SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 RINDU


__ADS_3

Wildan dikeroyok tiga wanita yang kelelahan berlari, Wildan juga menertawakan dirinya yang tiba-tiba tidak menggunakan otak, bisa dia berpikir untuk berlari, bukan menghubungi orang di Mansion.


"Gila kamu Wil, kaki Bella hampir lepas." Billa ngos-ngosan menarik nafas.


"Maaf kak Bel, kalian berisik membuat Wildan tidak bisa berpikir, sudah dekat juga sebaiknya kita jalan." Wildan langsung lanjut berlari.


Winda sudah memegang baju Yusuf untuk meminta bantuan, Yusuf memegang ujung kebaya Billa jangan sampai kotor.


"Yusuf, tolong Winda tidak kuat lagi. Gendong." Winda menarik Yusuf untuk berhenti, tapi Yusuf menolak Winda untuk menyentuhnya.


Wildan memegang pundak Yusuf, melihat Billa berlari sendiri mendekati Mansion. Bella Vira langsung rebutan minta gendong Wildan, Winda sudah naik lebih dulu ke punggung kakaknya, langsung ingin menangis jika Wildan menolak menggendongnya.


Billa terus berlari melihat Erik di depan Mansion menunggunya, melihat Billa berlari Erik langsung berlari mendekati Billa yang sudah kelelahan.


Tubuh Billa langsung ditangkap Erik saat hampir jatuh, wajah Erik terlihat khawatir, tapi Billa tersenyum memeluk erat tubuh Erik, tangan Erik juga erat memeluk Billa.


"Ke mana kami Bil, kak Erik mengkhawatirkan kamu?" Erik mengeratkan pelukannya.


"Maafkan Billa kak, maaf Billa egois pergi tanpa izin." Billa meneteskan air matanya.


"Jangan lakukan ini Billa, ke manapun kamu ingin pergi kak Erik ikut kamu, jangan pergi seperti ini." Erik menangkup wajah Billa, menghapus air matanya.


"Jangan menangis, nanti make up luntur. Kak Erik sangat merindukan kamu."


"Billa juga rindu." Billa memeluk erat Erik.


High heels putih dilempar oleh Wildan, Erik langsung melepaskan Billa, berjongkok menggakat kaki Billa di dengkulnya. Membersihkan kaki Billa yang banyak pasir, langsung memasang high heels.


Billa tersenyum melihat Erik yang sangat menjadikan dia bagaikan seorang ratu, tidak marah sedikitpun dengan sikap Billa yang kekanakan, bahkan terlihat rasa khawatir.


Vira melihat Erik meletakkan kaki Billa langsung menyusun kaki, duduk di lantai Bella dan Winda juga ikutan.


Erik tersenyum memasang sepatu tiga wanita yang sangat disayanginya.


"Kak Erik tidak marah?" Bella menatap Erik ingin menangis.


"Marah dengan siapa? kak Erik yang salah. Maafkan kak Erik membuat kalian harus pergi." Erik membantu Bella, Winda Vira untuk berdiri.


Mobil Karan lewat langsung berhenti, Karin keluar binggung melihat masih di luar semuanya.


Erik tersenyum melihat Karan yang juga keluar, dia mengetahui semuanya dari Karan. Wildan meminta tolong Karan menghubungi Papinya jika mereka terlambat bisa satu jam, karena Karan sedang binggung mereka juga datang terlambat, langsung menghubungi Erik untuk menunda waktu.


"Karan sialan, seharusnya datang lebih cepat. Kita capek berlari."

__ADS_1


"Kamu bodoh, bukannya meminta bantuan." Karan mentertawakan Wildan yang bisa bodoh juga.


Erik mengandeng tangan Billa untuk masuk ke dalam, kaki Billa sulit berjalan karena lelah berlari, Erik langsung mengendong Billa ala bridal style, tangan Billa langsung memeluk leher Erik sambil tersenyum.


***


Ammar saling tatap bersama Bisma, melihat buku nikah masih lengkap. Bisma langsung berlari masuk, Ammar meminta penghulu menunggu sebentar lagi.


Bisma mencari Rama yang sedang mengawasi kamera CCTV, terlihat dari kejauhan Billa berlari, Erik juga berlari langsung memeluk Billa.


"Erik mengerjai kita?" Bisma menatap layar.


"Wohh, Erik pendendam juga. Tidak kasihan melihat Mamanya menangis sesegukan sampai matanya hitam." Ammar tertawa diikuti oleh Bisma.


