
Seharian Kasih memikirkan soal Vira yang ingin mengalahkan Wildan, mungkin Wildan melupakan siapa Kasih, tapi Kasih sangat mengenali sosok Wildan.
Kasih mengacak sebuah map lamanya, daftar bocah jenius yang masuk dalam daftar salah satu dirinya dan Wildan. Umur Wildan memang paling muda dari semua tim, bocah kecil yang sombong dan tidak pernah menatap siapapun.
"Wildan Bramasta, kita pernah satu klub dan kamu berhasil menjadi pemuda termuda, yang mendapatkan gelar master." Kasih merasakan iri, jika saja hari itu dia tidak terlambat, mungkin dia juga bisa merasakan sekolah di New York.
Kasih meneteskan air matanya, mimpi yang Kasih lupakan, untuk menjadi seorang pelukis hebat. Hati Kasih tergerak untuk membantu Vira masuk ke universitas terbaik di New York, sampai dia bisa menjadi lima daftar mahasiswa berprestasi terbaik.
"Vira, Winda, Bella Billa, mereka berempat cerdas hanya saja nakal kebangetan. Salah satu dari mereka bisa melanjutkan mimpi Kasih yang tidak bisa dia capai.
"Kak Kasih," Vira duduk di depan Kasih yang sedang mengacak map, memperlihatkan foto Wildan.
"Vira, kamu masuk dari mana?"
Mata Vira tajam menatap foto yang ada di map, Vira langsung mengambilnya melihat foto beberapa orang salah satunya Kasih dan Wildan.
"Apa ini kak?"
Kasih menceritakan jika dulu dirinya pernah masuk salah satu siswa terbaik, mendapatkan beasiswa kuliah di New York tapi mimpi Kasih terhenti.
"Jadi Wildan juga tergabung di zaman kakak dulu?".
"Iya Vir, dia siswa termuda, cerdas dan sangat pendiam."
"Banyak perempuan pasti yang menggoda?"
"Tidak ada yang memikirkan soal cinta Vira, mengejar cita-cita dengan peluang terbesar."
Vira terdiam menceritakan soal Wildan yang menjadi pemuda jenius, bahkan memiliki segudang bisnis di usia muda. Tapi wajah Wildan terus dirahasiakan karena memandang kakaknya Bastian yang punya kuasa di LN, juga menjaga identitas Ayah Wildan.
Kasih juga menjelaskan jika Vira berniat untuk bisa menjatuhkan Wildan, mengalahkannya Kasih akan mendukung Vira sampai bisa tembus menjadi siswa terbaik.
"Kak Kasih yakin Vira bisa?"
"Vira yakin tidak?"
"Yakin," Vira langsung memeluk Kasih, kakak ipar terbaiknya ternyata juga wanita jenius, hanya saja Kasih kurang beruntung.
Vira Dan Kasih pergi untuk menemui Mommy yang sedang shopping bersama geng nya.
Kasih terus tertawa mendengarkan cerita Vira soal geng Tri istri, tiga wanita setengah waras yang memiliki banyak keistimewaan.
Sesampainya di Mall, Kasih melihat Mommy beradu mulut dengan pria berbadan besar. Bukan hanya Mommy, tapi Mami Reva dan Bunda juga ikut berdebat. Kasih coba menengahi ketiga wanita yang sedang mengomel.
"Mommy, Mami Bunda stop!" Kasih menahan ketiga ibu yang sedang beradu urat, Vira asik merekam dan tertawa cekikikan.
"Maaf ya Pak, ini ada masalah apa?"
__ADS_1
"Mereka ini wanita kampungan, norak, tidak mengerti teknologi!"
"Mommy ada apa sebenarnya?"
"Tanya Bunda kamu,"
"Bunda."
"Bunda tidak sengaja tersenggol meja makan dia, terus handphonenya jatuh. Bunda sudah bilang akan ganti rugi, tapi dia memaksa Bunda untuk membersihkan ponselnya yang terkena tumpahan mie."
"Iya terus Bunda?"
"Bunda langsung membawa ponselnya ke toilet dan mencucinya, piring kotor harus di cuci, handphone kotor juga Bunda cuci."
"Inalilahi wa innailaihi rohjiun, mati ponselnya Bunda."
"Iya," Jum menggagukan kepalanya sambil tersenyum.
Vira sudah tertawa terpingkal-pingkal, sampai mengeluarkan air matanya. Kasih nyegir menahan tawa, juga memohon maaf. Viana dan Reva sudah sembunyi menahan malu, langsung cepat berlari ke mobil, mereka berpikir Jum di serang, di sakiti, ternyata Jum membuat malu.
