
Kasih berusaha melepaskan pelukan Ravi, tapi dengan santainya Ravi terus mempererat pelukannya sambil tertawa.
"Aku mau pulang Ravi!" Kasih menghentakkan kakinya, coba menginjak kaki tapi Ravi berhasil menghindar.
"Ya galak banget, aku anter pulang SOALNYA sudah malam."
"Kamu bawa mobil sendiri, tidak perlu dibikin ribet. Kita pulang masing-masing." Kasih langsung ingin berlari ke taksi.
Cepat Ravi menarik tangan Kasih kearah kursi sebelah kemudi. Mobil Ravi ditinggalkan begitu saja, dia masuk ke dalam dan menjalankan taksi.
Hujan mulai reda, di dalam mobil masih terjadi keributan. Ravi yang jahil berhadapan dengan Kasih yang galak.
"Turun!" Kasih menjambak rambut Ravi.
"Galak banget jadi perempuan," Ravi mengelus kepalanya.
"singa betina saja masih lucu walaupun dia suka menerkam." Kasih melotot membuat Ravi senyum.
"Kamu lebih mirip gorila."
"Daripada kamu mirip buaya!" Kasih lebih galak lagi sambil teriak di telinga Ravi.
"buaya hewan yang setia, dia hanya kawin dengan satu wanita."
"iya buaya asli, kamu buaya buntung.'
"Buntung! aku tidak punya buntut Kasih."
"Stop Ravi!" Mobil langsung berhenti mendadak karena teriak Kasih yang sangat kuat.
Mata Kasih menatap seberang jalan, seorang wanita hamil sedang berusaha mencari bantuan. Ravi mengikuti arah tatapan Kasih.
"Ibu hamil, ayo kita tolong." Kasih ingin membuka pintu mobil, tapi Ravi langsung menahannya.
"Bagaimana jika dia hanya pura-pura? saat kamu mendekat langsung diserang. Kasih sekarang sulit membedakan yang benar-benar membutuhkan pertolongan dengan yang pura-pura meminta pertolongan."
Kasih terdiam, Ravi benar banyak sekali pemberitaan soal kejahatan dengan berkedok membutuhkan bantuan. Sekarang kejahatan banyak jenisnya, melibatkan orang tua, anak-anak bahkan balita. Karena sebuah keegoisan banyak orang baik yang ingin membantu orang yang membutuhkan tapi berpikir berkali-kali karena banyaknya jenis penipuan.
"Tapi jika dia memang membutuhkan pertolongan."
"Sudahlah! kita pulang."
"Ravi! kita berdua di sini, kasihan ibu itu dia menahan sakit." Kasih memohon sambil menggenggam tangan Ravi yang siap melaju.
__ADS_1
Dengan menghela nafas Ravi mengikuti keinginan Kasih, Ravi mendekatkan mobil. Kasih ingin keluar tapi langsung ditahan.
"biar aku yang keluar, jika ada bahaya kamu jangan keluar. Hubungi keamanan jangan mendekati aku."
"Iya!"
"Kasih berjanjilah satu hal."
"Apa?"
"Kamu harus janji tidak bekerja pulang malam, aku tidak ingin sifat baik kamu suatu hari dimanfaatkan." Ravi masih diam menunggu jawaban, akhirnya menyetujui keinginan Ravi.
Cepat Ravi keluar, melihat seorang wanita hamil yang terduduk. Bajunya basah air ketuban, cepat Ravi menggendongnya masuk ke dalam mobil bagian penumpang. Kasih langsung pindah tempat duduk, tanpa banyak bicara mereka langsung melarikan ke rumah sakit.
Teriakan ibu yang ingin melahirkan membuat Kasih kebinggungan, dia tidak mengerti hanya bisa mengatakan untuk tahan dan sabar.
Sekitar 20 menit mobil sampai, Ravi langsung menggendong diikuti oleh Kasih, Ravi memesan kamar VIP dompetnya diserahkan kepada Kasih. Membayar dengan kartunya, Ravi membisikan pin kepada kasihan. Dia langsung berlari menuju ruangan persalinan, seluruh tim medis cela bertindak.
Dari kejauhan Kasih tersenyum, awalnya Kasih sedikit kecewa dengan sifat Ravi yang tidak perduli. Tapi sekarang melihat Ravi menggendong langsung bahkan berlari membawa tubuh besar yang teriak kesakitan.
Kasih sampai di dekat ruangan persalinan, Ravi sudah duduk sambil tangannya gemetaran.
"Terimakasih Ravi!" Kasih melihat kearah pintu, Ravi melirik lalu fokus ke depan pintu.
