SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
BONUS PART 5


__ADS_3

Pagi-pagi lapangan yang biasanya ramai mendadak sepi, hari libur dan biasanya anak-anak berkumpul.


Sejak pisah sekolah, anak-anak jarang berbicara, hanya ada Rasih yang bermain mobil sendiri bersama cacingnya.


Dia berputar-putar menggendong cacing sambil tertawa sendiri, tidak terlihat kesedihan hanya saja Asih jarang bicara.


Ravi sudah sering becanda dengan putrinya, tapi tetap saja masih ada rasa canggung. Asih tawanya tidak selepas biasanya.


Terlihat dari kejauhan, Vio dan Vani bermain sepeda gandeng. Mencoba mendekati Rasih yang asik sendiri dan mengabaikan kedua adiknya.


"Aduh." Vio mengusap kakinya yang sakit, langsung mencoba mengangkat sepeda untuk menolong adiknya, tapi tidak kuat.


Asih langsung mendekat, membantu Vio untuk menolong Vani. Selesai menolong Asih langsung pergi pulang ke rumahnya.


Ravi dan Erik saling pandang melihat perubahan anak-anak, Billa juga muncul dan mengatakan jika Em belum juga bangun.


Bulan lebih asik di rumahnya, bermain sendiri dan latihan bela diri. Jum sudah sering menasihati Bulan bahkan mengajarinya cara memasak.


"Di mana Arum?" Wildan menatap Ar yang masih duduk menatap twins V.


"Dia di rumah menolak untuk keluar, asik bermain sendiri."


"Bukannya ini juga terlihat tidak sehat." Tian menghela nafasnya.


Wildan menatap kedua putrinya yang duduk melamun menatap sepeda, biasanya Bulan yang di depan dan mereka berdua duduk belakang, tapi sekarang bahkan Bulan tidak muncul.


Ravi berteriak kuat, menjadi ayah ternyata tidak mudah. Sekarang bagaimana caranya menyatukan anak-anak kembali.


"Mereka tidak menyesali yang terjadi, tapi menghukum kita dengan berubah sikap. Anak-anak memang lebih unggul." Erik menatap Wildan yang harus menemukan solusi, dia yang mengusulkan untuk memisahkan sekolah.


Ar tersenyum meminta malam mereka berkumpul dan makan makan bersama, mungkin bisa mengembalikan kehangatan anak-anak.


Semuanya setuju, mungkin berbicara secara lembut akan mengembalikan senyuman dan kehebohan.


"Yakin mengembalikan kehebohan, nanti rusuh lagi?" Tawa Erik terdengar.


"Lebih baik mereka rusuh daripada diam, soalnya di rumah sudah ada satu es, jangan sampai dua-duanya." Tian tersenyum, melihat yang lain juga kesepian melihat anak-anak diam.


***


Seluruh keluarga kumpul, anak-anak juga sudah duduk di tempat masing-masing. Vio tersenyum melihat Arum yang ada di sebelahnya.


"Kakak Arum bagaimana sekolah barunya?" senyuman Vio terlihat.


"Baik."

__ADS_1


"Kak Arum satu kelas dengan kak Bulan?" Vani juga menatap sambil tersenyum.


"Tidak."


Winda dan Vira meletakkan sendok, menatap Arum yang berubah dingin. Tanpa banyak bicara langsung menghabiskan makanannya.


Vio mencoba bicara dengan Bulan, sama saja tidak direspon dengan baik. Wajah Asih dan Embun juga sama dinginnya, hanya fokus ke makanan masing-masing.


"Vani sudah kenyang, ingin tidur saja. Selamat malam semuanya." Wajah Vani terlihat sedih, melangkah pergi untuk tidur.


Vio juga turun dari kursinya, menatap tajam saudaranya yang mengabaikannya.


"Vio tahu kalian marah, tapi jangan cuek sama Vion. Katanya kita saudara, tapi kenapa mirip musuh." Suara Vio berteriak terdengar kesal.


"Arum selesai makan, selamat malam semuanya." Arum melangkah pergi melewati Viona yang terlihat sedih.


Em juga turun dari kursinya, menepuk pundak Vio meminta mengerti jika ini yang terbaik untuk mereka.


Asih hanya tersenyum, melangkah pergi selesai makan, tersenyum melihat Bulan yang juga melangkah pergi tanpa mengatakan apapun.


Vira menatap suaminya, Wildan langsung melangkah memanggil Vani, Vio, Arum, Asih, Em dan Bulan untuk duduk.


