SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 TANGISAN TERAKHIR.


__ADS_3

Di kediaman Prasetya sudah sibuk persiapan untuk keberangkatan acara syukuran twins R, Daddy Rama dan Mommy Vi sudah pergi lebih dulu bersama Kasih, keluarga Kasih, juga twin.


Reva Bima sekeluarga juga sudah berangkat beriringan dengan Jum sekeluarga, bahkan Laura juga ikut bersama untuk menyambut acara syukuran Rasih dan Raka.


Septi juga seharusnya sudah berangkat, tapi masih tidak tega meninggalkan Erik seorang diri, berhari-hari Erik berdiam di kamar.


Berkali-kali Septi meminta Erik untuk segera berangkat ke Mansion, tapi menolak. Dia akan berangkat saat hari H, Erik juga cuti bekerja, menolak bertemu siapapun.


Septi merasakan khawatir langsung menghubungi Windy, memintanya menghubungi Ravi untuk membujuk Erik agar segera pergi ke Mansion, tidak tega meninggalkannya seorang diri.


Windy yang mendengar kabar Erik langsung berhenti di jalan, meminta suaminya pergi duluan, Windy akan kembali menjemput Erik untuk pergi bersama.


Mobil Tian juga dihentikan, langsung meminta putar arah, Ravi juga meminta Kasih pergi lebih dulu. Mencium pipi kedua anaknya.


"Pak hati-hati, jalan santai saja soalnya ada twins." Ravi mengingatkan supir, Kasih dibantu oleh Laura untuk menggendong anaknya.


"Aak juga hati-hati, nanti Kasih hubungi Aak kalau sudah sampai Mansion. Aak juga hubungi Kasih." Kasih mencium tangan Ravi, mencium kening juga kedua pipinya.


Windy juga mencium putranya yang sedang terlelap tidur, mencium suaminya. Steven juga mengingatkan Windy untuk mengabarinya.


Tian putar arah bersama Ravi dan Windy untuk menjemput Erik yang ternyata sedang mengurung diri. Seharunya hari ini menjadi hari pernikahan, menjadi hari bahagianya, tapi semua sudah berakhir.


Septi mengetuk pintu, masuk ke dalam kamar Erik melihat suara air dari dalam kamar mandi.


"Erik, Mama Papa pergi ke Mansion duluan ya sayang." Septi mendengar suara air mati.


"Iya ma, besok Erik menyusul. Hari ini masih ada pekerjaan." Erik menghidupkan kembali air mengguyur tubuhnya.


Septi langsung pergi bersama Ammar, menjemput Erwin terlebih dahulu, sekaligus menemui keluarga yang juga bersiap untuk pergi.


Selesai mandi Erik duduk di ranjang tidurnya, mengeluarkan bingkai foto, kenangan masa kecil, foto pertama Erik bersama keluarga besar, juga terlihat foto Billa kecil yang mencium pipinya.


Air mata Erik kembali menetes, sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan untuk menangis pernikahan yang batal, kenyataan Billa meninggalkannya.

__ADS_1


"Ya Allah seharusnya ini menjadi hari bahagia kami, hari yang selalu hamba mimpikan, hari yang selalu aku nanti, tapi kenyataan kita tidak diizinkan bersama, sekuat apa kesabaran yang aku miliki sehingga terlihat begitu kuat untuk menerimanya." Erik memeluk foto masa kecil mereka.


Erik mengambil kotak memasukkan foto, juga mengambil cincin pertunangan, melepaskan cincin di jarinya, memasukkan bersama dengan foto, Erik juga mengeluarkan ponsel memasukkan dalam kotak.


Keputusan terakhir Erik memulai semuanya dari awal, mengundurkan dari dari rumah sakit, Erik akan pergi menerima tawaran untuk menjadi Dokter di desa pedalaman yang sulit diakses.


Di sana juga tidak memiliki jaringan, mungkin menjadi tempat yang paling tepat untuk menenangkan diri.


Mata Erik melihat ke arah jam dinding, seharusnya acara ijab Kabul sudah selesai. Billa sudah menjadi istrinya, tapi kenyataan pahit yang Erik harus terima, dia dan Billa tidak berjodoh.


