
Keterkejutan Tian dan Tama berubah menjadi tawa, merasa lucu dengan tingkah Ravi yang mulai bodoh.
"Ratusan pengawal? pengawal kamu sudah mencari ke mana?" Tian tersenyum melihat Ravi.
"Sudah berkeliling kota, bahkan sampai keluar kota. Ravi sudah mengecek seluruh penerbangan, tapi Kasih tidak pergi dari negara ini."
"Lucu kamu Ravi, sesuatu yang dekat tidak mungkin bisa ditemukan jika kamu mencari di kejauhan. Kasih berada di rumah Bunda, sampai lebaran monyet kamu tidak akan menemukannya di luar kompleks." Tama menggelengkan kepalanya.
Ravi langsung berlari keluar rumah, Erik juga berlari mengejar Ravi. Tanpa banyak pikir dan bertanya, Ravi berlari kencang sampai masuk ke rumah Bisma.
Rencana Bisma ingin pergi langsung sembunyi, melihat Ravi dari kejauhan berlari seperti orang kesurupan.
"Kasih, sayang kamu di mana?" Ravi langsung melihat ke dapur, memanggil Jum.
"Ravi, kamu akan membuat Kasih ketakutan. Bisa bersikap tenang." Jum menuruni tangga, menatap wajah Ravi yang panik.
Berkali-kali Ravi mengatur nafasnya, Jum meminta Ravi masuk ke kamar tamu. Pintu kamar terbuka, m
Kasih sedang duduk di pinggir ranjang, memandangi parsel buah yang tidak tersentuh.
Tangan Kasih mengelus perutnya, menarik nafas panjang. Ravi langsung berjongkok membuat Kasih kaget, Ravi mendekati Kasih menciumi seluruh wajahnya. Kasih masih diam tidak merespon, rasa Kasih campur aduk antara rindu dan marah.
"Kamu baik-baik saja sayang? bagaimana keadaan baby kecil, Dokter bilang apa?" Ravi mengelus perut Kasih, perlahan air mata Kasih keluar.
"Maafkan Aak sayang, jangan pernah pergi seperti ini, kamu bisa membuat Aak gila."
"Maaf, Kasih memang tidak tahu diri, saat Kasih antara hidup dan mati, hanya Ravi yang setia menemani, tapi kehadiran Kasih hanya membuat kamu banyak pikiran, banyak beban, mungkin dengan Kasih pergi, kamu bisa bahagia." Air mata Kasih menetes.
"Sayang, bahagianya Aak bersama kamu. Kalian tidak pernah menjadi beban. Aak sangat mencintai kamu dan anak kita."
"Bohong, buktinya Aak tidak mencari Kasih, sudah tiga hari Kasih pergi, seharusnya cek baby tapi Aak tidak ada."
"Maaf maaf maaf sekali sayang, jangan pergi lagi. Aak tidak akan mengulangi kesalahan Aak." Ravi meneteskan air matanya, mencium kening Kasih lama, memeluk anaknya.
Kasih diam menatap wajah Ravi, ingin sekali menyentuh bibir Ravi, rindu dipeluk, tapi untuk meminta lebih dulu terlalu memalukan.
Tangan Kasih mencengkram seprai ranjang menundukkan kepalanya, tidak ingin menatap Ravi.
"Kasih pengen apa? Aak turutin, tapi jangan pernah minta untuk pergi dari hidup Aak."
Jari Kasih menyentuh baju Ravi, senyum malu-malu terlihat, tapi tidak ingin menatap mata Ravi. Senyum Ravi terlihat, sangat mengerti yang Kasih inginkan. Sikap Kasih aslinya muncul, jika soal hubungan suami istri Kasih sangat pemalu.
"Mau apa sayang."
__ADS_1
"Emhhh, itu Kasih malu."
"Tunggu sebentar Aak mengunci pintu dulu." Ravi langsung melangkah menutup pintu kamar.
Tangan Ravi membuka bajunya, langsung membuka baju Kasih. Ravi juga merindukan berhubungan, Kasih tidak menolak setiap sentuhan suaminya, Kasih sedang rindu berduaan.
"Sayang, kalau ada rasa tidak nyaman langsung bicara, Aak takut lepas kendali." Ravi mencium kening Kasih.
"Iya Aak, ayo cepat."
"Sabar sayang, waktu kita panjang." Ravi tertawa gemas melihat wajah Kasih.
"Kita lagi di rumah Bunda, malu Aak."
