
Suara desiran ombak terdengar, angin sepoi-sepoi juga menerpa wajah. Yusuf terus berjalan di pinggir pantai, Winda mengikutinya dari belakang.
"Ingin jalan ke mana Amin, kita sudah melangkah jauh." Winda menghentikan langkahnya, matanya menatap Yusuf tajam.
Senyuman Yusuf terlihat, langsung membalik badannya. Melihat jika perjalanan mereka cukup jauh.
"Beginilah rumah tangga Winda, aku berjalan di depan kamu sebagai imam, kamu makmum yang mengikuti. Saat langkah aku terlalu jauh, kamu harus menghentikan, tidak ada suami yang sempurna, tidak ada istri yang sempurna, pernikahan salah satu ikatan untuk saling melengkapi perbedaan, saling memperbaiki juga mengingatkan." Yusuf duduk di pinggir pantai.
Winda tersenyum sinis, Yusuf terlalu manis dalam berbicara. Winda tidak ada niat sama sekali untuk menjadi istri yang baik.
"Amin aku menikahi kamu, menerima perjodohan ini bukan untuk menjadi makmum, tapi untuk menghentikan keinginan orang tua aku yang selalu memuji betapa baiknya kamu." Winda meludah melihat wajah Yusuf.
"Apa yang membuat kamu membenci aku? jika tujuan penikahan hanya untuk membahagiakan orang tua kamu, pada akhirnya akan menyakiti."
Winda tidak perduli, menentang keputusan orang tuanya jauh lebih menyakiti. Winda tidak membutuhkan cinta.
Yusuf akhirnya terdiam meminta Winda menghentikan pernikahan, jika tidak Yusuf yang akan menghentikannya.
Suara Winda tertawa, melemparkan ponselnya ke arah Yusuf memperlihat seorang wanita yang sedang asik berjoget dengan banyak lelaki.
Winda berhasil menemukan keberadaan umi Yusuf, jika Yusuf ingin bertemu dengan ibunya harus mengikuti keinginan Winda.
"Di mana Umi Winda?" Yusuf langsung berdiri, wajahnya terlihat sangat khawatir.
"Kamu hidup dengan kemewahan Yusuf, tapi umi kamu hanya wanita malam yang melayani pria hidung belang." Senyuman Winda terlihat sangat membenci Yusuf.
"Kamu sebenarnya ada masalah apa sama umi? kenapa kalian saling menyakiti? jika umi salah aku minta maaf atas nama umi, tolong Winda katakan di mana, aku ingin menyelamatkan umi." Yusuf menutup matanya.
Senyuman Winda terlihat, menepuk pundak Yusuf meminta segera menikah agar segera bertemu dengan uminya.
Yusuf menganggukkan kepalanya untuk segera menikah, akan menuruti keinginan Winda dalam hal wajar.
"Setelah kita menikah jangan pernah kamu sentuh aku, sungguh menjijikan." Tangan Winda mengusap wajah Yusuf yang langsung menyingkirkan tangan Winda.
"Bersikap baiklah Yusuf, hanya aku yang tahu keberadaan wanita hina yang berani menantang aku, sampai kapan Winda akan tetap mengejar dia." Winda melangkahkan kaki melangkah kembali menemui seluruh keluarga.
Yusuf menahan rasa sakit hatinya untuk kesekian kalinya, hal yang paling penting uminya selamat, Yusuf ingin memohon agar uminya kembali ke jalan yang benar.
Winda menggenggam kuat tangannya, darah mengalir menetes memenuhi tubuh Winda masih terbayang, suara tawa wanita yang memukulinya.
__ADS_1
"Kamu pernah berkata, jika harga aku hanya ratusan ribu. Jika memang aku hebat coba kalahkan kamu, temukan keberadaan kamu, tunggu aku datang menepati janji perempuan sialan." Winda sengaja menjadikan Yusuf suaminya.
Winda akan menghancurkan hidup Yusuf sama hancurnya seperti ibunya, kenyataan Yusuf berstatus menikahi musuh dari ibunya. Anak semata wayang yang menjadi pelindung antara ibu kandung dan istri sah.
Seluruh keluarga masih menunggu Winda dan Yusuf, Wildan sudah menyetujui lamaran, tapi mendadak pergi tanpa mengatakan apapun.
Vira juga menyetujui lamaran, tapi dengan syarat Winda juga menyetujui menikah secara bersamaan.
Vira dan Winda pernah bermimpi menikah gabung, lalu bulan madu sama-sama, pesta kapal bersama seluruh keluarga.
Viana tidak mempermasalahkan keinginan Vira, Reva juga setuju saja jika putra putri kembarnya menikah bersamaan.
