SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PULANG KE RUMAH


__ADS_3

Selama hampir dua bulan pemulihan, akhirnya Kasih diperbolehkan untuk pulang. Ravi mengucapkan syukur melihat Kasih yang perlahan mulai berjalan.


Keluarga tidak ada yang datang untuk menjemput, Ravi juga melarang ada yang datang. Cukup dirinya dan Erik yang berjaga di rumah sakit, Ravi ingin keluarganya menjalankan kehidupan normal.


Hampir lima bulan Ravi juga tidak pergi bekerja, Rama langsung turun tangan mengawasi LOVER karena Ravi cuti panjang. Tian juga membantu, menyempatkan waktunya untuk mengawasi perusahaan Ravi.


"Ravi maafkan Kasih yang membuat kamu harus tinggal di rumah sakit berbulan-bulan, Kasih sungguh merampas semua waktu kamu."


"Tidak masalah sayang, jangankan lima bulan, sampai kapanpun aku sanggup." Ravi berjalan pelan, merangkul pundak Kasih.


Mobil yang sudah terparkir menyambut Ravi dan Kasih, Erik keluar menggelengkan kepalanya. Ravi hanya tersenyum langsung menggendong Kasih menuruni tangga langsung masuk mobil.


"Jalan pak."


"Sial." Erik memukul setir mobil, Ravi hanya tertawa.


"Kenapa kamu tidak bekerja Rik?"


"Cuti selama setengah tahun, hampir gila melihat suntikan, obat-obatan." Erik mengacak rambutnya.


Ravi hanya tertawa, Erik memang bebas masuk dan libur, karena pemilik dari rumah sakit Bastian Bramasta. Erik hanya perlu memohon kepada Tian, semuanya langsung beres.


"Memangnya boleh ya libur selama 6 bulan?" Kasih menatap Ravi yang tersenyum.


"Sayang, jangan minta aku menghitung kekayaan keluarga Bramasta. Selama ada tulisan depannya B pasti milik Bramasta." Ravi tersenyum bersama Erik.


"Mall depan juga milik keluarga Bramasta?" Kasih kaget, Ravi nyegir.


"Bukan itu milik keluarga Prasetya, nama Mall juga B.Vir Mall." Erik melewati Mall terbesar milik Vira Prasetya.


"Kenapa ada B nya?" Kasih menatap Ravi dan Erik.


"Biasalah, Vira yang memberi nama. Harus ada B karena dia menantu Bramasta." Erik tertawa kencang, jika ingat Vira menangis selama dua hari, ingin namanya ada di bisnis Prasetya bersama Wildan B.


Mobil masuk perumahan, Kasih memperhatikan seluruh rumah, walaupun kosong masih terawat.


"Pemilik kompleks ini hebat, sangat bersih dan menjaga keamanan dengan baik."


"Pastinya, ini perumahan keluarga B seluruh rumah di sini sejak kejadian kamu kecelakaan, langsung banyak di kosongkan oleh Papi, keamanan masuk dan keluar diperketat."


"Kasihan semuanya penyewa." Kasih menundukkan kepalanya.


"Mereka mendapatkan kompensasi sayang, dua kali lipat dari sewa rumah."

__ADS_1


"Pasti Papi banyak kerugian?"


"Kasih, keluarga kami tidak memandang uang, selama anak cucu aman, segalanya akan di lakukan." Ravi mengelus rambut Kasih, meletakaan kepada Kasih di pundaknya.


"Rav, kalau rumah banyak kosong begini, kita boleh tidak minta satu." Erik memelankan laju mobilnya, melihat keluarga Salsa juga pindah rumah.


Sampai di depan rumah terlihat sepi, Kasih turun perlahan menghirup udara, merasakan suasana rumah yang sudah lama di tinggalkan.


"Ayo masuk sayang." Ravi ingin membuka pintu, langsung kaget karena bunyi sambutan dari dalam.


"Selamat datang Kasih."


Kasih melangkah masuk melihat rumah dihias untuk menyambutnya, Viana langsung memeluk tidak bisa menahan air matanya. Kasih tersenyum menahan air matanya yang ingin tumpah.


Terlihat seluruh keluarga menyiapkan kado, Kasih memeluk ibunya. Memeluk Mami Reva yang sedang menghubungi Winda yang menangis ingin pulang.


[Hai kak Kasih, Winda sedih tidak bisa menyambut kedatangan kak Kasih.] Winda menangis di dalam video.


[Terima kasih Winda belajar yang rajin, dua tahun harus selesai.]


[Jika sampai dua tahun tidak selesai, Winda hancurkan kampusnya. Pusing kepala Winda belajar terus.]


