
Suara lemparan ponsel terdengar, Bella mengumpat kasar membuat Tian melotot. Billa langsung berlari keluar jika Bella sudah marah, Winda juga langsung berlari keluar.
Vira berhenti menangis langsung keluar menarik Kasih, Bella kalau marah sikapnya sangat jelek, bahkan lalat yang terbang juga salah di matanya.
Bella terdiam saat mendapatkan peringatan dari Wildan, hampir saja Bella membocorkan identitasnya, demi bisa mengakses keamanan kepolisian yang mengungkap kejadian di dalam gedung.
Dengan tersenyum, Bella menerima bantuan Wildan untuk mengetahui keberadaan Ravi.
"Di mana ini?"
"Ini lokasi bangunan tua." Tian menatap Bella yang sedang berpikir.
"Kak Ravi berada di bawah gedung, minta kak Tama untuk menyingkirkan seluruh penjaga di sana, maka kita bisa mencari tahu isi di bawah bangunan."
"Bella kamu tetap di rumah, biarkan kakak, Tama dan Erik yang pergi."
Saat mendapatkan kabar dari Tian dan Bella keberadaan Ravi, Rama memberikan izin Tian pergi dengan penjagaan ketat. Berkali-kali Tian menghubungi Wildan tapi tidak ada jawaban.
"Di mana Wildan?"
"Entahlah, dia tidak bisa dihubungi."
"Papi, perusahaan xxxx bangkrut seluruh sahamnya di miliki oleh mister G." Winda menatap Papi tajam, Rama juga coba berpikir.
"Wildan yang menghancurkan perusahaan xxxx, perusahaan ini memiliki dua penerus tapi satunya di asingkan karena membawa petaka padahal dia pemuda jenius."
"Berarti Wildan menolong mister G, lalu sangkut pautnya dengan Ravi?" Reva menatap Bima yang sudah tersenyum.
"Mister G itu Gemal, dia yang menculik Kasih dan Ravi, dia ingin bunuh diri karena tidak diakui oleh keluarganya." Kasih meneteskan air matanya, memeluk Mommy.
Rama tersenyum, kini Rama mengerti pertengkaran Ravi dan Wildan. Di satu sisi Wildan ingin menyelamatkan Gemal tapi ditolak oleh Ravi karena Gemal mencintai Kasih. Rasa kecewa, marah, terluka menumpuk di hati Gemal, dia menculik Kasih agar bisa meluapkan amarahnya kepada Ravi.
Keputusan Wildan diam karena ingin Ravi membuka mata agar bisa memahami posisi Gemal, bukan untuk menyerahkan cinta tapi untuk memberikan cinta. Ravi seorang pemuda yang sangat penyayang, dia selalu membagi rasa kasih sayangnya untuk banyak orang. Wildan ingin Gemal merasakan kasih sayang Ravi, agar mengikhlaskan Kasih bahagia bersama Ravi.
"Wildan Bramasta, kamu sangat muda tapi selalu ingin melihat keadilan. Kamu memang pria terbaik." Rama tersenyum menghapus air matanya, jika Wildan ada pasti akan segera dipeluknya.
****
Api terus berkobar, dalam keadaan panik Ravi langsung mengambil kain memaksa Gemal untuk membuka baju, menutupi tubuh mereka dengan kain tebal berlipat-lipat.
__ADS_1
Saat pertama tiba Ravi melihat jalan untuk menuju pintu bangunan bawah tanah. Dengan sekuat tenaga Ravi berhasil menggeser keramik khusus, menarik Gemal dengan paksa, jika terlambat 1 detik saja Ravi pasti sudah hangus dilahap api.
"Wildan, awas kamu ya aku hampir gosong." Ravi tahu Wildan bisa mendengar suaranya, melalui gelang curian.
Ravi sengaja selalu bicara agar Wildan tidak panik jika Ravi terluka, Ravi sangat memahami hati Wildan walaupun dia dingin tapi tersimpan kelembutan.
Perdebatan Ravi dan Wildan soal Gemal tidak memberikan akhir yang baik, Ravi dengan pendirinya tidak akan membiarkan Gemal masuk dalam hidupnya, sedangkan Wildan dengan pendirinya akan mengembalikan yang seharusnya menjadi hak Gemal.
Di dalam bawah tanah, Ravi duduk dengan perasaan khawatir terhadap Kasih. Gemal meneteskan air matanya, dulu dia dan Wildan bersahabat walaupun Wildan tidak pernah menganggapnya. Tapi Gemal kecewa ternyata Wildan memiliki kecerdasan jauh di atasnya, sehingga membuat Gemal iri dan menjadi pemberontak.
