SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PERSIAPAN OPERASI


__ADS_3

Kasih masuk ke dalam ruangan perawatan, Ravi menunggu dengan cemas, dalam hatinya tidak ada hentinya terus berdoa. Tangan Ravi sampai dingin dan gemetaran, air mata Ravi juga sesekali menetes.


Seorang Dokter keluar, berbicara sesuatu dengan Ravi yang membuatnya terduduk lemas. Tian mendekati Ravi mengusap punggungnya untuk kuat.


"Kak doakan anak dan istriku." Ravi menghapus air matanya, melihat Kasih keluar untuk melakukan operasi.


Ravi menggenggam tangan Kasih mencium keningnya, berusaha menguatkan dirinya juga Kasih.


Viana berlari melihat Tian yang duduk menundukkan kepalanya, mendekati Tian langsung duduk menanyakan keberadaan Ravi dan Kasih.


"Di mana Ravi dan Kasih Tian?"


"Di dalam Mom, kita tunggu di sini."


"Ruang persalinan, tidak mungkin Kasih akan melahirkan, kandungannya baru tujuh bulan?" Viana bicara sangat pelan, bibirnya gemetaran.


"Kasih akan melakukan operasi Caesar, bayinya harus dikeluarkan Mom. Air ketuban sudah kering, Kasih mengalami pendarahan, bayi juga keracunan." Tian meneteskan air matanya.


Viana menatap Rama, langsung masuk ke dalam pelukannya, Rama berusaha untuk menenangkan. Berdoa yang terbaik untuk Ravi dan kedua bayinya.


Menurut Dokter kandungan Kasih mengalami keracunan, ada obat berbahaya yang masuk ke dalam tubuhnya. Obat baru bereaksi setelah 2 minggu, kedua bayi juga sudah tidak bergerak lagi, sehingga harus dikeluarkan.


Semuanya terdiam, duduk menunggu Ravi keluar air mata Viana tidak hentinya keluar.


Tian mengusap matanya, melihat Bunda dan Mami datang, tidak ada yang bertanya karena dari wajah Viana semuanya sudah terlihat, diam dan menunggu yang bisa dilakukan sekarang.


Tian langsung pamitan kepada Ayahnya untuk keluar sebentar.


***


Mobil Tian tiba di bandara, menunggu kedatangan Erik dan Billa yang mendapatkan kabar dari Bella jika keduanya sudah kembali.


Dari kejauhan Erik sudah melihat Tian, sebenarnya Erik sedang malas bertemu, tapi melihat wajah Tian, terlihat sekali ada masalah.


"Kak Tian." Billa langsung berlari, memeluk Tian erat.

__ADS_1


Erik membuang wajah, air mata Tian menetes, Billa menghapus air mata di pipi Tian.


"Ada apa kak?"


"Kita ke rumah sakit sekarang, twins akan lahir, operasi akan di mulai 30 menit lagi." Tian mengusap air matanya.


"Apa maksudnya akan lahir, baru 7 bulan berarti prematur?" Erik langsung membuka pintu mobil untuk Billa, langsung masuk menyetir mobil Tian.


"Kenapa bisa lahir prematur kak?" Billa juga cemas melihat kesedihan Tian.


"Dokter yang menangani Kasih, memberikan racun berjangka yang baru memberikan efek samping. Dia subuh tadi mengalami pendarahan, Dokter bilang keracunan, bayi sudah tidak bergerak lagi, harus segera dikeluarkan." Tian sangat sedih melihat keadaan Ravi dan Kasih.


Erik mempercepat laju mobil, Billa meminta izin kepada Tian untuk ikut melihat operasi Caesar yang akan Kasih jalani. Billa juga meminta surat untuk dirinya yang mulai sekarang bertugas.


Erik setuju dengan permintaan Billa, Tian langsung menghubungi pihak rumah sakit, mempersiapkan yang Billa inginkan agar diresmikan sebagai Dokter di rumah sakit kakaknya.


Tian meminta seluruh tim, menunda operasi sampai dirinya datang, identitas Billa juga sudah dipersiapkan. Billa membaca beberapa penelitian soal bayi prematur, melihat racun yang kemungkinan sudah masuk ke dalam tubuh mereka.


Erik membiarkan Billa fokus, menghidupkan music mobil untuk menenangkan Billa. Menolong persalinan bukan hal yang baru untuk Billa, bahkan saat dia di sebuah Desa dia bisa menolong persalinan, tanpa bantuan medis, hanya menggunakan tangan kosong.


