SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 HUTANG JET PRIBADI


__ADS_3

Semuanya berkumpul di bandara, Tian sedang bicara dengan para petugas yang akan menemani perjalanan mereka. Setelah Tian selesai, langsung pergi mendekati Jet untuk masuk ke dalam.


Karin banyak mendengarkan Kasih soal perbedaan Jet pribadi dan pesawat umum, Kasih menjelaskan sedetail-detailnya agar Karin tidak sembarang saat naik pesawat umum. Karin yang cerdas langsung mengerti semua ucapan Kasih.


Kasih ingin duduk bersama Karin, tapi langsung ditarik oleh Ravi untuk duduk bersamanya. Karin langsung tertawa melihat Kasih akhirnya duduk di depannya bersama Ravi.


Tian duduk bersama Erik, Wildan bersama Karan. Bibir Karin langsung manyun menatap yang lainnya.


"Tidak ada yang ingin duduk bersama Karin?"


Semuanya langsung menatap ke arah Karin, Tian langsung mendorong Erik untuk duduk menjauh. Erik langsung pindah duduk sendiri. Wildan juga langsung pindah duduk sendiri.


Karena Karin protes akhirnya duduk sendirian, Karin langsung berjalan duduk di samping Karan, bersebelahan dengan Kasih.


Ravi tersenyum melihat Karan dan Karin yang saling cuek, Karin melihat semuanya tidur, tidak ada yang menikmati perjalanan.


Beberapa pramugari mendekati Karin, memberikan makanan dan minuman. Kasih membuka matanya, melihat Ravi yang meletakkan kepalanya di bahu, tangannya menggenggam erat.


"Karin kenapa kamu tidak tidur?"


"Memangnya wajib tidur ya kak? Karin ingin menikmati perjalanan." Karin menyuapi Kasih makanan.


"Sudah kamu saja yang makan, kak Kasih masih kenyang."


"Kak harga Jet ini pasti mahal sekali, ukurannya besar, nyaman sekali."


"Mungkin, 600 sampai 800 m." Kasih tersenyum.


"What?!" Karin teriak kuat, langsung berdiri membuat yang lainnya bangun.


"Kamu kenapa teriak?" Karan melotot melihat Karin yang kembali duduk, Kasih menahan tawa.


"Pesawat ini harganya hampir 800 M." Karin masih kaget.


"Dari mana kamu tahu?" Tian langsung menatap serius.

__ADS_1


"Kak Kasih."


"Kamu tahu dari mana sayang, jangan sampai Bunda tahu." Ravi tersenyum melihat Kasih.


"Kak Tian membelinya hutang ya?" Kasih menatap Tian.


"Salahkan suami kamu, dia yang membuat kak Tian punya hutang hampir 300 M. Melunasinya sampai dua tahun, bahkan aku tidak bisa membeli mobil impian."


Ravi tertawa, saat Tian kehilangan banyak uang karena Jet pribadi. Merampas seluruh kartu Ravi untuk meminjam uang, bahkan Wildan yang masih polos harus menyumbang, Erik juga kehilangan uang, bahkan Windy juga menyumbang 5 M m, karena ulah Ravi. Demi agar tidak ada yang tahu, terpaksa harus menggunakan uang pribadi, tidak bisa meminjam uang perusahaan.


Ravi kehilangan uang lebih dari 200 M karena Jet, walaupun akhirnya di bayar kembali setelah keuangan Tian membaik.


"Candaan kalian tidak lucu, coba Karin sudah jual ginjal, jantung, mata, kepala, tulang tidak mungkin bisa membeli sayap Jet." Karin tertawa bersama Kasih.


"Kalian tidak tahu aku hanya memegang uang 5rb karena hal itu, seharian tidak makan hanya membeli roti." Tian tertawa melihat penderitanya karena Ravi yang jahilnya kebangetan.


"Ambil hikmahnya saja kak, sekarang bisa memiliki Jet termahal dengan uang hasil kerja sendiri."


"Sayang, kak Tian mulai bekerja di perusahaan Uncle saat umur 15 tahun, dia mengumpulkan uang sejak muda, tapi langsung lenyap, memiliki banyak hutang, hanya memegang uang lima ribu. Tian tidak bahagia memiliki Jet, dia takut ketahuan Bunda jadi Jet tidak pernah pulang ke sini, tapi bekerja di LN."


