
Bisma berkeliling bandara mencari keberadaan Ravi, rambut Bisma susah acak-acakan, dia sudah lupa cara berpikir, si kecil menghilang rasa khawatir Bisma sudah tidak bisa terbendung lagi, ingin rasanya dia menangis. Setelah sekian lama Bisma terduduk dilantai bandara sampai ada yang menegurnya.
Orang-orang membantu Bisma mencari Ravi dan melaporkannya kepada keamanan, dari sana Rama bisa melihat CCTV dan Ravi pergi menggunakan taksi. Tubuh Bisma semakin lemah Ravi yang menghilang dan Viana yang akan segera mendarat.
Bisma memutuskan untuk menunggu kedatangan Viana dan menerima semua kemarahan Viana. Karena Bisma yakin Ravi pasti ke rumah Rama, dan Bisma percaya Ravi anak yang cerdas dan dia pasti bisa menemui daddy nya.
***
Viana berlari mencari Bisma dan Ravi dengan wajah khawatir, dari jauh Vi sudah bisa melihat Bisma yang duduk menudukan kepalanya, Viana memanggil Bisma, dia langsung menggakat kepalanya yang sudah kusut kacau balau.
"Dimana Ravi?"
Bisma berdiri didepan Viana yang celingak-celinguk mencari keberadaan Ravi sambil menunggu jawaban Bisma.
"Ravi hilang, dia keluar bandara saat aku lengah, dengan menggunakan taksi." Bisma tidak berani menatap Viana rasa bersalahnya sangat besar, kehilangan si kecil yang sangat dia sayangi.
"Lihat aku Bisma!" paarrr... tamparan Viana mendarat di pipi Bisma berkali-kali sampai tangan Viana merah.
"Aku tidak akan pernah memaafkan kamu jika terjadi sesuatu pada Ravi, dan aku tidak ingin melihat wajahmu lagi." Air mata Viana langsung mengalir membayangkan putranya pergi sendiri.
***
Rama membawa Ravi masuk kedalam tapi Ravi memberontak ingin ke bandara.
"Daddy! Ravi mau pulang kasihan mommy, pasti sedih! mommy bisa stres. Dulu Ravi pergi sembunyi dan tertidur mommy mencari Ravi sampai mommy depresi sampai dirawat, Ravi tidak mau hal seperti itu terjadi lagi."
"Mommy akan datang ke rumah ini, Daddy tidak akan membiarkan kalian pergi lagi, Ini rumah kita."
"Benar Daddy, kata mommy kami hanya akan merusak kebahagiaan Daddy."
"Tidak sayang, kalian sumber kebahagiaan Daddy, jangan tinggalkan daddy lagi. Apa Ravi dan mommy tidak kasihan dengan daddy hidup sendirian."
"Kasihan Daddy, nanti Ravi dan mommy temenin daddy, tapi jangan usir kami ya daddy." Ravi mengelus wajah Rama dengan tangan mungilnya.
Rama menciumi wajah Ravi yang membuat Ravi tertawa, semua yang melihat kedekatan Rama dan Ravi menangis bahagia.
"Uncle Bisma sini! Daddy sayang Ravi Lo." Tangan Ravi melambai kearah Bima yang tersenyum sambil mengusap matanya.
Bima mendekati Ravi dan mengelus kepalanya, membuat Ravi keheranan.
"Daddy, uncle aneh! biasanya uncle menjentikkan jarinya ke jidat Ravi, tapi sekarang mengelus kepala Ravi." Ravi mempraktekkan kebiasaan Bisma.
__ADS_1
"Dia paman Bima, bukan Uncle Bisma."
Ravi memperhatikan wajah Bima memonyongkan bibirnya dan mengerutkan keningnya.
"Ini uncle Daddy, Ravi yakin ini wajah uncle."
"Mereka kembar sayang, ini uncle Bima yang satunya uncle Bisma."
"ohhhh, kembar berarti sama ya Daddy, lucu sekali uncle ada dua. Tapi kasihan uncle Bisma Kalau ketemu mommy pasti kepalanya tidak pada tempatnya. haduhhh..." wajah Ravi yang bicara sangat imut dengan gayanya yang memonyongkan bibirnya langsung tersenyum memperlihatkan giginya.
Handphone Rama berdering, panggilan dari Ririn. Rama menjawabnya dengan mengucapkan salam begitupun Ririn.
"Rama tolong satu kali ini saja, Abi sakit ingin bertemu kamu, sebentar saja Rama kasihan Abi."
