
Reva sedang sibuk di ruangan desain nya, mata Reva memandangi dua baju pengantin yang super mewah. Selama satu minggu Reva fokus di baju pengantin yang dia buat khusus di hari bahagianya Jum.
Suara ketukan pintu tidak Reva dengarkan, dia masih sibuk memasangkan mutiara, dan mengelilingi manekin. Viana memperhatikan gaun pengantin berwarna biru muda yang sangat mewah dan elegan. Vi juga melihat Reva yang sibuk menjahit dan mengubah ukuran juga memasangkan aksesoris yang memperindah gaun yang berwarna putih.
"Keduanya sempurna!" Viana memberikan tepuk tangan.
"Kambing!" Reva teriak karena kaget membuat Viana tertawa geli mendengar umpatan Reva.
"Gaun untuk Jum ya Rev? biru sudah selesai." Viana membandingkan dua gaun yang sama indahnya.
"Putih untuk Jum, biru untuk Reva." Pandangan Reva penuh rasa kagum untuk gaun yang dia persiapkan untuk pernikahannya.
"Gaun Lo sudah selesai, tapi punya Jum masih di otak-atik. Luar biasa." Viana geleng-geleng melihat tingkah Reva yang konyol.
"Reva membuatnya saat dilamar."
"Biar gue yang buatin Lo gaun, karya gue tidak kalah bagus." Senyum Viana lebar sambil melihat mutiara yang terpasang di gaun berwarna putih.
"Mustahil! kandungan kak Vi bakal berapa bulan palingan langsung meledak."
"Kurang ajar kamu Rev, pernikahan Lo tahun baru. Kandungan gue baru tujuh bulan."
"Kak Vi sudah tahu pernikahannya akhir tahun, padahal Reva pengen kasih kejutan." Wajah Reva manyun.
Viana bicara banyak hal dengan Reva, menceritakan perjalanan cintanya dengan Rama. Vi juga menasehati Reva yang harus lebih dewasa karena Bima orang yang pernah gagal dalam berumah tangga. Belum lagi Bima juga mempunyai seorang putri yang beranjak remaja.
"Jika Lo mencintai Bima berarti Lo juga harus mencintai putrinya Windy."
Reva membalas dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Viana juga menceritakan hubungannya dengan Bima dahulu.
"Reva, kamu harus menyiapkan hati karena mendekati hari pernikahan kemungkinan banyak sekali ujiannya. Kak Vi bicara seperti ini karena kamu berbeda dengan Jum yang perjalanan santai palingan banyaknya mantan Bisma, tapi kamu berbeda. Ingat mantan istri Bima, dan banyaknya pengemar kamu akan menjadi bumbu dalam rumah tangga kalian."
Reva dan Viana tertawa bersama karena baru menyadari jika ini pertama kalinya mereka bicara serius. Vi sangat menyayangi Reva seperti adiknya sendiri saat melihat Reva yang pekerja keras juga punya ambisius yang sangat besar. Melihat Reva Vi melihat dirinya sendiri.
***
Di rumah Rama sudah berkumpul Reva, Septi juga Tya. Mereka bertiga akan pergi ke desa Jum untuk melakukan persiapan.
"Viana juga mau pergi hubby." Rama memandangi Viana serius membuatnya langsung menunduk.
Reva tersenyum melihat Viana yang tidak berani membantah Rama. Septi juga memperhatikan Rama yang sangat berbeda saat bersama mereka yang sangat cuek, tapi berurusan dengan anak dan istrinya berlebihan sekali.
__ADS_1
"Ya sudah lah kak, nanti perginya bareng Rama. Lagian kak Vi tidak dibutuhkan, palingan kerjaan ngibah."
"Emangnya kalian dibutuhkan." Viana melotot dengan nada tinggi, membuat semuanya tertawa.
"Tya ahli dekorasi pelaminan, Septi yang memantau catering, dan Reva yang bertugas memastikan sang pengantin menjadi sang ratu." Reva bicara dengan gayanya yang berlebihan.
"Kalian hanya pergi bertiga?"
"Rencananya berempat Ram, tapi sepertinya Lo tidak mengizinkan."
"Kalian pergi saja bertiga, Viana pergi bareng gue." Viana langsung menghela nafas memonyongkan bibirnya melihat Rama yang melarangnya pergi lebih dulu.
