
Suara musik berdentum dari arah parkiran, Winda dan Vira sedang berpesta merayakan ulang tahun cacing Asih.
Wildan yang sengaja bangun kesiangan langsung membuka jendela melihat Winda, Vira, Bella dan Billa sedang joget-joget.
Diikuti oleh Asih yang paling heboh mendengarkan musik rock, Bening sudah seperti artis dengan baju panggung.
"Astaghfirullah, tidak bisa satu hari saja hidup tenang." Wildan langsung lompat ke atas tempat tidur lagi.
"Wildan bangun, kita langsung ke hotel hari ini. Baju kamu sudah di mobil semua, Mami baru saja membeli cincin tunangan untuk kalian." Reva menunjukkan dua kotak cincin, memperlihatkan isinya yang sangat cantik.
"Cincin siapa Mi?" Wildan langsung duduk di pinggir ranjang.
"Kamu sama Winda." Reva tersenyum mencium pipi Wildan gemes.
Wildan hanya menganga melihat Maminya yang tersenyum, langsung melangkah keluar membawa dua kotak cincin.
Tatapan mata Wildan melihat ke arah pintu langsung berlari keluar mencari Yusuf, Wildan berpikir dia dan Vira tidak jadi bertunangan.
"Kak Ar, kita akan bertunangan dan menikah secara bersamaan?" Wildan mengerutkan keningnya.
"Iya Wil, kita akan menikah berjamaah." Yusuf tersenyum meminta Wildan segara mandi.
Seluruh koper sudah di masukkan ke dalam mobil, suara Rasih teriak mengucapkan happy birthday kepada cacingnya hanya melewati video.
"Rasih heboh sekali." Binar tersenyum menatap Tama yang mengusap perut buncit istrinya.
Wildan menghela napasnya, langsung mencari Vira yang asik joget-joget seperti orang gila.
Tangan Vira langsung ditarik oleh Wildan, suara Vira teriak membuat semua orang memandangi keduanya.
Wildan berhenti, langsung mengusap telinganya karena Reva meminta membereskan kopernya.
"Ambil koper kamu." Reva melotot.
Wildan mengusap telinganya, langsung melangkah masuk. Vira hanya tersenyum licik memastikan Wildan akan menyesal sudah menikahinya.
Satu persatu mobil melaju meninggalkan villa, Vira membawa mobil sendiri bersama Winda dan Bella bernyanyi sepanjang jalan.
Bella yang paling bahagia karena akan menikah dengan lelaki yang dicintainya, sebuah kebahagiaan terbesar yang akan segera menjadi kenyataan.
Akhirnya dirinya bisa menjadi Ratu meskipun hanya satu hari. Bersanding bersama lelaki tampan idamannya.
Sepanjang perjalanan ketiganya bernyanyi kencang, tidak perduli jika suara mereka jelek. Kaca mobil dibuka semua, bahkan Winda sudah berdiri bernyanyi kencang.
Bella mengutarakan perasaannya melalui lagi CINTA, berdiri bersama Winda sambil tersenyum.
Mobil yang di belakang hanya bisa tersenyum melihat tiga anak yang sedang menggila.
...Menatap jalan yang menjauh...
...Tentukan arah yang ku mau...
...Tempatkan aku pada satu...
...Peristiwa yang membuat hati lara....
...Di dekat engkau aku tenang...
...Sendu matamu penuh tanya...
...Misteri hidup akan kah menghilang...
__ADS_1
...Dan bahagia di akhir cerita...
...Cinta tegarkan hatiku...
...Tak mau sesuatu merenggut engkau...
...Naluriku berkata...
...Kehilangan cinta hati...
...Bagai raga tak bernyawa...
...Aku junjung petuamu...
...Cintai dia yang mencintaiku...
...Hati yang dulu belayar...
...Kini telah menepi...
...Bukankah hidup kita...
...Akhirnya harus bahagia...
...Di dekat engkau aku tenang...
...Sendu matamu penuh tanya...
...Misteri hidup akan kah menghilang...
...Dan bahagia di akhir cerita...
...Cinta tegarkan hatiku...
...Tak mau sesuatu merenggut engkau...
...Naluriku berkata...
...Kehilangan cinta hati...
...Bagai raga tak bernyawa...
...Aku junjung petuamu...
...Cintai dia yang mencintaiku...
...Hati yang dulu belayar...
...Kini telah menepi...
...Bukankah hidup kita...
...Akhirnya harus bahagia...
...Cinta...
...Biar saja ada (cinta)...
