SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KITA TIDAK BERJODOH


__ADS_3

Mobil Ravi sampai di rumahnya langsung mendekati Angga dan melayangkan pukulan, ibu menangis memeluk Cinta. Marah sudah pasti ibu sangat marah dengan Cinta karena membunuh suaminya. Karin terdiam sambil menangis, tidak lama Erik juga datang melihat keadaan yang sudah kacau.


Erik meminta pengawal menutup Akses jika ada yang ingin lewat, karena saat sore banyak orang yang akan jalan santai.


"Ibu sebaiknya masuk ke dalam biarkan Cinta bersama Ravi di sini." Ravi meminta Karin membawa ibu.


Suara tembakan terdengar, Galang datang bersama segerombolan orang meminta Ravi menyerahkan Angga.


"Aku tidak perduli masalah kalian, tapi Cinta akan ada di tangan kami, masalah Angga terserah."


"Bukan aku yang mengkhianati kamu tapi Raya."


"Raya tidak tahu apapun soal itu, dia tidak licik seperti kamu Cinta. Ayah sama anak sama-sama berhati busuk."


"Busuk, kamu juga sama busuknya Galang." Angga tersenyum meminta Cinta menjauh.


Angga tidak mempedulikan perintah Ravi yang dia ketahui penyebab hancurnya perusahaan, Galang ingin membunuh Ravi, tapi sejak kecil ibunya melarang Galang berurusan dengan Bramasta dan Prasetya. Galang tidak tahu jika Raya istri dari Ravi.


Ravi meminta pengawalnya untuk menyerang, Karan juga sampai membawa puluhan pengawal. Pertarungan terjadi, Galang dan Ravi berada di tengah.


"Kamu menghancurkan perusahaan yang ibuku bangun Ravi, dulu Mommy kamu yang menghancurkan segalanya, sekarang kamu juga mengusik hidupku."


"Sudah waktunya kita bertemu Galang, Mommy sudah bahagia dia tidak perlu mengigat sampah seperti kalian."


"Kembalikan Rayaku, aku akan mundur jika dia kamu kembalikan." Galang menunjuk ke arah Karin yang memaksa ibunya untuk masuk.


"Dia adikku, tidak ada yang boleh menyentuhnya."


"Aku akan pergi, tidak masalah aku jatuh miskin. Cukup aku memiliki Raya, maka hidupku akan tenang." Galang memohon, Ravi hanya tersenyum tidak bergerak sama sekali.


Tian dan Wildan datang bersama melihat banyak orang berkelahi, Tian berdiri di samping Ravi, Wildan menatap Cinta dan Angga.


"Kamu tidak ingin menyerahkan Raya?"


"Tidak ada yang akan aku serahkan." Galang langsung mengarahkan senjata di kepala Ravi, Tama juga mengarahkan senjata di kepala Galang.


Wildan langsung tersenyum, Ravi juga senyum. Galang langsung tertawa, matahari yang terbenam, azan Magrib juga berkumandang.


Rama meminta yang ada di dalam untuk sholat, Kasih masih menatap Ravi karena dia tidak sholat, Ibu juga menolak masuk.

__ADS_1


"Harus ada yang mati Ravi." Galang membawa pasukan masalalu Mommy Viana yang menyimpan dendam, tujuan mereka sekarang membunuh Ravi.


"Kalian bisa membunuh Ravi." Galang melepaskan senjatanya langsung melangkah mundur.


"Bukan hanya Ravi yang kita dapatkan, tapi ada putranya Ammar, juga putranya Bisma. Mereka hidup bahagia sedangkan kita membusuk di penjara."


Lebih dari sepuluh orang berbadan besar maju menyerang Ravi, Tian dan Erik. Ketiganya yang memang berlatih bela diri bersama cukup lihai, Karan langsung maju membantu diikuti oleh Tama, hanya Wildan yang menonton.


Galang mendekati Karin dan menariknya, Wildan tersenyum menghentikan Galang, keduanya langsung bertarung. Kasih langsung melangkah keluar meminta Karin masuk, ibu memeluk Cinta memintanya untuk masuk. Ibu juga menarik Kasih untuk masuk tapi mata Kasih menatap Ayahnya yang tersenyum melihat Kasih, Karin dan Cinta.


Galang psikopat gila, Kasih langsung berlari ingin menghentikannya tapi tidak ada gunanya, pertarungannya dengan Wildan imbang.


