
Erik mengambil dua foto, memperhatikannya dengan saksama. Melihat perbedaan dari keduanya, tapi Erik tidak mengerti hanya bisa mengerutkan keningnya.
"Erik tidak mengerti bedanya, hanya tahu cara menyobeknya." Erik tersenyum melihat Steven.
"Kamu tidak bisa bilang ini editan Erik, tapi bisa juga nyata."
"Aiishh kak Stev, langsung saya tadi Erik hampir jantungan. Bicara sama Erik jangan berputar-putar." Erik mengaruk kepalanya.
"Kak Stev bicara dengan kamu saja Billa, Erik sedang tidak konsentrasi." Steven menatap Billa yang mengagukan kepalanya.
"Kamu percaya dengan foto ini, jika Erik berciuman di depan umum?" Steven mengangkat foto.
"Jangan diperjelas kak Stev, tidak enak ada Bunda." Erik nyegir.
"Masalahnya ada apa dengan ciuman? memangnya bisa menyebabkan hamil? Billa tidak peduli karena semuanya masa lalu kak Erik, dia pria dewasa. Paling penting bagi Billa, kak Erik belum pernah menikah, tidak memiliki istri atau anak, bukan seorang penipu, bukan orang yang tidak taat beribadah. Jadi masalahnya di mana?" Billa menatap tajam.
"Kamu wanita paling dewasa yang kak Stev temui." Steven mengusap kepala Billa.
"Windy?"
"Kamu wanita paling manja yang aku temui, melebihi Wira." Steven tersenyum.
"Jadi sia-sia aku meminta bantuan pengacara hebat. Bagaimana jika dia datang mengaku hamil, tes DNA anak aku? seperti kejadian Ravi." Erik melihat semua orang.
Jum langsung mengambil bantal memukuli Erik yang meminta ampun, Ravi menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah tahu dari awal jika semuanya sandiwara, kamu sudah terbukti berarti positif anak kamu?" Erik menatap Billa yang menatap tajam.
"Sudahlah berhenti bercanda, cepatlah kak Erik selesaikan." Billa menghela nafas kasar.
"Tidak sabar lagi ya sayang untuk menikah." Erik tersenyum mengedipkan matanya.
Bibir Billa langsung cemberut, melangkah pergi untuk melihat twin. Erik sudah tertawa langsung merangkul Ravi dan Tian.
"Ayo kita pergi." Erik melangkah, tapi kedua tangannya dilepaskan.
"Ravi tidak ikut-ikutan, maaf ya Rik. Aku sudah punya mainan baru." Ravi mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Kak Tian juga tidak punya waktu Rik, lagian salah kamu sendiri memiliki banyak pacar." Tian mengangkat kedua bahunya.
"Bilangnya sahabat, sesuatu yang dikerjakan bersama-sama hasilkan akan cepat selesai, juga tidak terjadi kesalahpahaman." Erik melipatkan kedua tangannya.
Ravi Tian menggagukan kepalanya, Erik tersenyum langsung merangkul melangkah keluar. Windy langsung berlari memeluk lengan Tian ikut melangkah pergi.
"Windy, balik sekarang." Steven menatap tajam.
"Kita dulu waktu kecil selalu berempat, Windy, Tian, Erik dan Ravi. Windy juga ingin terlibat." Windy tersenyum manja.
"Tidak perlu ada Windy, Tian, Erik, Ravi karena Daddy sendiri bisa membereskannya." Steven mulai bernada tinggi.
"Seriusan kak, yeee berarti kita tidak perlu berbuat apapun. Twins Daddy datang." Ravi langsung lompat berlari ke lantai atas.
"Terima kasih kak Stev, Tian pergi ke kantor dulu." Tian langsung melangkah keluar.
"Billa, ayo kita keluar jalan-jalan, masalah sudah selesai, kak Stev yang akan mengurusnya." Erik langsung masuk mencari Billa.
"Ehhh tunggu, kenapa jadinya suami Windy yang mengurusnya, ini masalah kamu yang memiliki banyak pacar Erik." Windy teriak, cemberut melipat tangannya di dada.
"Mami, Windy dari dulu memang seperti ini." Windy langsung memeluk Steven meminta pembelaan.
