SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PEMBALASAN HALUS


__ADS_3

Tepat tengah malam, Ravi sudah berdiri di sebuah gudang lama dalam kegelapan. Di tatapnya Wildan yang sedang asik menatap bulan, suara langkah kaki mulai terdengar, tubuh dua orang terlempar.


"Hai nenek, Aunty, harus panggil siapa ya?" Ravi tertawa, melihat seorang wanita paruh baya tapi penampilannya sangat seksi.


"Ravi Prasetya!" teriak Britania kuat, dulu ibunya menghancurkan bisnisnya, lanjut lagi mantan suaminya di ambil oleh bocah ingusan yang juga membuatnya jatuh miskin, sekarang harus berurusan dengan Ravi.


"Jangan teriak Aunty, nanti wajah hasil operasi bisa sobek, nanti kerutan terlihat. Jika Aunty cantik karena oplas Mommy cantik karena bahagia."


"Apa mau kamu, saya tidak punya urusan dengan kamu."


"Benarkah, lalu kenapa Aunty mengirimkan pembunuh bayaran untuk calon istriku, mengirim segerombolan penjahat untuk menyakiti adikku."


"Bukan aku yang mengirimkan mereka,"


"Aiishh!"


Ravi langsung mengambil kursi dan langsung duduk, sebuah layar hidup, seluruh orang suruhan mengakui kejahatan mereka, Britania tidak bisa mengelak lagi.


Mimpinya hanya satu membunuh salah satu keturunan Viana dan Reva, tapi ternyata Ravi sudah mengawasi dengan sangat ketat setiap keluarga, sejak lima tahun yang lalu.


"Kakek tua, kamu sudah diberikan kesempatan untuk hidup bergelimang harta, walaupun caranya salah tapi mengapa masih ingin balas dendam." Wildan bicara pelan, dengan masih menikmati sinar bulan.


"Aku akan mati dengan tenang, jika keluarga Prasetya hancur. Rama menjebloskan aku ke penjara, Bima juga mengambil alih perusahaan dan memberikannya untuk pemerintah. Mereka berdua hidup bahagia tapi aku kehilangan keluarga karena mereka."


"Keluarga! orang seperti apa yang bisa di bilang keluarga,"


"Kamu siapa? jangan ikut campur."


"Kalian tidak mengenali siapa dia?" Ravi tertawa, lampu langsung hidup terang benderang, Tama datang sambil tersenyum menatap Ravi.


Mata Ravi menatap Brit dengan tatapan penuh rasa kasihan, apalagi melihat kakek angkatnya yang dulunya menjadi anak angkat Omanya paman dari Daddy dengan wajah keriput tapi menyimpan kebencian.


"Maafkan Ravi karena harus menyingkirkan kalian, kesabaran Ravi ada batasnya, Tian hampir terbunuh karena ulah kalian."


"Ibu, seharusnya sebelum ibu meninggal ucapkan permintaan maaf untuk kak Windy dan kak Tian. Walaupun mereka mendapatkan sosok wanita yang sangat menyayangi, mencintai setidaknya pasti ada harapan kecil ingin ibu bertaubat."


"Betul sudah waktunya berhenti, usia sudah tidak muda lagi, seharusnya carilah sebuah kehidupan yang pantas jangan terus berbuat dosa." Ravi menghembuskan nafasnya.


Wildan melangkah keluar, Ravi meminta mereka dilepaskan langsung pergi keluar juga, tapi Britania melihat sebuah map yang menyatakan jika dirinya di nyatakan gila dan sebuah surat pernyataan rumah sakit jiwa sudah dia sentuh.

__ADS_1


"Ravi Wildan saya tidak gila!" Britania teriak histeris, belasan orang dari rumah sakit jiwa masuk langsung menahan Brit dan membawanya keluar, teriakan histeris terus dia lakukan, Brit tidak ingin masuk rumah sakit jiwa karena hartanya sudah dia kumpulkan untuk pergi jauh.


Seluruh harta Brit sudah Wildan sumbangan tanpa sisa, susuai surat perjanjian. Sedangkan lelaki tua yang bersama Tama sudah terduduk lemas, membaca laporan seluruh harta miliknya sudah habis di bagikan untuk anak cucu juga mantan istrinya, sedangkan dirinya dimasukan ke panti jompo yang jauh dari keramaian berada di desa yang sangat tenang.


Ravi tersenyum melihat cara kerja Wildan, Ravi pikir Wildan akan mematahkan tulang belulangnya tapi ternyata menghancurkan kewarasannya.


