SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 ULAR


__ADS_3

Suara langkah kaki Vira berlari bersama Winda terdengar, mereka melewati Bella yang menangis dalam pelukan Tian.


Karena lift terlalu lama Vira langsung berlari melewati tangga darurat, Winda masih setia menunggu lift langsung masuk turun ke lantai satu.


Teriak di dalam kamar heboh, karena melihat ular berbisa berjalan turun dari atas tempat tidur. Ravi langsung meminta semuanya mundur, meminta Kasih membawa anak-anak turun semuanya.


Tian dan Bella langsung berlari melihat ke arah kamar, pintu langsung ditutup. Erik langsung menghubungi bagian hotel untuk menangkap ular yang sempat Vira dan Winda gulung dengan seprai ranjang.


"Astaghfirullah Al azim, apa lagi ini?" Tian menatap keluarga yang langsung ke lantai bawah semua.


"Pasti ada yang meletakkannya, tidak mungkin kamar yang berada di lantai paling tinggi bisa ada ular, selidiki Wil, tangkap mereka secepatnya." Ravi menatap tajam.


"Vira sama Winda kenapa berlari?" Bella kebingungan langsung berlari mengikuti Wildan dan Yusuf yang sudah lari lebih dulu.


lift terbuka Winda langsung berlari mengejar ke arah luar, Vira juga langsung terduduk karena kelelahan menuruni tangga.


Winda mengejar sebuah mobil mewah, berdiri di depannya. Tidak ada tanda-tanda mobil akan berhenti, Vira berteriak meminta Winda menyingkir.


Sebuah senjata Winda arahkan kepada mobil, tanpa banyak berpikir suara tembakan terdengar. Ban mobil pecah, kaca mobil juga pecah.


Mobil berhenti tempat di depan Winda, seseorang langsung keluar mobil menyerang Winda menggunakan belati.


Winda hanya tersenyum licik, Vira langsung melayangkan tendangan, pertarungan terjadi antara Vira, Winda dan seseorang yang menggunakan topeng.


Vira berhasil menjatuhkan belati, Winda menembak bagian kaki sampai berlutut.


Wildan meminta Winda dan Vira berhenti, Winda menodong senjatanya ke arah kepala. Wildan menarik Winda menjauh.


Suara tertawa terdengar, Vira dilempar serbuk panas, Wildan langsung memeluk Vira melindungi wajah Vira.


Winda menendang sampai jatuh pingsan, jaket Yusuf langsung terbakar yang dia lemparkan melindungi kepala dan tubuh Wildan.


Vira menatap wajah Wildan, langsung mengecek punggung Wil yang memerah masih terkena bakar, meskipun tidak parah.


"Kamu baik-baik saja Vir?" Wildan menghela nafasnya.


"Iya, siapa dia kita harus mengecek kembali hotel agar seluruh keluarga aman?" Winda menendang kembali sampai berdarah.


Vira melangkah kembali ke hotel bersama Winda yang tatapan mata keduanya tajam, tidak menyangka nasib mereka buruk sekali bisa melihat ular.

__ADS_1


Bersyukurnya mereka hanya mengecek kamar, coba saja jika langsung lompat ke atas tempat tidur sudah lama mati.


"Winda, Vira kalian berdua baik-baik saja." Bella menatap dengan cemas.


"Katanya tidak ingin berteman lagi, Bella sekarang sudah berubah." Vira langsung melangkah pergi, duduk di sofa ruang tunggu.


"Maaf, Bella hanya kesal saja mengatakannya." Bella meneteskan air matanya.


"Siapa mereka? Bella kamu punya musuh, atau mungkin kak Tian yang punya musuh." Winda menatap tajam.


Semuanya hening, Ravi langsung bergerak mengecek seluruh kamar keluarga menghindari jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Vira mengingat saat dirinya masuk ke toilet melihat seorang pria bertopeng sedang bersembunyi, saat menyadari ada Vira langsung melompat ke bawah menggunakan pengaman.


Winda juga melihat dengan jelas seseorang melompat dari lantai dua puluh langsung terjun.


"Dia masuk dari dalam, saat menyadari keberadaan kita langsung terjun karena sudah dipersiapkan." Winda menundukkan kepalanya sambil berpikir.