Kasih Karin langsung tertawa, seorang Milioner muda seperti Tian paling takut dengan Bundanya, salutnya Kasih dia tetap tidak menggunakan uang perusahaan demi kebutuhan pribadi.


Karan berusaha mengangkat kepala Karin untuk menjauh, tapi tangannya langsung memeluk. Karan berdecak kesal, takutnya terjadi salah paham.


"Karin bangun, pelukan kamu terlalu kencang."


Wildan yang berada di depan Karan langsung melihat ke belakang, tersenyum melihat Karan kesulitan melepaskan pelukan Karin, Erik yang berada di belakang juga melihat Karan tersenyum mengejek.


Ravi juga terbangun, melihat Karan, menutup kembali matanya, memeluk erat Kasih yang juga terlelap.


Pelukan Karin berhasil di lepaskan, Karan bergerak ingin pindah duduk. Saat melihat Karin kedinginan Karan duduk kembali, menyelimuti Karin. Merangkulnya, meletakkan kepala Karin di dadanya.


"Dasar wanita kampung, merasakan dingin seperti ini saja sudah menggigil." Karan memejamkan matanya.


Setelah berjam-jam, pengumuman untuk untuk segera landing, membangunkan semuanya. Karin menatap Karan langsung melihat ke arah lain.

__ADS_1


Kasih merasakan badannya sakit semua, berbeda dengan Karin yang semangat untuk turun melihat Negara Amerika yang mempunyai banyak tempat wisata.


Semuanya langsung turun, meninggalkan bandara menunggu koper masing-masing. Kasih menghirup udara, Karin duduk menunggu sambil terus tersenyum.


Ravi membawa kopernya, Kasih mengambil satu langsung mengandeng tangan Ravi. Karan menyerahkan koper Karin yang menyambut langsung melangkah pergi.


"Karin, kamu tidak bisa mengatakan terima kasih." Karan menatap kesal, Erik tertawa langsung merangkul pundak Karan.


"Sudahlah bro, wanita memang tidak peka, ingin dimengerti tapi tidak pengertian." Erik tertawa bersama Karan.


Bergabung bersama Ravi, Erik, Tian juga Wildan membuat Karan merasa keluarga lagi, tidak ada perbedaan sama sekali. Bahkan orang tua juga menyambut dengan baik, menggagap seperti putra sendiri, moments yang sangat Karan rindukan sejak kehilangan kedua orangtuanya.


Tian menghubungi Bella, nomornya aktif kembali setelah di blokir, tapi tidak mendapatkan jawaban. Sambil menunggu mobil yang Erik siapkan semuanya duduk santai.


"Rik, di mana mobilnya?" Ravi yang sudah membutuhkan kasur mulai kesal.


"Entahlah, sabar saja dulu, mungkin dia pecah ban, atau lepas rantai."


"Memangnya kita pakai sepeda di sini? kapan sampainya?" Karin menatap Erik.


Mendengar pertanyaan Karin, Erik langsung spontan tertawa, hal konyol Karin bisa menanggapi serius ucapan Erik. Kasih mengusap kepala adiknya yang polos melebihi dirinya.


"Wil, cari mobil lain saja." Ravi sudah malas menunggu, belum lagi perutnya lapar butuh asupan gizi.


"Sabar saja dulu Ak, mungkin mobilnya lelah. Hargai perjuangan para pencari rezeki."


"Sayang, jika pencari rezeki tidak mungkin terlambat. Biarpun terlambat harus memberikan kabar, kecuali tidak sadarkan diri. Kita tidak punya waktu menunggu sampai sadar."


Kasih akhirnya diam, tidak ingin membantah Ravi lagi. Tidak lama beberapa mobil sewa datang, Ravi menatap sinis, Wildan lebih sinis lagi.


Kasih menatap Ravi yang menakutkan, langsung melangkah mendekat meminta penjelasan, Tian menahan Ravi saat melihat baju sobek ada tetesan darah.


Tian meminta supir kembali membawa mobil untuk ke rumah sakit, Tian juga membayar full sesuai perjanjian. Dengan sopan mengatakan jika adiknya yang akan menjemput.


Supir menyalami tangan Tian, lanjut Ravi langsung cepat pergi meninggalkan bandara. Ravi keningnya berkerut, jiwa baik Tian tidak tertolong lagi.

__ADS_1


Karan menghela nafas, seorang pemabuk yang ugal-ugalan. Tian memberikan uang kepada orang yang salah.


***


__ADS_2