***
Erik sedang berada di dalam ruangannya, Billa mengetuk pintu langsung memeluk dari belakang, tersenyum menyapa Erik. Seseorang menatap keduanya tajam, sangat membenci Billa yang baru saja muncul, tapi sudah mendapat hati Erik.
"Lagi sibuk kak?" Billa tersenyum duduk di atas meja.
"Sedikit Bil, menyelesaikan pekerjaan sebelum kita cuti lama untuk menikah." Erik tersenyum mengelus wajah Billa.
"Kak sudah dihubungi oleh Kak Stev belum?"
"Sudah sayang, sebentar lagi ya. Kak Erik minta maaf jika menunda, soalnya menurut pencarian kak Erik Ibunya sedang sakit, nanti jika tahu putrinya hamil takutnya menyakiti Ibunya, memperburuk keadaannya." Erik menggenggam tangan Billa.
"Kak, jangan terlalu baik. Jika kak Erik menjaga banyak hati, akan menyakiti hati Billa kak. Kak Erik harus ingat jika Billa punya hati, bisa terluka. Billa juga memiliki batas kesabaran." Billa mengelus rambut Erik, nada yang lembut, tapi penuh ancaman.
"Baiklah, hari ini akan kak Erik selesaikan. Pernikahan kita akan berjalan sesuai rencana. Maaf Billa, jika tindakan kak Erik mengecewakan kamu." Erik menciumi tangan Billa.
__ADS_1
"Tidak kak, Billa bicara seperti ini agar tidak menjadi pertengkaran dalam hubungan kita, aku bukan lagi adik kak Erik. Jika kak Erik tidak ingin bertindak, Billa bisa kak bertindak cepat." Billa menangkup wajah Erik, langsung pamitan untuk pergi.
Billa berhenti menutup pintu, mata Billa melirik ke arah koridor hanya tersenyum lucu, langsung melangkah pergi dengan santai.
[Kak Bel benar, kak Erik terlalu baik sehingga mudah dimanfaatkan. Selama ini dia aman dari para wanita karena ada Wildan.] Billa menghentak kakinya.
[Baiklah Bil, kami akan segera kembali. Kita bereskan mereka sampai ke akarnya, sekalian membereskan seluruh mantan kak Tian.] Bella menutup panggilan Billa.
Tatapan Billa tajam melihat seseorang mengikutinya, terlihat dari kaca di setiap ruangan Billa berusaha untuk tenang, seseorang coba menenangkan Billa untuk tetap santai.
[Wildan, dia ingin membunuh kak Billa ya?] Billa tidak terbiasa harus bertengkar demi laki-laki.
[Santai saja kak Billa, dia tidak akan menyakiti kak Billa sekarang, mendekati ijab qobul baru beraksi. Dia hanya ingin mengancam kak Bil.]
[Jangan nanti-nanti Wildan, seperti kamu bisa membaca pikiran orang saja.]
[Bertahan sebentar saja kak, hari ini Wildan langsung balik.]
Billa tersenyum langsung melihat ke belakang, seorang Dokter menyapa Billa, Billa juga langsung menyapa. Senyum licik terlihat langsung melewati Billa, sedangkan Billa menatap tajam berusaha untuk tenang.
Wildan menghela nafas, melihat Billa memegang dadanya langsung melangkah masuk ke dalam ruangannya.
"Kak Billa memang pintar, tapi sangat penakut. Kak Bil harus belajar berani untuk mempertahankan sesuatu hak milik kak Bil, Wildan sudah waktunya melepaskan kak Billa, karena ada lelaki hebat yang bisa menjaga kak Bil. Hanya sisa tiga wanita lagi yang harus aku awasi." Wildan langsung tersenyum, melangkah pergi menuju ruangan Erik.
Seseorang menahan pundak Wildan, sebuah senjata tepat di belakang perut Wildan, senyum Wildan terlihat menggakat tangannya melangkah mengikuti keinginan seseorang yang berada di belakangnya.
Karan melihat Wildan hanya tersenyum, Wildan bisa pergi dan datang tanpa pemberitahuan. Tidak ada yang bisa mengerti pergerakannya, hari ini dia bisa di depan mata, tapi sekilas bisa berada di luar Negeri.
"Wil kamu sulit dimengerti, terbuat dari apa kepala dan kecerdasan kamu." Karan meninggalkan rumah sakit, membiarkan Wildan menyelesaikan sendiri.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA
***
__ADS_1