Dengan terpaksa Kasih mengganti rugi 2x lipat harga ponsel, Jum hanya tersenyum saja melihat Kasih melakukan negosiasi untuk berdamai.
"Maafkan Bunda ya," Jum menatap Kasih penuh penyesalan, sambil terus berjalan, dia berniat menghukum kesombongan lelaki tadi, tapi yang terjadi keributan.
"Bunda tidak salah, namanya juga tidak sengaja. Kasih yakin Bunda tidak berniat membuat masalah."
"Tapi Bunda sengaja mencuci handphonenya."
"Iya, biarpun di lab juga masih bau, jadi jalan terakhir harus di cuci, Bunda tidak salah."
Kasih tersenyum, dia sempat kesal dengan kepolosan Billa, tapi ternyata Bunda Jum sudah polos tingkat akut.
"OHH iya, kamu tadi bayar berapa? biar Bunda ganti."
"Kasih tidak keluar uang Bunda, tenang saja Kasih berhasil bernegosiasi dengan saling menguntungkan."
Senyum Kasih terlihat, Bunda Jum memang polos tapi sangat terlihat wajah baiknya. Kasih seakan melihat Billa sang gadis kecil yang sangat menyukai Lab.
Di dalam mobil, Viana dan Reva tertawa menggigat tingkah Jum yang konyolnya tiada duanya.
Vira juga dengan asiknya melihat rekaman video, ini akan menjadi kenangan terindah dalam hidupnya, memiliki setia memories tentang orang-orang yang dia sayang. Vira sudah memutuskan untuk pergi menimba ilmu, menerima tantangan Wildan, menjadi wanita hebat dan berprestasi.
Saat Jum dan Kasih masuk mobil, tawa Viana dan Reva semakin besar. Mobil melaju ke sebuah butik terbaik tempat Viana, Reva dan Jum biasa membuat baju keluarga.
***
Di butik Ravi sudah lama menunggu Kasih, Pemilik butik mendekati menyapa Ravi yang sedang bete.
__ADS_1
"Sabar Ravi, Mommy kamu terlalu asik belanja."
"Iya Aunty Nara,"
"Selamat ya untuk Pernikahan kamu, Aunty akan memberikan yang terbaik untuk keluarga terpandang seperti kalian."
"Aunty berlebihan, Uncle Dave jauh lebih hebat dari Ravi. Daren juga sangat membanggakan. Ravi heran Aunty sudah punya suami kaya juga masih tetap sering bermain ke butik."
"Iya Vi, Aunty sangat menyukai bisnis pertama Aunty."
"Aunty maaf ya, awal bertemu dengan Uncle Dave bagaimana?"
Nara tertawa, dia mengatakan jika Pernikahan dengan Dave tanpa Cinta, karena Nara hanya menjadi istri pengganti, Nara juga mengatakan dia wanita gila uang dan menerima tawaran Dave dengan bayaran tinggi."
"Jadi cerita soal Aunty istri bayaran bar-bar semuanya benar." Ravi tertawa bersama Kinara.( Kisah Kinara Dave ada di ******* judulnya ISTRI BAYARAN BAR-BAR.)
"Asik sekali tertawa, sampai tidak menjawab salam." Bibir Kasih langsung manyun, Ravi paling gemas jika Kasih mulai cemburu.
"Kasih!" Kinara memeluk Kasih, Ravi juga baru tahu jika Kasih dan butik langganan Mommy saling kenal.
"Tante Nar, Kasih cemburu Tante tertawa dengan calon suami Kasih."
"Maafkan Tante, tapi om Dave yang paling tampan gagah di mata Tante."
"Tapi di mata Kasih, Daren juga lumayan Tante."
"Kasih!" Ravi teriak langsung memeluk pinggang Kasih, menarik kepadanya untuk menatap.
Tawa Nara terdengar, Ravi sangat posesif, sesuai dengan cerita Kasih. Nara langsung menyambut Tri istri yang sudah seperti orang perang, membiarkan calon pengantin untuk bermesraan.
"Jangan pernah memandang lelaki lain,"
"Kasih akan melakukan apapun yang Ravi lakukan, kalau selingkuh Kasih juga selingkuh."
"Astaghfirullah sayang, seharusnya suami selingkuh diingatkan."
"Kalau tetap tidak ingat-ingat!"
"Pukul saja, sampai hilang ingatan."
"Benar ya?"
"Jangan sayang, aku tidak rela lupa kamu."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***