SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MENONTON


__ADS_3

Semuanya sudah menggunakan baju tebal untuk masuk ke area es bersalju, anak-anak sangat bersemangat untuk bisa bermain di sana.


Tempat sudah dibooking oleh Kasih agar anak-anak aman dari tabrakan bersama orang lain.


"Wow, di sini dingin sekali." Wira langsung berlari ke arah tempat bermain, diikuti oleh Asih dan Embun.


"Erlin, jaga Virdan." Vira berteriak, putranya ditinggalkan sendirian sedangkan Erlin sudah berlari ke area bermain.


"Sabar, sabar." Winda mendudukkan Virdan dan Arwin di kursi, memberikannya botol susu.


"Di mana Arum?" Vira melihat sekeliling, si kecil Arum sudah menghilang.


"Di mana Bulan?" Bella yang sedang memasang sepatu putranya, tapi putrinya menghilang.


Vira berteriak, langsung bersembunyi. Winda, Bella, Billa dan Kasih juga sudah bersembunyi di balik bukit es.


"Vira tidak salah lihat?"


"Habislah kita semua, ini yang menyebabkan masalah Erlin, tapi dianya asik bermain." Bella mengigit bibirnya kesal.


"Bagaimana ini?" Kasih menarik baju Vira yang kebingungan.


"Terima nasib saja di marah." Billa memonyongkan bibirnya.


"Nak." Arum memakan es bersama Bulan, wajah mereka penuh dengan es.


Tubuhnya langsung terangkat, berteriak kuat menolak digendong ingin bermain es dan memakannya.


"Tidak boleh di makan sayang, es itu kotor." Ar mencium pipi putrinya, menatap Winda yang tersenyum mengaruk kepala.


"Bagus sekali tingkah kalian, bermain-main tanpa izin." Ravi mencium Bulan yang memukul Ravi yang tidak mengizinkannya memakan bongkahan es.


"Tidak boleh sayang, nanti Ayah kamu marah." Ravi tertawa melihat lucunya putri Tian.


Wildan menatap tajam Vira, senyuman Vira terlihat mengusap perutnya membuat Wildan langsung khawatir.


"Kenapa? perutnya sakit." Wildan langsung mengusap perut besar Vira, wajahnya terlihat sangat cemas.


"Papi, boleh Dede main. Sebentar saja." Mata Vira berkedip-kedip membuat Wildan tidak jadi marah.


"Kenapa tidak izin? aku saat mendapatkan kabar khawatir sekali." Wildan memeluk Vira, mencium keningnya.


"Ayang tahu dari mana?"


Semua mata melihat ke arah Ravi yang sudah bermain bersama putrinya Asih, bermain lempar es sambil tertawa.


Billa berteriak, telinganya ditarik oleh Erik pelan karena pergi tanpa izin.


"Billa sudah izin melalui Erlin." Billa memeluk erat suaminya meminta maaf.


"Awas Embun." Erik melepaskan Billa melihat putrinya lompat dari atas, meluncur ke bawah.


Wira dan Raka sudah siap menangkap, langsung memeluk Embun yang tertawa bahagia.

__ADS_1


Erlin juga lompat, semua orang menjauh melihat Lin hilang di dalam tumpukan es. Suara tawa juga terdengar mengejek Lin.


"Berapa usia Lin? tingkahnya seperti anak kecil." Ar menatap Vira dan Winda yang sudah menghilang lanjut main bersama.


Anak-anak langsung pindah bermain bersama ayah mereka, akhirnya Winda, Vira, Bella, Billa dan Kasih bisa bermain dengan santai tanpa ada gangguan.


"Kak Tian di mana?"


"Itu, sudah bersama Bintang."


"Sekarang saat pulang yang dicari langsung anak-anak, lupa jika punya istri." Tatapan Bella tajam melihat suaminya yang tertawa bersama anak-anak.


"Saat malam baru mencari istri." Winda juga sama menatap kesal.


"Kenapa kita membicarakan para suami?" Kasih merasakan perutnya lapar.


"Kakak, Lin sudah selesai main." Suara tawa Erlin terdengar, rambutnya acak-acakan, ada beberapa luka karena banyak jatuh saat mencoba permainan.


Bella langsung menendang Lin, dia diminta menjaga anak-anak, tapi bukannya menjaga malah ikut menjadi anak kecil.


"Puas kamu bermain?"


"Puas kak Bel, Lin sudah merasakan semua mainan." Senyuman manis terlihat, lalu terdengar tangisan Lin membuat semua orang terkejut.


"Drama apa lagi ini?" Kasih mengusap rambut Lin yang berantakan.