"Sejarah mata hitam sudah ada sejak zaman Ravi kecil, sekarang turun ke Wira, bersiaplah antara twins R akan ada yang heboh." Rama tersenyum bahagia melihat Erik Billa berpelukan melepaskan rindu.


Suara pintu diketuk, Bisma meminta Laura masuk mendekat. Laura menundukkan kepalanya meminta maaf, dia orang yang paling bersalah atas batalnya pernikahan Billa Erik.


"Maafkan Binar Uncle, Binar bersyukur dikelilingi orang baik, meskipun Binar orang jahat." Binar meneteskan air matanya.


Bisma menarik Binar untuk melihat layar, merangkul Binar mengusap kepalanya, menghapus air mata Binar.


"Lihatlah adik kamu sendang bahagia, mereka tidak batal menikah, Erik menunda waktu menunggu Billa datang."


"Binar, kamu juga sekarang bagian dari kami. Keluarga kita semakin ramai, Ayah akan mendampingi kamu sampai menemukan pasangan hidup." Bisma mengusap kepala Binar yang menatapnya penuh rasa kagum.


"Ayah, maafkan Binar." Binar menangkup kedua tangannya menatap Bisma.


"Jangan menangis lagi, Ayah juga dulu orang jahat. Kamu bisa melupakan luka kamu, sekarang kamu punya Ayah, Bunda, kak Tian, juga kedua adik kamu Bella Billa."


"Kamu juga memiliki kita Binar, nama kamu Binar Bramasta. Kamu harus bisa menjaga nama baik keluarga kita." Bima tersenyum mengusap kepala Binar.


"Siapapun yang menjadi bagian keluarga Bramasta, dia juga bagian keluarga Prasetya. Kami semua ada bersama kamu." Rama tersenyum melihat Binar.


"Binar, tidak menginginkan apapun, jika waktu bisa Binar putar kembali, Binar hanya meminta anak Binar kembali, tapi Allah sayang dia, Binar ikhlas, akan menjalani hidup dengan baik." Binar tersenyum melihat Billa digendong oleh Erik.


Semuanya keluar dari ruangan CCTV, menemui para Mom yang menangis, saling berpelukan.


"Sudah menangisinya sayang, Erik bercanda dia tidak mungkin bisa hidup tanpa Billa. Mereka ada di depan sekarang." Ammar memeluk Septi, menghapus air matanya.


"Seriusan yang Ammar katakan Ayah?" Jum menatap Bisma.


"Tanyakan pada putrimu."

__ADS_1


"Binar, adik kamu sekarang bersama Erik, mereka jadi menikah?"


"Iya Bunda, kita bisa melihat mereka sekarang di depan." Binar menghapus air mata Jum.


"Alhamdulillah ya Allah, semoga setelah ini pernikahan berjalan dengan lancar, tidak ada lagi air mata." Reva menadahkan tangannya."


"Amin," seluruh orang mengucapkan Amin. (Ayo reader Amin tidak, author bisa membuat sad ending lagi, haha.)


Cepat Jum langsung ingin keluar, tapi pintu dihadang oleh Wira yang menatap tajam, tidak memiliki alasan langsung cemberut.


"Kenapa kamu Wira sayang?"


"Wira sedih Nenek Bun, sekarang sudah hampir jam 11 siang, Wira belum dikasih makan, dengarkan cacing diperut Wira, sudah teriak kuat meminta makan." Wira memajukan bibirnya.


Jum langsung menatap Windy, Reva juga menatap Windy yang masih sibuk menebalkan lipstiknya.


"Windy, anak kamu belum makan?" Reva bicara sambil menarik telinga Windy.


"Aduh Mami, sebentar lagi Windy membenarkan lipstik dulu."


Wira langsung berlari keluar, menangis kuat membuat Wildan langsung berlari ke dalam.


"Ada apa kamu Wira?"


"Kenapa, kamu juga ingin menikah." Vira menatap Wira yang langsung digendong Wildan.


"Uncle Wira lapar, Mommy lebih mementingkan lipstiknya."


"Coba buka mulut Wira?" Vira menahan tawa.


"Ohh belum makan, tapi ada bau coklat, ayah goreng, sosis, sate, susu. Wira sebenarnya belum makan apa?"


"Iya Wira lupa, cuman ingin bobok sama Mommy."


"Dasar caper." Wildan dan Vira tertawa melihat Wira yang terkadang mencari perhatian.


Semuanya keluar berkumpul, menunggu Erik masuk ke dalam.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA

__ADS_1


***


__ADS_2