"Ya sudah ayo pulang ke rumah, waktu kita bisa sampai malam, tidak ada yang akan menggangu."
"Cepat Aak, kalau tidak turun." Kasih menatap tajam, memukul dada Ravi.
"Hulk kembali, mulai mengamuk." Senyum Ravi terlihat, langsung menutup mulut Kasih yang ingin mengomel.
Suara Kasih tertahan dalam mulut Ravi, keduanya bermandian keringat, Ravi masih menjaga gerakkannya, mengkhawatirkan keadaan anaknya.
***
"Ravi keluar, jangan kamu membuat ulah lagi membuat Kasih menangis." Viana teriak kuat.
"Mommy suaranya masih full, tidak berkurang sedikitpun. Sangat tahu jika anak sedang enak harus diganggu."
"Kasih tidur Mom, sebentar lagi keluar." Ravi teriak, Kasih terbangun langsung memukul mulut Ravi.
"Sakit sayang."
"Mommy lagi bicara, bukannya keluar tapi teriak. Sakit telinga Kasih." Mata Kasih melotot.
"Maaf, Aak mandi dulu."
"Kasih masih ingat di peluk Ak."
Ravi yang sudah memunguti bajunya, langsung balik lagi memeluk Kasih yang banyak maunya.
"Aak tidak kangen Kasih? kenapa tidak mencari Kasih?"
"Sudah sayang, Aak sudah mencari keliling sampai ke luar kota."
__ADS_1
"Bohong, nyatanya sudah 3 hari Aak tidak menjemput Kasih."
"Bukan tidak menjemput istriku, tapi Aak tidak tahu Kasih di rumah Bunda." Ravi mengaruk tengkuknya
Ravi dengan penuh kesabaran mendengarkan ceramah Kasih, mengatakan sudah memiliki pacar baru membuat Ravi ingin sekali tertawa, tiga hari tidak melihat Kasih, tidak mendengar suaranya membuat Ravi hampir gila.
"Terima kasih ya Allah istriku baik-baik saja. Aku sangat takut Kasih meninggalkan aku seperti dulu, saat Daddy ditinggal Mommy." Batin Ravi sambil mengusap matanya, menyentuh perut Kasih.
"sayang sudah selesai mengomel, Aak mandi dulu ya." Ravi menciumi tangan Ravi.
Setelah mendapatkan izin Ravi langsung cepat mandi, tidak lama Kasih sudah teriak ingin mandi. Dengan sabar Ravi menghadapi Kasih, tidak ingin menaikkan sedikit saja nada bicaranya.
"Aak Kasih tidak punya baju lagi."
"Aak pergi sebentar mengambil baju di rumah Mommy."
Ravi keluar kamar, menatap Mommy yang asik tertawa. Ravi berlari ke rumah orangtuanya untuk mengambil baju Kasih, Rama di rumah masih sibuk mencari Kasih.
"Ravi bagaimana kabar terbaru Kasih?"
"Daddy tidak tahu, Kasih kabur ke rumah Bunda."
"Astaghfirullah Al azim, berarti Mommy tahu." Rama menghela nafas, setidaknya dia bersyukur menantunya baik-baik saja.
"Sudah pasti rencana Mommy, jahat sekali Mommy tidak kasihan melihat Ravi."
"Tidak kasihan juga melihat Daddy."
Rama dan Ravi menghela nafas panjang, baju Kasih sudah ditangan Ravi, Rama mengikuti Ravi ke rumah Bisma yang sedang ramai untuk acara pertunangan.
Rama melihat Viana yang asik tertawa langsung mendekatinya. Tatapan Rama sudah Viana mengerti
"Mommy, bercanda Mommy tidak lucu menyembunyikan Kasih dari Ravi." Rama juga kesal melihat candaan Viana.
"Siapa yang bercanda hubby, Kasih sedang tidak ingin bertemu Ravi, dia marah. Jika kita memaksa mereka bertemu, Kasih akan terus diam, tidak tahu rasanya rindu, hanya rasa kecewa yang terus tumbuh."
"Iya, tapi kasihan Ravi Mom."
"Salah Ravi sendiri Daddy, seharusnya dia menjaga ucapan. Banyak di luar sana yang ingin merasakan moments kehamilan istri yang banyak maunya, tapi Ravi belum di minta membuat candi, baru minta buah saja sudah marah."
Rama terdiam, jika Viana sudah mengomel suaranya bisa terdengar orang satu kompleks.
***
__ADS_1