SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PERJANJIAN CINTA PERNIKAHAN


__ADS_3

Keheningan masih terlihat, Wildan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai Mansion sesudah mengantar Bella pergi menemui Tian.


Vira membuka jendela melihat ke arah luar, Winda juga melakukan hal yang sama melihat ke luar menikmati angin yang menerpa wajahnya.


Wildan melihat dua wanita yang duduk di belakang diam dengan pemikiran masing-masing, tidak ada hal yang bisa Wildan jelaskan.


Perlahan Winda tertidur, Vira langsung menahan kepala Winda agar tidak terbentur dengan kaca.


Vira meletakan kepala Winda di pahanya, memeluk tubuh Winda agar tidak terjatuh.


Tatapan mata Vira kembali melihat ke arah luar, tidak terasa waktu sangat cepat berlalu sehingga sekarang sudah waktunya dia menikah.


Vira menatap wajah Winda yang sama seperti dirinya, sedang berada dalam dilema harus menerima kebenaran soal diri mereka yang dijodohkan.


"Wildan, banyak hal yang harus kita bicarakan, tapi Vira tidak tahu harus memulainya dari mana." Vira memejamkan matanya.


"Aku tahu, tapi apapun pilihan yang kita ambil harus menerima resikonya." Wildan memperlambat laju mobilnya.


Senyuman Vira terlihat, ucapan Wildan ada benarnya. Pilihan apapun yang mereka ambil akan ada resikonya, sesuatu yang berat harus mereka lewati.


"Pernikahan bukan sesuatu yang sulit Vir, hanya saja kita, keadaan, perasaan membuat semuanya menjadi rumit." Wildan menatap tajam jalanan.


"Aku tahu kamu sangat menyayangi Winda, sangat terlihat saat Winda terbakar di dalam laboratorium bersama Yusuf. Kenapa kamu menyetujui pernikahan mereka Wil? kamu juga tahu betapa bencinya Winda kepada Yusuf." Vira melihat tangan Winda yang memar.


Wildan tersenyum, kasih sayangnya kepada Winda tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Mungkin kebahagiaan tercipta bukan atas keinginan seseorang, tapi diri sendiri. Orang tua hanya ingin yang terbaik bagi anak mereka.


"Hanya Yusuf yang bisa mengendalikan Winda, kamu mengenal Winda sejak kecil pasti sangat tahu karakternya."


"Banyak pria baik, suatu hari Winda akan menemukan cinta itu."


"Hubungan Winda dan Yusuf tidak beda jauh dengan kita, hanya bedanya aku tidak membenci kamu, tidak ingin menyakiti. Vira aku hanya ingin yang terbaik untuk keluarga kita."


"Sekalipun mengorbankan kebahagiaan kamu?" Vira menatap tajam.

__ADS_1


Vira dan Wildan berbicara berputar-putar, tidak mengerti ingin bicara apa.


"Mungkin aku bahagia, hanya saja tidak menyadarinya. Bisa saja aku terluka, tapi berpura-pura baik. Aku ada di posisi tidak bahagia, tidak juga bersedih." Wildan menatap Vira dari kaca spion mobil.


Vira memejamkan matanya, menyetujui ucapan Bella. Vira tidak ingin menyakiti dirinya untuk kesekian kalinya.


Mobil Wildan sampai di mansion, langsung melangkah keluar menggendong adiknya Winda. Vira terbangun melihat Wildan melangkah masuk membawa Winda, langsung berpura-pura tidur kembali.


Cukup lama Vira menunggu Wildan muncul, terasa ada tangan yang menggendong tubuhnya langsung membawanya masuk.


Vira mencium bau parfum Wildan tersenyum di dalam hatinya, sebenarnya Wildan juga memperhatikannya sama seperti yang lainnya.


Satu hal yang Vira ketahui, Wildan menganggapnya sama dengan Winda, Bella dan Billa. Perasaan Wildan hanya sebatas hubungan persaudaraan.


Wildan melangkah pergi, melihat kertas perjanjian di atas meja rias Vira. Duduk membaca isinya yang tertulis dengan jelas.


"Pernikahan di atas pernjanjian, pernikahan apa ini?" Wildan tersenyum tidak habis pikir dengan pemikiran Vira.


"Pernikahan yang suatu hari ada perceraian dan perpisahan, kamu sadar tidak Vir bisa menyakiti lebih dalam lagi. Menikah di atas kebohongan." Wildan meletakan kertas langsung melangkah pergi.