Vira menatap Wildan yang berjalan mendekat, menunjukkan rekaman seseorang yang berjalan ke dalam hotel, mereka sengaja meletakan ular untuk membahayakan pengantin.


Meskipun kamar akan digunakan saat malam pertama, sehingga tidak membuat curiga.


"Masalahnya, kemungkinan bukan kak Tian atau Bella yang masuk pertama, mungkin akan ada karyawan hotel bisa saja orang tua, anak-anak atau bisa saja perias." Wildan duduk di depan Tian.


"Kak yang melakukan bukan orang berpengalaman, dia hanyalah orang yang memiliki dendam." Wildan menunjukkan jika orang yang kemungkinan ada sangkut pautnya dengan bisnis Tian.


"Tidak tahu Wil, kak Tian tidak bisa berpikir. Intinya yang dia lakukan berbahaya, jika Vira dan Winda terluka ...." Tian menutup wajahnya.


"Kak Tian kami bukan wanita bodoh, meskipun kita nakal otak kita lelet seperti Bella." Vira menatap tajam.


"Maaf, Bella minta maaf." Air mata Bella menetes lagi karena khawatir.


"Hanya bercanda kak Bel, kita juga mengerti posisi kamu yang marah karena kamarnya hancur, nanti kita perbaiki." Winda memeluk Bella.


"Aku takut kalian terluka." Bella memeluk Vira dan Winda yang menyelematkannya.


Bima meminta Winda mengikutinya, tatapan Winda langsung takut karena dia menggunakan senjata. Wildan langsung meminta senjata Winda, memintanya mengikuti Papi.


"Siapa lagi yang menyimpan senjata?" Rama menatap putrinya.

__ADS_1


Vira, Bella menunjukkan tangannya menyerahkan senjata kepada Wildan. Ravi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tiga wanita yang dipanggil Bima untuk melihat surat izin boleh menggunakan senjata.


Jika Winda sudah dimaklumi karena dia memang seorang pengacara, selalu berurusan dengan hukum.


Bella dan Vira memiliki senjata tanpa surat izin, Rama dan Bisma hanya bisa menghela napas melihat putri mereka seperti penjahat.


"Senjata siapa yang kamu gunakan Vira Bella?" Bima menatap dua wanita yang langsung menunjuk ke arah Winda.


"Kamu dapat dari mana Winda? sedangkan kamu sendiri tidak pernah menangani kasus apapun." Bima menatap putrinya.


Winda langsung tersenyum, tidak mungkin dia mengatakan kasus apa yang dia selidiki. Karena kasus yang Winda selidik tidak pernah berujung, dia hanya ingin menemukan uminya Yusuf.


"Winda jawab Papi, kamu dapat senjata dari mana?" Bima menatap putrinya lembut.


"Dari kak Wildan."


Wildan yang mendengar langsung terkejut, dia tidak pernah memberikan kepada siapapun. Wildan menatap Yusuf dan Karan yang hanya menggeleng.


"Vira, Bella kalian dilarang membawa senjata. Winda hati-hati jangan sampai kamu gunakan untuk hal yang berbahaya terutama keluarkan pelurunya." Bima mengusap kepala putrinya.


"Siap Pi, Winda memang jarang memasukkan peluru, tadi juga dadakan." Winda tersenyum mengambil kembali senjatanya.


Seluruh tempat sudah dicek kembali, Ravi mengatakan semuanya aman barulah keluarga kembali ke kamar masing-masing.


Penjagaan juga diperketat, tidak ada yang boleh keluar masuk dengan bebas karena masih proses penangkapan pelaku sesungguhnya.


Wildan dan Ravi yang mengintrogasi, tanpa banyak pikir Ravi yang biasanya suka becanda tidak segan melayangkan pukulannya.


Ravi tidak terima adiknya hampir terluka karena ular sialan, sangat berbeda dengan ularnya Ravi yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Siapa dia kak?" Wildan menunjukkan foto.


"Tidak tahu, bukan mantan Tian. Jika Rekan kerja, Tian jarang melakukan kerja sama dengan wanita." Ravi menatap ke arah pemuda yang mereka tangkap.


"Siapa dia?" Ravi menunjukkan foto.


"Tidak tahu."


Tamparan Ravi melayang, memukuli habis-habisan sampai babak belur.

__ADS_1


****


__ADS_2