SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 DIA ANAKKU


__ADS_3

Di ruang tamu Reva menemui Viana yang asik bercerita dengan Maid, melihat Reva pulang langsung memeluknya. Reva mempertanyakan keadaan Jum, melihat masalah Billa dan Erik yang akan segera batal menikah, padahal pernikahan di depan mata, undangan sudah dicetak siap di sebar.


"Sebenarnya apa yang terjadi kak Vi, anak-anak juga kembali secara dadakan." Reva duduk bersama Viana.


"Aku tidak tahu pasti, tapi sepertinya rencana Ravi, Erik Tian dan Wildan yang ingin mengungkap kejahatan seorang Dokter yang ingin menjebak Billa berantakan, karena kehadiran Bella dan lainnya."


"Bella juga terlibat?"


"Iya, Erik merahasiakan dari Billa seorang wanita, demi menjaga hati Billa. Lebih buruk lagi, Erik tidak bisa memutuskan langsung sepihak, wanita ini adik kandung Tian Va."


"Astaghfirullah Al azim, memangnya rencana apa?"


"Tian ingin menyelamatkan adiknya, membebaskannya dari kejamnya dunia, meminta keterangan dia soal Dokter yang bersangkutan, belum semuanya selesai, Bella datang hampir membunuhnya." Viana mengaruk kepalanya.


Reva terdiam, wanita memang selalu membuat kacau rencana lelaki. Bella pasti salah paham, dia tidak tahu jika Tian dan wanita yang bersamanya bersaudara, Billa juga pasti kecewa merasa bukan hanya Erik yang membohonginya, tetapi kakak yang paling dia percaya.


"Langsung diperjelas saja."


"Enak kamu ngomong Reva, masih ingat soal Bima bertemu Brit di hotel, kamu salah paham kecelakaan, pura-pura hilang ingatan. Kamu akhirnya tahu kebenarannya memangnya kamu langsung memaafkan Bima?"


Reva menggelengkan kepalanya, hati yang kecewa mengetahui sendiri jauh lebih besar. Walaupun niat Erik baik, Tian juga baik tetap saja sudah menyakiti.


"Bagaimana nasib pernikahan?"


"Aku mendengar Billa akan membatalkannya, tapi aku juga setuju Va, memaksa bersama sekarang terlalu rumit, apalagi keadaan adik Tian terluka parah."


"Bagaimana keadaan Jum ya kak Vi?" Reva menghela nafasnya.


"Jum, kita lihat saja tindakan Jum. Pilihan yang berat melihat kesalahpahaman ketiga anaknya."

__ADS_1


"Reva harus menenangkan siapa kak Vi, antara kak Jum juga sahabat Reva Septi." Reva langsung pamit pulang, dia dilema memikirkan dua orang yang cukup penting.


***


Billa dan Bella pulang ke rumah, tidak melihat kedua orangtuanya. Keduanya memutuskan untuk beristirahat, menenangkan hati dan pikiran.


Billa melihat ponselnya fotonya bertunangan bersama Erik, melihat kembali cincinnya. Langsung melepaskan cincin meletakkannya di atas meja, mengganti foto wallpaper, memejamkan matanya untuk tidur.


Suara pertengkaran Jum dan Bella terdengar, Billa langsung berlari ke luar untuk melihat apa yang terjadi.


Bella tidak terima jika Bundanya ingin mengangkat wanita ular seperti Laura. Billa kaget, mendengar ternyata Bundanya sudah bertemu Laura.


"Bel, tidak akan menerimanya Bunda."


"Bunda tidak meminta persetujuan kamu, juga tidak meminta pendapat kamu, siapapun yang ingin Bunda angkat cukup atas seizin Ayah kamu Bel." Jum meletakkan makanan kesukaan Bella.


"Bunda tahu tidak siapa dia, bagaimana jika dia menyakiti keluarga kita Bunda. Kehilangan Tian jauh lebih baik daripada keluarga kita terluka." Bella menatap Bundanya tajam.


"Hanya anak angkat, tidak ada hubungan darah, bahkan orang tua kandungnya saja tidak ada yang menginginkan dia, seharusnya dia bersyukur dipungut oleh keluarga kita."


"Sakit sekali hati Bunda Bella kamu bicara seperti itu, rasanya Bunda gagal mendidik kamu menjadi wanita yang berhati ikhlas. Sebelum kamu lahir, Tian segalanya untuk Bunda, dia tinggal di panti asuhan tidak pernah berbicara dengan siapapun, dia tidak memiliki teman, apalagi keluarga." Jum meneteskan air matanya, menatap putrinya Bella yang masih keras kepala.