"Saya anaknya bukan suaminya ini istri saya." Ravi menunjuk kearah Kasih yang sedang menahan tawa.
"Hubungi ayah kamu jika ingin melihat anaknya lahir."
"jangan suster, Mommy saya galak jika mendengar nama perempuan matanya langsung melotot, Daddy bisa tidur diluar rumah." Ravi mengingat moments Daddy diusir mommy gara-gara nama Restu, pikir Mommy perempuan ternyata lelaki. Bukan hanya Daddy yang tidur di luar Ravi juga terkena imbasnya.
"Ravi jangan bercanda! ayo cepat kamu masuk." Kasih mendorong Ravi yang akan menemani melahirkan.
"Gila! tidak mau belum saatnya. Mata aku bisa ternodai." Ravi merinding ngeri.
"Jangan melihat kesana, kamu hanya perlu menghapus keringat, lalu menggenggam tangan." Kasih terus memaksa Ravi.
"Ayo cepat pak, ibu di dalam mencari suaminya." Suster yang lebih galak keluar.
"Astaga tidak bisa pesan online suaminya, saya masih polos Suster." Ravi teriak karena tangannya ditarik ke dalam.
Kasih diluar kamar tertawa sambil memegang perutnya, tidak terbayangkan ekspresi Ravi yang berada di dalam. Kasih duduk lalu berdiri lagi karena kaget mendengar teriakkan Ravi.
Seorang suster membuka pintu mengatakan jika Ravi pingsan, Kasih melongo cepat masuk ke dalam ruangan persalinan. Ravi sudah tergeletak di lantai tidak ada yang memperdulikannya, semua orang sibuk menyelamatkan ibu dan juga bayi.
__ADS_1
Kasih mendekat, menggenggam tangan ibu yang ingin melahirkan. Teriakan mengikuti instruksi dokter membuatnya kehabisan banyak tenaga. Bersusah payah berjuang akhirnya bayi lahir, suara tangisan bayi membuat Ravi langsung bangkit duduk mengacak rambutnya.
Ternyata perjuangan belum selesai, masih ada satu lagi bayi yang harus dikeluarkan. Ravi berdiri tapi langsung tertunduk karena tangannya ditarik, kepala Ravi menjadi korban jambak. Kasih merasa kasihan melihat Ravi yang teriakannya lebih besar dari wanita yang ingin melahirkan, genggaman tangan perlahan melemas Ravi langsung terduduk dilantai dengan kacau balau.
Tidak pernah Ravi bayangkan, jika akan berada di dalam ruangan persalinan dengan penampilan seperti kalah berperang. Setelah bayi dipindahkan Kasih dan Ravi diperbolehkan keluar ruangan.
Dengan langkah lemas Ravi melangkah keluar, tubuhnya sakit semua. Baju Ravi sobek, rambutnya banyak rontok dan berantakan. Kasih berjalan di belakang Ravi mengikutinya keluar menjauh dari ruangan persalinan.
Di depan ruangan seseorang Ravi langsung melangkah masuk, Kasih juga ikut masuk. Ravi berbaring sambil memejamkan matanya, malu dia pingsan di depan Kasih.
"Ravi bagian mana yang sakit, aku bantu mengobati." Kasih bicara pelan karena penampilan Ravi sangat memprihatikan walaupun lebih seru untuk tertawa.
Ravi duduk dipinggir ranjang, seseorang masuk dengan wajah kaget. Erik menatap Ravi langsung tertawa ngakak, Kasih menundukkan kepalanya ikut tertawa.
"Kenapa kamu Vi! berperang, atau dinodai bencong." Erik terus tertawa memegang perutnya.
"Tertawa terus tertawa! Aku akan bocorkan rahasia kamu kepada kakak ipar kamu Rik."
"bocah, sukanya mengancam. Tidak punya senjata lain."
"Cepat obati aku!"
"Kamu dari mana Ravi?"
"Membantu ibu-ibu melahirkan!"
"Jangan bilang kamu pemuda tampan yang menjadi bahan lelucon karena jatuh pingsan."
"Diamlah! jika rahasia ini sampai bocor, aku akan membunuh kamu Erik." Ravi teriak kesal menggigat dirinya yang jatuh pingsan karena melihat darah.
Erik bukannya takut, tapi langsung tertawa terpingkal-pingkal. Kasih juga ikut tertawa, Ravi terlihat seperti pemuda bodoh juga idiot.
"Kasih!" Ravi langsung melotot menatap Kasih yang sedang tertawa. Cepat Kasih diam membantu menyisir rambut Ravi.
"Ya Allah malu banget, tidak adakah aib yang lebih baik dari ini." Batin Ravi kesal.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1