Rama menghembuskan nafasnya sambil memperhatikan wajah Ravi yang cengengesan, dan mengiyakan keinginan Abi Ririn.
"Ravi ikut Daddy ya,"
"Oke Daddy, hayukk...."
"Nenek Rama pergi bersama Ravi, tahan Viana jika dia datang aku harus menyelesaikan masalah dengan Abi nya Ririn yang ingin menjodohkan kami, aku tidak mau Viana salah paham."
"Iya Rama, nenek mendukung kamu. bersatulah lagi dengan keluarga kecilmu."
***
"Ririn kenalkan dia putraku." Ririn terpesona dengan ketampanan Ravi lalu mengendong nya dan mencium Ravi.
Rama masuk ke kamar ayah Ririn dengan sopan dan meminta maaf karena dia memutuskan kembali mengejar istrinya.
Ririn dan Ravi asik bermain bersama, saat Rama keluar Ravi langsung berlari naik ke gendongan Rama.
"Ririn maafkan aku,"
"Kenapa minta maaf, aku ikut bahagia untuk kalian, apalagi kamu memiliki buah hati yang sangat cerdas dan mengemaskan."
"Ravi boleh aunty minta sesuatu."
"Boleh aunty, asal jangan mengambil Daddy dari Ravi." Ririn tertawa mendengarnya.
"Panggil aunty bunda, Ravi mau kan jadi anaknya bunda."
__ADS_1
Ravi diam sambil mengerutkan keningnya, memonyongkan bibirnya.
"Tidak bisa aunty, Ravi hanya punya satu mommy dan satu Daddy, nanti mommy cemburu kalau ada bunda. soalnya mommy mudah cemburu nanti aunty dibilang mommy cacing." Ririn langsung tertawa mendengar jawaban Ravi.
***
Setelah 5 tahun..., Viana kembali menginjakkan kakinya di kediaman keluarga Prasetya.
Vi langsung lari berteriak memanggil nama Ravi, Oma Irma melihat Viana yang penuh air mata, tangan gemetaran, terus memanggil nama Ravi.
Oma langsung berjalan memeluk Viana dengan derai air mata, hatinya hancur melihat Viana yang bertahan membesarkan Ravi seorang diri.
"Oma berikan Ravi padaku, kami tidak akan merusak kebahagiaan Rama. kami tidak akan menyebabkan Rama dalam bahaya, Viana mohon Oma."
Oma Irma langsung menagis histeris dan bersujud di kaki Viana memohon maaf karena menghancurkan kebahagiaan Viana, Vi langsung mengangkat wajah Oma dan menggelengkan kepalanya.
"Oma tidak salah, Viana yang salah maafkan Viana Oma"
"Vi Mengapa kamu pergi sayang! kami semua menunggu kamu kembali kasihan Rama yang terus menunggu kamu. Tapi kamu lebih menyedihkan membesarkan putra kalian sendirian, ini semua salah Oma."
Semua orang menagis melihat Viana kembali, Vi yang awalnya teriak mulai tenang, dia mencoba menenangkan Oma yang terus menangis meminta maaf.
Mereka duduk bercerita sambil menunggu Rama dan Ravi pulang, Oma juga menceritakan tentang Ririn yang Viana ketahui calon istri Rama yang membuat Viana semakin terluka tapi mendengar cerita Oma membuat Viana lebih tenang dan bahagia.
Suara langkah kaki masuk dan teriakan Ravi membuat ciri khas, Viana langsung bangkit diikuti Oma yang menunggu mereka.
Mata Viana tajam melihat kearah Ravi yang sudah menganga melihat mommy nya melipatkan tangan di dada nya. Ravi meminta Rama menurunkannya dan mulai mendekati Viana perlahan, membuat semua orang menahan tawa melihat gaya Ravi berjalan menghitung langkah kecil, wajah menunduk sambil mengulum bibirnya.
"Ravi!" teriakan Viana membuat Ravi replek langsung berlari bukan kearah Viana tapi kearah Rama dan memeluk erat kaki Rama
Mata Viana bertemu mata Rama, dan mereka bersamaan melihat ke bawah kaki Rama.
Viana menunjuk Ravi untuk mendekat padanya sambil melotot, tapi Ravi semakin kencang memeluk kaki Rama bahkan buka hanya tangannya tapi kakinya juga.
***
Coment yang banyak..
like juga...
Kalau boleh vote juga...
__ADS_1
insyaallah up 1x lagi...