SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 HARGAI AKU


__ADS_3

Jam dinding sudah menunjukkan angka sembilan malam, Wildan belum juga kembali membuat emosi Vira semakin naik.


Suara mobil terdengar, Vira duduk di ruang tamu dengan wajahnya yang memerah. Pintu terbuka Wildan langsung masuk sambil membawa map yang dia pegang.


Melewati Vira yang menatapnya tajam, Wildan tidak menyadari keberadaan Vira karena terlalu banyak pekerjaan.


"Dari mana kamu Wildan?" suara Vira sangat dingin, dia menatap kesal Wildan yang melewatinya.


Langkah Wildan terhenti menatap tajam Vira yang berbicara tidak sopan, langsung mendekati wanita yang sedang penuh emosi.


"Ada apa?"


"Kamu tahu ini jam berapa? kerja apa sampai malam? kamu berkerja atau sedang bercengkrama di hotel?" Vira berdiri menatap tajam mata Wildan.


Senyuman Wildan terlihat, dia tidak mengerti penyebab Vira marah tidak jelas, bicara juga sudah sembarang.


"Aku capek tidak ingin bertengkar." Wildan langsung melangkah ke kamar.


Suara pecahan terdengar, Vira melempar ponselnya memecahkan televisi dihadapannya. Vira tidak suka jika tidak mendapatkan jawaban dari apa yang dia inginkan.


Wildan menggelengkan kepalanya, hadiah dari Ravi Kasih pecah dalam hitungan hari. Senyuman Wildan terlihat, tenyata karakter Vira sangat buruk jika keinginan tidak dipenuhi.


Wildan duduk di samping Vira, memejamkan matanya menahan diri agar tidak terpancing emosi. Sedangkan Vira semakin sulit mengendalikan emosinya.


"Hari ini aku kerja, karena terlalu banyak cuti pekerjaan menumpuk."


"Meeting, kamu meeting atau pacaran?" Vira langsung menatap Wildan yang masih memejamkan matanya.


"Kamu keluar tanpa izin, melihat aku bersama Fly? seharusnya kamu menghampiri aku, bukan menyimpan amarah sendiri. Vira aku suami kamu, bukan teman ataupun sahabat. Usia aku memang lebih muda, tapi status aku imam kamu, hargai dan berbicaralah dengan sopan." Wildan bicara sangat lembut menegur Vira yang marah tanpa penjelasan.


Jika mengatakan lelaki tidak peka, bagaimana bisa dia peka jika apa yang dituduhkan tidak dilakukan, tapi membuat pertengkaran.


Memecahkan televisi yang diberikan oleh kakak, sungguh tidak menghargai. Mungkin Ravi tidak tersinggung hanya saja rasanya tidak bisa amanah menjaga kenang-kenangan.


"Kita berdua belajar saling dewasa, introspeksi diri masing-masing. Aku capek tidak ingin bertengkar, aku kerja bukan bersenang-senang." Wildan langsung melangkah pergi meninggalkan Vira yang langsung tidur di kamar yang berbeda.


Wildan terheran-heran melihat tingkah Vira yang kekanakan, entah di mana salah dirinya menyebabkan Vira emosi.


***


Sarapan pagi terasa hening, Wildan memasak makanan sederhana untuk dirinya dan Vira, tapi Wildan binggung karena Vira belum juga muncul.

__ADS_1


Suara high heels terdengar, Vira langsung melangkah ke ruang makan mengambil air putih.


Wildan memijit pelipisnya melihat baju Vira yang terbuka, dia hanya memegang blazer.


"Ke mana kamu?"


"Hari ini aku kerja keluar kota, mungkin besok sore baru pulang. Ada masalah dipabrik." Vira menolak untuk sarapan, karena dia harus pergi pagi.


"Ganti baju kamu Vir." Wildan menghabiskan makanannya, tidak ingin menatap baju satu jari Vira.


"Ini hanya dalaman saja, nanti bisa ditutupi dengan blazer." Vira langsung melangkah pergi, meletakan gelas sembarang arah.


"Aku bilang ganti, kamu ingin memperlihatkan lekuk tubuh." Wildan menatap tajam, Vira tidak mempedulikan ocehan Wildan.


Tidak ada yang boleh melarangnya dalam model fashion. Wildan langsung melangkah mendekati Vira yang masih merapikan penampilannya.


Wildan menarik baju Vira, langsung digunting membuat Vira menganga menyentuh bajunya yang melorot ke bawah.


