SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 SESAK NAPAS


__ADS_3

Kamar Vira penuh orang, suara teriakan Winda minta dilepaskan. Air matanya sudah mengalir membasahi pipinya.


Reva juga menangis sesenggukan melihat putrinya menangis histeris, keadaan Winda tidak demam, tapi mendadak sesak nafas sehingga harus diuap.


"Mami tolong, tolong Winda Mami." Winda menangis ingin menyentuh tangan Maminya.


Mulut Winda terbuka benafas dari mulutnya, Wildan memeluk adiknya yang terus memberontak kesakitan.


"Winda tenang, peluk kak Wil dek." Wildan tidak kuat menahan sedihnya melihat adiknya yang selalu tertawa mendadak teriak-teriak.


"Papi jangan, jangan Papi. Papi tidak sayang Winda lagi, tidak mau ditusuk-tusuk." Winda menangis memukul dadanya yang sesak.


"Jangan menangis sayang nanti nafas kamu semakin sesak." Bima memegang tangan Winda yang harus dipasang infus.


Erik kesulitan menemukan pembuluh darah yang tepat, sehingga harus berkali-kali dimasukan suntik infus.


Winda sangat takut dengan suntikan, apalagi merasakan suntikan berkali-kali membuatnya mengamuk, memukuli Wildan.


Billa tidak berani mendekat, hanya bisa menangis melihat Winda yang pertama kalinya menangis histeris.


Saat kecil Winda pernah disuntik, lalu mengamuk di rumah sakit sampai menghacurkan satu ruangan.


Suara tangisan Winda terdengar melemah, Erik memasang nebulizer memberikan obat berbentuk uap.


Winda terus menangis, Wildan mengusap kepala adiknya. Tidak ada gunanya dia sebagai kakak yang tidak bisa melindungi adik satu-satunya.


Melihat video saja sudah cukup memukul perasaan Wildan, melihat adiknya terlempar dan tertimpa muatan.


"Maafkan kak Wil tidak bisa menjaga kamu." Wildan menahan air matanya.


Winda sudah diam dalam pelukan Wildan yang mengusap kepalanya lembut, Bima juga meneteskan air matanya melihat putrinya kesulitan bernafas.


Seandainya sakit Winda bisa dipindahkan, tidak akan pernah Bima membiarkan putrinya tersakiti.


"Jangan nangis sayang, Winda sudah hebat berusaha bertahan. Maafkan Papi yang menyakiti tangan Winda." Bima mengusap air matanya.


Winda tidak bisa menjawab, nafasnya belum teratur. Erik masih terus memantau keadaan Winda yang mulai stabil.


Tangan Winda memeluk erat Wildan, Winda hanya bisa duduk agar nafasnya tidak sesak.

__ADS_1


"Masih sesak tidak Win, kak Erik lepas sebentar." Erik melepaskan alat bantu bernafas.


Tangisan Winda langsung terdengar, melepaskan Wildan mencari Papinya langsung memeluk erat.


"Jangan menangis nak, bagaimana Papi menyembuhkan kamu? bagian mana yang sakit?" Bima mengusap rambut Winda.


"Takut, Winda takut tidak melihat Papi, Mami, kak Wil, kak Windy lagi. Winda takut sendirian." Winda memejamkan matanya.


"Winda tidak akan pernah sendirian, Papi selalu ada di depan kamu sayang." Bima mencium kening putrinya.


Reva langsung mendekat, mengusap punggung Winda. Tangan putrinya sudah penuh lebam.


"Bagian mana yang sakit sayang?" Reva melihat wajah anaknya.


"Tangan Winda sakit, dada Winda tertimpa koper rasanya sesak." Winda mengusap dadanya.


Billa langsung mendekat, Bima dan Wildan langsung menjauh. Reva langsung menangis, dada Winda biru juga terluka.


"Kak Erik lebam ada luka juga kak, sebaiknya kita lihat dengan alat takutnya luka dalam." Billa menatap Erik yang mendekat.


Erik meminta maaf langsung menyentuh tulang dada Winda yang masih menangis, meminta Winda merasakan sakit bagian yang Erik tekan.


"Sakit tidak Win?" Erik menatap wajah Winda.


"Aman, bengkak biru karena tertimpa muatan, tapi bagian tulang tidak ada masalah. Beberapa hari badan Winda akan sakit semua karena sudah terbanting." Erik mengusap kepala Winda.


