SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
BONUS PART 4


__ADS_3

Enam wanita duduk berbaris, kepala tertunduk tidak ada yang mengeluarkan kata-kata hanya keheningan.


Vira dan yang lainnya hanya mengintip saja, mereka sangat penasaran hukuman apa yang akan anak-anak terima.


Mereka bahkan sudah membuat kesepakatan untuk tidak berkelahi, tapi kenyataannya baru satu hari damai sudah bertengkar lagi.


"Siapa yang mulai perkelahian?" Ar menatap gadis-gadis kecil yang masih diam.


Ar tersenyum karena tidak ada yang mengakuinya, dan tidak ada juga yang menyudutkan.


"Em yang mulai lebih dulu, tapi Em memiliki alasan. Dia datang ke kelas Em dan menuduh Embun menyerang adiknya yang masih kecil, masalahnya Embun tidak tahu siapa adiknya." Em menceritakan tanpa mengurang dan menambah, jika bukunya disobek dan tangannya terluka oleh pulpen yang sengaja untuk menyakiti.


"Siapa nama adiknya? kelas berapa dia?" Ravi masih duduk santai melihat Embun yang mencoba mengingat.


Em tidak tahu pasti namanya, dia hanya mengatakan jika adiknya di dorong di dalam toilet dan tangannya terluka.


Embun berani bersumpah jika dia tidak mendorong siapapun, dan belum pergi ke toilet sama sekali.


"Vio bertemu seorang anak yang tubuhnya setinggi kak Em di toilet, dia membuang sampah sembarang. Vi hanya meminta dia membuang ke tempat sampah, lalu mendorong Vi dan dia dorong oleh Vani." Senyuman Vio terlihat, menatap adiknya meminta Vani mengakui jika dia yang mendorong.


"Kenapa kalian ke toilet tanpa kak Arum?"


"Kak Arum sedang membantu Bulan mengejar tugasnya, soal dia membawa mainan bukan buku."


Asih sudah melipat tangannya di dada, Vio dan Vani selalu menjadi dalang dari masalah mereka.


Keduanya yang berulah, tapi yang lain terkena imbasnya. Em hanya bisa menghela nafasnya bekali-kali kehabisan kata-kata melihat dua anak kembar yang tidak tahu dosanya.


"Asih, kenapa menyerang lebih dulu?" Ravi menatap putrinya yang mulai terlihat kesal.


"Membela diri, sebelum dijatuhkan harus menjatuhkan."


"Sayang, jika masalah bisa dibicarakan baik-baik bisa menghindari pertengkaran. Lihat wajah Asih luka, kepala Bulan benjol, Em juga banyak luka bahkan Arum kakinya membengkak. Abi tanya apa untungnya? kalian rugi menyakiti tubuh sendiri." Ar bicara sangat lembut, menatap putrinya Arum.


Vio duduk di depan Arum, dia tidak terlalu mengerti ucapan Ar. Meminta Arum menjelaskan lebih detail dan bisa membuat mereka mengerti.


"Abi, kita bisa melakukan jika di tempat yang menghargai kehadiran kita. Di sana semuanya sudah memiliki tahta masing-masing, sekali senggol pukulan melayang. Anak-anak di sana dilatih keras. Kita hanya membela diri." Suara Arum terdengar sangat pelan, tidak ingin mereka yang selalu disalahkan.

__ADS_1


Wildan mengetuk meja, meminta anak-anak memperhatikannya. Mungkin mereka benar hanya sekedar membela diri, karena lingkungan di sana banyak anak-anak yang berasal dari keluarga berada.


Segala cara sudah dilakukan untuk menghadiri keributan, Wildan tidak ingin anak-anak terbiasa dengan kekerasan.


"Papi harap kalian akan menerima keputusan yang sudah kita ambil, tidak ada hukuman hanya saja kalian dipisahkan." Wildan bicara dengan anda tegas.


Wildan meminta pihak sekolah untuk mengeluarkan Rasih, Embun, Bulan, Arum dan Viona dan Vania sebagai hukuman.


"Apa maksudnya Papi?" Arum menatap kaget.


"Mulai besok Vio dan Vani akan masuk sekolah anak-anak biasa, sedangkan Bulan dan Arum juga berada di sekolah yang berbeda. Asih dan Embun juga akan masuk sekolah tingkat dasar yang berbeda, kalian harus dipisahkan." Tian tidak tega melihat pandangan anak-anak yang terlihat sedih.


Vani menatap Arum, menggenggam erat tangan kakaknya. Hatinya terasa sakit mendengar akan pisah sekolah.


