SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PENYUSUP


__ADS_3

Sesampainya di rumah Kasih langsung teriak memanggil nama Cinta, dengan senyum manis Cinta langsung berlari menyambut pelukan Kasih.


"Aduh, bahagianya adikku ini, pasti baru selesai di gombal oleh Ravi." Cinta menarik hidung Kasih gemas.


"Kak Ci, jangan marah ya?"


Cinta langsung meneteskan air matanya, sudah hampir sepuluh tahun Kasih tidak memanggil dengan nada manja, tapi sekarang Cinta mendengarnya kembali, Cinta memeluk Kasih dengan erat.


"Kenapa baru sekarang kamu memangil Kaka seperti tadi, sudah lama dek kita tidak sedekat dulu, kak Ci rindu."


"Maafkan keegoisan Asih ya ka Ci, Asih sayang kakak."


"Kakak juga sayang Asih, rindu Asih."


Kasih sangat bahagia, mendengarkan penjelasan Ravi jika Cinta sangat mendukung hubungan mereka. Karena ibu dan Tama sedang di kampung, Kasih tidur bersama Cinta keduanya bercerita banyak hal, Kasih juga banyak bertanya soal keburukan Ravi yang terkenal playboy.


Hingga larut malam, keduanya asik tertawa. Kasih merasakan sesuatu yang aneh dan langsung meminta Cinta tidur.


"Ada apa Kasih?" Cinta menjadi takut, mendengar bunyi orang membuka jendela.


Kasih meletakkan telunjuknya di bibir, menarik Cinta untuk berdiri di balik pintu. Dari satu tiga yang lalu, Kasih mendengar bunyi, langkah kaki seperti seseorang yang sedang mengecek sekitar rumah.


Jam dinding menunjukkan pukul 00.47 tengah malam, tangan Cinta sudah dingin, tubuhnya gemetaran. Kasih tersenyum menggenggam tangan Cinta melangkah mendekati tempat tidur, meletakkan guling dan menutupnya dengan selimut. Lampu langsung Kasih matikan.


Rumah kecil keluarga kasih berbentuk minimalis sangat mudah Kasih kenali, setiap letak barang dan posisi rumah, langkah kakinya seseorang terdengar, mendekati pintu kamar sebelah dan pintu terbuka, kini Kasih yakin target yang dicari dirinya, rumah mereka sudah lama di awasi tapi Kasih tidak merasakan curiga karena dia dan keluarganya tidak punya hutang apalagi musuh.


Hampir sepuluh menit, langkah kaki mendekati kamar Cinta. Tubuh Cinta semakin gemetaran, panas dingin. Pintu sengaja Kasih kunci.


Kasih coba menghitung langkah, dan memastikan jika hanya ada satu orang, dia menunggu pintu dibuka. Hitungan Kasih tepat, orang profesional, bukan pencuri tapi pembunuh bayaran. Alat yang dia gunakan untuk membuka kunci alat yang sangat modern juga sudah dimodifikasi.


Kasih yakin tidak punya teman dalam misi, karena tidak ada sinyal jika ada yang menunggu dan memberikan kabar dari luar. Kasih juga membisikkan sesuatu kepada Cinta, saat orang masuk, lampu hidup Cinta harus berlari ke luar rumah mencari bantuan.


Tubuh Cinta semakin gemetaran, dia menutup mulutnya dengan kuat, seseorang melangkah masuk, badan besar tinggi, berjalan mendekati ranjang, Kasih mendorong Cinta untuk melarikan diri perlahan, dan dengan terpaksa Cinta menurut, dan langsung keluar.


Kasih menghidupkan lampu, tidak ada keterkejutan dari lawan. Kasih juga melihat pisau sudah menancap di guling yang Kasih tutup dengan selimut.


Dengan santai Kasih duduk di atas meja rias, tersenyum sinis sambil melipat kedua tangannya di dada.


Lelaki berbadan besar, menggunakan baju serba hitam, wajahnya buruk rupa sebelah, menatap Kasih dengan penuh kebencian.

__ADS_1


"Kenapa anda ingin membunuh saya?"


"Karena kamu menjadi sumber kebahagiaan putra keluarga Prasetya, jika kamu mati dia akan hancur."


"Punya urusan bisnis seperti tidak mungkin, ternyata dendam masalalu. Kamu dibayar oleh seseorang tapi salah lawan." Kasih tertawa mengejek, pisau langsung menancap di kaca.


