kita ada di kantor polisi." Winda mengerutkan keningnya.


"Wildan seperti paranormal bisa membaca pikiran, bisa mengetahui masa depan, apalagi keberadaan kita."


"Kalian berdua memang keterlaluan, Bella ada masalah karena kak Tian ingin menikah, sedangkan kalian sibuk mencari tahu keberadaan Dewa." Wildan menatap dua wanita yang duduk di belakang.

__ADS_1


"Di mana Bella?"


"Dia sudah pergi."


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, sudah mati!" Vira melotot.


"Vira otak kamu memang harus dicuci, diganti dengan otak yang baru." Wildan menatap tajam.


"Di mana kak Bella? apa yang terjadi kak?"


"Bella tidak terima dengan pernikahan Tian, dia merasakan hancur ingin melarikan diri."


"Sekarang dia aman?" Vira menatap serius.


"Aman dalam pengawasan aku, kalian pergi menyusul Bella untuk sementara."


"Kita harus hadir di pernikahan kak Tian."


Wildan mengangguk kepalanya, Wildan tidak ingin apapun yang terjadi pada Tian didengar oleh Bella, baik pernikahan ataupun apapun yang ada sangkut pautnya dengan Tian, kecuali Bella sudah siap kembali.


"Kasihan Bella, cinta sejak kecil akhirnya kandas."


"Biarkan saja, cinta pertama memang selalu gagal." Winda menatap Vira.


"Betul, cinta pertama Vira juga kandas." Vira menatap Wildan yang sudah menjalankan mobilnya.


Winda memejamkan matanya untuk tidur, Vira memegang baju Wildan langsung pindah duduk di samping Wildan.


"Ada apa kamu menghubungi aku?" Vira menatap Wildan, mengambil ponsel Wildan.


"Aku meminta tolong kamu menjaga Bella, kalian sejak kecil bersama pasti saling mengerti perasaan, kak Bella datang menangis histeris, aku tidak bisa menghibur sedikitpun."


"Jangan khawatir, Bella wanita kuat. Mungkin sekarang dia sedang tertawa melihat indahnya pemandangan."


"Vira, jangan berurusan dengan Dewa, dia berbahaya."


"Vira tidak takut, karena ada kamu yang tidak akan pernah membiarkan kami terluka."


"Aku tidak bisa selalu bersama kalian, karena aku sibuk mengurus perusahaan. Vira tolong berhenti mencari Dewa."


"No, aku akan menemui Bella lalu pergi bersama ke desa Cancar di luar negeri."


"Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan aku?"


"Karena kamu bukan siapa-siapa aku." Vira menatap Wildan tajam, menjulurkan lidahnya.


***


SATU EPISODE DULU YA JUDULNYA PERJANJIAN CINTA.


***


FOLLOW IG AUTOR GAYS


__ADS_1


FOLLOW JUGA TIKTOK AUTHOR



__ADS_2