Winda berlari langsung tersenyum menatap Vira yang menunggunya dengan ekspresi tegang. Yusuf juga berjalan sambil tersenyum.
"Di mana Wildan?" Yusuf tidak melihat Wildan lagi.
"Dia pergi ke villa, mungkin ada pekerjaan." Vira tersenyum manis.
"Bagaimana Yusuf? Bima tersenyum meminta Yusuf duduk.
Senyuman Yusuf terlihat menatap Winda yang juga tersenyum manis. Bella dan Vira saling pandang sangat mengerti ekspresi Winda jika dia mengancam Yusuf.
"Yusuf siap bertunangan dengan Winda, kami sepakat untuk menikah."
"Kapan kalian siap menikah?" Rama menatap Yusuf yang bicaranya sangat lembut.
"Secepatnya uncle, Yusuf sudah siap kapanpun keluarga dari pihak wanita ingin dilamar, tapi Yusuf juga binggung harus bagaimana mengatakannya?" Yusuf terdiam mengatur napasnya.
"Kamu tidak memiliki keluarga yang bisa menjadi saksi?" Reva tersenyum langsung memeluk Yusuf.
Mata Yusuf terpejam, luka yang tidak pernah terobati. Keluarga bahagianya hancur, senyumannya bersama abinya yang selalu berkeliling dunia hanya kenangan, kasih sayang uminya juga sudah lenyap bersamaan pengkhianatan.
Segala cara sudah Yusuf lakukan untuk mencari keluarganya, tapi tidak ada satupun petunjuk.
"Sudah jangan memikirkan apapun lagi, jika sudah waktunya kamu bisa menemukan mereka. Menetap di satu negara jangan berpidah terus." Reva mengusap wajah calon menantunya.
Reva memeluk Winda gemes, putri kesayangannya akhirnya akan menikah.
"Kapan Vira dan kak Wil menikah?" Winda menatap Vira.
__ADS_1
"Kita menikah setelah Bella menikah." Vira mencubit pipi Winda.
Tatapan Winda binggung, mengerutkan keningnya. Yusuf juga sama bingungnya.
Reva akhirnya mejelaskan jika setelah penikahan Bella dan Tian, mereka semua akan kembali ke Indonesia untuk persiapan pernikahan twin W dengan pasangan masing-masing, setelahnya keluarga akan liburan berkeliling kota menggunakan kapal laut.
"Tunggu, jadi Winda dan kak Wildan nikah barengan. Memangnya boleh?" Winda menatap binggung.
"Kenapa tidak boleh? boleh sangat boleh." Reva juga ragu langsung menatap Bima.
"Mami pernah mendengar istilah adat, jika dua bersaudara tidak boleh menikah di tahun yang sama, salah satunya harus mengalah." Winda menyakinkan Maminya.
Reva langsung cek gogeling untuk mempertanyakan ucapan Winda, tapi Winda sudah melangkah pergi bersama Vira dan Bella meninggalkan Maminya yang selalu mereka kerjain.
"Memangnya tidak boleh Win?" Bella juga masih binggung.
"Boleh kak Bel, ada juga wanita kembar, pria kembar menikah bersamaan tidak ada masalah hanya saja terasa aneh." Winda merangkul Vira yang sedari tadi diam.
"Winda, kamu mengancam Yusuf menikahi kamu. Jangan bohong Winda, kita mengenal kamu sejak kecil, sangat tahu kebiasaan kamu." Vira meminta penjelasan.
Billa langsung datang, menatap Winda tajam. Billa memperingati jika penikahan jangan dianggap main-main. Menikah untuk bahagia bukan balas dendam.
"Ada apa sebenarnya Bil?" Vira yakin Billa menyimpan rahasia Winda.
"Kalian ingat saat Winda menghilang seharian, Wildan sampai demam dilarikan ke rumah sakit alasannya karena Wildan bisa merasakan jika Winda sedang ...." Billa menghentikan ucapannya.
"Apa?" Bella dan Vira emosi menunggu.
"Ayo katakan Winda!" Billa berteriak memegang bahu Winda.
"Umi Yusuf menjual aku kepada lima lelaki untuk balas dendam, aku dipukuli dan ya begitulah." Winda tersenyum langsung melangkah pergi.
Vira dan Bella langsung gemetaran, Billa memejamkan matanya.
"Winda di ...." Vira menutup mulutnya.
"Tidak mungkin, saat kita menemukan Winda dia tidak terluka sedikitpun, hanya basah kuyup." Bella membuang pikiran buruk.
***
__ADS_1