"Kesalahan apa yang kakak kamu lakukan, dia selalu mengalah dalam banyak hal, Tian tahu diri siapa dia. Pernah tidak Bel kamu mendengar Tian mengatakan, Bunda Tian minta ini minta itu, Bunda Tian lapar. Dia tidak pernah meminta apapun, saat dia lapar Bunda sedang sakit, Tian memakan mie mentah tidak berani meminta kepada Bunda. Kamu mengatakan kesalahan dia lahir ke dunia ini, bagi Bunda dia malaikat Bunda, harta Bunda, jangan pernah kamu mengatakan jika dia anak yang tidak diinginkan." Jum langsung pergi meninggalkan Bella yang sudah meneteskan air matanya.


Bisma mendengar pertengkaran Bella dan Jum, pertama kalinya Jum sampai menangis. Bisma tahu jika bersangkut dengan Tian Jum sangat sensitif, bahkan selalu menjadikannya nomor dua, cemburu melihat Tian lebih diutamakan, Jum sangat menyayangi Tian seakan anak kandungnya.


Tian memang anak yang sangat baik, tidak pernah meminta apapun, tidak pernah menuntut. Dia menerima apapun yang diberikan, bahagia sekecil apapun yang dia dapatkan.


"Ayah maafkan Billa, semua ini berawal dari Billa." Bil memeluk Bisma yang juga terlihat sedih.

__ADS_1


"Tidak ada yang salah sayang, sekarang kita sedang diuji. Ayah ingin berbicara sama kamu dan Bella."


Bisma meminta kedua putrinya ikut ke dalam ruangan kerjanya, Billa langsung mengikuti Bisma, Bella masih menangis melihat makanan yang dia minta dari Bundanya.


Bel melihat isi kulkas, bahan makanan yang Jum siapkan untuk Tian, Bella, Billa, bertambah satu orang lagi, Binar.


Bel melihat daftar makanan kesukaan mereka bertiga, Tian tidak pernah mengatakan dia suka apa, karena apapun yang Bunda siapkan selalu Tian makan, selalu menghabiskan tanpa sisa, berbeda dengan dirinya yang banyak maunya, banyak protes.


Bunda selalu memenuhi kebutuhan mereka bertiga, tidak ada catatan makanan kesukaan Ayahnya, kedua orangtuanya mengikuti makanan anak-anaknya.


"Maafkan Bella Bunda, sudah membuat Bunda menangis, Bella memang egois." Bella menundukkan kepalanya.


"Kak Bel, Ayah ingin berbicara." Billa memanggil Bella yang menggagukan kepalanya.


Bella melangkah ke ruangan Ayahnya, melihat foto mereka bertiga saat kecil, Bella menatap Tian yang sangat menyayanginya, pertama kalinya Tian memilih mengangkat orang baru meninggalkan dirinya.


"Maafkan Bella kak, mungkin Bella terlalu iri. Dia memang berhak atas kak Tian, Bella hanya berharap dia bisa berubah menjadi orang baik sesuai harapan kak Tian, tetapi jika dia tidak berubah, kak Tian bersiaplah untuk terluka. Maafkan Bella tidak bisa berada disisi kak Tian, Bella tahu diri sudah saatnya mulai berbagi, kak Tian bukan hanya milik Bella." Bella melangkah masuk ke dalam ruangan Ayahnya.


Bisma menatap dua putri kembarnya, melihat jari Billa yang sudah melepaskan cincin. Bisma hanya bisa menghela nafasnya, melihat wajah Billa yang terlihat sedih.


"Bella, Billa kalian tahu siapa yang sebenarnya salah?" Bisma menatap dan berbicara lembut.


"Semuanya salah Ayah, atau Bella yang paling pantas di salahkan. Bella orang yang harusnya bertanggung jawab, tapi keputusan Bunda untuk mengangkat Binar, Bella butuh waktu Ayah."


"Binar, Siapa Binar kak Bel?"


"Adik kandung Tian, Bunda mengambil keputusan untuk menggakat menjadi putrinya."


"Kenapa Bunda tidak bertanya terlebih dahulu?" Billa langsung meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Bunda tidak butuh persetujuan kita, selama Ayah setuju, Bunda bisa melakukannya. Bella hanya berharap Binar tidak menyakiti Bunda, tapi jika sedikit saja Bunda tergores, tujuh turunan keluarga mereka akan Bella hancurkan."


***


__ADS_2