SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KEMBALI


__ADS_3

Ravi baru kembali ke kantor setelah menyelesaikan meeting, Erik masuk memberikan beberapa berkas juga membawa makan siang.


"Kenapa kamu terlihat lelah sekali Vi?"


"Semalam kebanyakan memompa, bangun pagi, langsung menggosok otak full." Ravi membawa beberapa berkas, langsung memberikan tanda tangan.


"Memompa apa?" Erik membuka makanan, tidak mengerti ucapan Ravi.


"Cepatlah menikah agar tahu rasanya." Ravi mengambil makanan Erik, langsung memakannya.


Tatapan mata Erik langsung sinis, Ravi hanya tertawa melihat sahabatnya yang sedang ngambek, acara liburannya batal karena Ravi butuh bantuan.


"Rav, aku ini Dokter jangan paksa aku berada di perusahaan." Erik mengambil kembali makanan untuk dirinya.


"Rik, aku juga tidak pernah terpikirkan untuk menikah, tapi aku ingin memberikan Mommy cucu lebih cepat, tapi siapa menyangka menyentuh Kasih membutuhkan waktu sangat lama, menikah penuh cinta, tapi penikahan aku penuh drama."


"Kamu kecewa?" Erik mengunyah makanan sambil menatap Ravi.


"Tidak sama sekali, aku semakin jatuh cinta, setiap masalah tidak membuat aku marah, tapi aku menganggap ini menjadi proses pernikahan yang harus aku lewati."


"Mama juga meminta aku segera menikah, dia ingin melihat anak kecil berlarian." Erik menghela nafasnya.


"Kenapa tidak maju, aku yakin keluarga Bramasta tidak memandang apapun, selama ini kamu tahu bagaimana Tian merangkul kamu, Aunty Jum sayang sama kamu."


"Masalah aku tidak ingin Billa tahu asal-usul aku, kamu tahu aku tidak pernah diinginkan lahir ke dunia ini, bahkan kamu tahu aku harus menutupi semuanya dari Papa soal pengeluaran ibu."


"Dari awal aku sudah mengatakan, berhenti menutupinya. Uncle Ammar berhak tahu, kamu hanya dimanfaatkan ibu kamu."


Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan Ravi dan Erik, Wildan masuk langsung ikut duduk. Memijit pelipisnya merasakan pusing.


"Ada masalah apa?"


Wildan menyerahkan laporan, beberapa foto. Ravi dan Erik langsung melihatnya, mata Erik berkedip merasakan khawatir terhadap Mamanya.


"Kenapa aku harus orang yang mengetahui pertama kali masalah kalian, menyebalkan." Wildan langsung berbaring, memejamkan matanya.


Erik langsung menghubungi Mama yang sedang berada di luar kota, tangan Erik langsung bergetar sampai Ravi menenangkan.

__ADS_1


"Angkat Ma, jangan membuat Erik khawatir."


"Tenang Rik Mama pasti baik-baik saja."


Ravi melihat ponselnya mendapatkan pesan dari Kasih, meminta izin untuk ke rumah Bunda karena ada Aunty Septi yang terluka.


"Mama ada di rumah Bunda Rik." Ravi langsung mengambil jas kerja, memasukkan ponselnya dan kunci mobil.


Wildan hanya diam saja melihat Erik dan Ravi yang kalang kabut, ibu Erik menyerang Septi meminta uang Erik hasil kerjanya, padahal Septi tidak pernah menikmatinya, dia menghasilkan uang sendiri, bahkan uang pemberian Erik dia tabung untuk masa depan Erik.


"Ammar aku tidak ingin kamu diam saja, wanita tidak tahu malu, dia melempar Erik saat kalian menikah, sekarang saat tahu status Erik meminta bagian." Reva menatap sinis.


"Aku juga baru tahu, selama ini Erik sering memberinya uang."


"Sudahlah aku tidak ingin terus diperpanjang, berapapun yang dia inginkan akan aku berikan, tidak akan aku biarkan Erik pergi dari hidupku." Septi meneteskan air matanya.


"Maaf Tante, saat dia mendapatkan apa yang dia inginkan, suatu hari dia akan kembali. Orang jahat jangan kasihan, jangan pernah menunggu dia bertobat." Kasih menyentuh tangan Septi menghapus air matanya.


"Dia putra Tante Kasih."


