SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PULANG


__ADS_3

Pintu kamar rawat Lin terbuka, tidak ada satu orangpun yang berjaga di dalam karena dilarang menganggu istirahat pasien yang baru stabil.


Senyuman jahat seseorang terlihat, menatap sinis Lin yang masih lemah. Matanya perlahan terbuka, melihat ke arah wanita yang melipat tangannya di dada.


Meskipun wajah tertutup masker, kacamata dan topi, Lin bisa mengenali siapa yang datang berkunjung.


Air mata Lin menetes melihatnya, suntikan dikeluarkan diarahkan kepada infus.


"Sebaiknya kamu mati, tutup mata kamu untuk selamanya."


Lin menutup matanya perlahan, membayangkan wajah Steven dan Windy yang berjanji akan membawanya pulang.


Senyuman Wira dan anak-anak yang lain juga ada dalam bayangan, suara panggilan mereka terdengar membuat Erlin tersenyum.


"Selamat tinggal adik-adikku, terkadang aku ingin hidup, tapi ada saatnya aku juga ingin mati. Kak Windy, kak Steven terima kasih sudah berusaha melakukan terbaik." Air mata, senyuman terlihat secara bersamaan.


"Jangan sakiti kakak." Tatapan Wira tajam, menendang bola menjatuhkan suntikan.


Senjata tajam langsung dikeluarkan, serangan dadakan mengenai Wira yang berhasil menghindar.


Sejak kecil Mommynya sudah mengajarinya bela diri, tubuhnya yang masih kecil berusaha untuk bertahan menghindari senjata.


Lin membuka matanya, melihat pertarungan Wira dan kakak tirinya. Tubuh Wira terjatuh, senjata tajam hampir menancap jantung Wira yang berhasil menahannya.


Tenaga keduanya tidak imbang, Lin melepaskan infusnya menekan tombol bahaya langsung berusaha turun.


"Jangan sakiti dia." Lin menarik tangan, meminta Wira segera melarikan diri.


Sebuah tangan mencekik Lin kuat, nafasnya hampir hilang. Tendangan kuat menghantam kepala.


Wanita yang menggunakan masker melihat ada anak-anak lain, langsung melarikan diri. Raka ingin mengejar, tapi Wira menahannya untuk berhenti.


"Hubungi pengawal di bawah untuk menahannya." Wira melihat darah keluar dari tangannya.


Asih langsung berlari mendekati Lin, tubuhnya sempat mental karena menendang terlalu kuat.


Beberapa dokter berdatangan, langsung membantu Lin yang sudah tidak sadarkan diri. Tangannya meneteskan darah, karena infus dilepas paksa.


Pintu kamar Vira terbuka, pengawal Steven mengatakan jika tuan muda diserang orang menggunakan senjata tajam yang ingin membunuh Lin.


Semua yang ada di kamar langsung kaget, melangkah keluar untuk melihat keadaan Wira yang mengalami luka.


Stev melihat putranya yang sedang marah-marah, bahkan menendang kaki seluruh pengawal yang ditugaskan berjaga.


Wira tidak mempedulikan luka ditubuhnya, amarahnya jauh lebih besar. Windy juga langsung melayangkan pukulan kepada pengawal yang lengah menjaga Lin.

__ADS_1


"Apa gunanya kalian sebanyak ini sampai melukai kedua anakku?" Windy mencengkram rahang kuat.


Steven langsung menggendong Wira, meminta dokter menangani putranya. Rasa sakit tidak dia rasakan, tatapan mata Wira tajam.


"Ada apa lagi?" Erik melihat tangan Wira yang berdarah, langsung membawa Wira ke ruangan perawatan.


"Bagaimana keadaan Lin?" Billa juga kaget melihat luka Wira.


Belum ada yang mengetahui keadaan Lin, dia langsung ditangani oleh tim medis. Windy mengusap wajah putranya yang mengatakan jika Lin hampir dibunuh.


Pengawal anak-anak tidak ada yang berhasil menangkap pelaku, Asih sudah mengomel kakinya bengkak karena menendang tidak menggunakan sepatu.


Ravi mendengar cerita putrinya, meminta dibelikan sepatu yang memiliki benda lancip dibawahnya.


Saat melakukan tendangan dia bisa membuat pelaku jatuh pingsan, bukan dengan sepatu kecilnya yang lepas sebelum menendang.


Kasih yang membayangkannya saja sudah menahan tawa melihat suaminya yang terlihat pusing, Asih terlalu berlebihan sampai ingin meminjam senjata Tama.