"Aku tidak mencintai kamu, begitupun sebaliknya. Apa harus kita mengatakan jika tidak saling mencintai? Mommy akan menjawab aku dan Rama menikah tanpa cinta." Vira menirukan ucapan Mommy nya.


Wildan duduk kembali mengambil kertas yang Vira tulis, membaca ulang isinya. Vira juga merasakan tidak nyaman dengan cara seperti ini, tapi tidak memiliki pilihan.


"Oke, jika dalam satu tahun tidak ada konflik diantara kita surat perjanjian ini dibatalkan." Wildan menyerahkan kepada Vira.


"Iya, aku hanya ingin menegaskan. Kamu tidak diizinkan menyentuh layaknya suami, aku juga tidak tertarik melayani keperluan kamu layaknya seorang istri, kamu tidak punya hak ikut campur dengan urusan aku, satu hal lagi aku berhak jatuh cinta dengan siapapun." Vira menatap Wildan.


"Terserahlah."


"Kamu tidak ingin menambahkan sesuatu."


"Jika dalam satu tahun tidak ada konflik perjanjian dibatalkan, jika dalam enam bulan kamu tidak memiliki pacar perjanjian dibatalkan. Satu hal lagi, jika dalam tiga bulan kamu yang menginginkan berhubungan, atau aku yang menginginkan atas dasar sama-sama menginginkan perjanjian batal." Wildan langsung melangkah keluar.

__ADS_1


Vira membaca ulang inti dari perjanjian, langsung menatap pintu yang tertutup.


"Apa maksudnya Wildan? berarti sejak awal pernikahan dia tidak menyetujui perjanjian, aku hanya memiliki waktu tiga bulan untuk menemukan lelaki pilihan hati, jika tidak kami bisa melakukan hubungan suami-istri." Vira langsung guling-guling.


Perjanjian yang dia rencanakan bisa Wildan putar balikan faktanya, Vira langsung menyobek isi kertas membuangnya.


"Terserahlah, apapun yang terjadi hadapi saja." Vira menarik selimut menutup kepalanya.


Wildan menutup pintu kamar Vira, berjalan menuruni tangga, langsung terduduk menatap ponselnya.


Melihat foto dirinya dan Vira sejak mereka kecil, wanita satu-satunya yang berani mendekatinya, selalu mengatakan cinta.


"Vir, apa mungkin cinta kamu sudah hilang sehingga kamu ingin mempermainkan pernikahan." Wildan menundukkan kepalanya.


Winda berjalan mendekati Wildan, duduk di samping kakaknya. Wildan menatap Winda yang tersenyum manis.


"Kak Wil menyukai Vira? sejak kapan?" Winda menatap Wildan.


"Tidak, kapan aku mengatakannya?" Wildan menatap ke depan, mengikuti arah pandang Winda.


"Kak Wil tidak bisa membohongi Winda, karakter kita memang berbeda, tapi Winda bisa merasakan saat kak Wil bahagia, sedih, marah, kecewa dan terluka." Winda meletakan kepalanya di pundak Wildan.


"Aku tidak mengerti dengan perasaan ini Win, ada rasa sakit saat Vira menginginkan pernikahan di atas perjanjiannya, sesuatu perjanjian yang tidak layak disetujui. Aku tidak mungkin membiarkan istriku berhubungan dengan lelaki lain." Wildan menghela nafasnya.


Winda tersenyum, menyemangati Wildan. Winda yakin ketulusan cinta bisa mengubah rasa tidak suka. Mami mengejar Papi bukan karena cinta, tapi hanya ingin membuktikan betapa hebatnya dirinya dalam menaklukkan hati, sama seperti Vira yang menunjuk cara melupakan cintanya.


Saat Mami mulai melepaskan, Papi yang berada dalam dilema antara nyaman dan menolak hati melangkah maju memecahkan perasaan, sehingga twins W hadir.


"Kak Wildan sedang dilema, belum menyadarinya antara cinta dan rasa saudara, berjalannya waktu kak Wil akan memecahkan teka-teki yang sedang ada di pikiran dan hati kak Wil." Winda tersenyum.


Wildan mengusap kepala Winda, ucapan Winda tidak ada salahnya untuk Wildan coba agar menyadari perasaannya.


***

__ADS_1


__ADS_2