"Terima kasih kakak, kalian menerima Lin yang bukan siapa-siapa. Semuanya seakan mimpi indah bisa merasakan semua ini, Lin tidak ingin bangun lagi." Air mata Lin menetes membasahi pipinya.


"Erlin, kenapa kamu bohong?"


"Lin sudah izin kepada semuanya."


"Kamu izinnya pergi jalan-jalan, tanpa menyebut nama yang lainnya?" Ar juga menatap tajam.


"Kak Wildan jawabnya tidak perduli, kak Ar hanya hmz saja, kak Tian hanya hati-hati, kak Erik tidak bertanya siapa saja yang pergi, sedangkan kak Ravi mengizinkan." Lin membela diri, dia tidak merasa bersalah sama sekali.


"Jangan diulangi lagi, Vira sedang hamil. Aku tidak ingin anak dan istriku dalam masalah."


"Iya kak Wildan, Lin tidak akan mengulanginya lagi. Semua ini bukan rencana Lin, tapi kak Vira. Kenapa hanya Lin yang di marah?" Erlin menatap tajam, Vira, Billa, Bella dan Kasih.


"Vira lapar, boleh kita makan." Vira tersenyum, meminta Wildan memeluknya.


Bibir Lin langsung monyong, meminta Virdan yang sudah tidur dalam gendongan Papinya.


"Bersihkan dulu tubuh kamu." Wil menatap tajam, membiarkan putranya tidur.


Ravi juga berjalan menggendong Rasih di belakang, sedangkan Bulan di depannya. Ar juga menggendong putranya yang tidur.


"Di mana Arum?" Winda melihat sekeliling, melihat putrinya sudah mulai berjalan sempoyongan memakan bongkahan es.


Erik langsung menggendong Arum, membersihkan mulutnya. Embun mengusap kepala Arum yang digendong di depan sedangkan dirinya di belakang.


Semuanya keluar, Tian sudah memesan tempat makan khusus untuk mereka semua agar bisa beristirahat.

__ADS_1


Anak-anak tidur, karena kelelahan. Wira juga sudah tergeletak tidur bersama adik-adiknya.


Wildan makan menyuapi Vira yang sangat manja, begitupun yang lainnya makan masih disuap, hanya Ravi dan Erik yang disuap istri.


"Kenapa kamu Lin?" Erik tertawa melihat ekspresi wajah gadis muda yang sedang lahap makan.


"Kenapa kak Ravi dan kak Erik makannya di suap"


"Karena mereka seperti anak kecil."


"Sayang, Aak juga sering menyuapi kamu anggap saja hukuman, karena tidak izin sebelum pergi."


"Ya sudah, tapi setelah anak-anak usia lima tahun boleh kerja?"


"Tidak, tunggu mereka sepuluh tahun."


"Makan sendiri." Kasih meletakan piring di depan Ravi dengan tatapannya yang tajam.


Ravi tertawa diikuti oleh yang lainnya, Kasih masih wanita yang sama mudah marah, tapi sangat menggemaskan di mata Ravi.


"Ayo kita menonton."


"Kita pulang dulu sayang, nanti kamu kecapean." Wildan menolak keputusan Vira yang ingin menonton.


"Besok mommy sudah kembali, tidak mungkin mendapatkan izin lagi untuk keluar. Ayang tahu sendiri bagaimana sensitifnya Mami dan mommy?" Tangan Vira terlipat, memohon agar mendapatkan izin menonton.


"Baiklah, kamu ingin menonton apa?"


"Elsa."


Erlin langsung lompat-lompat kesenangan, dia sangat ingin menonton Elsa. Vira juga kesenangan dia sangat ingin melihat Elsa.


"Kasih tidak mau, kita menonton film action saja."


"Romantis saja, Billa takut bertarung."


"Horor saja, romantis membosankan." Winda memaksa untuk melihat film hantu terbaru.


"Bella terserah, asalkan jangan film dewasa." Senyuman Bella terlihat melihat Lin.


"Pokoknya kita harus melihat Elsa, nanti anak Vira namanya Vina dan Veny."


"Apa sangkut pautnya sama Elsa? kamu ingin anak kamu sedingin manusia es." Kasih melotot.


"Kita menonton zombi saja." Asih mengigau sambil tidur.


"Sudah jangan bertengkar, kita menonton di rumah saja biar adil." Wildan menatap semuanya berhenti berdebat.


"Kalian tidak ada yang sayang dengan anak kembar Vira?"


"Oke nonton Elsa, senjata tidak lain membawa nama twins." Winda menghela nafasnya.


Vira tersenyum bersama Lin, mengusap perutnya yang bisa merasakan pergerakan twins.

__ADS_1


***


__ADS_2