SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 LAMARAN


__ADS_3

Kedua calon pengantin sedang mengukur baju, Kasih tersenyum melihat dirinya di depan kaca menggunakan kebaya berwarna putih. Cinta masuk dan melihat adiknya yang sangat cantik, Kasih tersenyum malu-malu.


"Kak Ci, jangan tatap Asih begitu?"


"Asih cantik sekali, kebahagiaan menambah kecantikan Asih." Cinta mengusap rambut adiknya tersayang.


Ravi juga muncul dengan jas putihnya, langsung tersenyum menatap Cinta. Menatap Kasih tajam, tingkah jail Ravi yang suka menggoda kumat.


"CK ck CK ck, kenapa silau sekali?"


"Awwwwww, sakit!" Ravi langsung melotot, tapi saat melihat Mommy langsung tersenyum.


"Kamu ini keturunan siapa? Daddy tidak pernah menggoda, Mommy juga tidak pernah genit."


"Mom kita tidak membutuhkan turunan, zaman kita berbeda mungkin di hati kecil Daddy ingin punya pacar, tapi keadaan menuntut Daddy untuk melangkah ke jalur yang berbeda."


"Benar juga ya, karena dari kecil Daddy sudah harus bekerja, jadi tidak punya waktu untuk pacaran."


"Makanya Mom, menggombali istri itu pahalanya besar, karena bisa membuat istri tersenyum."


Ravi mengedipkan matanya melihat Kasih, Cinta dan Mommy hanya bisa menepuk jidat. Viana tidak tahu mengapa putranya lebih mirip Bisma yang suka menggombali banyak wanita, akhirnya Bisma terkena karma mendapatkan istri yang polos tidak mengerti ucapannya. Sedangkan Ravi sang raja gombal mendapatkan istri yang galak, tidak bisa Viana bayangkan rumah tangga Ravi, semoga saja Ravi bisa membawa keluarganya dalam kebahagiaan.


"Kasih, kamu merasakan ragu tidak membina rumah tangga denganku?"


"Kenapa bertanya?"


"Hanya ingin tahu saja, aku yakin aku di mata kamu pria nakal, suka gonta-ganti wanita, aku takut masalalu akan menjadi bumerang dalam rumah tangga kita.".


"Ravi, pernikahan itu butuh kepercayaan, jika aku tidak percaya kamu, lalu siapa yang harus aku percaya? tugas kamu jangan pernah mengkhianati kepercayaan yang aku berikan."


"Terima kasih Kasih, aku tidak salah pilih wanita, aku sangat nyaman bersama kamu, seakan aku menemukan rumah ternyaman."


Ravi tersenyum, Uncle Bisma pernah mengatakan jika dia sangat suka kebebasan, tapi saat melihat Jum membuatnya ingin menetap. Seperti Daddy Rama yang menemukan rumah ternyaman saat melihat wanita dewasa yang suka membuat masalah, kini Ravi juga menemukan rumah ternyaman yang pernah kedua orangtuanya rasakan, gurunya juga seperti Ayah untuk Ravi yang selalu mendukung Ravi dalam segi apapun.


"Sayang, kamu boleh tidak percaya tapi hari ini aku melihat seorang bidadari surga yang sangat membuat aku terpesona, kecantikan mengalahkan segalanya." Ravi menggenggam tangan Kasih.


"OHH ya, Kasih juga ingin melihatnya."

__ADS_1


"Tutup mata, kita lihat bersama." Ravi menutup mata Kasih, memperlihatkan mereka berdua di kaca besar dengan menggunakan kebaya putih dan jas putih.


"Buka mata kamu sayang,"


Kasih tersenyum, melihat dirinya dan Ravi yang terlihat serasi. Ravi juga tersenyum menyentuh hidung Kasih.


"Subhanallah cantik sekali bidadari surga itu, tapi mengapa dia tidak bersayap?" Kasih tersenyum menatap Ravi.


"Kamu mau tahu kenapa dia tidak bersayap?"


"Kenapa?"


"Karena dia takut terbang, dan meninggalkan aku. Dia lebih memilih meninggalkan sayap, demi hidup bahagia bersamaku." Ravi mencium kening Kasih.


Di balik kebahagiaan menyambut hari bahagia Ravi dan Kasih, seseorang meneteskan air matanya tidak bisa menerima pernikahan ini.