Erik menendang kotak ke luar kamarnya, meminta maid membuangnya. Langsung masuk ke dalam kamar untuk tidur, menenangkan hatinya yang sedang tersayat.


Suara tangisan Erik kembali terdengar, maid yang menjaga Erik sejak kecil juga merasakan kesedihan melihat tuan mudanya menangis sesenggukan.


"Tuan muda, Allah akan mengganti kesedihan tuan dengan kebahagiaan suatu hari nanti. Tuan harus ikhlas, semua orang menyadari kesedihan Tuan." Bibik duduk di depan pintu kamar Erik sambil menangis.


***


"Kak Win, bagaimana rasanya batal menikah?" Tian menatap Ravi yang melihat ke arah Windy.


"Hancur sangat hancur, jika kita ditinggalkan seseorang karena kematian mungkin sudah takdir, tapi jika ditinggalkan dengan alasan masalah yang tidak bisa terselesaikan, sudah pasti salah satu pihak terluka, patah hati, juga sulit bertahan."


"Apa mungkin hubungan Erik Billa bisa kembali seperti awal sebelum mereka memutuskan untuk saling mencintai." Ravi menghela nafasnya, Erik di depannya terlihat baik, tapi hari ini mungkin hari paling hancur bagi Erik.


"Mereka tidak akan kembali seperti duku Ravi, kak Win yakin Erik akan pergi jauh meninggalkan kita semua, mencari keheningan untuk mengobati lukanya yang tidak memiliki obat." Windy meneteskan air matanya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan kak Win?" Ravi memijit pelipisnya menatap Windy yang juga tidak bersemangat.


Mobil sampai di kediaman Erik, belum sempat Ravi keluar dari mobil, bibik sudah membuka pintu sambil menangis.


"Nona Windy, tolong tuan muda kasian dia dari tadi menangis."


"Kamar di kunci Bi?"

__ADS_1


"Iya non."


Ravi Tian sudah berlari dari pintu samping, memanjat pagar yang cukup tinggi untuk naik ke atas balkon. Saat kecil mereka sering naik balkon rumah untuk kabur dari Windy jika datang membawa boneka.


Tian membuka pintu melihat pakaian Erik sudah dalam koper, sedangkan Erik menyembunyikan kepalanya di dalam selimut. Ravi membuka pintu untuk Windy yang langsung berlari masuk membuka selimut tebal yang menjadi tempat Erik sembunyi.


Jendela kamar Windy buka agar udara masuk, Erik masih tengkurap mengabaikan Ravi yang berusaha untuk membangunkannya.


"Rik, bangun. Kita tahu kamu sedih karena hari ini, tapi jangan terlihat seperti orang yang tidak punya semangat hidup lagi. Kita semua ada disisi kamu, walaupun tidak bisa mengobati luka kamu." Ravi memaksa Erik untuk duduk.


"Erik, jika kamu hancur karena hari ini, lalu banyangkan perasaan Billa. Kamu pikir dia pergi karena bahagia, dia pergi karena terluka, hatinya sudah sakit dari awal." Windy menangkup wajah Erik yang sembab.


Tangan Erik memukul dadanya, menatap Windy sambil menangis. Hari yang dia harap menjadi hari tangisan bahagia, sudah berubah menjadi air mata kesedihan.


Erik menyadari bukan hanya dirinya yang terluka, tangisan Erik karena menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaga nama baik keluarga, juga mengubah kebahagiaan menjadi air mata.


"Sakit kak, dada Erik sakit." Erik memeluk erat Windy yang juga menangis.


Ravi Tian juga mendekat memeluk Erik dan Windy sambil menangis bersama, tangisan terakhir Erik yang menyayat hati Windy, Ravi dan Tian.


"Bagaimana kami mengurangi beban luka kamu Rik?"


"Maafkan Erik, ini tangisan terakhir, Erik sudah ikhlas, sudah menjadi takdir Erik untuk menerima kegagalan hari bahagia." Erik menghapus air matanya.


Menarik nafas panjang, menenangkan pikirannya, mengatur nafasnya. Erik tersenyum melihat Windy, Ravi dan Tian.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2