Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 100 : Pireta


__ADS_3

Sejak kecil Pireta telah dibully oleh anak-anak seumurannya, memiliki wajah cantik tidak membuatmu memiliki kehidupan cantik juga apalagi jika hal itu terjadi pada seorang laki-laki.


Dia diejek oleh anak laki-laki dan menjadi musuh para anak perempuan yang merasa iri karenanya, semenjak kedua orang tuanya meninggal dia akhirnya memutuskan untuk menjadi penyihir pengelana di umur 15 tahun, ini sudah satu tahun dia meninggal tempat tinggalnya, semuanya berjalan baik-baik saja sampai hal ini terjadi.


Entah takdir atau kemalangan dia harus bertemu dengan wanita bernama Amnestha, saat dia tidak terbiasa dengan wanita, wanita ini malah sengaja melakukan tindakan senonoh padanya yang mana membuatnya meringkuk di pohon selagi memeluk lututnya.


Ini semua karena masa kecilnya, dia selalu diperlakukan kasar oleh para gadis hingga itu membentuk ketakutan di dalam hatinya.


"Maafkan aku Perita, aku memang salah... kita belum melakukan "Itu" jadi semuanya aman."


"Kenapa kau terus melakukan ini padaku, sudah kukatakan aku ini lemah."


"Dengar Pireta, hal yang dibutuhkan kerajaan itu bukanlah orang yang kuat melainkan orang yang bisa merasakan penderitaan rakyatnya, aku yakin dengan keberadaanmu kau bisa mengubah kerajaan ini, bukannya alasan kau berkelana untuk mencari tempat tinggal yang nyaman bagimu juga."


"Itu..."


"Setelah mendengar masa lalumu, aku benar-benar marah pada para gadis itu.. jika kita waktu itu bersama aku akan memukuli mereka."


Walau perkataan itu terkesan ambigu, bagi Pireta itu cukup terasa menyenangkan, sejak lama dia ingin ada seseorang yang mendukungnya dan marah karenanya.


Pireta menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor lalu berkata.

__ADS_1


"Aku tidak tahu bahwa aku bisa menjadi raja tapi aku akan mencobanya sebisaku."


"Terima kasih, tapi jangan khawatir walau kau gagal kau tetap akan dipekerjakan di istana."


"Kenapa begitu?"


"Karena aku yang merekomendasikanmu, aku akan menjamin tempat tinggal yang nyaman untukmu."


Pireta tersenyum sebagai balasan.


"Untuk sekarang mari pergi ke kota, aku yakin ada beberapa sihir lain yang bisa kau pelajari di sana haha."


"Kenapa kau tertawa?"


"Jangan mengatakan hal itu lagi."


"Baik-baik, imutnya."


Keduanya pergi ke perbatasan kerajaan Artana tepatnya di sebuah kota kecil yang sudah terlihat maju, entah itu dari segi pertanian ataupun dari segi sihir.


"Apa tidak masalah kita datang kemari dulu?"

__ADS_1


"Jangan khawatir, masih tersisa lima hari lagi dari jadwal yang sudah ditentukan, kita bisa menghabiskan waktu di sini beberapa hari," atas pernyataan Amnestha, Pireta mengangguk mengiyakan.


Keduanya pergi ke penginapan yang menjadi satu-satunya di kota ini.


"Selamat datang, mau pesan kamar?"


"Kami pesan satu kamar dengan satu ranjang, kami berdua wanita jadi bukan masalahkan... loh, kenapa kau terlihat gemetaran?"


"Sudah jelas kan, kami minta yang dua tempat tidur saja."


"A-aku mengerti, tolong jangan mengganggu penghuni di sebelah pada waktu malam hari."


"Akan kuusahakan," jawab cepat Amnestha dan Pireta hampir kesulitan bernafas sekarang, rasanya ia ingin meminta tolong lalu melarikan diri namun sayangnya hal itu tidak mungkin.


Baru datang saja Pireta langsung diajak mandi bersama hingga keduanya saling membasuh punggung masing-masing, Pireta sudah tidak bisa menghitung berapa kali dia menyemburkan darah hingga kehilangan kesadaran, kepalanya juga selalu pusing.


"Pireta bagian bawahmu?"


"Ini normalkan."


Setelah sekian lama akhirnya Pireta mulai terbiasa, dan darah dari hidungnya tidak pernah mengalir lagi walaupun bagian bawahnya akan tetap seperti itu sampai kapanpun.

__ADS_1


Tak hanya menghabiskan waktu di penginapan keduanya juga terkadang berkeliling kota untuk mencari udara segar dan paling lama waktu yang mereka habiskan adalah di perpustakaan untuk berlatih sihir.


__ADS_2