"Aku tidak rela, sudah lima tahun aku terus menemani Kasih, tapi mengapa pria playboy keluarga Prasetya beraninya melamarnya."


"Akan aku hancurkan kalian, akan aku perlihatkan siapa Ravi sebenarnya." Tatapan amarah, kebencian terlihat."


***


Karena acara lamaran di kediaman Kasih, bisa di tempuh dengan berjalan kaki, bukan hanya keluarga yang sibuk tapi seluruh masyarakat kompleks yang berada di sekitar rumah keluarga Prasetya dengan keluarga Tama juga ikut sibuk menyambut bahagia.


Wildan duduk di sebuah kuris bawah pohon rindang, melihat orang yang lalu lalang dengan gosip masing-masing. Bastian datang mendekati adiknya yang duduk diam sambil menggunakan kacamata hitam.


"Wildan,"


"Hmmm."


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Sedang duduk kak, menunggu sore."


Tian juga diam memperhatikan banyak orang lewat, sibuk dengan acara lamaran Ravi. Bahkan Tian tidak bisa membedakan dari pihak mana yang keluar masuk kompleks.


"Wildan, kenapa banyak warga yang ikut sibuk, padahal acara hanya khusus keluarga?"

__ADS_1


"Sengaja, ada orang yang menyebarkan gosip, karena keluarga pihak lelaki dan wanita sibuk jadi tidak memperhatikan masalah kecil, hanya fokus ke acara harus lancar."


"Bagaimana kalau ada orang berniat tidak baik?"


"Menurut kakak, yang menyebarkan gosip sampai heboh seperti ini orang baik."


Tian terdiam, jadi alasan Wildan duduk hanya untuk melihat orang asing yang akan ikut bergabung. Sungguh Tian tidak mengerti siapa lagi orang yang ingin menggagalkan acara Ravi.


Suara cempreng Vira terdengar bersama Bella dan Billa, Tian tersenyum melihat Bella yang juga menatapnya dengan senyuman manis, hubungan Tian dan Bella sekarang sudah membaik hanya saja keduanya tidak menggagap adik kakak lagi, Tian sedang menunggu waktu untuk bicara dengan Bunda dan Ayahnya, mungkin dia juga akan menunggu Bella lulus kuliah.


"Hai Wildan, aku menerima tantangan kamu."


Wildan hanya diam saja, dia melihat seorang wanita yang berdiri di samping Maminya yang juga berjalan ke arah rumah Kasih. Senyuman Wildan terlihat langsung berlalu pergi memeluk pundak Mami sambil menyapa.


"Kamu kapan menyusul Wildan?"


"Emhhh, menunggu Vira selesai kuliah dan mendapatkan nilai terbaik di New York."


"Apa?" Viana dan Reva teriak kuat, Wildan langsung berlari melewati Bunda Jum yang berhenti menatap Reva dan Viana yang shock.


Va dan Vi saling tatap, mereka merasakan kasihan dengan Vira yang mengejar mimpi seperti ingin menangkap angin, sedangkan Wildan akan menjadi jomblo abadi karena harus menunggu Vira yang tidak mungkin bisa meraihnya.


"Va tolong bilang ini tidak benar?"


"Ini benar kak Vi."


"Hubby, Mommy tidak mau Vira kuliah di luar Negeri." Viana balik lagi ke rumah, karena Rama sedang berkumpul dengan yang lainnya di rumah, jadi hanya para wanita yang ke rumah Kasih untuk bantu-bantu.


Sedangkan Wildan berjalan mengikuti segerombolan orang yang ingin melihat persiapan di kediaman Kasih, Winda dan Vira juga mengikuti Wildan.


Bastian coba menghubungi Erik dan memintanya mengecek keamanan kompleks, tapi tidak mendapatkan jawaban, Bella juga menatap aneh dengan banyaknya orang yang sangat asing. Bella sudah dari bayi mengelilingi kompleks tapi baru kali ini warganya keluar secara bersamaan dan wajah mereka tidak dikenali.


"Kak, seperti akan ada masalah, Bella harus bertindak?"


"Ini tablet Wildan dek, Erik juga tidak bisa di hubungi."


"Biar Bella yang menghentikan mereka, beraninya mereka memasuki kawasan sini." Bella langsung duduk mulai memainkan tablet Wildan, membobol seluruh keamanan kompleks.

__ADS_1


***


__ADS_2