"Kalian marah?"


"Tidak, kita hanya bersikap layaknya anak normal yang hanya tahu fokus belajar. Beberapa hari ini kita tidak membuat masalah, bukannya ini yang papi dan yang lainnya harapkan?" Asih mempertanyakan kesalahan mereka.


"Baiklah, lalu apa yang harus kita lakukan?" Em menatap serius.


"Bersikap seperti biasanya, kalian bisa bermain bersama, bercanda dan tertawa." Ravi juga duduk menatap anak-anak yang tertawa kecil.


"Kakak Asih di sana belajar apa? teman kak Asih banyak tidak?"


"Banyak, tapi mereka tidak ingin berteman dengan Asih." Senyuman Rasih terlihat menatap Arum.


"Lalu apa yang kak Asih lakukan?"


"Tidur, lalu pulang."


Anak-anak saling mengobrol apa yang mereka lakukan di sekolah, dan berakhir dengan kata oh karena kehabisan kata-kata.


"Percakapan kami membosankan." Asih tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Asih, Daddy melakukan ini demi kamu sayang."


"Tidak ada yang akan berubah Daddy, Asih ingin pulang, besok harus sekolah. Adik-adikku kalian semangat sekolahnya." Asih tersenyum langsung pergi.

__ADS_1


Adik-adiknya juga ikut-ikutan pergi, hanya meninggalkan para Ayah yang kebingungan. Tingkat kemarahan anak-anak lebih mengerikan daripada kemarahan para mommy.


"Kasih, nasihati Asih sayang."


"Tidak mau, kamu urus sendiri. Siapa yang membuat masalah memindahkan sekolah." Kasih langsung lanjut makan lagi.


"Umi, bicara sama Arum. Abi sudah dua kali menemuinya, tapi tidak menemukan titik terang." Ar menatap Winda yang hanya menganggukkan kepalanya, tapi masih tetap makan.


"Apa? jangan minta bantuan sama Bella, urus sendiri putri kamu. Bintang sudah mirip kulkas, Bulan mirip batu." Tatapan Bella tajam melihat suaminya yang belum membuka mulut saja sudah mendengarkan ocehan Bella.


Erik tersenyum mencium lengan istrinya, Billa menatap tajam tidak ingin bicara.


Wildan hanya duduk diam bersama kedua putrinya yang juga diam, tidak ada lagi teriakan Vio dan Vani yang biasanya heboh.


"Papi, kenapa kita tidak boleh bersama? Vio tidak ingin sekolah lagi, tidak ada gunakan belajar main." Wajah Vio terlihat sedih.


"Vio di sekolah main bukan belajar?"


"Belajar main Papi." Vani memeluk Papinya yang kebingungan.


Tatapan Wildan tajam ke arah Vira, tidak lain pasti Vira yang mengajari anak-anak belajar main di sekolah.


"Sayang, di sekolah untuk belajar membaca, menulis, menghitung. Sekolah tempat menuntut ilmu bukan bermain." Senyuman Wildan terlihat menatap kedua putrinya.


Vani mengerutkan keningnya, jika sekolah tempat untuk belajar kenapa harus ada area bermain, ada ayunan, perosotan, bola dan banyak permainan lainnya.


Wildan terdiam mendengar protes putrinya, urusan akan panjang jika bicara dengan Vio dan Vani.


"Papi, kenapa banyak mainan di sekolah?"


"Tanya Mami, Papi angkat telepon dulu." Wildan menurunkan kedua anaknya dari pangkuan, langsung melangkah pergi.


"Mami, sekolah tempat belajar atau bermain?" Vio melihat Vira yang masih asik tertawa.


Vira meminta Vio bertanya kepada neneknya, karena jika salah bicara urusan pasti pajang.


"Nenek, kenapa ...." Vani mengerutkan keningnya melihat Reva dan Viana langsung menunjuk ke arah Rama dan Bima yang masih mengobrol.


Vio menarik tangan Vani, meminta untuk ke kamar saja karena percuma. Jika bertanya kepada kedua kakeknya ceramahnya panjang lebar membuat mengantuk.


Dari balkon, Vani dan Vio melihat Arum di rumahnya menatap malam.


"Kakak, Vio kangen."


"Diamlah, hati-hati nanti jatuh. Kita akan segera bertemu, bersabar saja." Arum tersenyum melihat kedua adik kembarnya yang juga tersenyum.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2