
Di bandara Ravi harus meredakan amukan para bocah tengil yang sedang bergantung dikakinya, dengan terpaksa Ravi harus membuat janji untuk membayar biaya liburan mereka selama satu bulan, setelah kelulusan sekolah.
"Kasih ikut ya," Kasih menatap Ravi memohon, helaan nafas Ravi terdengar.
"Nanti saat kita bulan madu, kita keliling Negara. Ke manapun kamu ingin pergi aku temani."
"Vira juga boleh ikut ya kak"
"Mendingan kamu pikir kuliah Vira, jangan suka menjadi nyamuk."
"Kita tidak kuliah saja sudah jenius, sekolah hanya jadi tameng agar kita punya ijasah dan terlihat normal." Winda mengandeng tangan Vira yang masih bergantung di kaki Ravi.
"Tapi tetap saja adik-adikku sayang, percumah saja aku menasehati kalian, masuk telinga kanan keluar telinga kiri."
Ravi berjalan menggandeng Kasih, Vira memegang tangan Kasih diikuti oleh Winda, Bella dan Billa.
Seluruh orang tertawa melihat kereta berjalan, Ravi langsung melihat kebelakang dan mengaruk kepalanya. Sejak keempat bocah ini kecil, Ravi harus menjadi kepala kereta yang membuat mereka berjalan bergandengan.
"Kak, koper." Vira langsung berlari mencari kopernya, Bella Billa juga langsung berlari. Hanya Winda yang diam saja.
"Di mana koper kamu Winda?"
"Aku hanya menggunakan tas ransel, sengaja tidak bawa baju karena bakal shoping di luar negeri."
"Mami kamu orang yang menghargai uang, tapi kamu tukang hambur uang."
"Lalu kita kerja cari uang buat apa? dibawa mati!" Winda kesal langsung masuk ke dalam mobil Ravi.
Tiga wanita sudah memasuki koper ke dalam mobil, Ravi menundukkan kepalanya di setir mobil.
Kasih masuk di samping Ravi, di posisi belakang sudah main tendang karena tidak muat. Wajah Ravi sudah gelap melihat empat bocah yang saling pukul dan tendang.
Bahkan Vira duduk di tengah-tengah Ravi dan Kasih, mobil berjalan lambat karena banyaknya bawaan. Ravi tidak terlihat senyumnya, sedang kasih tidak berhenti tertawa, Vira yang tidak berdosa cengengesan melihat wajah kakaknya yang sudah masam.
"Minggir Vira," Winda menendang pantat Vira sampai wajahnya nempel di dasbor mobil.
"Kurang ajar kamu Bella, Winda menendang kaki Bella yang sudah nempel di kaca mobil. Billa tidak kalah repot karena duduk dibelakang memeluk koper. Kasih tidak berhenti tertawa, melihat pertengkaran keempatnya.
Ravi langsung menghentikan mobilnya dan melangkah keluar, berjalan kaki meninggalkan lima wanita di dalam mobilnya. Kasih juga langsung keluar mengejar Ravi dan mengikutinya, tinggal empat wanita yang bernafas lega, akhirnya bisa membawa mobil baru Ravi.
Dari kecil Ravi kalau kesal meninggalkan barangnya, dia akan pergi menjauh tanpa berbicara apapun. Kasih berlari kecil mengikuti langkah Ravi yang sangat besar.
"Ravi, bisa tidak lebih pelan jalannya?" Kasih kecapean mengikuti Ravi.
"Kenapa kamu keluar dari mobil?"
"Tujuan mereka berempat mengusir kita berdua, jadi sekarang akan terus berjalan."
"Genggam tangan aku, kita cari kendaraan."
Ravi dan Kasih berjalan kaki dengan bergandengan tangan, senyum keduanya terlihat. Sampai sebuah mobil membunyikan klakson, Kasih teriak kaget memeluk Ravi.
__ADS_1
Erik keluar sambil cengengesan, melihat Ravi yang menang banyak mendapatkan pelukan.
"Jadi dia yang bernama Kasih, cantik manis juga." Erik tertawa sambil menunjuk Kasih yang berada dalam pelukan Ravi.
Belum sampai tangan Erik menyentuhnya, Kasih sudah memutar tangan Erik yang sudah teriak kesakitan.
"Ampun!"
Ravi sudah tertawa, membukakan pintu untuk kasih agar masuk ke dalam mobil. Erik masih mengusap tangannya yang hampir patah.
"Makannya jangan sembarang sentuh milik orang."
"Cinta lembut tapi Kasih galak sekali."