"Erik terlalu baik Tante, Kasih bisa merasakan perjuangan Erik saat Kasih terluka. Lepaskan Erik dia harus memilih, bukan menghindar. Ibunya memang yang melahirkan, Erik cukup menghormatinya, tapi jika harus menyakiti perasaan Tante, lepaskan Erik Tante."


"Di mana Erik?"


"Tidak tahu Tante, dia meminta pisah mobil."


Ravi coba menghubungi Erik, ponselnya mati.


Wildan datang melihat tangisan Aunty Septi, Ammar juga tangannya memar karena berkelahi di Restoran. Bahkan Bisma juga turun tangan, keduanya marah karena Erik tidak jujur soal pertemuan dengan ibunya yang hampir membunuh mamanya.


"Jangan salahkan kak Erik, dia berada dalam dilema, antara ibu kandung dan ibu yang paling dia cintai. Kak Erik menjadi Dokter karena Aunty Septi, dia juga tidak ingin seperti ini, tapi Erik harus memilih." Wildan duduk meminta Ravi menghidupkan layar, Wildan akan mencari keberadaan Erik.


Ravi langsung menghubungi Tim yang berada di markas, menghidupkan komputer mengarahkan ke layar besar khusus di ruang kerja Bisma. Kasih kagum melihat cara kerja Ravi dan Wildan.


"Ak, memangnya bisa tahu keberadaan Erik?" Kasih menatap Ravi.


"Bisa sayang, seluruh keluarga kita punya password yang hanya aku, Wildan, Erik, Tama dan Tian yang tahu. Kamu juga sudah terdaftar bersama Karin, jadi aku tidak akan pernah kehilangan kamu." Ravi bicara sambil berbisik, Kasih hanya tersenyum.

__ADS_1


"Hebat, kalian seperti keluarga mafia."


"Harus karena keluarga kita besar, banyak orang yang syirik. Kamu sudah bisa jalan normal?" Ravi menahan tawa, Kasih mencubit kuat lengan Ravi.


"Awwwwww, sakit sayang. Setelah ini aku punya rencana untuk berbulan madu, tapi setelah pekerjaan aku beres."


Kasih tersenyum mengangguk kepalanya, Wildan menatap sinis ke arah Ravi.


Layar langsung hidup, Ravi memasukkan password, Wildan langsung bermain di komputer. Keberadaan mobil Erik sudah terlihat, Erik berada di rumah yang sangat cukup mewah.


Erik berdiri menatap seorang wanita seksi, sedang memegang botol minuman.


"Kenapa menyakiti Mama?" Erik meneteskan air matanya, sudah cukup kesabarannya.


"Tinggalkan keluarga Ammar Erik, kamu sudah cukup banyak keluar uang untuk menyongsong kehidupan mereka."


"Bu, salah Papa sama Mama apa? mereka orang baik Bu, Erik tidak mengerti hati ibu terbuat dari apa?"


"Septi hanya wanita mandul, bahkan menjaga anaknya yang penyakit saja tidak bisa."


"Siapa bilang Mama tidak bisa menjaga Erwin? aku masih hidup Tante, aku tidak terima Tante menyakiti Mama." Erwin muncul, berdiri di samping Erik.


Ravi langsung menghentikan layar, kepanikan terjadi dia lupa soal Erwin yang dirahasiakan oleh Ravi dan Erik.


"Siapa Erwin?" Wildan menatap Ravi.


"Dia putra kami yang dinyatakan meninggal, dia sakit keras kami mengirim Erwin ke LN tapi divonis meninggal, Erik yang melakukan perawatan intensif, aku tidak menyangka Erwin sudah kembali." Ammar menatap Septi yang menangis tidak percaya, putranya kembali.


"Uncle juga tahu?" Ravi langsung menghidupkan kembali.


"Erik menceritakan, tapi tidak memberi izin bertemu hanya via video saja."


Reva menangis memeluk Septi, saat tahu anak Septi meninggal Reva dan Rama sangat bersedih, Septi hampir depresi jika tidak ada Erik.


"Septi, aku senang si kecil sudah besar, aku merindukan dia Sep, putri kecil yang dulu mengemaskan sekarang berubah menjadi pemuda tampan." Reva menangis sesenggukan.


"Aku juga Va, aku ingin memeluk kedua putraku, berhentilah memangilnya putri, nanti dia malu." Septi menutup wajahnya, akhirnya kedua putranya bersama.

__ADS_1


***


__ADS_2