Mobil tiba di rumah sakit, beberapa Dokter sudah terlihat menunggu. Erik masih diam di dalam mobil menunggu Billa tersadar dari konsentrasinya.


Tian juga diam menunggu Billa yang tidak mengeluarkan suara sama sekali. Kepala Billa terangkat, menutup tabletnya menatap ke depan sambil menggelengkan kepalanya.


Billa langsung keluar beberapa Dokter melihat Billa yang berjalan masuk, Erik juga keluar mengambil jas putihnya, Tian meminta jas Billa membawakannya.


Tangan Billa meminta jas putih, tanpa mengeluarkan suara, Tian langsung menyerahkan, Billa memakai sudah jas, ada nama juga identitas Billa di bajunya.


Sebenarnya Tian sudah mempersiapkan semuanya untuk menyambut Billa bergabung di rumah sakit, tapi tidak menyangka penyambutan harus seperti ini.


Beberapa Dokter mengikuti Billa, tidak ada yang berbicara semuanya menunju ruangan operasi Kasih.


"Panggil Dokter Obgyn yang paling dingin di sini, ahli ibu dan janin juga bersiap, resiko kemungkinan besar, kalian sudah mendengar bayi keracunan, sekecil apapun kesempatan, usahakan untuk mengembalikan nafas mereka. Aku juga minta ahli neonatologi berjaga untuk memberikan medis untuk bayi, Dokter lainnya juga bersiap." Billa berbicara sangat dingin, ucapnya tegas, Dokter lain hanya mengagukan kepala.


Billa berhenti tepat di depan pintu ruangan Kasih, keluarga juga kaget melihat Billa datang.

__ADS_1


"Ada yang menolak aku bergabung ke dalam? jika menolak silahkan keluar." Billa langsung masuk mengabaikan Bundanya yang memanggil.


Erik juga ingin ikut masuk, seorang suster menahan Erik untuk keluar meminta maaf dengan sopan.


"Maaf Dokter Erik, Dokter Bil melarang anda masuk, dia bilang anda tidak dibutuhkan juga tidak ada gunanya di dalam." Pintu langsung ditutup.


Erik terdiam, Billa sangat menakutkan, padahal dirinya senior beraninya Billa menghinanya. Jika keadaan sedang tidak tegang, Erik pasti sudah protes.


Antara khawatir juga kesal, Tian meminta Erik duduk menunggu dengan sabar.


Lampu operasi hidup, jantung Erik berdegup kencang. Walaupun Kasih selama hamil membencinya, Erik sangat menyayangi kedua anak Ravi, apalagi saat mendengar Ravi bercerita penuh kebahagiaan.


"Erik, twins akan baik-baik saja?" Viana berbicara tanpa menatap.


"Pasti Mom, mereka janin yang kuat." Erik menghela nafas sebenarnya dia juga tidak yakin, tujuan Billa hanya menyelamatkan Ibunya, karena Kasih mengalami pendarahan.


"Kamu berbicara tidak yakin Erik, tidak seperti biasanya. Kasihan twins dia lahir prematur, keracunan juga. Kasihan kedua cucuku." Viana menangis sesenggukan.


"Mommy, harapan kita kecil untuk twins. Racun sudah masuk ke dalam tubuh mereka, Kasih juga mengalami pendarahan. Pilihan para Dokter hanya menyelamatkan Ibunya."


"Ada kemungkinan tidak?" Jum menangis sesenggukan, tidak ada hentinya mereka harus menangis dalam satu bulan.


"Pastinya ada Bunda, Erik pernah melihat seorang bayi yang selamat, kita berdoa saja semoga twins bisa bertahan, amin." Erik memalingkan wajahnya, dia pernah melihat ada yang selamat, tapi 3 jam kemudian Allah mengambilnya.


Rama kali ini tidak tenang, memutuskan untuk keluar rumah sakit. Di depan rumah sakit bertemu Bima, melihat Rama yang gelisah, sama seperti saat Rama kecil menunggu Ayah Ibunya pulang, kecemasan yang sama saat dia menjadi yatim piatu.


"Ayo kita ke masjid depan Rama, serahkan semuanya kepada Allah. Seberat apapun masalah, jangan lupa untuk memohon pertolongan dari Allah." Bima menepuk pundak Rama, air mata Rama menetes mengikuti Bima untuk ke masjid.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


**

__ADS_1


__ADS_2