
Seluruh keamanan terlihat, Bella tersenyum melihat beberapa orang mulai menyamar. Tapi Bella diam saja karena ada Wildan yang sudah berjaga, di sana juga ada Vira dan Winda yang ahli beladiri.
"Bel, apa yang harus kita lakukan? siapa mereka?" Tian menatap Bella yang tersenyum, menghirup udara segar.
"Kak, Uncle Bima secerdas apa ya? kenapa bisa mempunyai anak sehebat Wildan."
"Kamu juga hebat, masih muda tapi bisa mengoperasikan komputer dengan mudah, Billa juga hebat, kalian semua hebat tapi Wildan memang paling hebat." Tian tertawa, bibir Bella langsung manyun.
"Dek, setiap anak yang lahir ke dunia ini, mempunyai kelebihan juga kekurangan, jangan lihat lebihnya orang jika ingin membandingkan dengan diri kita, tapi contohlah kebaikan yang dia lakukan, untuk kita memperbaiki diri."
"Kak Tian, memang calon suami impian Bella."
"Bella, fokus kuliah ya dek, nikmatilah masa muda kamu, jika kita berjodoh tidak akan ada yang memisahkannya."
Billa tersenyum melihat Bella dan Tian sudah bisa tersenyum dan tertawa bersama kembali. Billa memeluk Tian, mata Bella langsung melotot.
"Kak Tian, jangan bertengkar lagi dengan Bel, kakak juga jangan pergi jauh dan lama, kasihan Bunda rindu kakak terus."
"Iya adikku sayang, kakak tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi."
Erik berlari menarik Tian, Bella dan Billa mengaga melihat tingkah Erik yang kekanakan.
"Ada apa?"
"Kenapa kamu menelepon aku, CCTV kompleks ada yang membobolnya. Wildan di mana?"
"Banyak banget pertanyaannya yang membobolnya Bella, Wildan sedang pergi."
"Ravi di mana?" Tian menggelengkan kepalanya, Erik menatap tajam langsung berlari menuju rumah Ravi. Sejak pagi Ravi tidak terlihat, dia juga tidak muncul saat keluarga rapat.
Bella langsung menghubungi Vira, setelah mengetahui keberadaan Vira Bella dan Billa langsung menyusul.
Jika di kediaman Prasetya, Viana sedang cemberut soal Vira, di kediaman Kasih juga sedang heboh Kasih menghilang, di tambah lagi Ravi juga menghilang. Keadaan semakin kacau.
"Wildan, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Seperti kita tidak perlu ikut campur, biarkan Ravi mengurusnya sendiri."
Wildan langsung melangkah kembali, Tian menatap wajah Wildan yang tanpa ekspresi, Vira dan Winda celingak-celinguk binggung.
__ADS_1
Mereka duduk santai di depan rumah Kasih, Cinta dan Tama ikut keluar bergabung duduk.
"Sampai kapan kita menunggu mereka kembali Wildan?"
"Entahlah," Wildan asik memejamkan matanya menikmati matahari terbenam, tidak ada yang berniat untuk pulang ke rumah sampai azan magrib terdengar.
Acara lamaran akan di adakan setelah sholat isya, keluarga Kasih kebinggungan menunggu Kasih yang tidak kunjung pulang, keluarga Ravi juga sama binggung menunggu di rumah Kasih.
Rama menatap di luar rumah, Tian baru tiba, lanjut Erik, Wildan juga baru kembali, geng Vira juga muncul. Cinta juga ikut bergabung menunggu di luar.
"Sampai kapan kita menunggu Ravi kembali?" Erik menatap yang lainnya.
"Sampai nanti!" Vira teriak, tapi langsung diam saat di tatap tajam oleh Wildan.
Tidak ada yang mengetahui keadaan juga keberadaan Ravi, Viana menatap Rama yang terlihat santai, Vi yakin putranya sedang dalam masalah, tapi melihat Rama yang tenang menatap Wildan, Viana yakin putranya pasti baik-baik saja. Ibu Kasih juga mulai panik, mereka khawatir bukan karena lamaran yang gagal, lamaran hanya untuk pertemuan dua keluarga untuk membahas pernikahan, yang terpenting kembalinya dua bocah.