Teriakan yang lainnya juga terdengar, wajah langsung muncul, Winda ditendang untuk menjauh. Kasih terharu melihat adik-adiknya yang sangat merindukannya.


"Kalian sebenarnya rindu kak Karin atau kak Kasih?"


[Jadi tujuan kuliah hanya untuk menikah.] Kasih menepuk jidat melihat kelakuan Vira.


Kasih mengembalikan ponsel Mami, langsung mencium tangan Bunda yang sibuk masak. Jum mencium kening Kasih tidak bisa menahan air matanya, karena terharu.


Seorang wanita berjalan, matanya kosong hanya terlihat air mata. Tama membawa Cinta untuk bertemu Kasih, awalnya Ravi menolak, tapi Erik memberikan izin.


Air mata Kasih akhirnya ikut jatuh, melihat Cinta yang menyedihkan. Saat Kasih ingin mendekat Ravi menahannya.


"Kak Ci, kenapa Kakak seperti ini?" Kasih menangis dalam pelukan Ravi.


"Asih, maafkan kak Ci."


Setelah mendapatkan izin dari Ravi, barulah Kasih mendekat memeluk Cinta dan meminta maaf. Karin juga memeluk kedua kakaknya.


"Maafkan Karin, dulunya kalian sangat akur, tapi saat Karin datang kalian berubah menjadi musuh. Maafkan Karin."


"Tidak ada yang salah, kita hanya tidak memiliki komunitas yang baik."

__ADS_1


Cinta memeluk Kasih dan Karin, air matanya juga menetes. Balasan pelukan Kasih sayang dari keduanya.


"Kak Ci, kembalilah kami semua merindukan kak Ci. Kita lupakan masalalu, jalani masa depan bersama kak, menjadi keluarga seperti yang bapak harapkan selama ini." Kasih melepaskan pelukan, menangkup wajah Cinta yang penuh air mata.


"Kasih sudah memaafkan kak Cinta, jangan dijadikan pikiran lagi. Kakak sayang ibu, lihat ibu kak dia sedih melihat kak Ci bersedih."


"Kak Ci jahat."


"Setiap orang pernah salah kak, sudah saatnya kak Ci memperbaiki diri. Kembali bersama kami kak."


"Asih marah, kak Ci jahat."


"Asih tidak marah kak, Asih sayang kak Ci." Kasih memeluk tangan Cinta, Cinta mengelus kepala Kasih.


Cinta melihat ibu yang menangis, mendekatinya dan memeluknya sambil tersenyum. Tama juga menutup matanya melihat adik-adiknya terluka.


"Ibu maafkan Cinta, jangan benci Cinta Bu."


"Sebesar apapun salah kalian, ibu akan memaafkan. Minta ibu hanya satu kalian berempat akur."


Dokter melihat keadaan Cinta, menatapnya tertidur pulas untuk pertama kalinya selama 6 bulan. Tidur dipangkuan ibunya.


"Kak Ci tidur."


Ravi meminta tolong Tama membawa Cinta ke kamar tamu, untuk sementara sebaiknya Cinta tidak dirawat di rumah sakit jiwa. Ravi meminta tolong Erik mengontrol keadaan Cinta.


"Terima kasih Ravi." Kasih memeluk Ravi terharu, Ravi mengelus punggung Kasih sambil tersenyum.


Erik langsung terduduk lemas, dia cuti karena ingin liburan, tapi kenapa berubah profesi.


"Aku ini siapa? terkadang aku menjadi sektretaris Ravi, Dokter, sekarang aku menjadi perawat." Erik menghela nafasnya.


"Kamu mencintai Cinta, aku membantu kalian memperbaiki hubungan." Ravi tersenyum menatap Erik.


"Bukan dia yang Erik inginkan, tapi ya sudahlah sebagai permintaan maaf."


"Memangnya siapa wanita yang kamu inginkan pak Dokter Erik?" Bisma menepuk bahu Erik, bibir Erik langsung manyun.


Viana membubarkan seluruh orang untuk ke menuju meja makan, Kasih tersenyum karena Bunda mengabulkan keinginan untuk masak semua makanan favorit Kasih.


"Terima kasih Bunda, Kasih ingin makan semuanya."


"Jangan rakus, makan perlahan." Erik menegur, tapi mendapatkan pukulan dipunggung dari Ravi.

__ADS_1


"Makan perlahan ya sayang, kamu bisa setiap hari memakannya." Ravi meminta Kasih duduk, Erik melotot melihat Ravi yang banyak berubah.


***


__ADS_2