...Yang terjadi biar saja terjadi...
...Bagai manapun hidup...
__ADS_1
...Memang hanya cerita...
...Cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan...
...Cinta...
kalian baca sambil dengarkan lagi Melly Goeslaw feat Krisdayanti judulnya CINTA.
"Cinta tegarkan hatiku, tak mau berpisah lagi. Bella ingin berlabuh dari berlayar yang panjang." Bella tersenyum, menatap mobil di belakang mereka.
"Cinta tegarkan hatiku, apapun yang terjadi biarkan terjadi karena hidup memang harus ada cerita. Vira juga akan menjalani apapun yang akan terjadi di dalam pernikahan nanti." Vira menepuk dadanya menyakinkan hatinya.
"Cinta tegarkan hatiku, tak mau sesuatu merenggut engkau. Naluri ku berkata tak ingin terulang lagi ... cerita cinta hanya tentang meninggalkan dan ditinggalkan lalu apa gunanya jatuh cinta?" Winda menatap gedung hotel yang paling mewah.
Mobil sudah terparkir, Bella tersenyum melihat keindahan hotel yang sudah disulap menjadi tempat pesta pernikahan.
Foto Bella dan Tian juga sudah terpasang, Bella melangkah masuk melihat di dalamnya yang sungguh luar biasanya mewahnya.
"Bella menyukainya Bunda, terima kasih." Bella langsung menangis memeluk Bundanya.
"Bunda ingin Bella bahagia, Tian juga bahagia. Sudah lama Bunda menunggu hari ini, Bunda takut kalian berpisah." Jum menggenggam tangan Tian dan Bella.
"Tian tidak bisa janji Bunda, tapi Tian pastikan selama masih bernapas, Tian akan menjamin kebahagiaan Bella, menjadikan wanita yang paling beruntung." Tian memeluk Jum yang terus menangis.
Viana dan Reva untuk pertama kalinya menyukai dekorasi yang Jum usulkan, Vi sempat khawatir jika tema berubah menjadi kebun bunga atau penuh dedaunan, tapi ternyata tidak gedung yang mewah semakin mewah dengan dekorasi modern.
"Tumben Jum kamu menggunakan resepsi pernikahan ala luar negeri, aku khawatir sekali temanya kebun binatang." Reva langsung tertawa.
"Sembarang saja, Jum sudah dua puluh tahun lebih menjadi istri pengusaha, tidak mungkin tidak menjaga nama baik keluarga." Jum tersenyum geli dengan cara bicaranya.
Suara Reva bertepuk tangan dengan Viana, karena baru pertama kalinya mereka mendengar Jum menyombong diri.
Hanya hitungan hari, Bella dan Tian akan menjadi pasangan suami-istri, menjadi satu dalam kehidupan berumahtangga.
Vira dan Winda sudah berlari lebih dulu untuk melihat kamar pengantin, mereka ingin sekali melihat mawar milik Bella.
"Jangan di sentuh!" Bella teriak histeris.
Vira dan Winda langsung masuk mengunci pintu, tidak mengizinkan Bella ikut masuk. Bella menendang pintu.
"Mereka masih belum dewasa Ay, lihat saja tingkahnya masih seperti saat kita malam pertama." Windy tertawa memeluk Stev.
"Ayo kita buat lagi." Steven menggoda istrinya.
"Windy takut kecewa, berkali-kali Windy keguguran, bersyukurnya Wira bisa lahir dengan selamat padahal sudah beberapa kali pendarahan. Perjuangan kita gagal lagi saat Windy keguguran setelah penikahan Erik dan Billa." Windy menahan kesedihan kembali.
Reva menepuk pundak Windy, tidak boleh sedih terkadang perjuangan seorang ibu memang berat.
"Jangan dipaksakan, jika kamu tidak siap cukup besarkan Wira, tapi jika hati kamu tergerak lagi coba terus sampai Allah memberikan kepercayaan lagi untuk menjadi ibu lagi." Reva tersenyum mengusap air mata putrinya.
Suara keras terjatuh terdengar, Reva membantu Bella menggedor pintu sampai Winda membukakan pintu.
Semua keluarga berkumpul melihat ke arah kamar, Jum hanya mengusap dada melihat Vira dan Winda yang sudah terguling di atas mawar.
Tangisan Bella langsung pecah, melihat kamar pengantinnya hancur.
"Bella tidak ingin berteman lagi, kita tidak bersahabat lagi, kalian berdua jahat." Bella langsung melangkah pergi meninggalkan kamar.
***
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara
***