SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
KETULUSAN HATI


__ADS_3

Viana duduk santai di kursi kebesaran kakaknya Andri yang sekarang di gantikan adiknya Verrel. Lama Viana menunggu Verrel kembali, Vi yang sedang hamil muda selalu merasakan kantuk dan mudah lelah.


Karena lelah menunggu Viana masuk ke kamar khusus tempat istirahat, tidur sebentar. Viana terbangun saat mendengar perdebatan Verrel dengan seorang wanita. Mereka sedang membahas bisnis dan pertemuan yang baru selesai.


Pintu terbuka sedikit, Vi tersenyum melihat Verrel yang mempunyai kecerdasan sama sepertinya. Sisi juga partner kerja yang hebat, selain mulutnya yang bobrok tingkahnya yang ugal-ugalan. Dia sosok orang yang profesional, Sisi bisa membedakan hubungan pekerjaan dan pribadi.


"Baiklah pak! saya permisi karena ada pertemuan dengan klien." Sisi melangkah ingin pergi tapi di tahan Verrel.


"Sisi, kamu tidak mau mempertimbangkan hubungan kita? aku paham kita baru kenal, tapi aku nyaman Si."


"Maaf pak Verrel, kita masih jam kerja. Tunggu 5menit lagi jam istirahat baru kita bahas."


Mereka berdua diam sambil melihat jam, Viana hanya menahan tawa melihat tingkah Sisi yang konyol.


"Verrell, Lo adiknya sahabat gue, Lo juga pewaris Keluarga Arsen semuanya berada di tangan lo. Perempuan yang mendampingi Lo harus sejajar dengan keluarga kalian. Gue gak mau hubungan dengan Viana akan retak saat pertengkaran kita suatu hari nanti."


"Mengapa harus takut dengan sesuatu yang belum pasti,"


Verrell menarik tangan Sisi dan menguncinya di dekat meja, Sisi tidak bisa bergerak dan hanya bisa memegang dada Verrel.


"Berani Lo nyentuh sahabat gue, patah leher Lo Verrel."


"Kak Vi!" Verrel langsung teriak kaget, begitupun dengan Sisi yang diam terpaku.


"Ternyata benar kata Jum, kamu naksir Sisi bukannya baru patah hati, mudah banget move on. Jangan jadikan Sisi pelarian akan berurusan dengan kakak."


"Aku serius kak, Sisi cukup beri kepastian sisanya waktu yang menjawab."


"Verrel, Sisi seorang yatim piatu, dia takut berurusan dengan orang kaya seperti kalian. Karena ini sampai sekarang jomblo banyak takutnya, tapi jika kamu serius kakak dukung."


"Seriusan kak," Verrel melangkah memeluk Viana.


"Beraninya Lo meragukan kesetiaan keluarga Arsen," Viana mencubit pelan pipi Sisi.


"Ya maaf Vi, Lo tahulah asal-usul gue!" Sisi menundukkan kepalanya meneteskan air matanya, sambil memeluk kuat Viana.

__ADS_1


"Sisi kalau Rama tahu Lo peluk gue sekencang ini pasti dia marah, ada anaknya dalam perut gue." Cepat Sisi melepaskan Vi dan mengelus perut Vi.


***


Viana ke luar kantor Verrel dengan di dampingi Verrel, Vi hanya menjalankan tugasnya sebagai kakak untuk menasehati Verrel walaupun mereka baru bertemu.


Mobil Jum sudah terparkir menunggu Viana, hari ini jadwal perawatan ke-tiga wanita heboh. Di perjalanan Vi dan Jum sibuk tertawa dengan cerita konyol mereka.


Sampai di tempat tujuan Reva sudah menunggu bersama Septi, Jum mengandeng tangan Viana agar berhati-hati.


"Tumben Septi mau gabung, biasanya tiap hari bau bawang," tawa Viana mengejek Septi yang sudah cemberut.


Mereka melakukan perawatan kecantikan seperti biasanya, selesai perawatan lanjut makan.


"Rakus banget Lo ka Vi," Reva mengambil stick kentangnya langsung di sembunyikan.


"Wajar yang makan dua orang, jadi harus banyak, sabar ya nak aunty Reva memang pelit." Viana mengelus perutnya.