Ravi berhasil menjatuhkan banyak orang, langsung menatap Erik yang baik-baik saja, Tama juga menatapnya mengatakan aman, Karan terbaring berhasil menjatuhkan lawan.


Tian berlari melihat Wildan yang menjatuhkan Galang, Ravi juga langsung berlari saat senjata terangkat. Tembakan terdengar tapi Wildan berhasil menghindar, tembakan kedua Wildan terlempar diselamatkan oleh Angga.


"Bunuh saja aku Galang, lepaskan putriku Raya." Angga menatap Galang yang berusaha untuk bangkit.


"Aku mencintainya, aku memberikan kamu kesempatan hidup karena Raya. Kenapa kamu menyerahkan Cinta."


"karena calon pengantin kamu sebenarnya Cinta aku menukarnya dengan putri kakakku. Dia juga sudah menikah dengan Ravi, kamu tidak mungkin bisa menyentuhnya."


Angga coba bangkit menahan lengannya yang tertembak. Ravi membantu Wildan berdiri, Tama mengambil senjatanya yang terlepas.


"Mati saja kamu Angga brengsek!" Galang menembak peluru terakhirnya, tubuh Galang juga ambruk karena tembakan Tama.


"Raya." Angga memeluk tubuh Kasih yang berlumuran darah.


"Karin." Teriak Tama berlari.


"Kenapa kamu lakukan ini? gadis bodoh aku meminta kamu hidup sampai memberikan kamu kebebasan bukan untuk menyelamatkan Ayah."


"Ayah, aku membenci Ayah karena kalian jahat. Mata Raya terbuka saat melihat cinta ibu yang marah dengan Cinta tapi tetap memeluknya erat, ibu berharap Cinta akan sadar dan menjadi orang baik. Raya juga berpikir hal yang sama ingin Ayah hidup menjadi orang baik."


"Karin, kenapa kamu lakukan ini? dia tidak pantas mendapatkan pengorbanan kamu." Tama mendorong Angga memeluk adiknya sambil menagis.


"Dia Kasih apa Karin?" Erik menatap Tian.


"Karin, Tama memanggilnya Karin." Karan yang menjawab karena Tian masih terdiam.

__ADS_1


"Syukurlah, aku takut dia istri Ravi" Tian dan Karan menatap Erik yang nyegir, menghubungi rumah sakit.


Ravi terdiam menetaskan air matanya, melihat darah mengalir keluar dari tubuh Kasih. Ravi kesulitan melangkahkan kakinya, air matanya langsung menetes. Mata Kasih perlahan tertutup, Tama terus teriak meminta Karin membuka matanya.


"Kasih, kenapa kamu lakukan ini?" Ravi langsung berlutut menyentuh wajah Kasih. Meletakkan kepalanya di pangkuan Ravi.


"Ravi, maafkan Kasih ya." Kasih merasakan penglihatannya gelap, bahkan tidak bisa lagi melihat wajah Ravi, tangisan Ravi terdengar.


"Dari awal aku bukan jodoh kamu, jangan menangis kamu bisa meniti jalan bersama Karin."


Semuanya mendekati Kasih, Tama juga menangis histeris karena tangan Kasih sudah melemah. Tian langsung berlari, Erik juga langsung menyobek baju Kasih menahan darah di dada Kasih.


"Wildan beri jalan menuju rumah sakit lebih cepat, kita tidak punya waktu menunggu ambulans, Kasih bisa kehabisan darah."


Wildan langsung mencari mobil Erik, cepat mengendarainya. Tama tidak memiliki tenaga lagi, Ravi menggakat tubuh Kasih sambil air matanya terus keluar.


Selesai sholat Magrib lanjut baca Al Qur'an Viana langsung menangis, dadanya terasa sesak membayangkan wajah Ravi saat mengatakan jika tidak ingin kehilangan. Vi tidak sempat mencium tangan Rama langsung berlari masih menggunakan mukenah sambil terus menangis.


"Ravi, kamu kenapa nak?" Viana langsung membuka pintu melihat kekacauan, puluhan polisi datang menangkap, Vi tidak melihat Ravi dan lainnya.


"Ravi, di mana Ravi." Karin sudah menagis histeris, ibu Kasih jatuh pingsan dalam pelukan Cinta.


"Di mana Ravi Karin?"


Mulut Karin pahit, Viana mencari ke jalanan tapi tidak melihat satupun putra-putranya.


"Apa yang terjadi Karin?"


"Kasih tertembak Mommy."


"Siapa?" Viana langsung terduduk.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2