Winda mulai bernafas normal, Erik tersenyum melihat Winda yang memang wanita tangguh meskipun dia menangis.


"Winda kak Erik bangga sama kamu, tangan kamu hampir patah karena menahan tubuh Vira. Mungkin jika kak Erik diposisi kamu akan melepaskan meyelamatkan diri sendiri. Kamu luar biasa menyayangi keluarga." Erik mengusap air matanya, tidak kuat lagi menahan air matanya.


"Vira sahabat Winda, dia juga meyelamatkan Winda. Kami pernah berjanji untuk terus bersama, jika Vira terlepas kepalanya bisa pecah." Winda meminta Bima memeluknya karena ingin tidur.


Bella tersenyum melihat Winda yang masih bisa berpikir, dirinya saja sport jantung mencoba kuat demi Embun.


Semuanya keluar membiarkan Winda beristirahat, Winda tersenyum menatap Wildan.


"Kak Wil jangan sedih, Winda baik-baik saja. Winda wanita tangguh hanya takut jarum. Kak Wil juga hebat bisa menjaga Asih." Winda memberikan ciuman jarak jauh.


Rama masuk melihat keadaan Winda langsung melakukan panggilan dengan Ravi yang menunjukkan wajah Vira, senyuman Vira terlihat mentertawakan Winda yang matanya bengkak.

__ADS_1


"Winda sesak nafas, bernapas dari mulut." Winda tersenyum memeluk Papinya.


"Sekarang masih sesak, butuh napas buatan tidak?" Vira meneteskan air matanya.


"Sudah di uap, lihat tangan Winda ditusuk-tusuk jarum suntik." Winda langsung menangis lagi.


Bima mengusap punggung putrinya, Rama mendekati mengusap kepala Winda mengucapkan terima kasih karena menahan Vira yang kehabisan napas, jika sampai lepas mungkin Vira sudah tidak ada.


"Terima kasih sayang." Rama menetes air matanya.


"Daddy, jika tidak ada Vira mungkin Winda sudah terlempar jauh. Saat pesawat ke bawah sabuk pengaman terlepas, Winda terjatuh, Vira yang menyelamatkan Winda. Kita berdua bertahan antara hidup dan mati, hidup bersama mati bersama." Winda memeluk Bima memejamkan matanya.


Rama tersenyum meminta Winda istirahat, Rama keluar bersama Wildan yang langsung menjenguk Vira dari luar.


Bisma menepuk pundak Wildan, tersenyum melihat keponakannya.


"Kamu lihat betapa besarnya cinta Rama dan Viana kepada Vira, kamu juga bisa melihat sayangnya Ravi kepada adiknya. Wildan jika kalian menikah, jangan pernah kamu sakiti putrinya, karena sama saja menyakiti ayah ibu saudara saudarinya." Bisma meminta Wildan makan dulu, karena Jum sudah masak.


"Wildan gagal melindungi adik bungsu Wil, gagal melindungi Vira. Bagaimana jika kak Windy tahu? dia pasti kecewa sekali." Wildan menunduk sedih.


"Bukan salah kamu, ini musibah. Winda juga sudah membaik, terima nasib saja jika Windy marah." Bisma tertawa.


Winda tertidur bersama Mami Papinya, Bima tidak bisa melepaskan Winda sehingga itu memilih Yusuf, Putrinya wanita yang tertutup selama dirinya kuat tidak akan mengeluh.


Reva meneteskan air matanya, sakit sekali hatinya melihat Winda menangis meminta tolong.


"Ay putri kita sejak kecil sangat nakal, selalu jatuh bangun, tapi tidak pernah menangis meminta tolong, tapi kali ini dia sangat kesakitan sampai meminta Mami menolongnya." Reva menangis sesenggukan.


Bima hanya bisa menangis, dia juga sama terpukulnya.


Di rumah sakit Yusuf sudah membaik, Karan menunjukkan rekaman di dalam pesawat. Yusuf terdiam melihat Vira dan Winda paling tersakiti.


Semuanya berpegangan kuat, tapi mereka terguling-guling.


Tetap bertahan padahal pesawat mengalami kebocoran, semua orang menggunakan alat pelindung, tapi Winda Vira saling peluk untuk menjaga satu sama lain.


"Bagaimana keadaan mereka?" Yusuf menatap bibir Winda yang berdarah.


****

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


__ADS_2