"Ya udah makan punya Jum kak Vi, ini rasanya juga enak." Jum menyerahkan sosis bakar.


Septi mendelik ngeri, Reva menganga hanya Jum yang tersenyum dan melangkah mendekati pria yang berbadan besar.


Jum mengutarakan keinginan Viana karena sedang hamil, bapak itu memandang ke arah Vi dan menatap tajam.


"Kamu boleh pegang kumis saya, tapi bole saya foto sama si cantik ini." Bapak memandangi Reva yang sibuk dengan ponselnya, pura-pura tidak mendengar.


Septi menendang kaki Reva, yang langsung melotot dan menatap Viana tajam marah dalam hati. Dengan terpaksa Reva berfoto manyun, Septi sibuk membuat video di kirimkan ke Rama, setelah Reva bapak juga ingin berfoto dengan Jum. Membuat Septi semakin sakit perut menahan tawa. Selesai foto Viana memegang kumis dan menariknya kuat membuat suara teriakan.


Viana berlari keluar karena kaget, Reva juga lari langkah seribu begitu juga Jum yang langsung mundur menjauh. Septi tertawa terpingkal-pingkal sambil menonton ulang video konyol yang baru dia dapatkan, cepat Septi mengirimkan ke Rama, Bima juga Bisma.


***


Selesai membuat masalah, lanjut mencari cemilan Viana melihat Tya kesulitan mendorong keranjang belanjanya. Jum berlari menolong Tya yang jalannya masih belum begitu normal, yang lainnya juga menyadari kehadiran Tya yang menyedihkan.


"Tya, Lo ngapain? menyusahkan diri sendiri."

__ADS_1


"Emhhh, tadi mau minta tolong Ivan tapi sedang meeting, tetangga ada yang baru melahirkan suaminya bekerja tidak ada yang memasak jadi aku belanja untuk memasakannya."


"Mau di bantu tidak?"


"Tidak Vi, sebentar lagi selesai. Aku hanya sulit berjalan karena sering kesemutan sisanya aktivitas aku normal."


"Kesemutan mata Lo soek, lihat kaki kamu mulai merah dan gemetar, pasti kamu baru bisa berjalan seharunya di kursi roda tapi memaksakan diri."


"Maaf!" Tya menutupi kakinya dengan rok panjang yang dia gunakan.


"Lo bisa tidak jangan menyusahkan sahabat gue, Ivan orang baik kenapa hidupnya sial harus merawat wanita cacat kayak Lo."


Tya meneteskan air matanya mendengar ucapan Septi yang sepenuhnya benar. Tya meminta maaf dan berusaha berjalan mendorong keranjangnya.


Septi langsung menahan keranjang dengan tatapan marah, Jum coba menahan Septi.


"Lo gak denger gue tadi bilang apa? duduk sekarang! kalian tunggu di sini aku mencari bahan masakan untuk ibu menyusui." Septi melangkah pergi yang di temani Jum.


Selesai belanja, semua belanjaan Chintya di masukan ke dalam mobil Septi yang membuat Tya binggung.


"Masuk mobil sekarang, gue antar pulang sekalian biar gue yang masak."


Viana dan Jum tersenyum, Reva juga menahan senyumnya. Dia bangga memiliki sahabat yang hatinya sangat baik, suatu hadiah indah memiliki Rama, Ivan, juga Septi sebagai sahabat sejatinya dan satu lagi Satya tapi dia sudah pindah negara bersama keluarga kecilnya.


Dua mobil berjalan beriringan, memasuki kawasan apartemen elit milik Ivan hasil kerja kerasnya selama ini.


"Kak Vi, hati Septi sangat baik!"


"Iya Jum, salut gue sama persahabatan suami gue yang mempunyai teman setia."


"Iya kak, Jum juga beruntung dekat dengan kak Vi dan Reva walaupun tidak normal. Apalagi Reva yang otaknya tipis." Tawa Jum dan Vi terdengar mengigat moments konyol Reva yang selalu jadi buli.


"Jum, awal gue ketemu Reva hasil cakar-cakaran. baju gue sobek kayak gelandang, rambutnya Reva sudah gimbal. Lucu banget kalau di ingat."


"Lucu sebagai kenangan ya kak Vi."

__ADS_1


***


__ADS_2