Sudah hampir subuh Wildan berjalan bersama Ravi, memeluk bahu Wildan penuh rasa bangga. Sebuah mobil berhenti menyinari keduanya, Erik keluar bersama Tian yang jalannya tertatih. Dari kejauhan Tama juga berlari merangkul Ravi.


"Wildan, kak Ravi bangga dengan anak muda sehebat dirimu."


"Kita keluarga yang memegang teguh agama, kita bukan seorang pembunuh. Jadi kita hukum mereka dengan cara teguran."


"Bagus, mereka juga sudah tua, sudah saatnya merenungkan diri."


"Terima kasih juga kak Ravi tidak menggunakan kekerasan, Wildan tidak ingin kak Ravi mengotori tangan."


"Makanya aku minta kamu, jika aku takutnya hilaf."


Ravi mengacak rambut Wildan, dia memasukkan Brit ke rumah sakit jiwa agar menyadari banyaknya wanita stres karena kehilangan anak, agar Brit menyesal telah menyakiti putra dan putrinya. Sedangkan untuk kakek tua yang sudah bungkuk menggunakan uangnya hanya untuk bersenang-senang, harus dikembalikan pada alam agar ingat mati bukan hanya sibuk mengurusi soal harta.


"Kalian tidak terluka?" Erik menepuk-nepuk bahu Wildan dan Ravi.


Tian memeluk Wildan yang sangat dia khawatirkan, saat tahu Wildan menyerang pikiran Tian langsung panik, bukan soal siapa musuh tapi keselamatan Wildan.


"Kamu baik-baik saja,"


"Iya kak Tian, kenapa tidak di rumah sakit saja."


"Bagaimana aku bisa tenang, jika adikku sedang berjuang?"


"Musuh pertama kita selesai, tapi bukan berarti semuanya berakhir, mungkin akan ada orang lebih kuat dari ini, tugas kita hanya satu terus bersatu." Ravi memeluk sahabatnya, juga seperti saudara.


"Tama terima kasih sudah menjaga dua bocah ini."


"Tidak perlu sungkan, kita sahabat akan saling menjaga." Tian dan Tama melakukan tos persahabatan, Erik dan Ravi juga melakukannya, hanya Wildan yang tidak punya sahabat.


Lima orang berjalan di tengah hutan sambil saling merangkul, Ravi bersyukur memiliki orang-orang baik di sisinya, seperti Daddy yang mempunyai Uncle Bima, seperti Mommy yang punya Aunty Reva dan Jum.


"Berhenti!" Wildan melepaskan rangkulan Ravi dan Tian langsung berlari menuju mobil Erik yang tertinggal di belakang.

__ADS_1


Semuanya tertawa, mobil ada tapi mereka memilih jalan kaki. Ravi mengacak rambutnya langsung masuk ke mobil yang Wildan bawa.


Mobil meluncur meninggalkan gedung dan hutan, canda dan tawa terdengar. Wildan menggunakan hanset karena pusing mendengar suara Ravi.


"Tenang saja Ravi, untuk kemenangan hari ini aku akan memberikan hadiah." Teriak Erik bersemangat.


"Bokser gambar apa lagi, satu lemari penuh isinya bokser mirip taman safari." Ravi memukuli kepala Erik yang duduk di belakangnya.


"Kali ini lucu, kalian penasaran tidak." Erik tertawa ngakak mengambil sesuatu di dalam mobil dan memberikan kantong plastik untuk Ravi.


Tian dan Tama sudah menahan tawa, saat Ravi membukanya langsung memukuli Erik, memasukkan kepala Erik ke dalam bokser bergambar love-love ada tulisan I Love you.


"Sialan!" teriak Ravi kesal.


"Kamu lagi jatuh cinta, jadi pas Kasih melihat langsung ada bacaan I love you." Suara tawa Erik mengalahkan bunyi ledakan Bom.


"Kenapa harus Kasih yang melihatnya? mereka belum menikah." Tama menatap Ravi dan Erik.


"Nah pakai lupa lagi ada abangnya," Erik garuk-garuk kepala.


Wildan mengantarkan Tian ke rumah sakit, dia langsung keluar karena kedua orangtuanya sedang tertidur menungguinya tapi Tian keluar.


"Erik kamu tidak turun?"


"Enggak, soalnya besok aku tidak bertugas."


Mobil lanjut jalan, masuk kompleks perumahan langsung mampir rumah Tama, lanjut lagi tidak jauh rumah Erik, tapi Erik meminta Ravi dan Wildan turun.


"Kenapa kita yang turun?"


"Karena ini mobil gue!"


Ravi dan Wildan akhirnya berlari, untuk tiba di rumah mereka sambil main kejar-kejaran, rumah keduanya sangat dekat jadi melewati pintu rahasia langsung bisa masuk ke dalam kamar.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2