Tama yang sibuk mencari Kasih akhirnya mendapatkan kabar Kasih dan sudah di culik, sudah dipastikan Ravi pasti mencarinya.
Sudah hampir tengah malam, acara lamaran juga batal, ibu Kasih mencoba untuk menguatkan diri karena Tama memastikan jika Kasih tidak akan terluka
Viana dan Rama pamit pulang, Jum dan Bisma juga, Reva dan Bima juga pamit. Meminta anak-anak semuanya pulang, termasuk Wildan, dan Bastian.
Reva dan Jum coba menenangkan, Rama menatap Wildan yang pandangannya fokus kepada foto Ravi dan ular saat kecil.
"Wildan di mana Ravi? mengapa kamu diam saja, Kaka kamu dalam bahaya."
"Wildan bisa apa Uncle? ini bukan musuh keluarga tapi musuh soal cinta, Ravi dan Wildan punya perjanjian, akan bersatu jika menyangkut keluarga."
"Tapi sayang Ravi di mana nak? Mommy tidak mau Ravi terluka."
"Kak Ravi mungkin sekarang sedang tidak berdaya Mommy, tapi nyawanya masih aman."
Reva langsung berdiri, menarik Wildan untuk menatapnya. Tatapan Reva marah, Wildan bermain-main dengan nyawa.
"Temukan Ravi sekarang! atau kamu jangan pernah pulang."
"Kalau begitu besok Wildan akan pergi ke Roma."
Reva mengangkat tangannya, Bima langsung teriak jangan sampai Reva menyakiti putra kesayangannya, mungkin Reva akan menangis semalam.
__ADS_1
"Kalian bermain dengan nyawa, jika Ravi terluka kalian gagal saling melindungi. Menjaga bukan soal perjanjian, Mami tahu tidak ada yang pernah tahu kapan ajal datang, tapi setidaknya kalian harus menghindari, bukan menunggu."
"Salah Wildan apa Mi? kenapa Mami harus menangis?"
Rama langsung menghentikan Reva, memintanya untuk tenang. Ammar sedang melacak keberadaan Ravi meminta bantuan tim nya, Tama juga sudah bergerak untuk menemukan adiknya.
Mata Rama mengikuti arah pandang Widian, dia kembali melihat foto Ravi bersama ular. Rama tersenyum melihat putranya, anak kesayangannya, sesungguhnya Rama khawatir tapi sangat yakin, jika Ravi bisa berjuang untuk mempertahankan cintanya.
"Wildan kamu menyukai foto Ravi?"
"Tidak Uncle, Wildan hanya sedang bertanya? mengapa Ravi menamai kucing menjadi ular."
Rama tertawa, menepuk bahu Wildan, putra jenius Bima sedang memikirkan sebuah nama yang tidak masuk akal baginya.
"Kamu tidak penasaran mengapa burung ada yang namanya Nuri?"
"Bangun kak, Wildan akan membunuh mereka jika dalam hitungan tiga kakak tidak bangun." Wildan bergumam, menggenggam tangannya sampai uratnya terlihat.
Kemarahan Wildan muncul, karena air mata Mami dan Mommy yang menetes. Wildan tidak pernah mengizinkan air mata Mami mengalir, karena kecewa kepada dirinya.
Rama terdiam mendengar suara pelan Wildan, Rama yakin Wildan bisa mendengar suara Ravi, bahkan keadaan Ravi.
***
Mobil Ravi meluncur dengan kecepatan tinggi, masuk ke dalam bangunan tua, langsung melangkah lari untuk mencari Kasih yang sudah di culik, kemarahan Ravi membuatnya tidak bisa berpikir. Kasih wanita yang bisa membuatnya goyah, rapuh dan tidak bisa berpikir dengan logika.
Saat tiba di dalam gedung kepala Ravi di pukul dari belakang. Ravi langsung jatuh pingsan, Ravi dilempar ke dalam ruangan Kasih yang sudah lebih dulu di culik. Saat melihat Ravi tidak berdaya, Kasih langsung teriak histeris.
"Ravi!" Kasih teriak dengan amarahnya, menatap seorang pemuda yang seumuran dengan Wildan, tersenyum lucu melihat Ravi.
"Ravi bodoh!" tawa seorang pemuda terdengar, menendang kepala Ravi yang belum sadarkan diri.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1