"Bagaimana keadaan Wira kak Stev?"


"Baik Rav, hanya tangannya yang terluka."


"Bagaimana kondisi Wira." Reva melihat cucu kesayangan yang masih marah kepada pengawal.


Ravi meminta Vira, twins V segera keluar dari rumah sakit, Arum juga sudah membaik. Mereka bisa dirawat di rumah, dan jauh lebih aman.


Wildan setuju dengan saran Ravi, sebanyak apapun penjaga rumah tempat paling aman. Tujuan mereka hanya ingin menyingkirkan Lin.


Dokter keluar dari kamar Lin, mengatakan jika Erlin baik-baik saja.


"Lin juga harus dipulangkan, aku bisa menyiapkan dokter terbaik untuk menjaga dia." Stev masuk ke dalam ruangan Lin.


Stev melihat anak remaja yang sedang menangis, memeluk tubuhnya sendiri memanggil ibunya.


"Kenapa kamu tidak membela diri?"


Windy menahan suaminya untuk tidak keras dengan Lin, keputusan keluarga disetujui. Seluruh keluarga pulang ke Mansion hotel, di sana penjagaan ketat juga anak-anak bisa bebas.


"Lin mengucapkan terima kasih, tinggalkan saja Lin di sini. Anak-anak bisa dalam bahaya karena Lin."


"Diamlah, kamu sudah menjadi tanggung jawa kami, anggap saja ini balasan untuk kebaikan Aunty Cla yang sudah mendampingi Mami." Winda menatap tajam, mereka akan menjamin keselamatan Lin, juga menyingkirkan keluarganya yang serakah.


"Bagaimana keadaan Lin?" Vira muncul menatap keluarga sedang membicarakan kepulangan.


"Vira, kenapa kamu di sini?" Wildan menatap tajam.

__ADS_1


"Aku ingin tahu keadaan Lin?"


"Bagaimana dengan Vio dan Van? kamu tinggalkan mereka bersama Arum dan Bulan."


Vira dan Winda langsung teriak, kamar anak-anak dijaga oleh pengawal dari luar. Suara tangisan bayi terdengar membuat Vira deg-degan.


Mencoba mengatur nafas, agar Arum tidak salah paham. Dirinya tidak bermaksud marah, hanya tidak bisa meninggalkan Arum bersama twins.


Pintu terbuka perlahan, Vira dan Winda melihat Arum mengambil botol susu memberikan kepada kedua bayi yang ada di atas rajang.


Dia tidur di tengah, sambil memegang susu botol. Membiarkan kedua adiknya menyusu dan tidur kembali.


Terdengar percakapan Bulan yang hanya mengomeli Arum, botol susu yang dia ambil miliknya.


Arum tidak perduli dengan kekesalan Bulan, melemparkan botol kosong. Bulan menendang kuat sampai botol pecah.


Terdengar juga Arum berbicara dengan bayi, tidak jelas apa yang Arum bicarakan. Dia binggung membedakan twins V yang sangat mirip.


"Apa yang kalian intip?" Bella ingin membawa Bulan pulang.


"Arum sudah menyayangi twins." Vira dan Reva tersenyum langsung berpelukan.


Pintu ruangan dibuka, Winda membantu Vira merapikan perlengkapan bayi. Bulan sudah keluar bersama Tian.


"Aunty, kita pulang hari ini?"


"Iya Embun, terlalu berbahaya ada di sini."


"Kenapa? wanita yang menyerang kak Lin kakinya pincang, dia sepertinya pernah patah kaki." Em duduk bersama Arum yang menatapnya tajam.


"Kamu tahu dari mana Em?"


Embun menjelaskan jika dia pernah melihat buku Papanya yang berisikan soal medis, terlihat beberapa penyebab patah kaki juga penyebab lumpuh.


Winda menatap Em, duduk berlutut menatap si kecil untuk menjelaskan kondisi kaki pelaku.


"Dia mirip Aunty Vira kakinya lumpuh, bukan lumpuh tapi ...." Em kebingungan cara menjelaskannya.


Winda menghubungi seseorang meminta laporan soal penangkapan tantenya Lin, dari pihak kepolisian mengatakan jika tersangka melarikan diri.


Tatapan Winda tajam, melihat Kasih yang juga terkejut mendapatkan laporan dari kantor polisi.


"Dia sengaja duduk di kursi roda, hanya untuk berjaga-jaga. Kecelakaan ibunya Lin pasti dia pelakunya." Winda mencengkram kuat ponselnya.


***

__ADS_1


__ADS_2