***


Cinta terus berlari sekencang-kencangnya di tengah malam, tanpa menggunakan alas kaki, air mata bercucuran. Cinta sampai di kediaman keluarga Prasetya, Cinta teriak memanggil nama Ravi, Mommy Viana, Daddy Rama dengan teriakan histeris. Penjaga pagar binggung melihat seorang wanita dengan kacau teriak ketakutan.


"Tolong, tolong adik saya pak." Cinta melipatkan tangannya, tangisannya semakin kuat mengkhawatirkan keadaan Kasih yang sedang bertahan sendiri.


"Kamu kenapa dek?"


"Tolong panggil Ravi, Kasih dalam bahaya. Cinta mohon selamatkan adik Cinta. Panggil Ravi pak!" Cinta terus berteriak.


Satpam langsung berlari ke dalam rumah, Cinta terduduk lemas di depan gerbang, bayangan orang bertubuh besar menggunakan senjata pasti akan menyakiti Kasih.


Satpam mengetuk pintu kamar Rama dan Viana, sungguh tidak enak hati Satpam mengganggu tidur tuan mereka tapi gadis di depan sedang ketakutan.


"Dia pura-pura ketakutan, atau memang takut? nanti dia penjahat yang ingin menyerang tuan dan nyonya.


Tanpa memperdulikan keadaan, Cinta langsung berlari masuk, mendobrak pintu melihat satpam dan beberapa maid sedang diskusi.


"Ravi!"


"Ravi tolong Kasih!" teriak Cinta histeris.


Cinta menggedor kamar tanpa tahu siapa pemiliknya, Satpam coba menahan Cinta tapi tidak di gubris, tubuhnya ditarik menjauh. Tepat pintu Vira yang terbuka.


"Hentikan!" teriak Vira kuat.


"Vira tolong selamatkan Kasih, Kaka mohon."


"Mommy Daddy, Ravi cepat bangun!" teriakan Vira mengalahkan lima orang yang sedang teriak.


Rama langsung membuka pintu masih menggunakan bokser tanpa baju, mengucek matanya melihat Cinta yang mengenaskan.


"Hubby pakai baju dulu?" Viana langsung mengikat rambutnya dan baru saja mengancing bajunya.

__ADS_1


Viana melangkah menuruni tangga cepat, tangisan histeris Cinta sampai berlutut memohon pertolongan.


"Vira bangunkan kakak kamu?!" Viana menatap tajam, Vira langsung berlari ke lantai atas, menendang kuat pintu kamar Ravi.


"Ada apa Cinta? kamu tenang dulu bicara pelan-pelan biar Mommy mengerti.


"Kasih Mommy, rumah kami di serang oleh orang berbadan tinggi, membawa senjata tajam. Kasih sendirian di sana, tolong Kasih Mommy.


Rama juga langsung melangkah turun, menatap Viana dan mengatakan Kasih dalam bahaya.


"Cinta juga di serang?"


"Tidak Daddy, Cinta berlari mencari bantuan, tapi satpam lama sekali, akhirnya Cinta memanjat pagar untuk masuk ke dalam rumah.


"Astaghfirullah Al azim, cepat panggil Dokter. Luka Cinta cukup dalam."


"Jangan pedulikan Cinta, tolong Kasih."


Ravi yang baru bangun ditarik bajunya sampai di lantai bawah oleh Vira.


"Kurang ajar sekali kamu Vira!" teriak Ravi.


"Diam Ravi!" Viana membentak.


Ravi kaget melihat keadaan Cinta, Mommy menjelaskan soal Kasih tanpa berpikir dan menunggu penjelasan selesai. Ravi berlari keluar rumah, tidak mencari mobil lagi, motor pak Jejen satpam rumah yang sedang menganggur langsung Ravi hidupkan, langsung menuju kediaman Kasih.


Kemarahan Ravi memuncak selama di perjalanan, tidak sampai lima menit Ravi sampai. Langsung lompat dari atas motor, sedangkan motor langsung jatuh tersungkur berjalan sendiri, Ravi tidak tahu cara mengerem motor ompong.


Rumah Kasih sudah gelap gulita, tidak ada penerangan sama sekali. Ravi tidak perduli sekalipun lawan langsung berada dihadapannya. Jika rampok tidak mungkin memasuki kompleks daerah kediamannya, apalagi pemilik seluruh bangunan uncle Bima, penjaga ketat, tidak sembarangan orang bisa masuk


"Sedikit saja Kasih terluka, aku habisi kalian semua sampai tujuh turunan."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2