***
"Reva berhati-hati menyetir mobilnya, kamu bisa bergantian dengan Septi. Jangan memaksakan diri jika kelelahan, atau menggunakan supir saja."
"Tidak mau supir ay, Reva akan berhati-hati. Insyaallah selamat datang sampai tujuan."
Bima sedikit merasakan perasaan tidak enak, dia ingin mengantar Reva tapi ada hal penting yang tidak bisa dia tinggalkan. Brit menuntut hak asuh Windy, Bima akan mempertahankan Windy dalam jalur hukum. Ammar sedang tugas ke luar kota, sedangkan Ivan masih di luar negeri.
"Kamu harus menghubungi aku satu jam sekali." Bima memegang pundak Reva memandangi serius.
"Dapatkan hak asuh Windy, jangan khawatirkan Reva. Reva janji satu jam sekali akan menghubungi ay."
"Hello! tidak kasihan dengan kita berdua." Septi menyindir.
Bima melepaskan kepergian Reva, Bima juga memasang pelacak di mobil Reva tanpa sepengetahuannya.
"Hati-hati di jalan calon istriku" Bima mengerutkan keningnya merasa geli dengan gumaman nya.
***
Di jalan Reva bernyanyi, kecepatannya juga tidak terlalu mengebut. Septi melihat mobil di belakang mereka dengan kecepatan tinggi ingin menabrak mobil Reva.
"Reva! tambah kecepatan, ada orang mau nabrak kita."
Reva langsung melihat kaca spionnya, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Septi dan Chintya mengencangkan sabuk pengaman.
"Kalian berdua jangan tegang, gue janji tidak akan membuat kalian terluka."
"Fokus Reva!" Teriak Septi.
__ADS_1
"Konsentrasi Reva, kita percaya kamu bisa di andalkan."
Septi menggunakan pesan suara menghubungi Ammar jika mereka di serang, ada yang ingin menabrak mereka di jalan tol.
Septi mengucapakan detail ciri-ciri mobil juga flat nomor.
"Enak Lo Sep, pacar Lo seorang polisi. Langsung bilang aja, Habang dede diserang."
Chintya tertawa mendengar ucapan Reva yang tidak ada takutnya, Septi juga ikut tersenyum melihat sahabatnya yang masih bisa menghibur disaat tegang.
Melihat Sebuah simpangan Reva membanting setir langsung belok mendadak, membuat mobil yang mengejarnya tidak terkendali terjun bebas ke arah pohon besar.
Reva hanya tersenyum, suara mobil polisi terdengar, ternyata Ammar langsung menyambungkan lokasi Septi dan menghubungi polisi terdekat.
Mobil polisi mendekati lokasi kecelakaan, Reva menyobek baju Septi yang membuatnya kaget, mengacak-acak rambut Tya menyobek bajunya dan memberikan sedikit luka cakaran kukunya.
Septi dan Tya tidak habis pikir dengan tindakan Reva yang aneh. Reva sudah mengetahui siapa dalang utama yang menyerangnya. Reva akan membalikkan fakta dan membuat pelaku dihukum berat karena menyerangnya. Septi dan Tya mengikuti rencana Reva yang soal drama paling hebat.
***
Selesai sudah masalah kecelakaan, Reva hanya tertawa sambil membuka bajunya meminta Tya mengambil tas dan memberikan baju ganti.
Septi mengantikan Reva membawa mobil melajukan perjalanan, Reva masih sempat berdandan karena hampir tiba di desa Jum.
Tya juga merapikan rambutnya yang berantakan, Septi juga sudah Menganti bajunya.
"Siapa yang mengajari Lo licik Reva?"
"Kak Vi, dia memperingati aku jika mendekati hari pernikahan para cacing akan berbuat nekat. Kak Vi juga mengajari Reva cara mengendalikan keadaan di saat terdesak. Hari ini Reva membuktikan semua ucapan kak Vi."
"Kak Vi memiliki banyak pengalaman untuk mengatasi kejahatan, perjalanan hidupnya memberikan dia banyak pelajaran."
"Iya hanya satu orang yang dia takuti."
"Rama!" ucap mereka bertiga bersamaan.
"Astaghfirullah Al azim! gue lupa kasih kabar ke Ay Bima, handphone gue mati."
Teriak Reva membuat Septi dan Tya tertawa.
***
__ADS_1
Perjalanan Reva detailnya di novelnya sendiri yang bakal up di February.