
Bisma mondar-mandir gelisah menunggu kedatangan Billa, sudah hampir jam 8 pagi, putrinya belum juga kembali. Bima menepuk pundak Bisma yang belum diam, Bima yakin sebentar lagi mereka tiba.
Di kamar khusus para penghias sudah sibuk mendandani seluruh wanita, setiap orang memiliki satu penghias khusus, sudah dipersiapkan sejak 3 bulan yang lalu.
Erik masih di dalam ruangan ganti, Ravi Tian juga mengganti bajunya. Erik tidak memperdulikan apapun yang dilakukan dua pria dihadapannya.
"Rik, ubah mimik wajah kamu menjadi bahagia, jelek banget ekspresinya." Ravi tersenyum melihat Erik.
Erik langsung tersenyum, walaupun tidak mengerti alasannya dia harus tersenyum, Erik sudah malas banyak perdebatan.
"Acara jam berapa? sore ini aku langsung kembali." Erik berdiri melihat halaman belakang tidak mirip acara syukuran bayi, tidak mungkin juga acara ulang tahun.
Erik langsung berlari keluar kamar, melangkah ke arah taman belakang melihat dekorasi untuk ijab qobul, di sana sepi banyak orang sibuk di luar taman.
Seluruh orang pelayan ada di sana, halaman belakang yang luas sudah penuh hiasan, area parkiran juga banyak papan ucapan selamat menempuh hidup baru.
Tatapan mata Erik seakan tidak percaya, langsung melangkah melihat ke area depan pelaminan, semuanya sudah disulap dengan indah, bahkan seluruh tempat makanan sudah mulai terisi.
Langkah kaki Erik menuju gerbang, melihat sepanjang jalan sudah penuh hiasan, bunga mawar putih, merah sudah tersusun rapi. Banyak pelayan yang menyapa, melihat tuan mereka turun langsung melihat persiapan.
"Pagi tuan."
"Kapan acara dimulai?" Erik melihat seorang pelayan.
"Satu jam lagi tuan, acaranya malam, siang ini bukannya acara keluarga inti?" Pelayan kebinggungan.
"Sejak kapan persiapan? bukannya sudah dihentikan?" Erik menatap tajam.
"Maksudnya tuan? tidak ada yang diubah tuan, juga tidak pernah dihentikan. Tuan Bisma dan tuan Ammar yang mengatur semuanya."
Erik meminta pelayan pergi, mata Erik melihat foto mereka sudah diganti, Erik menyentuh foto Billa. Tersenyum menatap wanita yang sangat dicintainya, tapi wanita juga yang menghancurkan hatinya.
"Kak Erik sayang kamu Bil, cinta ini tidak akan berubah." Erik meneteskan air matanya.
Melihat beberapa anak kecil berlarian, Erik mengikuti mereka melihat banyaknya makanan, tapi tidak berani mengambil.
Erik meminta semuanya mendekati memberikan satu-persatu makanan, para penjaga hanya tersenyum melihat Erik yang baik, bukan hanya tampan, tapi dermawan.
Di dalam rumah Ravi Tian binggung mencari Erik, mengetuk kamar Kasih yang sedang menyusui.
__ADS_1
"Sayang, melihat Erik tidak?" Ravi mencium Rasih yang sedang menyusu.
"Tidak mungkin di sini Aak, seharusnya bersama Aak, jika Erik sampai keluar kamar, berarti dia sudah melihat semua persiapan." Kasih menggeleng kepalanya melihat Ravi yang mengacak rambutnya.
Tian mengetuk kamar Windy, melihat Wira yang sedang asik memakan kue ulang tahun.
"Mommy di mana sayang?" Tian duduk di samping Wira.
"Make up, di kamar yang tidak tahu." Wira tersenyum lucu.
"Kamu melihat Uncle Erik tidak?" Tian juga memakan kue disuap Wira.
"Uncle Erik hilang, sudah tua bisa hilang juga?" Wira menatap Tian kebinggungan.
"Bukan hilang, tapi tidak terlihat. Tidak tahu Uncle Erik pergi ke mana?"
"Uncle Tian aneh, tidak terlihat berarti sembunyi, tidak tahu pergi ke mana berarti Uncle Erik kabur dari rumah."
Tian mengaruk kepalanya, bicara dengan Wira memang harus disaring, otaknya terlalu pintar. Pertanyaan kita bisa saja dia putar menjadi senjata yang menjatuhkan.