"Ganti baju kamu sekarang! atau semua baju kamu yang bermodel seperti ini aku gunting." Ketegasan Wildan membuat Vira terdiam, dia langsung melempar high heels kuat.


Kekesalan Vira terlihat, langsung melangkah ke kamar kembali mencari baju. Wildan juga masuk melihat Vira mengacak bajunya.


"Kamu juga tidak diizinkan pergi ke luar kota, kirim bawahan kamu untuk mengecek pabrik."


"Aku suami kamu, wajar jika aku menghentikan. Jika ada masalah bicara Vira, jangan langsung bertingkah membuat masalah semakin besar." Baju Vira yang berhamburan langsung Wildan ambil memilih baju yang lebih sopan.


"Terserah, aku tidak perduli." Vira langsung mengganti bajunya melangkah ke luar untuk pergi bekerja.


Wildan mengusap dadanya, mungkin dirinya harus lebih sabar lagi dalam mengahadapi Vira. Wildan kesulitan membedakan sikap marah, juga egoisnya Vira.


"Sabar Wildan, sabar." Cepat Wildan keluar untuk pergi bekerja, urusannya juga banyak tidak ingin memikirkan pertengkarannya dengan Vira.


Mobil Vira kebut-kebutan di jalanan, bahkan dia melewati lampu merah hampir menabrak mobil seseorang.


"Ahhh sial." Vira menghentikan mobilnya, karena mobil yang hampir dia tabrak meminta berhenti.


Terpaksa Vira keluar untuk meminta maaf, dia buru-buru untuk ke kantor jadinya tidak melihat rambu lalu lintas.


"Maafkan saya, jika ada kerusakan ganti rugi saja." Kepala Vira tertunduk meminta maaf kepada pemuda yang menggunakan topi.


"Vira, lain kali hati-hati." Senyuman Dewa terlihat menatap Vira yang tersenyum sambil terkejut.

__ADS_1


"Dewa, kenapa kamu bisa ada di sini?" Vira tersenyum manis melihat pria tampan yang dulunya pernah dia kagumi.


"Ada pekerjaan saja Vir, kamu apa kabar?" Dewa mengulurkan tangannya.


"Baik." Vira menyambut tangan Dewa.


Kaca mobil terbuka, Randu menatap Vira dan Dewa yang memperlambat pekerjaannya.


"Kak Dewa ayo cepat, jangan menggoda istri orang." Randu menghidupkan klakson mobil.


"Randu, dia masih hidup." Vira menatap tajam Randu yang hanya tersenyum.


"Hai Vir, salam untuk Winda."


"Winda sudah menikah, sekarang ikut suaminya di luar negeri." Vira melihat wajah Randu yang kecewa.


"Vir, kita pergi dulu soalnya lagi buru-buru." Dewa langsung masuk mobil meminta Vira berhati-hati jika membawa mobil.


Senyuman Vira terlihat langsung masuk ke dalam mobilnya, mobil melaju ke arah perusahaan.


Sepanjang perjalanan Dewa terdiam, dia melihat kesedihan di wajah Vira. Ada rasa kasihan juga melihat wanita tersenyum, tapi matanya bersedih.


"Ran, Vira tidak bahagia menikah dengan Wildan."


"Dalam pernikahan wajar saja ada pertengkaran, jangan ikut campur. Sudah cukup dulu kita terlibat dengan Wildan, jangan diulangi lagi. Mereka sudah menikah." Randu menatap kesal kakaknya yang jika menyukai sesuatu sulit melupakannya.


"Apa karena Fly juga mendekati Wildan kembali?"


Randu menutup wajahnya, Dewa sudah mati-matian melupakan Bella yang sekarang sudah hamil. Sekarang melihat Vira merasakan kasihan juga, ujung-ujungnya akan membawa perasaan.


"Randu peringatkan jauhi Vira, dia hanya mencintai Wildan."


"Dia tidak bahagia Ran." Dewa masih berpegang teguh dengan keyakinannya.


"Terserah, kamu sendiri yang akan menderita." Randu menghidupkan musik, kesal melihat Dewa yang mulai tertarik dengan Vira.


Senyuman Dewa terlihat menepuk pundak Randu, sebelum menikah Dewa tahu Vira menyukainya, bahkan pernah melindunginya.


"Aku hanya ingin membalas kebaikan Vira." Dewa tersenyum santai fokus menyetir.


"Membalas dengan merebutnya dari suaminya." Randu mengacak rambutnya melihat Dewa yang kurang normal.

__ADS_1


***


__ADS_2