"Kenapa tidak membiarkan aku mati saja?"
"Kalau kamu mau mati jangan di dekat hidupku, karena cukup aku tidak bisa menyelamatkan kakak kamu, jangan sampai kamu juga mati di hadapanku."
"Kenapa dulu menolak cinta kakak?"
"Karena dia wanita baik, aku tidak bisa setia karena ingin bersenang-senang. Aku tidak berniat menyakitinya."
"Maafkan aku kak Ravi, kamu terluka karena keegoisan aku."
"Jangan perduli aku Gemal, katakan calon istriku baik-baik saja di luar sana, dia pasti selamat."
Ravi tidak punya cara untuk keluar kecuali saat matahari terbit, barulah dia bisa melihat jalan keluar.
Gemal terus menangis, Ravi merangkulnya menenangkan hati Gemal. Ravi mengerti rasa sepi yang Gemal rasakan, butuh perhatian, cinta dan kasih sayang.
"Gem, berjanjilah kamu akan menjadi orang baik, kak Ravi akan ada di sisi kamu, menemani di setiap langkah kamu."
Sambil tersenyum Gemal memejamkan matanya, memeluk lututnya. Ravi bisa merasakan tubuh Gemal yang menyedihkan, keluarganya pasti selalu menganggap tidak ada karena hal ini Gemal selalu bersedih dengan duduk memeluk kedua lututnya.
Ingatan Ravi soal masa kecilnya kembali, jika dulu Ravi punya Uncle Bisma yang selalu menghiburnya. Setiap Ravi sedih Uncle akan mengajaknya bertemu gebetan, berkencan, kuliner, tertawa, bermain, sampai Ravi harus menjadi saksi Uncle menyatakan cinta juga diputuskan cinta.
Tangan Ravi mengusap punggung Gemal, di dalam hati Ravi berterima kasih kepada Wildan yang membiarkan dirinya bisa melihat ke dalam hati Gemal.
"Kamu kuat Gemal, kamu lelaki hebat."
Matahari terbit, Ravi dan Gemal berjalan mengikuti cahaya matahari yang menyinari bangunan bawah tanah karena di sanalah sumber cahaya.
"Hebat ya, kita di bawah tanah tapi cahaya matahari bisa tembus."
__ADS_1
"Kenapa tidak sekalian bertanya, akar pohon bagaimana caranya mendapatkan cahaya matahari?"
"Bagaimana Gemal?"
"Mencuri dari daun dan pohon."
"Ahh masa, cahaya masuk karena ada pintu goa yang terbuka, bukan karena ada lubang."
Gemal melihat kebelakang, memerhatikan Ravi yang sedang berpikir soal pohon, cahaya matahari, dan gua bahkan sebuah lubang. Gemal tersenyum, dia tidak mengerti mengapa Kasih mencinta lelaki seperti Ravi.
"Aduhhh, rasanya aku tidak sanggup lagi berjalan, perutku sudah rata, bahkan dagingnya hilang semua karena lapar."
"Cepatlah Ravi, sebelum orang yang melakukan evakuasi menemukan tempat ini, kita harus keluar sebelum menjadi korban pelaku pembakaran, jika ada korban jiwa kita pelaku pembunuhan."
"OHH iya, Ravi sampai lupa."
***
Pencarian Ravi yang di lakukan oleh tim Tian gagal, tapi tanpa sepengetahuan mereka Vira, Winda, Bella Billa sudah menuju arah lain dengan dipimpin oleh Kasih.
"Kamu yakin Bel, daerah sini ada gua."
"Jangan ragukan kemampuan yang Bella punya, aku yakin 5%"
"Sialan!" Vira melemparkan sepatunya, sudah lelah dari gelap sampai terang mencari tapi jawaban Bella membuat darah tinggi.
Winda menjambak rambut Bella dan Vira yang berisik, Billa coba mengehentikan tiga orang yang sedang bertengkar.
"Stop, lebih baik banyak mencari dari pada banyak berbicara, apalagi bertengkar." Billa menghentikan ketiganya.
"Mungkin kak Tian sudah menemukan kak Ravi?" Winda mencari alasan karena dia sudah sangat lelah.
"Erik hanya cerdas dalam dunia kedokteran, kak Tian juga pintar dalam bisnis, hanya ada kak Tama yang hatinya juga sedang dilema, tanpa Ravi dan Wildan mereka tidak bisa di harapkan." Vira bicara seperti maha tahu.
"Kita personil lengkap saja masih kalang kabut, seperti mengejar layang-layang yang tidak tahu di mana jatuhnya."
"Ravi!" Kasih meneteskan air matanya.
***
__ADS_1