"Ada apa Tian?" Steven keluar dari kamar mandi, melihat Tian duduk bersama Wira.
"Erik bukannya seharusnya bersama kamu dan Ravi?"
Tian menghela nafas, dia dan Ravi sedang membahas baju, ternyata Erik keluar kamar tanpa memberitahu. sekarang Tian dan Ravi sedang mencari, sudah pasti Erik sudah tahu jika dia akan menikah.
Steven langsung melangkah keluar bersama Tian, mencari keberadaan Erik. Ravi sudah mengabari Daddy Rama yang langsung menyampaikan kepada Bisma, Ammar Bima jika rencana sudah gagal, Erik sudah mengetahuinya.
Di kamar berhias Viana juga mendapatkan kabar dari Kasih, langsung teriak kaget, menatap Jum, Reva dan Septi yang binggung melihat Vi.
"Erik keluar dari kamar, berarti dia sudah tahu jika kita akan memberikan kejutan pernikahan." Viana melihat wajahnya di cermin yang sudah di make-up.
"Sudah biarkan saja Erik mengetahuinya, terpenting mereka akan menikah." Septi tersenyum langsung berdiri untuk menemui putranya.
Semuanya berkumpul untuk ke tempat acara ijab qobul, Billa sebentar lagi datang, tapi Erik belum ditemukan.
"Uncle Erik sembunyi di mana Mommy, mungkin di kebun buah." Wira binggung melihat keluarga kumpul menunggu Erik.
Seorang pelayan masuk menyapa, menemui Ravi jika Erik ada di taman belakang, di tempat ijab qobul.
__ADS_1
Penghulu sudah menunggu di tempat, Erik duduk di depan penghulu, keduanya berbicara banyak hal. Erik mendengar ceramah soal penikahan, senyum Erik terlihat.
"Kamu anak baik Rik, jangan membuat kecewa."
"Saya mengerti pak, sekali lagi Erik ucapkan terima kasih sebesar-besarnya." Erik menyalami penghulu yang langsung melangkah pergi bersama ulama lainnya.
Erik meletakkan kepalanya di meja, matanya terpejam mendengar suara Wira membangunkannya.
"Uncle, katanya lagi main sembunyi, tapi kenapa Uncle tidur." Wira menepuk pipi Erik.
Seluruh keluarga muncul, Erik tersenyum melihat semuanya menggunakan baju yang sama. Sudah rapi, air mata Erik menetes di balik senyumannya.
Windy meminta babysister membawa Wira ke dalam, Rasih Raka juga di bawa ke dalam. Erik menghapus air matanya yang tidak bisa tertahankan.
Septi ingin mendekat, melihat Erik meremas kertas untuk ijab qobul. Tatapan mata Erik yang berair menatap tajam menunjukkan kemarahannya.
"Sayang, kenapa kamu menangis? sebentar lagi Billa datang kalian bisa menikah. Pernikahan hanya kita tunda satu hari." Septi menatap Erik ingin mendekat menghapus air mata Erik, tapi ditahan Ammar.
"Semuanya ini sudah direncanakan? kalian semua menganggap Erik apa?" Erik mengambil kertas di meja menyobeknya di depan seluruh orang, meremasnya kuat dan membuangnya. Buku nikah di sobek, bersama dengan suara tangisnya Erik.
"Sampai kapan kalian mempermainkan hati Erik, tidak capek melihat penderitaan Erik. Mama Erik lelah, Pa sekali saja mengerti Erik ini semua menyakitkan." Erik berdiri menatap Septi, Jum yang sudah menangis.
"Erik, kita melakukan ini demi keamanan kamu dan Billa. Kami semua menyayangi kalian, hanya ini yang bisa kami lakukan agar kalian berdua bisa bersama." Ammar menatap Erik yang sudah menghapus air matanya.
"Papa bilang terbaik, melihat hati Erik hancur ditinggalkan wanita yang Erik cintai. Kenapa tidak ada yang percaya atau bertanya yang terbaik bagi Erik. Dengarkan juga pendapat Erik Pa, Ma, Uncle, Aunty." Erik langsung melangkah pergi.
"Erik!"
"Erik pulang sekarang, langsung pergi untuk pindah kerja, Erik akan kembali suatu hari nanti." Erik langsung melepaskan jas, melemparkan ke tanah.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA JUGA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA.
***
HAYO JANGAN PADA NGAMUK 😂
__ADS_1