"Kalian tidak bisa menolak keputusan yang sudah kita pikirkan matang-matang." Ravi meminta anak-anak tetap semangat.


"Asih tidak masalah, besok kirim Asih sekolah di luar negeri mengikuti kak Wira, mungkin itu lebih baik." Asih langsung menundukkan kepalanya, pamit untuk pulang.


Ravi memejamkan matanya, bagaimana dia bisa berpisah dengan putrinya. Asih jika sudah memutuskan sesuatu tidak bisa dirubah.


Bulan langsung berdiri, menundukkan kepalanya tidak mengatakan apapun memutuskan untuk kembali.


"Vio tidak ingin pisah dengan kakak Rum." Suara tangisan Vio terdengar.


"Hentikan air mata buaya kamu, keputusan sudah dibuat. Ikuti saja, jangan cengeng dan mulai mandiri jangan selalu mencari kak Arum." Langkah kaki Arum terdengar meninggalkan ruang tamu.


Vani dan Vion langsung menundukkan kepalanya, melangkah pulang ke rumah mereka dengan perasaan sedih.


Vira meneteskan air matanya, mendengar Asih ingin pindah ke luar negeri sungguh menyakiti hati.


Sajak kecil mereka selalu bersama dan akhirnya dipisahkan, pasti anak-anak terluka sekali.


Keputusan yang dibuat demi kebaikan anak-anak, agar mereka bisa belajar dengan baik untuk masa depan.


"Apa keputusan kalian tidak menyakitkan?" Bima duduk meminta semuanya mendengarkan.


Saat Vira, Winda, Bella dan Billa kecil juga sangat nakal, mereka selalu berkelahi. Pulang baju sobek, bibir bengkak, mata merah, rambut acak-acakan.

__ADS_1


Bima tidak pernah marah apalagi sampai memisahkan, seiring berjalannya waktu keempatnya saling merangkul.


Jika satu gagal, mereka memilih untuk gagal, dan saling tarik untuk maju, mereka menyukai dunia bebas dan hidup normal.


"Ar, Wildan, Ravi, Erik dan kamu Tian, kalian juga pernah kecil dan melihat bagaimana nakalnya istri kalian. Terutama Ravi dan Erik, kalian juga pembuat masalah. Apa kami memisahkan kalian, adik-adik kalian." Bisma tersenyum menatap putra-putri mereka yang duduk diam.


"Wildan tahu Papi, ini hanya sementara sampai mereka berhenti. Masalah ini tidak berkesudahan, guru mereka pukul, di sekolah tidur, bermain."


"Vira juga tidur dan main, siapapun Vira pukul kecuali keluarga kita."


"Kamu ingin anak-anak berada dilingkungan perkelahian? ini sudah tidak sehat Vira, Vio dan Vani membuat masalah, Em yang bertengkar." Wildan menatap tajam istrinya.


"Terserah saja, jika terjadi sesuatu kalian tanggung sendiri. Winda angkat tangan jika anak-anak mulai berubah, melihat mereka pergi satu-persatu hati Winda sakit melihatnya. Sekalian saja kita pindah rumah saling berjauhan." Winda langsung melangkah pergi ke kamarnya.


"Bella juga langsung melangkah pulang tanpa mengatakan apapun, hatinya juga sakit melihat anak-anak pindah sekolah.


"Jujur Billa juga marah sama mereka, tapi melihat akan dipisahkan dada Billa sesak dan lebih baik mereka bertengkar." Air mata Billa menetes langsung melangkah pulang.


Kasih juga melangkah pergi, menepis air matanya tidak tahu ingin mengatakan apa.


"Sudahlah, Vira pulang saja. Twins pasti sedang sedih sekarang."


"Kak Arum, Vion menumpang tidur di sini ya?" Vio mendorong pintu kamar Arum.


"Kenapa keluar lagi Vion Vani juga belum masuk?" bibir Vani monyong melihat wajah sedih kakaknya.


"Kata Kak Arum kita tidak boleh tidur di sini lagi, tidak boleh berdekatan lagi, kita dipisahkan." Viona melangkah pulang membawa bantal guling.


Vani menundukkan kepalanya, mengikuti langkah kakaknya untuk pulang ke rumah mereka kembali.


Viana dan Reva meneteskan air matanya, melihat anak-anak mengigat saat Vira dan Winda bertengkar sampai dipisahkan tidak boleh bertemu.


***


follow Ig Vhiaazara


BELUM REVISI

__ADS_1


__ADS_2