Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 232 : Pertemuan Kembali


__ADS_3

Di depan ketiga pelayanku, aku mengenakan kembali mantel berwarna biru yang pernah diberikan Neffiel, tak lupa aku menyelipkan dua pisau di baliknya sebagai pertahanan.


Sementara itu, Gabriela memberikanku dua buku yang selama ini aku titipkan padanya, buku pertama adalah buku mata jahat kematian dan buku mata jahat penidur.


Keduanya diberikan oleh Rafael yang menjaga pedang Grandbell sebelumnya.


Kurasa sudah waktunya aku menggunakannya.


Buku mata jahat kematian sangat berbahaya jika digunakan, ada kemungkinan kekuatan ini tak terkendali dan siapapun yang tak sengaja melihat sihir ini mereka akan mati seketika, karena itu, aku menghancurkannya dengan cara merobeknya hingga potongan itu terbakar seutuhnya, sementara satu lagi aku membukanya ke halaman tengahnya lalu meletakkan satu tanganku di sana, buku itu langsung berubah menjadi butiran cahaya yang masuk ke dalam tubuhku.


Bersamanya itu, panel pemberitahuan muncul di depanku.


[Skill Mata Jahat Penidur Lv1 diperoleh]


Aku bertanya pada ketiga pelayanku yang tiba-tiba saja memegangi paha mereka selagi menggeliat-geliat.


"Apa ada yang berbeda denganku?"


"Mata tuan berubah pola menjadi bentuk hati berwarna merah muda, dan entah kenapa setelah melihatnya tubuhku terasa aneh, aku merasa panas dan sangat bergairah," balas Amnestha lalu disusul Gabriela dan Rin.


"Aku tiba-tiba saja ingin melakukan hal yang nakal."


"Aku juga."


Gawat, ternyata mata jahat ini memiliki efek tidak berguna, harusnya aku menghancurkannya juga, ini sama saja dengan memiliki skill Succubus yang lebih kuat.


kuharap saat level skillnya maksimal, itu akan lebih baik... atau mungkin lebih buruk.


Aku menonaktifkan hingga ketiganya duduk dengan lemas.


"Kejam sekali."


"Yah, aku minta maaf untuk barusan."


Aku membantu ketiganya berdiri, aku akan pergi ke negeri awan karena itu, aku akan mengandalkan kemampuan Rin dalam berpindah tempat.


Saat kami pergi dari sana, Rin memberikan darahnya untuk di simpan oleh Fate, dengan sekali lompatan. Aku dan Rin langsung tiba di kamar kediaman Fate, tepatnya di pinggir tempat tidurnya.


"Darahmu dijadikan sebuah kalung Rin."

__ADS_1


"Itu berarti selama ini, Fate menunggu tuan."


"Aku harusnya datang lebih awal."


Untuk sekarang mari bangunkan dia dari tempat tidur.


Aku menusuk pipinya beberapa kali dengan jariku, hingga dia membuka matanya terkejut.


"Dasar penjahat," teriaknya selagi melemparkan bantal ke wajahku.


"Aku Beaufort, tidak... saat ini, namaku Haru Kazuya."


Saat aku mengatakan itu, Fate berhenti memukuliku, aku sempat melihat air mata jatuh dari pipinya dan dengan cepat dia memelukku.


Rin memotong.


"Aku akan menuliskannya sebagai laporan perselingkuhan."


"Oi, jangan lakukan itu."


"Perselingkuhan?" kata Fate dengan wajah kebingungan.


"Begitu."


"Dengan sembilan wanita dan siapapun yang tinggal bersamanya juga jadi korbannya seperti seekor domba masuk ke dalam kandang serigala."


"Jangan mengatakan hal aneh-aneh."


"Meski begitu, aku sudah memutuskan untuk menjadi pelayanmu sejak lama."


Penampilan Fate sama sekali tidak berubah sedikitpun, bisa dibilang dia menjadi gadis selamanya karena keabadian yang diberikan seorang vampir padanya.


"Fate, bisakah kau berhenti memelukku?"


"Aku ingin lebih lama lagi."


Aku menepuk punggungnya kemudian suara yang lebih kecil terdengar dari pintu.


"Ratuku, sudah waktunya ba..."

__ADS_1


Saat sosok itu muncul wajahku langsung membantu, bahkan dia juga tidak melanjutkan perkataannya.


Dengan ragu aku memanggilnya.


"Arisa, kau masih seperti anak kecil."


Rin menjelaskan.


"Sepertinya dia juga berubah jadi vampir tuan."


"Lama tak bertemu Rin dan juga tuan Beaufort."


"Kau bisa memanggilku Kazuya sekarang."


"Reinkarnasi kah, bagaimana menurutmu penampilanku... aku sekarang tetap imut."


Fate akhirnya melepaskanku, sementara aku duduk di depan Arisa selagi memegangi pipinya lalu menariknya.


"Aduh.. duh... sakit."


"Apa yang terjadi?"


"Saat kalian pergi aku memutuskan untuk mencari keberadaan Katharina Hellson, dan saat aku bertemu dengannya aku memintanya merubahku jadi vampir juga... harusnya aku memintanya sesudah dewasa, tapi aku tidak ingin kehilangan jejaknya dan demi bertemu denganmu lagi kuputuskan untuk menjadi abadi."


Aku memeluknya.


"Tuan Kazuya."


"Panggil saja Kazuya, dasar bodoh, kau tahu apa artinya hidup abadi... kau hanya akan hidup sendirian."


"Bersamamu juga sudah cukup."


Rin dan Fate saling berbisik di belakangku.


"Apa ini hubungan cinta antar gadis kecil dan pria dewasa?"


"Sepertinya begitu, dasar lolicon."


"Aku mungkin akan mengurangi rasa hormatku pada tuanku mulai dari sekarang."

__ADS_1


"Kalian berbicara seenaknya saja."


__ADS_2