"Wanita galak memiliki pesona yang luar biasa." Ravi langsung cepat melangkah masuk mobil
Mobil melaju dengan santai, wajah Erik masih cemberut karena menahan sakit. Ravi tidak berhenti tertawa, juga tersenyum.
"Kamu Erik, kekasihnya kak Cinta?"
"Mantan!"
"Kenapa bisa putus?"
"Namanya juga tidak jodoh, lagian aku sudah biasa ditinggalkan jadi sudah kebal."
"Kamu patah hati, sakit tidak?" Kasih menoleh ke belakang, menatap Erik yang memandang ke luar jendela.
"Seharusnya kamu harus naik gunung tertinggi, mandi bunga tujuh rupa." Ravi tertawa menatap sahabatnya.
"Naik gunung langsung terjun dan langsung datang Dewi kematian."
"Suatu hari pasti akan datang wanita yang pantas, dia ada di dekat kamu tapi kamu tidak menyadarinya."
"Seperti kita ya Kasih, tidak perduli berapa banyak yang memisahkan, tidak perduli berapa banyak masalah, tidak akan pernah kamu aku lepaskan." Ravi menggenggam tangan Kasih.
"Ravi, aku rasa sulit karena ibu juga cukup kecewa. Kasihan juga kak Cinta."
Ravi tertawa, wanita galak tapi sibuk mengurus hidup orang lain. Ravi menjelaskan jika dia yang mengantarkan ibu bersama dengan Tama, sekalian berkenalan dengan keluarga bapak Kasih, sebenarnya Ravi juga sudah bicara dengan Cinta dan meminta maaf juga meminta doa restu, Ravi yakin Cinta akan menemukan kebahagiaan, menemukan cinta sejatinya.
"Kapan? kenapa aku tidak tahu?"
"Selama aku mendiamkan kamu bukan berarti aku tidak berjuang, Ravi Prasetya tidak akan pernah duduk manis menunggu, tapi aku akan berjuang untuk bisa meraih kamu."
"Terus!?" Kasih teriak kaget, Ravi yang pecicilan ternyata bisa serius juga.
"Terus apa?"
"Ravi, ayo jelaskan."
"Cium dulu."
__ADS_1
"Ravi, Kenapa jadi genit." Kasih memukul lengan Ravi yang sudah tertawa.
"Masih menunggu keputusan kamu sayang, keluarga aku sudah siap, keluarga kamu juga sudah siap, masih menunggu calon mempelainya."
"Kapan?" Kasih masih terlihat polos tidak mengerti harus bahagia dengan cara bagaimana.
"Akan aku jelaskan, asal cium aku dulu."
"Ravi...."
Erik yang berada di belakang memonyongkan bibirnya, Kasih dan Ravi melupakan kehadiran yang tidak terlihat.
"Nyamuk, astaga kenapa mobil ini banyak nyamuk." Erik menepuk kedua tangannya, di depan Kasih dan Ravi yang masih saling pandang.
"Ular!" teriak Erik membuat Ravi mengerem kejut dan melihat di depan mobil.
Erik tersenyum menang, Ravi tidak akan pernah tega jika sampai menyukai ular. Hewan yang paling Erik benci seumur hidupnya, saat kecil dulu sampai terjun dari pagar hanya karena ular mengeong.
"Sialan!" Ravi melempar Erik dengan kotak tisu.
"Kalian yang tega dengan jomblo, tidak ada belas kasihan." Erik bicara dengan nada menangis.
"Ada Salsha, kamu tidak ingin dengan si centil Salsha."
"Tidak akan pernah, gadis bocor mulutnya mirip comberan."
"Jaga mulut Erik, nanti jadinya cinta." Ravi menatap Erik lalu menjalankan mobilnya kembali.
"Benar, benci tapi cinta judulnya. Ingat banyak orang menutupi rasa suka dengan kebencian."
"Iya contohnya kamu, tidak suka Ravi tapi selalu merasakan rindu." Erik menatap kesal.
"Tidak Kasih biasa saja hanya sedikit memikirkan."
"Jadi setiap hari kamu iya memikirkan aku?"
"Iya, ehhhhh tidak!"
"Berarti kamu cinta Ravi."
"Iya!" Kasih menutup mulutnya, Erik dan Ravi sudah berjabatan tangan, berhasil memancing Kasih untuk mengakui.
"Aku juga cinta kamu, sangat mencintai kamu. I Love you Kasih." Ravi tertawa bersama Erik, Kasih sudah menundukkan kepalanya menahan malu.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
YANG PENASARAN MASA KECIL MEREKA, BACA DI MENGEJAR CINTA OM DUREN YA
***
__ADS_1